Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab. 56 Penawaran Riki


__ADS_3

Lisa tak menghiraukan Riki yang terus saja memanggil-manggil namanya, sengaja memang saja, rasa ia malas sekali berurusan lagi dengan laki-laki yang menyebalkan itu.


"Lisa tunggu!" panggil Riki. Kini Lisa mengehentikan langkahnya, karna tanganya di tarik oleh Riki.


"Ada apa sih hah?" tanya Lisa ketus.


"Ada yang ingin aku bicarakan, penting!" ujar Riki.


Lisa terlihat mengernyitkan dahinya. Penting? Ada pembicaraan penting apa yang akan laki-laki itu sampaikan pada Lusa?


"Apa?" tanya Lisa masih dengan suara juteknya.


"Nanti aku bicarakan, tapi tidak di sini," ujar Riki.


"Cih, lebih baik katakan saja sekarang! Aku tidak punya waktu untuk meladeni kamu, paham?!" pekik Lisa.


"Sebentar saja Lisa, aku janji setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi, kalau pun nantinya kita ketemu, aku akan bertingkah tidak mengenalmu," ucap Riki bersungguh-sungguh.


Lisa terlihat berpikir sejanak. Ia menimbang-nimbang ucapan Riki tersebut.


"Baiklah, aku akan bayar belanjaanku dulu," sahut Lisa pasrah. Mungkin tidak apa-apa ia menerima tawaran Riki tersebut, toh tidak ada salahnya juga, di tambah Lisa juga penasaran, sebenarnya apa yang akan di bicarakan laki-laki itu?


Riki terlihat menganggukan kepalanya, setelah itu Riki melepaskan tanganya dari pergelangan tangan Lisa. Lisa dan Riki pun berjalan beriringan menuju kasir untuk membayar belanjaan mereka masing-masing.


Riki dengan sabar menunggu Lisa yang tengah memasukan belanjaanya ke bagasi mobil.


"Sebaiknya kita cari tempat yang nyaman," ajak Riki pada Lisa yang kini sudah berdiri di hadapannya.


"Oke," sahut Lisa.


Mereka pun berjalan menuju taman yang ada di di sebrang supermarket tersebut. Mereka duduk di bangku taman yang tersedia di sana.


"Cepat katakan, apa yang ingin kamu bicarakan sekarang? Aku tidak punya banyak waktu!" titah Lisa. Riki terlihat langsung menganggukkan kepalanya.


"Apa suami kamu bernama Aditia Mahendra?" tanya Riki.


"Ya," jawab Lisa singkat.

__ADS_1


Riki terdiam sejenak, jawaban singkat Lisa mampu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang terbesit di benaknya selama ini.


"Jadi benar, kalau Dinda itu madu kamu?" Riki kembali membuka suaranya bertanya pada Lisa.


"Ya," lagi-lagi jawaban singkat terlontar dari bibir Lisa.


"Sebentar," lanjut Lisa. Ia baru engeh, kenapa Riki bertanya seperti itu padanya?


"Kenapa kamu bertanya soal itu?" lanjut Lisa memberikan pertanyaan pada Riki, seraya menatap laki-laki yang duduk di sampingnya itu penuh tanya.


"Apa Dinda bahagia?" bukannya menjawab pertanyaan yang Lisa lontarkan, Riki malah memberikan pertanyaan tersebut. Membuat Lisa tambah bingung.


"Emm, tentu saja bahagia!" jawab Lisa dengan ragu, ya tentu saja ragu, Lisa tidak tau apa Dinda bahagia atau tidak? Dari luar terlihat bahagia memang, tapi ibarat pepatah dalamnya bisa kita selami, tapi hati manusia? Tentu saja tidak bisa.


"Benarkah?"


"Lalu bagaimana dengan kamu? Apa kamu bahagia juga?" lanjut Riki mencerca beberapa pertanyaan pada Lisa.


Lisa terdiam. Bahagia? Lisa bertanya pada dirinya sendiri, apa dia bahagia? Entahlah, bahkan rasanya Lisa lupa bagaimana rasanya bahagia. Seperti yang kita tau, bagaimana perlakuan Aditia saat ini pada Lisa, Aditia memang tidak menyakiti Lisa, ia selalu berusaha bersikap adil pada kedua istrinya, tapi tetap saja, Lisa bisa menilai tulus atau tidaknya sikap Aditia tersebut. Dan Lisa tau, bahwa Aditia memperlakukan dirinya dengan baik itu terpaksa.


