
"Nanti saja Mas aku tanyakannya, kita habiskan saja dulu makannya," ucap Dinda. Aditia nampak keheranan, namun Aditia mengangguk mengiyakan ucapan istrinya itu.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun selesai.
Aditia terlebih dahulu ke kamar, sementara sesudah membantu ART-nya membereskan meja makan. Ia memastikan terlebih dahulu baby Azka.
Baby Azka terlihat masih tertidur lelap, Dinda menggendongnya perlahan, lalu membawa baby Azka ke kamarnya. Jika malam memang baby Azka tidur bersama Ayah dan Bundanya. Karna Dinda tidak tenang meninggalkan baby Azka di kamarnya, walaupun di temani oleh Bibi. Ya, saat ini Asisten rumah tangganya itu, mendapat perkejaan tambahan yaitu menjaga baby Azka. Tapi hanya untuk sementara saja. Sebelum mereka, mendapatkan baby sister.
Dinda sangat selektif mencari baby sister untuk baby Azka, jadi saat ini mereka belum mendapat orang yang cocok untuk menjaga baby Azka.
"Masih tidur Yang?" tanya Aditia, kepada Dinda menggendong baby Azka masuk ke kamarnya itu.
Dinda mengangguk pelan, lalu ia menidurkan baby Azka di ranjang, milik baby Azka yang berada di samping tempat tidur mereka.
"Sini." Aditia menepuk kasur di sebelahnya. Meminta Dinda untuk berbaring di sana.
Dinda mengangguk, lalu ia berjalan dan naik ke atas kasur, lalu berbaring di samping suaminya itu.
"Oh iya Yang, tadi kamu mau tanya apa?"
"Tentang Lisa ya?" lanjut Aditia.
"Iya Mas," jawab Dinda.
"Baiklah, Mas akan ceritakan semuanya sama kamu, dari awal..."
"Jadi begini Din, sebenarnya kecelakaan yang menimpa kamu itu, memang di sengaja, tepatnya memang sudah di rencanakan," jelas Aditia.
"Astagfirullah, benarkah Mas? Apa itu ulah Mbak Lisa?" tanya Dinda. Segitu jahatkah Lisa? Ya, begitulah, jika orang sudah melakukan hal buruk satu kali, pasti akan mudah di curigai.
"Bukan, tapi Riki."
"Apa? Mas Riki?" Dinda nampak terkejut, ia benar-benar tidak menyangka. Apa iya Riki sejahat itu? Rasa Dinda tak percaya, tapi tak mungkin Aditia berbohong bukan?
"Iya Sayang. Riki seperti sangat terobsesi oleh kamu, jadi dia melakukan apa saja agar bisa mendapatkan kamu."
"Ya Tuhan, kenapa Mas Riki seperti itu? Mas, aku takut," lirih Dinda.
"Sudah jangan takut. Semuanya sudah baik-baik saja Din. Riki sudah mendapatkan hukumannya." Aditia mengelus lembut kepala Dinda
Dinda terlihat menganggukan-anggukan kepalanya.
Syukurlah Riki sudah mendapatkan hukumannya, jadi Dinda merasa lega dan tenang. Tapi Dinda merasa tidak enak, dia sudah berprasangka buruk pada Lisa.
"Lalu, mbak Lisa?" tanya Dinda.
"Aku merasa berdosa Mas, tadi sempat mencurigai Mbak Lisa," lanjut Dinda.
"Sebenarnya Lisa juga terlibat, jadi dia mendapatkan hukuman, tapi ringan hukumannya. Mungkin sekarang dia sudah bebas. Yang Mas tau sih, hukuman Lisa hanya 6 bulan saja."
__ADS_1
"Ya, awalnya sih memang Lisa menjadi tersangka utama. Riki mengatur semuanya, seakan-akan Lisa yang bersalah," lanjut Aditia.
"Kasian sekali Mbak Lisa Mas."
"Sudahlah, biarkan semua itu jadi hukum buat mereka."
"Iya sih Mas, tapi aku masih gak nyangka Mas Riki bisa melakukan itu sama aku," ucap Dinda.
"Kenapa? Kamu kecewa sama Riki hmm? Apa masih cinta sama dia?" cerca Aditia. Roman-romannya sih, cemburu buta nampaknya.
"Ih, apaan sih Mas?" Dinda tekekeh melihat tingkah suaminya itu.
"Jujur aja aku kecewa sama dia, aku mengenal Mas Riki cukup lama, dia baik. Makanya aku gak nyangka kalau dia bisa senekat itu sama aku," lanjut Dinda.
"Ya namanya juga cinta. Cinta itu bisa bikin orang baik jadi jahat, sebaliknya juga. Cinta itu buta, mungkin Riki sudah dibutakan cintanya sama kamu!" ketus Aditia. Lalu Aditia merubah posisi membelakangi Dinda.
Panas? Jangan ditanya, Aditia merasa hatinya panas, karna menurutnya, Dinda saat ini tengah memuji mantannya.
"Mas, kamu kenapa ih?" Dinda mencoba menarik tangan Aditia, agar suaminya itu kembali menghadap kearahnya. Namun Aditia tak bergeming.
"Mas marah?" tanya Dinda lagi.
"Tidak!"
"Terus?"
"Kenapa, membelakangi aku?"
"Terserah Mas dong!"
Dinda terlihat menahan tawanya, ya ampun, lucu pikirnya.
"Mas cemburu?" tanya Dinda.
"Gak!"
"Ya udah, kalau enggak balik sini lagi ngadepnya!" titah Dinda.
"Enggak mau!"
"Yakin?"
"Iya!"
"Oke, kalau begitu aku mau bobo di kamar baby Azka aja," ancam Dinda. Tapi sebenernya hanya bercanda.
Dinda mulai bergerak menurunkan kakinya dari atas kasur tersebut.
Aditia yang merasakan ada pergerakan dari Dinda, ia buru-buru membalikkan badannya.
__ADS_1
"Jangan!" cegahnya seraya menarik tangan Dinda.
"Maafin Mas, habis tadi kamu muji-muji si Riki, Mas jadi keselkan, panas hati tau!'' lanjutnya.
"Mas cemburu?" lagi-lagi Dinda menggoda suaminya itu.
"Bukan cemburu, tapi kesal," sangkal Aditia.
"Oh iya udah, kalau kesel---"
"Iya, iya! Mas cemburu!" pungkas Aditia.
Dinda tak bisa lagi menahan tawanya, saat suaminya itu mengaku kalau dirinya cemburu.
"Hahahaha...."
"Ketawa aja ketawa, sampe puas!" ketus Aditia, sambil menekuk wajahnya. Lalu Aditia menarik Dinda, membuat Dinda langsung jatuh di atas tubuhnya.
"Awww, Mas geli..." teriak Dinda sambil tertawa saat Aditia menggelitik tubuhnya.
"Makanya jangan main-main sama Mas hmmm," Aditia terus menggelitik tubuh Dinda.
"Ampun Mas, ampun..." mohon Dinda dengan napas yang tersengal-sengal.
Aditia langsung menghentikannya, lalu ia melingkarkan tanganya di pinggang Dinda. Mata mereka saling menatap satu sama lain.
"Yang, boleh gak?" bisik Aditia. Wajah Dinda langsung merah merona.
"Udah 6 bulan loh Yang," lanjut Aditia.
Jeng..jeng..
Bersambung...
Like
komen
vote
Jangan lupa ya.
Besok aja Aditia buka puasa ya...
Wkwkwk...
Mampus di gantung...Wkwkw
Terima kasih.
__ADS_1