
Pagi harinya...
Dinda terbangun dari tidurnya, betapa ia terkejutnya saat melihat kearah jarum jam yang sudah menunjukan pukul setengah 7 pagi.
"Astagfirullah, aku melewatkan kewajibanku," ucap Dinda. Dinda perlahan Dinda bangun, ia bersandar di kepala ranjang itu. Dinda merasakan kepalanya terasa berat dan tubuhnya terasa lemas.
"Ada apa denganku?" Lirih Dinda, badannya terasa panas, mungkin pikirnya demam. Semalam Dinda terlalu banyak menangis, yang menyebabkan ia susah tidur, bahkan Dinda tertidur waktu sudah menjelang subuh, jam 3 pagi ia baru tidur. Mungkin ini efek dari kurang tidur atau mungkin Dinda masuk angin, pikirnya.
Dinda pun memutuskan untuk membersikan diri terlebih dahulu, perlahan Dinda berajak dari ranjangnya itu dengan langkah sedikit menggontai Dinda berjalan ke kamar mandi. Setelah beberapa menit kemudian Dinda selesai, ia beranjak keluar dari kamarnya, Dinda memutuskan untuk sarapan setalah itu minum obat. Mungkin dengan itu ia bisa pulih kembali.
Namun saat Dinda berjalan menuju dapur, ia melewati Aditia dan Lisa yang terlihat sedang menikmati sarapan mereka. Aditia dan Lisa terlihat menoleh kearah Dinda yang merawatnya itu, Dinda hanya tersenyum sekilas lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Aditia nampak cuek tak memperdulikan istri mudanya itu, karna ia merasa masih kesal dengan kejadian semalam, sementara Lisa ia tersenyum dengan senyuman yang sulit di artikan. Namun di balik kecuekkannya itu, Aditia merasa ada yang aneh pada Dinda, ia melihat wajah istri mudanya itu terlihat sangat pucat.
'Ada apa dengan Dinda? Kenapa wajahnya pucat sekali? Apa dia sakit?' batin Aditia bertanya-tanya. Namun Aditia tak bisa menahan egonya, ia berpura-pura tidak memperdulikan Dinda, walaupun dalam hatinya sebenarnya meronta ingin bertanya, namun Aditia menahannya.
"Pagi bi,'' sapa Dinda pada bi Santi.
"Pagi nyonya muda," jawab bi Santi, "ya Allah nyonya. Nyonya kenapa? Nyonya sakit? Wajah nyonya pucat sekali?" Lanjutnya mencerca pertanyaan kepada majikannya itu.
Raut wajah kekhawatiran terlihat dari wanita paru baya itu.
"Aku tidak apa-apa kok bi, cuman tidak enak badan sedikit aja!" Sangkal Dinda, sambil menampakkan senyuman manisnya, meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Tapi wajah nyonya pucat banget," lalu bi Santi menempelkan telapak tangan di kening Dinda, "ya Allah nyonya, badan nyonya panas sekali, lebih baik nyonya ke rumah sakit ya! Biar saya bilang tuan."
"Tidak bi, gak usah. Aku gak apa-apa, minum obat aja, gak usah ke rumah sakit. Nanti juga pasti sembuh!" Tolak Dinda.
"Nyonya yakin?"
"Iya bi," jawab Dinda, "oh iya bi, bibi bisa antarakan sarapan aku gak ke kamar? Aku pengen sarapan di kamar aja!"
"Baik nyonya, nanti bibi antarkan sekalian sama obatnya ya nyonya."
Dinda mengangguk, lalu ia berjalan kembali menuju kamarnya, Dinda benar-benar merasakan badannya semakin lemas serta kepalanya benar-benar pusing sekali.
__ADS_1
Sementara itu, Aditia sudah berangkat menuju kantornya, sedangkan Lisa ia juga sudah pergi entah kemana wanita itu.
Dinda sudah berada di dalam kamarnya, ia kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur. Tak lama kemudian bi Santi terlihat memasuki kamar majikannya itu, membawa nampan yang berisikan segelas susu dan dua potong roti, tak lupa ia juga membawakan obat untuk majikannya itu.
"Sarapan dulu ya nyonya," ucap bi Santi.
"Terima kasih ya bi,"
"Sama-sama nyonya, apa mau bibi bantu? Bibi suapin ya!"
"Gak usah bi, aku bisa sendiri." Tolak Dinda halus.
"Ya sudah kalau begitu, bibi permisi." Pamit bi Santi. Dinda mengangguk, lalu bi Santi pun berlalu kaluar dari kamar majikannya itu.