"Bukan urusan kamu, mau aku bahagia atau tidak, itu sama sekali tidak ada urusannya dengan kamu Riki," tegas Lisa. Ia mencoba menyangkal semua ucapan Riki tersebut.


"Hahaha," tawa Riki menggema. Lucu, tentu saja menurut Riki, Lisa itu sangat lucu, telatnya bukan lucu, tapi bodoh!


"Sudahlah Lisa, jangan berpura-pura bahagia. Aku tau dalam hati kecil kamu itu, pasti kamu tidak rela, 'kan?" lanjut Riki. Laki-laki itu menampakan senyuman yang sulit diartikan oleh Lisa.


"Sudah aku bilang, jangan ikut campur urusanku. Memangnya kau ini siapa hah?" sengit Lisa tidak mau kalah.


"Aku," Riki menunjuk pada dirinya sendiri.


"Kamu mau tau aku siapa? Aku mantan calon suaminya Lisa," lanjut Riki dengan bangga. Ia sengaja menekankan kata 'Mantan'.


"Hanya mantan'kan?" ledek Lisa, Lisa berusaha bersikap tenang dan santai, walaupun sebenarnya ia benar-benar merasa terkejut dengan pengakuan Riki itu.


"Ya, ya.... sekarang aku mengerti!" lanjut Lisa.


"Ya, aku memang cuman mantannya. Tapi aku masih mencintainya," ucap Riki.

__ADS_1


"Hahaha," Lisa tertawa dengan begitu renyahnya, tentu saja tawa Lisa seolah meledek Riki.


"Kasian sekali kamu! Sebaiknya kamu harus mulai move on deh Riki, biar kamu waras!" lanjut Lisa.


Riki malah tersenyum menanggapi perkataan Lisa tersebut, "tentu saja aku waras! Bahkan sangat waras. Aku rasa yang tidak waras itu kamu Lisa!"


"Apa maksud kamu?" pekik Lisa.


"Sudahlah, jangan banyak drama Lisa. Aku tau kamu tidak rela berbagi suami dengan Dinda. Aku juga yakin Dinda juga selama ini tidak bahagia, sudah hadir ditengah-tengah kalian," ujar Riki.


"Lalu jika memang aku tidak bahagia, kamu mau apa hah?"


"Aku punya penawaran untuk kamu, dan tentu saja penawaran ini sangat menguntungkan untuk kamu. Bukan hanya kamu, tapi sangat menguntungkan untuk kita berdua," jelas Riki. Senyuman smirk terulas dari bibir laki-laki itu.


"Maaf, aku sama sekali tidak tertarik dengan penawaran kamu Riki," tolak Lisa dengan cepat. Lis Bua sama sakali tidak tertarik dengan ucapan Riki tersebut, Lisa juga sudah bisa menebak penawaran Riki tersebut. Memang bisa menguntungkan dirinya, tapi sayangnya Lisa tidak tertarik sam sekali.


Lagi-lagi Riki menyunggingkan senyuman yang sulit diartikan pada Lisa, saat mendengar penolakan secara mentah-mentahnya Lis.


"Sudah selesai, 'kan Riki? Tepati janji kamu, bahwa setalah ini kamu tidak akan mengganggu lagi. Dan satu lagi, jangan berpikir kamu bisa memiliki Dinda kembali, karna itu semua hanya mimpi Riki," ucap Lisa, lalu ia berajak dari sana, berlalu begitu saja meninggalkan Riki. Riki menatap punggung Lisa, yang terus berjalan menjauh dari pandangannya.


"Baiklah Lisa, kita lihat nanti. Aku pasti akan menepati janjiku. Aku tidak akan lagi mengganggu kamu, karna nantinya kamu sendiri yang akan datang kembali padaku, camkan itu!" pekik Riki.


Lisa kini sudah mengemudikan mobilnya, seperti rencana awalnya, ia akan mengunjungi rumah kedua orang tuanya.


"Jadi Riki itu mantan calon suaminya Dinda, jadi dia itu laki-laki br3ngsek yang sudah mengkhianati Dinda, dengan menghamili adiknya Dinda. Hadeh, dasar laki-laki tidak tau diri, sudah membuat sakit hati masih saja berharap mau kembali, benar-benar sudah tidak waras itu di Riki," gumam Lisa.


Bersambung...


Like


Komen


Votenya


Jangan lupa ya!!


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2