
Bella terlihat sudah cantik dan anggun, tubuhnya di balut dengan kebaya pengantin modern, mewah dan elegan. Di tambah dengan riasan make-up khas pengantin yang sudah terpoles rapi di wajahnya.
Sedari tadi Bella tak berhenti, menatap pantulan dirinya di depan cermin. Sungguh Bella, merasa tak mengenali dirinya sendiri. Sangat berbeda.
Namun di balik kekagumannya itu, di hatinya tersimpan berjuta kegugupan.
Bagaimana tidak, hari ini adalah hari di mana ia resmi dipersunting Reza. Bella tak menyangka, kalau ia akan menikah dengan laki-laki yang awalnya ia benci.
Di mana laki-laki itu sudah memberinya anak terlebih dahulu.
Tapi Bella tak bisa menyembunyikan kebahagiaan, ia bahagia akhirnya bisa menikah dengan Reza. Walaupun awal mula pertemuan mereka, membawa Bella ke jurang menuju dosa.
"Ya Tuhan, semoga ini awal yang baik untuk hidupku," gumam Bella.
"Dek, sudah siap?" tanya Dinda, seraya berjalan masuk menghampiri Bella.
Bella menoleh, lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ayo, acaranya sudah mau di mulai," ajak Dinda.
Dinda dan Bella keluar dari kamar hotel tersebut, mereka berjalan menuju tempat akad dan resepsi yang sudah di siapkan.
"Ya ampun Bella, kamu cantik sekali Nak," puji Mamah Adelia.
"Terima Kasih Mah."
"Ya sudah ayo cepat, akadnya akan segera di langsungkan."
***
Sementara itu, Reza terlihat sudah duduk di tempat, di mana akad nikah akan di langsungkan.
Duduk berhadapan dengan penghulu, dan wali hakim yang akan menjadi wali calon mempelai wanitanya.
Dengan setelah jas berwarna putih, Reza terlihat tampan dan berkarisma. Duduk tegap, dengan tatapan lurus kedepan, tak dapat menyembunyikan kegugupan.
Para tamu undangan terlihat sudah berdatangan, untuk menyaksikan acara sakral tersebut.
Tak lama kemudian, mata mereka semua tertuju pada seorang wanita, yang baru saja memasuki tempat tersebut. Ya, itu Bella. Wanita itu berjalan diampit oleh Dinda dan Mamah Adelia, berjalan dengan anggun mendekati Reza dan orang-orang yang ada di sana.
Para tamu undangan terdengar berbisik-bisik, memuji kecantikan Bella. Yang berjalan melewati mereka.
Begitu juga dengan Reza, ia sedari tadi tak berhenti memandangi calon istrinya itu.
Reza benar-benar terkesima. Dalam hati ia bertanya-tanya. Apa benar itu Bella? Apa benar itu calon istrinya?
Ah, sungguh itu memang Bella, Reza memang tidak salah memilih Bella jadi istrinya. Cantik wanita itu luar biasa. Pikirnya.
Bella duduk di kursi yang berada di samping Reza.
Ketahuilah, kini hati Bella dan Reza sama-sama mulai berdetak tak karuan.
Bella tersenyum, saat Reza melihat kearahnya, ah sungguh, hati Reza ingin melompat rasanya.
"Sudah siap?'' tanya penghulu, mulai membuka acara tersebut.
Reza mengangguk kepalanya. Lalu mengangkat tanganya, ke atas meja. Begitu juga dengan wali hakim Bella, lalu mereka berjabat tangan.
__ADS_1
"SAUDARA REZA SAYA NIKAHKAN DAN KAWINKAN ENGKAU DENGAN BELLA AZNIA BINTI ALMARHUM ATMAJA DENGAN MAS KAWIN SEPERANGKAT ALAT SOLAT DAN EMAS 100 GRAM DI BAYAR TUNAI."
"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWANNYA BELLA AZNIA BINTI ALMARHUM ATMAJA DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT DI BAYAR TUNAI."
Reza mengucapkan Ijab Qabul dengan satu tarikan napas, dengan suara yang lantang dan jelas.
"Bagaimana saksi, SAH?"
"SAH."
Semua orang langsung bertepuk tangan.
Kini Bella dan Reza sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Semua orang terlihat ikut bahagia, begitu juga dengan Bella, mata wanita itu terlihat berkaca-kaca. Masih tak menyangka, akhirnya dia sekarang sudah sah menjadi seorang istri.
Bella meraih tangan Reza, lalu menyalaminya dengan takzim, sebagai bakti seorang istri pada suami. Setalah itu Reza, mengecup kening Bella yang kini sudah resmi menjadi istrinya.
Lalu mereka bertukar cincin nikah mereka. Wajah keduanya tak lepas dari senyuman. Setalah semua proses Ijab Qabul selesai. Penghulu menutup acara tersebut dengan doa, semua orang terlihat ikut menadahkan tangan mereka, ikut serta mengaminkan doa tersebut.