Dinda mulai memakan sarapannya, namun baru saja ia menelan satu gigitan roti tersebut, Dinda merasakan perutnya bergejolak, Dinda merasakan mual. Dinda segara ke kamar mandi, ia memuntahkan isi perutnya. Setalah merasa cukup baik Dinda pun kembali ke kasurnya. Dinda menjauhkan roti tersebut dari hadapannya, entah kenapa ia marasa tidak suka menghirup aroma dari roti tersebut, Dinda hanya mengangguk susunya saja untuk mengisi perutnya lalu ia meminum obat yang sudah di bawakan bi Santi. Setelah itu Dinda mencoba memejamkan matanya, untuk beristirahat.
Siang berlalu...
Dinda terbangun, tapi ia merasa badannya semakin lemas dan kepalanya semakin pusing, obat yang Dinda minum sepertinya tidak ada efeknya sama sekali.
"Ya Allah ada apa denganku?" Lirih Dinda, ia mulai merasakan pandangannya kabur, beberapa detik kemudian Dinda merasakan semuanya gelap. Dinda tak sadarkan diri.
"Nyonya, nyonya bangun nyonya..."
***
"Apa bi? Dinda di bawa ke rumah sakit?" Tanya Aditia, wajah terkejut dan penuh kekhawatiran terlihat dari wajahnya.
"Saya akan kesana sekarang!" Lanjutnya, lalu Aditia mematikan sambungan telpon dari Bu Santi. Bi Santi baru saja mengabarinya bahwa Dinda di bawa ke rumah sakit, karna tadi Dinda pingsang.
Aditia berjalan tergesa-gesa meninggalkan kantornya itu. Ia benar-benar sangat mengkhawatirkan kondisi Dinda. Secepat kilat Aditia melajukan mobilnya, sekitar 20 menit kemudian Aditia sampai di rumah sakit tersebut. Aditia langsung berjalan menuju tempat Dinda di rawat.
Dinda terlihat masih berbaring tak sadarkan diri di atas brankar, dokter terlihat sedang memeriksanya, bi Santi dengan setia menemani majikannya itu.
"Bi kenapa bisa begini?" Tanya Aditia kepada bi Santi. Aditia yang baru saja sampai di ruangan rawat tersebut.
__ADS_1
"Tidak tau tuan, tadi pas saya anterkan makan siang pada nyonya, saya liat nyonya sudah tidak sadarkan diri," jawab bi Santi sambil menundukkan kepalanya.
"Dok bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Aditia kepada dokter yang masih memeriksa istrinya itu.
"Istri bapak tidak apa-apa, ia hanya mengalami kelelahan saja serta kurang cairan, di sarankan ibu Dinda harus banyak mengonsumsi buah-buahan, serta makanan yang banyak mengandung vitamin. Satu lagi jangan biarkan istri bapak terlalu banyak pikiran, kandungannya sangat lemah, dan itu sangat rentang."
"Mak--maksud dokter?"
"Selamat pak istri bapak hamil, usia kandungannya sudah 2 Minggu."
"Apa hamil?" Aditia membulatkan matanya, ia benar-benar merasa mimpi. Apa benar Dinda hamil? Aditia akan menjadi calon ayah?
"Iya pak, saya akan memberikan vitamin untuk istri bapak. Saya permisi dulu," pamit Dokter tersebut. Aditia menganggukkan kepalanya.
Aditia langsung menatap kearah Dinda, Dinda terlihat sudah sadar, Dinda mendengar semua ucapan dokter tadi. Aditia langsung menghampiri Dinda, Aditia langsung memeluk istri keduanya itu.
"Kamu hamil sayang, hamil. Terima kasih sayang, aku mencintaimu!" Ucap Aditia, dengan mata yang berkaca-kaca. Aditia menitihkan air mata bahagia, ia tak menyangka akhirnya waktu yang ia tunggu-tunggu tiba.
Sementara Dinda, ia sudut matanya terlihatlah meneteskan air matanya. Entah harus merasa bahagia atau tidak.
Hamil? Setiap perempuan yang sudah menikah pasti mendambakan itu semua. Tapi mengingat posisinya, 'ya tuhan apa yang harus aku lakukan sekarang?' gumam Dinda.
Dinda sadar dia menjadi salah satu wanita yang diamanahkan oleh tuhan, banyak wanita di luar sana ya mendambakan seorang bayi di rahim mereka, menantinya dengan sangat lama, sementara Dinda ia dipermudah semuanya. Dalam waktu 2 bulan pernikahan dengan Aditia, tuhan sudah menganugerahkan sebuah janin di rahimnya itu. Tapi mengingat posisinya kembali, pernikahan dengan Aditia. Sesak di hati Dinda mulai terasa.
Bersambung...
Like
Komen
Votenya
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya!
Yang belum tekan love-nya. Tekan dulu yuk!
__ADS_1
Simpan di rak favorit kalian ya, biar dapat notifikasi kalau aku sudah up.
Terima kasih.