Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 7. Lupa, atau pura-pura lupa?!


__ADS_3

Lisa dan Aditia kini sudah berada di kamar mereka, usai makan malam mereka langsung menuju kamar untuk beristirahat. Lisa terlihat sudah berbaring di ranjangnya itu, sementara Aditia, ia terlihat sedang duduk di sofa sambil menatap layar leptopnya.


'Aku harus bisa secepatnya membuat mas Aditia dan Dinda tidur bersama, Dinda harus cepat hamil. Aku tidak mau terlalu lama wanita itu hadir di rumah tanggaku dan mas Aditia. Aku takut kalau lama kelamaan, mas Aditia simpati padanya lalu jatuh cinta pada maduku itu. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi,' gumam Lisa.


"Mas," panggil Lisa.


"Hemm," sahut Aditia. Matanya masih fokus menatap layar leptop yang berada di hadapannya itu.


Lisa berajak dari tempat tidurnya itu, ia berjalan menghampiri suaminya, lalu duduk di samping Aditia. Aditia menutup layar leptopnya, saat Lisa duduk di sampingnya.


"Ada apa sayang?" Tanya Aditia, ia tersenyum tulus, seraya merapikan anak rambut istrinya yang sedikit menutupi wajah cantik Lisa.


"Mas apa sekarang kamu sudah siap?" Lisa berbalik bertanya, sambil bergelayut manja di lengan suaminya.


"Siap untuk apa sayang?"


"Janji kamu mas, jangan bilang kamu lupa?" Lisa menatap kesal kepada suaminya itu.


'Janji? Apa maksud Lisa?' gumam Aditia. Otaknya berpikir keras, mengingat apa janji yang sudah ia ucapkan kepada istri tercintanya itu. Detik kemudian Aditia teringat. 'Sial, aku kira kamu sudah melupakan Lisa,' gumam Aditia lagi.


"Janji apa sayang?" Dusta Aditia, ia berpura-pura seolah lupa, apa janji yang sudah di ucapkan-nya itu.


"Mas lupa, apa pura-pura lupa?" Selidik Lisa. Aditia terdiam. Jika Lisa bertanya siap atau tidak? Jawabannya masih sama, Aditia belum siap. Dan sampai kapanpun ia tidak akan siap. Mana bisa Aditia melakukan hal itu bersama istri keduanya, Aditia tak mencintai Dinda. Lalu kapan Aditia akan melakukan kewajibannya itu kepada Dinda? Apa menunggu sampai dia mencintai istri keduanya itu? Hah cinta? Mencintai Dinda tak terbesit sama sekali di benak Aditia, untuk mencintai istri keduanya itu, menikahi Dinda hanya untuk memanfaatkan rahim Dinda, agar Aditia bisa menabur benih di sana. Lalu jika Aditia tidak menidurinya, kapan benih itu tidak akan tumbuh? Resah itulah yang saat ini Aditia rasakan. Meniduri Dinda sama saja, ia sudah menghianati Lisa istri tercintanya. Tapi jika tidak... Entahlah.


"Apa mas sudah tak mencintaiku lagi? Mas mengertilah posisiku, jika mas tidak melakukan itu dengan Dinda, kapan Dinda bisa hamil? Apa mas mau kita berpisah? Mas ingat keinginan papa dan mamah. Mereka menginginkan cucu, dan aku tidak bisa memberikan itu untuk mereka." Tutur Lisa, ia memasang wajah sedihnya. Itu cara ampuh membuat Aditia menurutinya.


"Tapi saya---"


"Mas aku mohon," Lisa memotong ucapan suaminya itu, ia menatap Aditia dengan tatapan memohon.


Dan benar saja, wajah sedih Lisa mampu membuat Aditia langsung iba, ia tidak tega melihat istrinya itu bersedih.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan tidur dengan wanita itu malam ini," pasrah Aditia.


Seulas senyuman terambang dari wajah Lisa, entah harus bahagia atau terluka saat ia mendengar ucapan suaminya itu.


"Ya sudah cepat sana, nikmati malam pertama kamu yang tertunda mas," ucap Lisa. Masih memasang senyuman palsunya.


"Sayang maafkan aku," Aditia mengelus lembut wajah Lisa, ia tak istrinya itu terluka.


"Hey, kenapa minta maaf. Itu memang sudah kewajiban kamu mas. Dinda juga istrimu. Sekarang istrimu bukan hanya aku, jadi aku harus bisa berbagi dengan maduku."


Aditia menarik Lisa ke dalam pelukannya, betapa beruntungnya Aditia memiliki istri seperti Lisa. Pikirnya.


Lisa berhati bak malaikat menurut Aditia. Lisa rela mengorbankan perasaan demi keluarganya. Demi keegoisan orang tua Aditia.


"Aku mencintaimu," ucap Aditia ia melapaskan pelukannya, lalu mendaratkan kecupan di kening Lisa.


