Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 64. Kalian ingin bermain-main denganku?


__ADS_3

Aditia kini sudah sampai di Rumah sakit, ia menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya.


"Jadi bukan Lisa pelakunya?" tanya Mamahnya. Usai mendengarkan semua cerita Aditia.


"Seperti bukan Mah, tapi aku juga tidak tau! Bisa jadi ini semua akal-akal dia, mengelabui kita," sahut Aditia.


"Jujur saja ya, Aditia. Mamah dan Papah sempat curiga kalau dalang semua ini, adalah Lisa. Tapi mendengarkan cerita kamu ini, my bee yes, my bee no!"


"Iya Mah, aku juga sama. Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Aditia. Raut wajah sudah tidak bisa diartikan lagi. Antara mengkhawatirkan kondisi Dinda dan bayinya, dan juga Lisa. Ah sungguh, Aditia merasa dunia ini sangat kejam padanya.


Kedua orang tua Aditia, terlihat mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Lihatlah Mah anakmu," ucap Papah Mehendra.


"Iya, anakmu juga Pah. Entahlah, Mamah heran, kenapa kita bisa punya anak bodoh sekali seperti dia," sahut istrinya.


"Mah, Pah. Kalian kok malah memaki aku sih, bukan bantu cari jalan keluarnya!" pekik Aditia. Ia merasa kedua orang tuanya, terkesan memojokkannya, padahal situasi sedang tidak baik. Membuat tambah rumit saja. Pikirnya.


"Aditia, kamu itu emang bodoh, kita berbicara sesuai fakta. Ingat Aditia, kamu itu siapa? Ya ampun Mamah benar-benar tidak habis pikir sama kamu!"


"Kamu itu orang berkuasa, gunakan kekuasan kamu kali-kali. Jangan bodoh seperti ini. Dan satu lagi, pake otak kamu juga, kalau Mamah ada di posisi kamu, Mamah sudah bayar ribuan orang yang bisa di percaya, untuk mencari Lisa, membantu kamu membereskan masalah kamu satu persatu," lanjut Mamah Aditia.


Aditia terdiam, iya, kenapa ia tidak sampai kepikiran? Sial, apa memang dirinya itu bodoh. Aditia orang kaya, mungkin membayar seorang mafia untuk membantu menyelesaikan semuanya juga bisa.


Aditia melihat kearah Mamahnya, lalu bergantian melihat kearah Papahnya. Setalah itu Aditia berajak dari sofa.


"Aku akan segara bertidak Mah, aku titip istri dan anakku," ucap Aditia, seraya berjalan keluar dari ruangan rawat VVIP tersebut.

__ADS_1


"Seperti dia sudah sadar Mah," ucap Papah Mahendra.


"Iya Pah, tapi seharusnya Papah juga membantu Aditia, kerahkan semua anak buah kepercayaan Papah. Papah jangan ikut-ikutan bodoh kaya Aditia juga," sahut istrinya.


"Sudah Mah, tanpa Mamah suruh. Papah sudah lebih dahulu bertindak. Sekarang anak buah Papah sudah menemukan keberadaan Lisa. Lisa di sekap di gudang, sama seorang laki-laki, gudangnya di jaga ketat juga. Ini Papah barusan dapat info, anak buah Papah sedang berusaha menerobos masuk ke sana."


"Wih-wih, suamiku memang hebat. Eh, tapi itu Aditia gimana?"


"Biarkan saja Mah, Papah juga ingin tau seberapa besar perjuangan dia, untuk menyelesaikan masalahnya ini."


***


Semantara itu, Aditia kini tengah bersama Reza.


Aditia menceritakan semuanya pada sahabat sekaligus sekertarisnya itu. Aditia meminta Reza untuk mencari orang yang bisa dipercaya. Dan itu bukan hal sulit untuk Reza.


"Oke, gue tunggu kabar baik dari elo ya Za," ucap Aditia.


"Oke, santai saja bro. Lagian kenapa elo gak ngasih tau gue dari kemarin hah?"


"Iya, gue kalut Za," wajah lelah terlihat terpancar dari wajah Aditia.


"Eh iya, terus gimana kondisi kakak Ipar?" tanya Reza.


"Dinda masih koma Za, belum ada tanda-tanda dia akan bangun, gue takut Za," keluh Aditia.


"Banyak-banyak berdoa, semoga Kakak Ipar cepat bangun. Oh iya, nanti gue boleh jenguk Kakak Iparkan?"

__ADS_1


Aditia menganggukan kepalanya.


"Oke, kalau begitu gue balik duluan ya, gue mau jemput dulu Bella, Bella pasti sangat sedih mendengar kabar ini," pamit Reza.


Lagi-lagi Aditia hanya menyahut dengan anggukan kepalanya. Usai kepergian Reza. Aditia masih enggan beranjak dari Caffe sana.


Pikirnya benar-benar kalut. Namun sesaat kemudian, Aditia sadar. Dia tidak boleh lemah, dia tidak boleh seperti ini.


"Oke, baiklah jika kalian akan bermain-main denganku! Akan aku tunjukan siapa aku sebenarnya!" geram Aditia.


***


Sementara di tempat lain. Lisa terkejut mendapati dua orang masuk ke dalam gudang tersebut. Lisa tidak tau orang-orang datang dari mana, padahal pintu gudang masih tertutup rapat.


"Suut..." ucap salah satu orang kepada Lisa. Memberi isyarat agar Lisa diam dan tidak berteriak.


"Kami akan menyematkan Nona, maka diamlah!" titahnya. Lisa menganggukkan pelan, walaupun sebenarnya ia merasa ragu, tapi melihat kedua wajah laki-laki itu, nampaknya mereka benar-benar akan menyelamatkan Lisa.


"Ayo Nona, lewat sini," ajak dua orang tersebut, mereka menarik tangan Lisa. Lisa pasrah mengikuti langkah mereka. Mereka berjalan menuju satu lubang, yang ternyata lubang tersebut terarah pada ruangan bawah tanah, dan di ujung sana Lisa melihat ada sebuah cahaya, sudah dipastikan itu jalan keluarnya.


"Siapa mereka? Kenapa mereka menyelamatkan aku?" gumam Lisa.


Bersambung...


Like


Komen

__ADS_1


Vote


Terima kasih.


__ADS_2