Dan akhirnya acara Ijab Qabul pun selesai.
Di sisi lain, Dinda terlihat menitihkan air matanya, ia tak kuasa menahan tangis, tangis terharu bahagia. Akhirnya adik satu-satunya itu menemukan laki-laki yang bener-bener mencintainya.
Aditia terlihat merangkul Dinda.
"Ayo kita beri selamat pada mereka," ajak Aditia, diangguki oleh Dinda.
Mereka pun berjalan mendekati Reza dan Bella.
Bella langsung menghambur memeluk kakaknya itu.
"Selamat ya Dek, akhirnya kamu resmi jadi istri Reza," ucap Dinda, seraya mengelus bahu Bella.
"Terima kasih, kak." Mereka melepaskan pelukannya.
"Selamat ya Bell, akhirnya casanova bertekuk lutut pada kamu," ucap Aditia, seraya bercanda, melirik Reza dengan sudut matanya.
Reza terlihat memelototi Aditia, membuat mereka semua terkekeh.
"Terima kasih Kak, ini semua juga berkat kakak. Terima kasih juga untuk semuanya, kakak sudah mempersiapkan pernikahan kami dengan sangat sempurna, maaf merepotkan kakak," ucap Bella.
"Tidak masalah, habis repsesi kita lihat hitung menghitungnya." Lagi-lagi Aditia menggoda mereka.
Glekk...
Reza menelan silivanya, mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Aditia barusan.
"Mas..." Dinda mencubit kecil perut suaminya itu.
"Tenang aja Za, gue bencanda kali," ucap Aditia melihat pada Reza.
Reza tersenyum lega. Ya kali, Reza harus bayar semuanya. Uang dari mana? Tabung sih ada, tapi ini pesta pernikahan ala sultan.
"Selamat ya Za," lanjut Aditia. Seraya menepuk bahu sahabatnya itu.
"Thanks Bos, gue hutang banyak sama elo," ucap Reza.
__ADS_1
"Santai, gajih elo nanti gue potong lima puluh persen perbulannya," bisik Aditia.
Lagi-lagi Reza hanya bisa menelan silivanya.
Untuk saat ini Reza tidak tau, apa Aditia bercanda atau tidak.
"Oh iya Kak, baby-ku gimana?" tanya Bella. Di sela hari bahagianya itu, ia tidak tenang.
"Tenang saja, mereka aman, anteng. Sudah kamu jangan khawatir, nikmati saja hari bahagia ini," jawab Dinda.
Bella tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.
Setalah itu, Bella dan Reza di bawa menuju kamar hotel, mereka akan bergantian pakai untuk acara resepsi.
Para tamu undangan terus berdatangan. Aditia memang sengaja mengundang banyak tamu. Dari mulai kerabat bisnis, Sabahat dan orang-orang terdekat mereka. Pesta tersebut terlihat begitu sangat mewah.
Kini Aditia dan Dinda tengah duduk, seraya menikmati hidangan yang sudah di sediakan di sana. Dinda dan Aditia memang belum mengisi perut, jadi mereka mengisi dulu perut mereka, sebelum menyambut tamu-tamu undangan.
"Azka di mana Yang?" tanya Aditia.
"Azka tidur di kamar Mas, tadi bi Santi kirimin aku Poto Azka," jawab Dinda, seraya menikmati makanannya.
"Mas, terima kasih ya," lanjut Dinda menatap Aditia lekat.
"Untuk?" Aditia membalas tatapan istrinya itu.
"Semuanya, terima kasih sudah menyiapkan pesta yang sangat sempurna untuk Bella," jelas Dinda.
"Tidak masalah Sayang, Bella adik mu, berarti keluargaku juga, dan juga Reza, Reza sudah aku anggap sebagai keluarga juga."
"Justru aku yang minta maaf, sama kamu," lanjut Aditia.
Dinda terlihat mengerutkan kedua alisnya, menatap Aditia bingung.
Lalu Aditia meraih tangan Dinda, "maaf, waktu kita menikah, aku tidak membuatkan pesta seperti ini," ujar Aditia.
Dinda tersenyum, "ya ampun Mas, kisah kita itu beda sama mereka. Mereka sama-sama menginginkan pernikahan mereka, sementara kita waktu itu?"
"Iya kamu benar sayang, jika menginginkan dulu, aku masih merasa bersalah sama kamu, maafkan aku," lirih Aditia.
"Sudah jangan di bahas, aku sudah memaafkan kamu Mas," ucap Dinda tulus.
Bersambung...
Jangan lupa, like, komen dan Votenya ya.
Terima kasih.
Yang masih setia nunggu kelanjutannya.
Aku cuman mau kasih tau aja, wkwk
Selama satu Minggu ke depan, aku up 3 bab/ hari.
Jadi, siapkan bunga dan kopi ya, wkwkwkwk
Canda kopi dan bunga.
__ADS_1
Tapi kalau gak keberatan boleh gift ya.
Wkwkwk