Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 43. Kembali kerencana awal, lebih baik


__ADS_3

Dinda terdiam, jadi ini yang akan di sampaikan oleh suaminya. Kenapa harus berunding dengan kedua mertuanya, pikir Dinda. Ya sebelumnya, Dinda yang meminta Aditia jangan menceraikan Lisa itu, namun di tolak mentah-mentah oleh Aditia. Akhirnya Dinda meminta dan mengancam Aditia, untuk menceraikan dirinya.


"Maafkan aku mas, tapi jika kamu tetap ingin menceraikan mbak Lisa, lebih baik ceraikan aku juga!" ucap Dinda saat itu.


"Apa kamu bencanda Dinda? Itu tidak mungkin."


"Aku tidak bercanda mas, aku serius. Aku tidak mungkin bahagia di atas kesakitannya mbak Lisa. Mbak Lisa yang membawa aku ke rumah tangga kalian mas."


"Iya aku tau Dinda, tapi aku tidak mungkin menceraikan kamu!"


"Keputusan ada ditangan kamu mas! Kalau kamu menceraikan mbak Lisa, maka kamu juga harus menceraikan aku! Kalau tidak, kita kembali ke awal rencana kita saja. Sesudah melahirkan, kamu berjanji akan menceraikan aku. Kamu ingat janji itukan mas? Pertahankan mbak Lisa, kalau kamu benar-benar mencintaiku dan ceraikan aku setelah aku melahirkan anak ini, setelah kita berpisah, terserah mas mau menceraikan mbak Lisa."


"Tapi Din--"


"Mas aku mohon, mengerti posisiku. Aku tidak akan pernah merasa bahagia jika untuk saat ini, aku bersama kamu sedangkan mbak Lisa di sana kesakitan karna berpisah dengan kamu! Aku memang mencintai kamu mas, tapi aku yakin jika saat ini kamu mencerikan mbak Lisa, kita tidak akan pernah bahagia mas. Mbak Lisa pasti tidak akan tinggal diam, bukannya kamu tau sendiri bagaimana mbak Lisa? Aku hanya ingin menjaga anak kita mas, aku takut mbak Lisa melakukan hal yang tidak-tidak."


Aditia terdiam, ia mencoba mencerna semua ucapan Dinda. Iya, memang benar, yang dikatakan Dinda benar. Lisa wanita yang nekad, dia pasti akan melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Menyakiti dirinya sendiri pun ia tak segan, apa lagi menyakiti orang lain. Lalu harus bagaimana sekarang Aditia? Haruskan ia menyetujui apa yang di ucapkan Dinda.


"Baiklah, aku setuju. Kembali ke rencana awal, lebih baik mungkin. Untuk saat ini aku tidak akan menceraikan Lisa dulu. Tapi, jika bayi itu sudah lahir, aku tidak berjanji akan menceraikan kamu Din."


Senyuman tipis terulas dari bibir ranum Dinda. Mungkin ini keputusan yang terbaik untuk mereka, kita tidak tau rencana Tuhan bagaimana selanjutnya, namun untuk saat ini itulah pilihan mereka.

__ADS_1


"Terima kasih mas. Tapi maaf, aku minta kamu tepati janji kamu. Serahkan semuanya pada Tuhan mas, jika kita berjodoh pasti kita akan tetap bersama, jika tidak. Kita tidak bisa melawan takdir mas."


"Aku akan berdoa, semoga kamu jodohku Din." Sahut Aditia penuh harap. Dinda hanya menanggapinya dengan senyuman tipis, 'aku juga mas, aku juga berharap kamu itu jodohku. Tapi jika takdir berkata lain, aku akan ikhlas menerimanya mas,' ucap Dinda dalam hatinya.


***


"Maksud kamu bagaimana Aditia?" Mamah Amira kembali bertanya.


"Jadi begini mah..." Aditia menceritakan semuanya.


Kedua orang tuanya mendengarkan dengan begitu serius. sementara Dinda, ia hanya diam seraya berdoa dalam hatinya. Semoga kedua mertuanya itu satu pemikiran dengannya dan menyetujuinya.


"Apa kamu yakin?" Tanya papah Mehendra pada putranya itu, usai Aditia menceritakan semuanya.


"Iya pah, mungkin ini yang terbaik untuk kita semua." Sahut Dinda, diangguki oleh Aditia.


"Baiklah, jika memang itu yang terbaik menurut kalian. Papah dan mamah hanya bisa mengikuti kalian, kalian yang menjalankan, kami hanya berharap kebahagiaan selalu menyertai kalian." Ucap papah Mehendra.


"Iya, walaupun sebenarnya mamah berat sih. Kamu tetap mempertahankan si Lisa." Timpal mamah Amira.


"Tapi apa yang dikatakan kalian memang benar, jika Aditia menceraikan Lisa saat ini. Pasti dia tidak akan tinggal diam." Lanjutnya.

__ADS_1


"Terima kasih, mah, Pah. Kalian sudah menghargai keputusan kami," ucap Aditia. Kemudian diangguki oleh kedua orang tuanya.


POV Dinda.


Aku tau kembali ke rencana awal itu sebenarnya bukan keputusan yang terbaik. Tapi untuk saat ini, tidak ada yang lebih baik dari itu. Setalah bayi ini lahir, aku akan berpisah dengan mas Aditia. Kata perpisahan memang terdengar sangat menyakitkan, tapi aku sudah mempercayakan semuanya pada tuhan.


Terserah jika orang menganggapku bodoh, mereka tidak akan mengerti bagaimana posisiku.


Ini hidupku, ini sudah menjadi keputusanku.


Setiap orang berhak memilih bukan?


Bersambung...


Like


Komen


Vote


Jangan lupa!

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2