
Aditia sudah sampai di kantornya, para karyawan terlihat menyapa dan membungkuk hormat saat Aditia melewati mereka. Aditia membalas sapaan mereka hanya dengan senyuman tipis. Aditia langsung berjalan menuju lift khusus yang langsung menuju ke ruangannya.
Ting...
Lift terbuka, Aditia melangkah keluar dari lift tersebut.
Aditia berjalan menuju ruangannya yang hanya berjarak beberapa meter saja dari sana.
Saat Aditia akan memasuki ruangannya, ia berpapasan dengan Reza. Yang kebetulan, sebenarnya Reza juga ingin ke ruangan Aditia.
"Pagi Bos..." sapa Reza.
"Pagi..." balas Aditia seraya membuka pintu ruangan dan melangkah masuk, diikuti oleh Reza dibelakangnya.
Aditia duduk di kursi kebesaran-nya.
"Bagiamana?"
"Apa?'' Reza malah berbalik bertanya.
"Ck," Aditia mendecak kesal.
"Informasi tentang Lisa?" lanjutnya.
"Oh, sudah dong."
"Mana?"
"Bentar, tapi ada syaratnya!'' ujar Reza ia menatap Aditia penuh arti.
Aditia mengerutkan dahinya.
"Gue kasih tau, tapi Bos harus membayar imbalannya."
"Ck," lagi-lagi Aditia berdecak kesal.
"Katakan!"
"Pinjemin gue duit, buat repsesi pernikahan," ucap Reza tanpa dosa, lalu dia tertawa.
"Hahahaha..."
"Oke, semua biaya pernikahan elo gue tanggung, sekalian gue kasih elo tiket bulan madu ke Paris!"
Reza menghentikan tawanya, ia melongo dengan mata menatap lekat Aditia, merasa tak percaya. Padahal Reza tadi cuman becanda, apakah ini yang dinamakan rezeki tak terduga. Ahay senangnya.
"Serius Bos?''
"Ya, sejak kapan gue bohong."
"Hobaah, elo Bos paling pengertian deh." Reza tersenyum sumringah. Bagaimana gak bahagia, nikah mau dimodali cuy, mana dapat bonus tiket ke Paris.
Siapa yang mau nolak coba? Iya gak!
"Mana?"
"Apanya?"
"Ck..."
"Mau gue batalkan pernikahan elo sama Bella hah?" ancam Aditia.
Reza menggeleng.
"Ini," lalu ia memberikan berkas informasi mengenai Lisa itu pada Aditia.
Aditia mengambilnya, lalu membuka berkas tersebut dan membacanya.
Senyuman terlihat merkah dari wajah Aditia.
"Lisa bebas sudah dari 5 bulan yang lalu. Ada orang yang membebaskannya!''
"Dan elo mau tau siapa orangnya?''
Aditia langsung mengalihkan pandangannya pada Reza.
"Papah Mehendra."
Aditia mengerutkan dahinya.
"Papah?"
"Iya."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ya, tidak tau. Coba elo tanya aja nanti langsung sama dia."
Aditia terlihat berpikir.
"Papah yang bebaskan Lisa? Kenapa Papah melakukan itu? Apa dia kasian sama Lisa? Terus kenapa Papah gak pernah cerita sama aku. Apa Mamah tau tentang ini?" batin Aditia bertanya-tanya.
"Jadi elo pengen tau, informasi tentang Lisa itu. Karna dia hamilkan?"
"Dan elo pikir Lisa hamil anak elo-kan?"
"Ya, memang benar. Gue cuman takut aja Za, tapi melihat kebenaran ini, gue merasa lega," tutur Aditia.
"Ya, gue juga ikut lega. Karna pada awalnya gue juga kira juga gitu. Tapi ternyata faktanya tidak bukan.
Lisa sudah menikah lagi, suaminya sekarang karyawan swasta biasa, menurut informasi yang gue dapat juga katanya sih laki-laki itu, anak angkatnya orang tua Lisa dulu. Dan saat Bapaknya Lisa meninggal, tepatnya sebelum meninggal, meminta Lisa buat nikah sama itu anak angkatnya, kalau gak salah, namanya Bayu deh."
Aditia hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Mendengar penjelasan dari Reza. Padahal Aditia sudah membaca dengan jelas informasi yang di tulis di berkas yang di berikan Reza tadi.
"Jadi elo gak perlu takut. Lisa enggak hamil anak elo, tapi anak suaminya. Kandungan emang besar, karna Lisa hamil anak kembar!" jelas Reza lagi.
"What?"
"Anak kembar, hebat juga ya mereka!" seru Aditia.
"Yoi..."
"Ya sudah, sekian dan terima gajih," lanjut Reza.
"Duit aja di pikir elo," ledek Aditia.
"Dede bayi butuh susu bos!" jawabnya tak mau kalah.
"Seminggu yang lalu gajih elo baru turun ya!"
"Hehe...," Reza hanya tersenyum cengengesan.
"Ya sudah, gue lanjut kerja lagi dah."
Aditia mengangguk.
"Nanti gue transfer," ucap Aditia.
Aditia terlihat menggeleng-gelengan kepalanya.
