Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 47. Tidak boleh menyerah


__ADS_3

Sekitar menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya merek pun sampai. Aditia keluar terlebih dahulu, ia membukakan pintu mobil untuk Dinda keluar. Lisa menyaksikan sendiri, betapa perhatiannya Aditia pada Dinda, sekarang semuanya berbalik.


Jika dulu yang berada di posisi seperti itu adalah dirinya, tapi sekarang...


Rasa sesak mulai terasa dihati Lisa, apakah dulu Dinda juga merasakan hal seperti ini, sakit tapi tak berdarah.


"Ya tuhan, apa dulu Dinda juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini? Berdosanya aku tuhan, bahkan aku selalu sengaja memanas-manasi dia, sekarang aku merasakan betapa sakitnya di posisi ini," lirih Dinda. Dinda segara mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya, tidak, Lisa tidak boleh lemah. Lisa tidak boleh iri, anggap saja ini semua karma untuknya.


Aditia dan Dinda terlihat berjalan terlebih dahulu, memapah Dinda dengan penuh perhatiannya, Lisa menyusul mereka, sambil melihat kearah mereka.


Sebisa mungkin Lisa menahan perih di hatinya. Ini sudah jadi keputusannya, Lisa harus menerima dengan lapang dada.


Sementara Dinda, jujur saja ia merasa tidak nyaman dengan sikap suaminya itu, bukan tidak senang, hanya saja Dinda tidak enak dengan Lisa, Dinda pernah di posisi seperti itu dan itu sangat menyakitkan.


"Mas aku bisa jalan sendiri kok!" ujar Dinda, ia mencoba melepaskan tangan Aditia yang berada di pundaknya.


"Iya mas tau, tapi mas mau memastikan saja. Mas gak mau sampai ibu dari calon anak mas ini lecet,"


"Tapi mas, tidak enak dengan mbak Lisa."


Aditia langsung melepaskan tanganya dari pundak Dinda, ia membuang nafas kasar. "Iya-iya." Kesal Aditia.


Aditia dan Dinda kini tiba dikamar milik Dinda, Lisa tak terlalu menghiraukan mereka, ia langsung menuju lantai dua, dimana letak kamarnya berada.


Jujur saja Lisa tak kuat menahan sakit hatinya, setelah sampai kamar, air mata Lisa langsung lolos begitu saja. Sesak di dadanya kian teramat terasa.


Seperti inikah menjadi istri yang tak dianggap?

__ADS_1


Lisa merasakan betapa sakitnya berbagi suami? Entahlah, apa masih bisa dibilang berbagi suami, sementara di hati Aditia kini hanya bertahtakan Dinda.


Begitu cepat tuhan membalikan semuanya, bisakan Lis bertahan? Baru beberapa jam ia mencoba ikhlas, namun semua itu teramat sangat berat.


"Tidak, aku tidak boleh seperti ini. Aku harus kuat, Dinda bisa melewati semuanya. Aku tidak boleh menyerah, aku harus bisa membuat mas Aditia mencintaiku seperti dulu kala, hanya saja sekarang berbeda, aku harus bisa membuat mas Aditia mencintaiku tanpa menyingkirkan Dinda."


Lisa berusaha menyemangati dirinya sendiri, jangan sampai dirinya menyerah. Lisa harus bisa menahan dirinya, mengendalikan emosinya, jangan sampai ia berbuat nekad kembali. Karna satu kali Lisa membuat kesalahan, sudah di pastikan ia akan ditendang dari rumah itu. Lisa segara mengusap air matanya, sebisa mungkin ia harus bisa terlihat biasa-biasa saja.


***


Aditia masih berada di kamar Dinda, ia tengah melihat istrinya yang sedang menata baju ke dalam lemari. Sedari tadi Aditia tak berhenti tersenyum, melihat istrinya itu. Aditia baru sadar ternyata Dinda sangat cantik.


"Mas, kenapa senyum-senyum begitu?" Tanya Dinda menatap heran suaminya.


"Enggak, emang gak boleh aku senyum hmm?"


"Dasar ada-ada aja kamu." Aditia terkekeh, lalu ia menepuk kasur, mengisyaratkan Dinda untuk duduk di sampingnya. "Sayang sini..."


"Ada apa mas?" Dinda berjalan kearah Aditia, lalu ia duduk di samping suaminya itu.


"Aku rindu kamu," ujar Aditia seraya memeluk istrinya itu. Cukup lama Aditia memeluk Dinda, ia benar-benar merindukan istrinya itu.


"Mas, udah ih aku gak bisa nafas ini,"


"Aduh-aduh, maaf sayang. Aku keenakan," ucap Aditia. Ia pun melapaskan pelukannya pada Dinda.


"Oh iya mas, apa mbak Lisa sudah tau tentang kehamilanku?"

__ADS_1


Aditia mengelengkan kepalanya, "tidak sayang, aku belum memberi tahu dia."


"Emm, gimana ya mas? Apa kita kasih tau mbak Lisa sekarang atau---"


"Nanti saja, kalau waktunya sudah tepat. Kita jangan gegabah sayang. Mas gak mau sampai Lisa berbuat nekad sama kamu dan calon anak kita." pungkas Aditia memotong ucapan Dinda. Aditia merebahkan tubuhnya di atas kasur tersebut.


'Iya juga sih, ada benarnya apa yang dikatakan mas Aditia, tapi cepat atau lambat mbak Lisa pasti tau, perutku pasti akan membesar.' Batin Dinda.


"Mas emangnya tidak apa-apa, kita menyembunyikan kehamilan aku ini sama mbak Dinda?" Dinda kembali membuka suaranya.


"Bukankah kita sudah sepakat kembali ke tujuan awal kita mas," ucap Dinda lagi. Namun tak ada sahutan dari orang yang diajak bicara.


"Mas..." Dinda menoleh kearah Aditia. Dinda menggaruk kepala yang tidak gatal, pantas saja suaminya itu diam tak menyahut ucapannya, eh ternyata udah jalan-jalan ke alam mimpinya.


Dinda membenarkan posisi Aditia, ia menaikan kedua kaki Aditia ke atas kasur, setelah itu ia menyelimuti Aditia. Suaminya itu terlihat sangat lelap, mungkin kelelahan.


"Aku mencintaimu mas, jika saja aku boleh egois aku ingin memiliki kamu sendiri saja, tidak berbagi seperti ini," ucap Dinda pelan seraya mengusap lembut wajah suaminya itu.


Bersambung...


Jangan lupa


Like


Komen


Votenya ya!

__ADS_1


__ADS_2