"Aku juga mas!" Jawab Lisa. "Sudah sana, ini sudah malam, sudah waktunya tidur." Lanjutnya. Diangguki oleh Aditia, Aditia--pun berajak dari samping Lisa. Ia berjalan menuju pintu kamarnya itu.


Langkah kakinya terasa berat untuk meninggalkan kamar tersebut. Namun ia tidak mungkin membatah lagi keinginan Lisa.


"Nikmati malammu mas," ucap Lisa sedikit menaikan volume suaranya, saat Aditia hendak menutup pintu kamarnya. Aditia hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.


Dalam hatinya Aditia berharap Lisa memanggil kembali, Aditia sengaja menutup pintu kamar itu dengan lambat.


"Cepat tutup pintunya mas, aku mau tidur!" Titah Lisa, wanita itu berjalan menuju ranjangnya.


Pupus sudah harapan Aditia, yang mengharapkan Lisa memanggilnya kembali itu. Aditia--pun langsung menutup pintu kamar tersebut. Lalu berjalan menuju kamar Dinda yang berada dilantai satu.


Lisa langsung terisak tangis usai kepergian Aditia tersebut. Hancur, sakit hatinya membayangkan Aditia dan madunya malam ini akan melewati malam pertama mereka yang sempat tertunda.


"Jika aku boleh jujur, aku tidak rela mas, aku tidak rela kamu tidur dengan maduku itu, menggaulinya." Lirih Lisa, di sela isak tangisnya.

__ADS_1


"Berbagi suami mungkin masih bisa aku terima mas, aku masih bisa membersikan tubuhmu dari sisa bercinta kamu dengan wanita itu. Tapi aku harap kamu tidak membagikan cintamu, aku harap cintamu hanya untukku. Jika cintamu sudah terbagi, aku harus bagiamana menghilangkannya?" Lirih Lisa lagi.


Lisa tidak tau apa yang sekarang ia lakukan benar atau tidak? Apa bedanya berbagi suami dengan berbagi cinta? Bukankah cinta itu datang seiring waktu berjalan. Dan kin Aditia dan Dinda akan melakukan malam pertama mereka yang tertunda, sudah di pastikan malam ini akan menjadi malam panjang untuk mereka.


Waktu terus berjalan, malam semakin larut. Beberapa kali Lisa mencoba memejamkan matanya, namun matanya masih enggan terpejam. Bahkan rasa kantuk tidak sama sekali ia rasakan. Lisa gelisah, dalam benaknya terus saja memikirkan suaminya dan madunya. Bayangan Aditia dan Dinda yang sedang melakukan malam pertama mereka, seakan menari-nari di benak Lisa.


"Ah sial, kenapa jadi seperti ini?" Pekik Lisa. Ia melemparkan batal kesembarang arah.


"Tenang Lisa, tenangkan dirimu. Percaya pada suamimu, mas Aditia sangat mencintaiku, dia pasti melakukan hal itu tidak seperti melakukannya padaku. Pasti rasa hambar. Aku yakin mas Aditia tidak akan mau lagi menyentuhnya. Baguslah, hanya satu kali dan aku harap wanita itu langsung hamil. Jadi aku tidak akan lagi memaksa mas Aditia lagi untuk tidur dengan wanita itu." Ucap Lisa. Ia tersenyum dengan begitu angkuhnya.


Lisa akui madunya itu memang cantik, tapi dari segi body, Lisa menang dari pada Dinda.


Jadi Lisa merasa dirinya lebih sempurna dari pada Dinda. Namun pada kenyataannya, tubuh Dinda lebih molek dari pada Lisa, hanya saja baju yang Dinda kenakan memang selalu kedodoran serta hijab pajang yang selalu mendominasi. Semua itu mampuh menutupi postur tubuh asli milik Dinda.


Sementara itu, Aditia kini sudah berada di depan pintu kamar Dinda. Sedari tadi Aditia berjalan mondar-mandir kesana kemari. Aditia marasa ragu akan mengetuk pintu kamar istri keduanya itu.


"Sial, bagaimana ini? Apa bisa aku melakukan hal itu kepada Dinda?" Ucap Aditia pelan.


Klekk...


Pintu kamar Dinda terbuka. Aditia terkejut saat menoleh kearah pintu, sosok istri mudanya terlihat sudah berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan penuh tanya dan bingung.


"Mas sedang apa di sini?" Tanya Dinda.


"A---aku," jawab Aditia terbata-bata. 'Ck, bagaimana aku bicara padanya, kalau aku ingin tidur bersamanya. Sial, jangan sampai wanita ini salah sangka. Kalau aku sudah menerimanya!" Lanjut Aditia berucap dalam hatinya.


Bersambung...


Jangan lupa like, komen dan Votenya ya!!


Terima kasih, yang sudah baca jangan lupa tekan tombol love-Nya. Biar kalian dapat notifikasi kalau aku sudah up.

__ADS_1


Salam sayang dari author.


Semoga kalian sehat selalu.


__ADS_2