Setalah kepergian Reza. Aditia bersandar di kursi kebesaran-nya itu. Ia merasa lega.
Akhirnya yang ia takutkan tidak terjadi. Lisa memang bukan hamil anaknya Aditia.
"Terima Kasih Tuhan," gumam Aditia.
"Semoga kamu bahagia Lisa. Aku sudah melupakan kamu. Kita sudah dijalan kita masing-masing."
***
Dengan senyuman yang terus terambang di wajahnya Aditia melangkah memasuki rumahnya. Aditia sengaja pulang lebih awal. Hari ini ia berniat akan mengajak Dinda dan baby Azka jalan-jalan. Dan tentunya pasti kedua orang tuanya ikut. Tidak apa-apalah, lebih rame lebih asik. Mamahnya bisa bantuin Dinda juga nanti jagain baby Azka.
"Asalamualaikum..." ucap Aditi seraya masuk ke dalam rumahnya itu.
Namun Rumah terlihat sepi, tidak ada sahutan dari orang-orang Rumah saat Aditia mengucapkan salam.
"Kemana mereka? Kok sepi sekali?"
"Bi..." panggil Aditia.
Bi Santi yang berada di dapur langsung menghampiri Tuannya itu.
"Iya Tuan."
"Orang-orang pada kemana?" tanya Aditia.
"Lagi di belakang Tuan. Di gazebo," jawab Bi Santi.
"Oh, pantesan. Ya sudah, saya kesana dulu." Aditia langsung melangkahkan kakinya menuju halaman belakang.
"Oh iya Bi, buatkan jus yang segar ya!" titah Aditia.
"Baik Tuan."
Benar saja, Dinda, baby Azka, serta kedua orang tuanya terlihat tengah asik berbincang di gazebo tersebut sambil bermain-main dengan baby Azka.
"Pantesan gak di dalam sepi, ternyata pada di sini."
__ADS_1
Mereka langsung melihat kearah Aditia. Yang kini tengah berjalan menghampiri mereka.
"Lah udah pulang Dit?" tanya Papah Mehendra.
Aditia mengangguk.
Dinda meraih tangan suaminya itu dan menyalaminya dengan takzim. Aditia ikut bergabung bersama mereka.
Tak lama kemudian Bi Santi juga terlihat ke sana, membawa nampan berisikan empat jus buah.
Padahal tadi cuman Aditia yang meminta, tapi Bu Santi berinisiatif untuk membuatkan juga Dinda dan orang tuanya Aditia.
"Silahkan, ini jusnya.." ucap Bi Santi seraya meletakan gelas yang berisi jus tersebut di atas meja yang berada di samping gazebo tersebut.
"Makasih ya Bi."
"Sama-sama Nyonya." Bi Santi kembali lagi ke dalam rumah.
Mereka pun langsung meminum jus buah tersebut.
"Oh iya, kita jalan-jalan yuk," ajak Aditia. Sesudah meneguk jus tersebut.
"Kemana?" tanya Dinda.
"Ke mall atau kemana aja, bawa baby Azka juga. Gimana?''
"Boleh deh, kita juga ikut," sahut Mamah Adelia.
Aditia mengangguk.
"Ya sudah, ayo kita siap-siap!" seru Mamah Adelia. Diangguki oleh semua orang.
Dinda membawa Azka ke dalam masuk ke dalam rumah bersama Mamah Adelia, mereka terlihat begitu bersemangat.
Semantara Aditia dan Papah Mehendra masih duduk di gazebo tersebut.
"Pah.." panggil Aditia.
"Hmm..."
"Apa alasan Papah membebaskan Lisa?" tanya Aditia. Membuat Papah Mehendra langsung melihat kearahnya.
"Dari mana Aditia tau?" batinnya.
"Kamu sudah tau semuanya?" tanya Papah Mehendra.
Aditia mengangguk.
Papah Mehendra mengehelai napasnya.
"Ya, Papah memang yang membebaskan Lisa. Karna Papah pikir Lisa tidak sepenuhnya bersalah dalam hal ini."
"Bukan hanya itu juga, waktu itu Ibunya Lisa datang ke Rumah Papah, dia memohon pada Papah, meminta bantuan Papah untuk membebaskan Lisa.''
"Ibunya Lisa juga mengatakan kalau saat kitu, Bapaknya Lisa dalam kondisi yang tidak baik. Jadi akhirnya Papah mengabulkan permintaan. Kasian mereka," jelas Papah Mehendra.
"Tapi Papah juga meminta mereka tidak mengatakan kalau Papah yang sudah membebaskan Lisa. Ibunya Lisa menyanggupi itu," lanjutnya.
"Apa Mamah tau?"
"Tidak!"
"Terus?"
"Terus bagaimana?" tanya Papah Mehendra, menatap Aditia heran.
"Kalau Mamah tau gimana?"
"Ya gak gimana-gimana. Emangnya harus gimana?"
"Tau ah, Papah gak asik benget jawaban!" ketus Aditia. Lalu ia berajak.
Papah Mehendra terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bersambung....
Like
Komen
Vote
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya!
__ADS_1
Terima Kasih.