
Di sebuah gedung mewah terlihat sudah di dekorasi seindah mungkin, dengan tema warna serba putih, serta bunga-bunga segar yang tertata rapi dan di bentuk sedemikian rupa, menambah kesan kemewahannya.
Sebuah podium pelaminan yang terlihat luas dan besar, dan tak kalah mewah juga terlihat di sana. Dengan tema yang sama, serba putih namun bunga-bunga terlihat lebih mendominasi di sana.
Ya, tempat tersebut, adalah tempat di mana acara akad nikah dan resepsi akan di lakukan. Aditia sudah mengatur semuanya, dan seperti semuanya tidak sia-sia. Semua persiapan sudah selesai 99 persen. Tinggal hanya menunggu harinya saja.
Dan besok, besok akan dilangsungkannya acara pernikahan Bella dan Reza.
Malam rombongan keluarga Bella, yang tak lain adalah Dinda, Aditia serta kedua orang tua Aditia. Sudah berapa di hotel. Mereka menginap di sana.
Mereka juga sudah merencanakan bahwa besok yang akan duduk di pelaminan menjadi pengganti orang tua Bella yang sudah tiada adalah kedua orang tua Aditia, yaitu mertuanya Dinda. Pada awalanya Dinda dan Aditia yang akan menggantikan mereka, namun mengingat Dinda pasti kerepotan karna ada Baby Azka, jadi kedua mertuanya itulah yang akan menggantikan mereka.
Sementara dari keluarga Reza, seperti yang kita ketahui bahwa Reza sudah tidak mempunyai orang tua juga, namun Reza masih memeliki saudara, dan saudaranya itulah yang akan menggantikan kedua orang tua Reza.
Dan untuk wali-nya Bella, nanti Bella akan di nikahkan oleh wali hakim. Karna memang kedua orang tua mereka tidak mempunyai saudara.
Bella, Dinda dan Mamah Adelia, mereka tidur di kamar yang sama malam ini. Sementara Aditia dan Papah Mehendra, mereka tidur di kamar yang berbeda, tepatnya di kamar sebelah mereka. Ya lebih tepatnya, laki-laki bersama laki-laki dulu, wanita bersama wanita dulu, untuk sementara. Ya, walaupun tadi Aditia sempat protes, karna ia ingin sekamar dengan istrinya. Namun apalah daya, demi kelancaran bersama Aditia harus mengalah, dan tidur bersama Papahnya malam ini.
__ADS_1
Dan untuk masalah anak-anak Bella dan Dinda, Bi Santi dan keponakan yang kemarin baru saja sampai, sudah siap menghandle masalah anak-anak majikan mereka itu. Karna Dinda masih belum menemukan pengasuh yang cocok untuk baby Azka, begitu juga dengan Bella yang selama ini belum mempercayakan pengurusan anaknya pada orang lain. Walaupun usianya masih muda, seperti Bella kini sudah dewasa. Ia bisa mengurus baby-nya tanpa seorang pengasuh.
Dinda dan Bella terlihat baru saja selesai menidurkan anak mereka. Mamah Adelia entah kemana, tadi wanita itu berpamitan keluar sebentar katanya.
Bella dan Dinda kini tengah duduk di sofa.
"Kak, aku deg-degan..." ucap Bella.
"Ya, kalau gak deg-degan mati dong Dek," sahut Dinda sambil bercanda.
"Ih, Kakak. Maksud aku bukan deg-degan itu. Deg-degan beda ini mah." Bella terlihat menekuk wajahnya.
Bella tersenyum, lalu mengaminkan ucapan kakak itu.
"Sayang sekali ya Dek, Ayah sudah tidak ada," ucap Dinda, dengan tatapan menerawang. Teringat kepada mendiang sang Ayah yang menurut Dinda, sudah bahagia di sisi-Nya. Dinda yakin Ayahnya pasti melihatnya. Kini, anak-anaknya sudah menemukan kebahagiaan mereka.
"Kak, apa Ayah sudah memaafkan aku," lirih Bella. Dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Mengingat kembali, dulu sebelum sang Ayah pergi, Bella sudah memberikan luka di hati Ayahnya, mengecewakan orang yang sudah membesarkannya itu.
__ADS_1
Dinda melihat kearah Bella, lalu ia merangkul Bella, dan membawa Bella ke dalam pelukannya.
"Ayah pasti sudah memaafkan kamu Dek, Kakak yakin, Ayah pasti ikut bahagia di sana, Ayah pasti melihat kita. Dan satu lagi, Ayah pasti bangga bisa melihat kamu yang sekarang."
Bella terisak dalam pelukannya kakaknya, benarkah. Apa yang di katakan kakaknya itu. Andai saja waktu bisa di putar kembali, Bella ingin memperbaiki semuanya. Meminta maaf pada sang Ayah, membahagiakan sang Ayah, di waktu terakhir sang Ayah.
"Ayah, maafkan Bella..." batin Bella. Penuh menyesalan. Tentu saja Bella menyesal, karna di ujung usia sang Ayah, Bella malah membuat Ayahnya kecewa bukan membahagiakannya.
Namun sayangnya, Bella tidak bisa apa-apa. Mungkin semuanya sudah takdir.
"Sudah jangan menangis. Besokkan hari bahagia kamu." Dinda melepaskan pelukannya. Lalu mengusap air mata sang Adik dengan lembut.
"Terima kasih Kak, terima kasih untuk semua. Aku sayang sama Kakak," Bella kembali memeluk Dinda.
"Sama-sama, Kakak juga sayang sama kamu," balas Dinda.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa, like, komen dan Votenya.
Terima kasih.