
Aditia tertunduk lemah, sambil memandangi Dinda yang masih enggan terbangun dari komanya itu. Lalu Aditia menoleh kearah inkubator nampak bayi mungil yang tengah tertidur lelap dengan kondisi yang sangat memperihatinkan.
"Sayang, bangunlah. Anak kita sangat membutuhkan kamu sayang, bangunlah," lirih Aditia, ia mengecup tangan Dinda berulang kali.
"Maafkan aku Din, harusnya aku tidak memberikan kesempatan pada Lisa. Harusnya aku tidak percaya lagi dengan dia. Lihatlah sekarang, kamu jadi seperti ini, maafkan aku Din," lirih Aditia lagi. Air mata kini terlihat mengalir dari sudut mata Aditia.
"Cepat bangun Din, aku mohon. Jangan siksa aku seperti ini, jangan hukum aku seperti ini," Aditia mendaratkan kecupan di kening Dinda.
Betapa sakitnya hati Aditia melihat kondisi anak dan istrinya itu. Andai saja Aditia bisa mengganti posisi mereka, Aditia rela. Aditia tidak sanggup melihat orang yang di cintainya itu, menderita seperti ini.
Apa lagi bayi kecilnya, baru saja lahir ke dunia, bayi kecilnya harus merasakan tubuhnya di tempelkan alat medis.
"Aditia.."
Kedua orang tua Aditia terlihat baru saja masuk ke ruangan tersebut. Mereka langsung menuju rumah sakit kembali, saat mendapat kabar dari Aditia bahwa pelaku sebenarnya adalah Lisa.
"Mah, Pah." Aditia menoleh kearah mereka.
"Benar Lisa pelakunya?" tanya Mamahnya. Aditia mengangguk lemah.
"Benarkah dugaan Mamah. Lisa memang tidak berubah. Mamah dulu bilang sama kamu, kalau kamu jangan memberi kesempatan pada wanita itu. Lihatlah sekarang Dinda jadi korban kembali, bahkan cucu Mamah juga!" pekik Mamah Aditia.
Aditia hanya terdiam, iya, Aditia mengakui kalau dirinya memang salah, Aditia tidak bisa menyangkal ucapan Mamahnya itu, karna itu semua memang benar.
"Sudah, sudah. Ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terjadi. Yang penting sekarang pelakunya sudah di temukan. Kita fokus pada Dinda dan bayinya saja saat ini," lerai Papahnya.
__ADS_1
"Iya memang sudah terjadi, mau di apakan lagi. Ini semua atas dasar kebodohan anakmu ini Pah," sahut Mamah Aditia ketus.
"Sudah diam," tegas Papah Aditia. Sengaja meninggikan suara. Membuat sang istri dan Putranya terdiam.
Tapi entah mengapa Papah Aditia, masih tak percaya bahwa Lisa pelaku. Mengingat laporan yang diberikan oleh anak buahnya, bahwa Lisa di sekap oleh seorang laki-laki. Kini anak buah Papah Aditia tengah mengintai laki-laki yang menyekap Lisa tersebut. Papah Aditia yakin, bahwa laki-laki itulah dalang dibalik semua ini.
****
Sementara di tempat lain.
Riki baru saja mendapatkan informasi dari anak buahnya, bahwa Lisa kini sudah di bawa ke kantor polisi.
Riki tersenyum penuh kemenangan, akhirnya rencananya berjalan dengan lancar. Semua bukti sudah mengarah pada Lisa, dan wanita itu tidak akan bisa lolos lagi.
"Lisa kamu memang bodoh! Hahahaha..." Riki tertawa.
Lalu ia keluar dari ruangannya, menyuruh anak buahnya untuk mengantarkan dirinya ke kantor polisi.
Sesampainya di sana, Riki langsung menemui Lisa di ruangan khusus.
Mata Lisa terlihat sembab, ia menatap Riki penuh amarah.
"Bagaimana Lisa?" tanya Riki dengan senyuman menyingrai.
"Bedebah, sialan kamu Riki," pekik Lisa.
__ADS_1
"Hahahah," tawa Riki menggema.
"Mau apa kau kemari hah?" tanya Lisa penuh amarah.
"Tentu saja untuk memberikan selamat atas kekalahanmu dan selamat membusuk di penjara!"
"Cuih,'' Lisa meludahi wajah Riki. Riki langsung membulatkan matanya, menatap tajam kepada Lisa.
"Dengar ya, cepat atau lambat, kebusukan kamu pasti terungkap. Kau juga akan merasakan membusuk di dalam sini!" pekik Lisa.
"Hahahah," Riki kembali tertawa. Tanganya mencengkram dagu Lisa dengan kasar.
"Jangan mimpi Lisa," bisiknya. Lalu ia melapaskan cengkraman tangannya dari dagu Lisa dengan kasar membuat Lisa meringis kesakitan.
"Hahaha," Lisa tertawa.
"Waktu akan menjawab semuanya Riki, kita lihat saja nanti!" lanjut Lisa.
Bersambung...
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Terima kasih.