
"Maafkan aku Lisa," ucap Aditia seraya melepaskan pelukannya dari Lisa, "bukan aku tak mau memberi kesempatan untuk kamu, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku sudah tak mencintai kamu lagi Lis. Maafkan aku, kamu harus bisa merelakan aku, kamu harus bisa melupakan aku! Kamu taukan, selama ini kita hidup dengan dosa, bertahun-tahun kita hidup bersama, pernikahan kita tidak sah Lisa, ayahmu tidak pernah menikahkan kamu denganku."
"Tapi mas, semua itu mustahil. Aku tidak akan pernah bisa melupakan kamu. Dan masalah pernikahan, kita bisa nikah kembali mas, aku akan minta bapak untuk menikahkan aku dan kamu."
"Maafkan aku Lisa, aku tetep tidak bisa." Keukeh Aditia, keputusannya sudah mantap untuk menyudahi pernikahan-nya dengan Lisa. "Oh iya satu lagi, hari ini kamu sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, katanya kondisi kamu sudah stabil. Dan aku minta stop berdrama lagi Lisa, aku sudah mengatahui semuanya. Aku sungguh tidak mengerti apa yang ada dipikiran kamu Lis, kamu bahkan rela membayar dokter ratusan juta hanya untuk mengelabuhi aku."
Deg...
Lisa terdiam, 'sial, kenapa mas Aditia bisa tau? Kalau aku yang membayar dokter itu untuk berbohong tentang kondisiku! Ah sial, sial. Semua rencana-ku hancur berantakan!' gumam Lisa.
"Kenapa diam?" tanya Aditia seraya mengambangkan senyuman sinisnya pada istri tuanya itu, "masih mau mengelak, dengar Lisa sudah cukup kamu membodohiku, kali ini kelicikan kamu itu tidak akan mempan lagi!"
"Emm, m--mas, ak---ku bisa jelaskan semuanya!" ucap Lisa terbata-bata.
"Sudahlah, tidak ada lagi yang perlu dijelaskan Lisa. Aku pamit, nanti orang tua kamu yang akan menjemputmu pulang kesini." ucap Aditia, lalu ia berlalu begitu saja dari hadapan Lisa.
"Mas, mas...." panggil Lisa, namun tak disahut oleh Aditia.
"Argggg, sial. Percuma aku sudah membayar ratusan juta dokter bodoh itu, begitu saja tak becus! Lihat saja mas, aku tidak akan membiarkan kamu bahagia dengan Dinda, aku pastikan akan membuat kamu kembali jatuh ke pelukan mas."
***
__ADS_1
Sementara itu, Dinda masih diperjalanan menuju rumah mertuanya. Dinda duduk di kursi belakang, sementara Reza, ia mengemudikan mobilnya. Dalam perjalan, keduanya sama-sama diam, Dinda yang menang sedang tidak mood untuk bicara, entah kenapa hawanya kesal yang ia rasa. Sementara Reza, sedari tadi ia memperhatikan istri muda bosnya itu, dari kaca spion yang ada dihadapannya. Jujur saja Reza merasa tidak asing dengan wajah Dinda.
Kruuk krukk...
Tiba-tiba terdengar suara yang memecah keheningan tersebut, Dinda langsung menangkubkan kedua tanganya ke wajahnya, karna merasa malu, 'ya ampun, cacing bisakah kamu bersabar sebentar,' gumam Dinda.
Reza yang mendengar suara perut Dinda itu pun, terlihat menahan tawanya. Ketawa takut dosa, pikir Reza.
"Mau makan dulu nyonya? Sepertinya cacing anda sudah mengamuk." ucap Reza.
Dinda tersenyum kikuk, lalu ia menganggukkan kepalanya pelan.
"Baiklah, mau makan apa nyonya?"
"Hehe," Reza memberikan cengirannya, "baikalah, lalu aku harus menyebut apa?"
"Panggil namaku saja."
"Baiklah Dinda, panggil aku kanda, eh..."
"Eh apa kamu bilang?"
__ADS_1
"Hehe, enggak kok. Aku bencanda."
"Baiklah, mau makan apa? Aku serius kali ini!" Lanjut Reza bertanya.
"Apa saja, yang penting aku dan bayiku kenyang." Ujar Dinda.
"Eh-eh, tunggu! Kamu sedang hamil?" Tanya Reza, terkejut tentunya.
"Hemm," sahut Dinda seraya menganggukan kepalanya.
"Wah-wah, akhirnya si bos akan punya baby juga. Okelah aku akan membawamu ke resto paling enak disini!" ujar Reza.
Bersambung....
Like
Komen
Vote
Jangan lupa
__ADS_1
Gak ada kesempatan kedua dalam hidup author, jadi maaf Lisa. Bye-bey.