
Dinda, Aditia dan kedua orang tuanya, tak lupa juga baby Azka. Mereka kini baru saja sampai di salah satu pusat perbelanjaan ternama di kota mereka.
"Udah lama ya kita gak jalan-jalan kaya gini," ucap Aditia, diangguki oleh mereka.
"Kita mau kemana dulu?" lanjutnya.
"Aku sih terserah Mas aja."
"Ke super market saja dulu, gimana? Sekalian Mamah mau belanjaan bulanan juga!" sahut Mamah Adelia.
"Boleh Mah, kayanya Dinda juga sekalian aja belanja buat kebutuhan dapur dan rumah."
"Gimana?''
"Emang gak bakalan kerepotan nantinya? Kitakan bawa baby Azka?" ucap Papah Mehendra.
"Iya juga ya!"
"Gini aja deh. Din kamu saja sama Aditia duluan belanjanya, nanti kita bergiliran gimana?"
"Ah, ribet. Sekalian saja sekarang! Biar kita gantian aja momong Azka, lagian Azka juga anteng, cucu kitakan pinter Mah," sahut Papah Mehendra.
"Ya sudah, kalau begitu, ayo."
Mereka pun langsung berjalan menuju super market tersebut.
"Biar Papah yang jagain Azka sini, kalian masuk saja sana. Papah males nemenin, wanita kalau belanja lama, rempong lagi," ucap Papah Mehendra.
"Aditia, kamu sini saja, sama Papah, jagain Azka. Biar para wanita berbelanja," lanjutnya.
Sebelum menjawab, Aditia melihat kearah Dinda.
"Iya, gak apa-apa. Mas di sini saja sama Papah jagain Azka, biar aku sama Mamah yang belanja," ucap Dinda.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya!"
"Iya Mas." Dinda mengangguk.
"Ayo Mah," ajak Dinda pada Mamah Mertua. Lalu mereka pun memasuki super market tersebut.
"Cari tempat yang nyaman yuk Dit, sambil ngopi," ajak Papah Mehendra.
"Boleh Pah," sahut Aditia.
__ADS_1
Mereka berjalan menuju sebuah Coffe shop. Seraya mendorong selorer baby Azka. Baby Azka terlihat anteng tertidur di sana.
Sementara Dinda dan Mamah Adelia, kini mereka tengah sibuk berbelanja.
Mencari apa saja yang di butuhkan mereka.
"Din, Mamah ke sebelah sana dulu bentar ya," ucap Mamah Adelia.
"Iya Mah."
Mamah Adelia berjalan sambil mendorong trolinya, menuju tempat barang yang ia butuhkan. Sementara Dinda kini sedang memilih bahan pangan, untuk keperluan dapur.
Sambil berjalan pelan, mendorong trolinya, Dinda melihat-lihat, sambil mencari apa yang akan dia beli.
Dinda mengalihkan pandangannya, saat merasa ia menubruk sesuatu, membuat trolinya beradu, dan menimbulkan suara khas tabrakan.
Dinda terkejut, ia memang berjalan tak memperhatikan jalan, karna sedari fokus mencari makanan yang akan dia beli.
"Maaf, saya tidak senga---" ucapan Dinda terhenti, saat melihat orang yang baru saja tak sengaja ia tabrak itu.
Begitu juga dengan orang itu, dia juga terlihat terkejut, mereka terdiam untuk beberapa saat, dengan mata saling memandang.
"Dinda..."
"Mbak Lisa.."
Lisa terlihat gemuk, pandang Dinda terhenti saat melihat kearah perut Lisa.
"Apa mbak Lisa hamil? Bukannya dia baru saja keluar dari penjara?" batin Dinda.
"Hay Din, apa kabar?'' Lisa membuka suaranya, ia menanyakan kabar mantan madunya itu, seraya mengulurkan tangannya.
"Eh iya Mbak." Dinda tersentak dari lamunannya.
"Emm, baik Mbak, Alhamdulillah. Bagaimana dengan kabar Mbak Lisa?" tanya Dinda balik, seraya menerima uluran tangan Lisa, mereka saling berjabat tangan.
"Alhamdulillah, aku juga baik," jawab Lisa sambil tersenyum. Lalu mereka melepaskan jabatan tangan mereka.
"Sama siapa kesini Din?" tanya Lisa.
"Sama Mamah, sama Papah sama Mas Aditia juga, sama baby Azka juga."
"Emm, lalu mereka dimana?'' tanya Lisa, sambil melihat ke sekeliling, namun Lisa tak melihat mantan suami dan mantan mertuanya itu.
__ADS_1
"Mamah lagi cari barang, di sebelah sana mungkin."
"Kalau Mas Aditia sama Papah, mereka gak ikut masuk, mereka di luar sambil jagain anakku," lanjut Dinda.
Lisa terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baby Azka sudah besar dong Din? Gimana kabarnya?" tanya Lisa lagi.
"Alhamdulillah sehat Mbak. Usianya sekarang menginjak 7 bulan Mbak," jawab Dinda.
"Syukurlah."
"Aku duluan ya Din," lanjut Lisa, berpamitan.
Dinda mengangguk, lalu Lisa berjalan meninggalkan Dinda. Dinda masih diam mematung, seraya memandangi punggung Lisa, yang terus menjauh dari hadapannya.
Sebenarnya ada yang ingin Dinda tanya tadi pada Lisa. Namun sepertinya Lisa terlihat sedang terburu-buru.
Dinda ingin menanyakan tentang dugaannya, apa benar Lisa kini tengah hamil? Tapi dilihat dari bentuk tubuhnya, wanita itu memang terlihat sedang berbadan dua. Apa lagi, perut buncitnya terlihat sangat menonjol. Jika bisa di perkirakan usia kandungan Lisa seperti memasuki usai kandungan 6 atau 7 bulanan.
Perutnya terlihat sudah membesar.
Yang menjadi pertanyaan adalah, siapa Ayah dari anak yang kini tengah di kandung Lisa. Bukannya Lisa baru saja keluar dari penjara. Pikir Dinda.
"Apa jangan-jangan itu anaknya Mas Aditia?" batin Dinda. Dinda ingat betul saat sebelum Dinda mengalami kecelakaan, malamnya Aditia tidur di kamar Lisa, kemungkinan sangat besar jika mereka berhubungan pada malam itu.
"Ya Tuhan, jika benar itu anaknya Mas Aditia..." Dinda tak bisa melanjutkan lagi perkataannya itu.
"Apa Mas Aditia tau tentang ini?" batin Dinda.
Bersambung...
Maaf baru sempat up. Dan aku selalu up malam banget, karna lagi sibuk banget di dunia nyata.
Jangan lupa like, komen dan Votenya ya.
Terima kasih sudah setia menunggu kelanjutan cerita Dinda dan Aditia.
Kayanya bakalan ada kesalah pahaman nih.
Hehe...
Tetap ikut terus kelanjutanya ya.
__ADS_1
Salam sayang dari Author.
I love you all.....