
"Mas, ada apa?" Tanya Dinda, namun tak di sahut oleh Aditia.
"Mas, kamu mau kemana?" Teriak Dinda, saat melihat Aditia yang berjalan terburu-buru keluar dari kamarnya.
"Aditia ada apa? Kamu mau kemana?" Kini mamah Amira yang bertanya, saat Aditia berjalan melewatinya.
Dengan wajah yang panik dan penuh kekhawatiran Aditia meninggalkan Dinda, usai mendapatkan telepon dari dokter yang menangani istri pertamanya, Lisa.
Bahkan Aditia menghiraukan Dinda dan mamah Amira yang memanggilnya dan bertanya-tanya pada Aditia.
"Sayang, ada apa? Kenapa Aditia buru-buru gitu?" Tanya mamah Amira seraya menghampiri menantunya itu.
"Tidak tau mah, tadi mas Aditia habis terima telepon, Dinda gak tau itu telepon dari siapa! Tapi mas Aditia seperti panik dan khawatir gitu mah," jawab Dinda. 'Ya tuhan sebenarnya ada apa dengan mas Aditia, apa ada masalah?' lanjut Dinda berucap dalam hatinya. Wajah Dinda terlihat begitu gelisah.
'Ada apa ya? Apa ada masalah di kantornya? Atau terjadi apa-apa sama Lisa?' gumam mamah Amira.
"Ya sudah sebaiknya kamu minum obatnya ya sayang, terus istirahat." Titah mamah Amira diangguki oleh Dinda, ''sudah kamu jangan banyak pikiran, nanti biar mamah tanyakan lagi sama Aditia. Mamah tinggal dulu ya! Kalau butuh apa-apa, panggil bibi atau mamah ya." Lanjut mamah Amira. Dinda hanya mengangguk pasrah.
Mamah amira pun berlalu keluar dari kamar tersebut. Tak bisa dibohongi kini hatinya merasa gelisah, memikirkan tingkah putranya itu. Mamah Amira mencoba menelpon Aditia, namun Aditia tak menjawab panggilan teleponnya. "Ada apa sih? Anak itu bikin khawatir saja!" Gerutu mamah Amira.
Sementara Dinda, usai meminum obat dan Vitaminnya, ia kembali merebahkan tubuhnya, 'ya tuhan semoga tidak ada hal yang buruk yang menimpa suami hamba,' batinnya.
Dinda tak bisa membohongi hatinya kecilnya, ia sangat mengkhawatirkannya suaminya itu. Jika ia terus seperti ini, bagaimana bisa ia meluapkan Aditia? Jangankan melupakan? Tidak memperdulikan laki-laki itu pun tak bisa. Dan rasanya semakin hari semakin Dinda mencintainya, bagaimana nanti jika bayi yang ada dikandungannya sudah lahir? Apa Dinda akan rela berpisah dengan Aditia?
Dinda mengelus perutnya yang masih rata itu, butiran bening terlihat mengalir membasahi wajah pucatnya, andai saja pernikahannya dengan Aditia itu di awali dengan cinta, serta dirinyalah istri satu-satunya, mungkin Dinda akan menjadi wanita yang paling bahagia. Namun sayang itu semua hanya angan-angan, Aditia baik padanya hanya sebatas menghargainya, karna Dinda tau dalam hati suaminya hanya ada satu nama, istri pertama suaminya, Lisa.
Dan kini sudah ada bayi di kandungan Dinda, tujuan Aditia dan Lisa tercapai, mereka sudah berhasil memanfaatkan rahim Dinda, untuk kebahagiaan mereka.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak boleh cengeng. Aku tidak boleh berharap pada mas Aditia, aku harus fokus menikmati masa-masa kehamilanku ini, karna setelah bayi ini lahir, sudah di pastikan aku akan terbuang." Lirih Dinda, ia mengusap air mata yang membasihi wajahnya itu.
"Maafkan mamah ya nak, jika suatu hari nanti mamah akan meninggalkan kamu. Bukan mamah tidak menyayangi kamu, tapi mamah sudah terlanjur berjanji," lirihnya lagi sambil mengusap perutnya yang masih rata.
***
Aditia baru saja sampai di rumah sakit, dengan langkah yang tergesa-gesa, Aditia langsung berjalan menuju ruangan tempat Lisa di rawat.
Aditia begitu terkejut saat ia masuk ke dalam ruangan tersebut, dua orang suster terlihat tengah memegangi tangan Lisa. Semantara Lisa ia terus meronta dan teriak-teriak histeris.
"Bu Lisa, ibu tenang dulu ya bu, ibu jangan banyak gerak nanti luka ibu terbuka lagi!" Ucap Dokter, yang berusaha menenangkan Lisa.
"Lepaskan, lepaskan saya. Saya mau mati." Teriak Lisa.
Dokter terlihat menyuntikan obat penenang kepada Lisa, hingga beberapa saat kemudian, teriakan Lisa berhenti, suster membenahi posisi Lisa dan detik kemudian Lisa tertidur.
"Kenapa istri saya bisa seperti ini dok? Apa yang terjadi sebenarnya?" Lisa baik-baik sajakan dok?" Lanjut Aditia, mencerca pertanyaan kepada dokter yang menangani Lisa tersebut.
"Sebaiknya bapak ikut keruangan saya, kita berbicara di ruangan saya saja!" Jawab Dokter. Aditia langsung menganggukkan kepalanya.
"Mari pak!" Sang dokter mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan rawat Lisa, Aditia mengikuti langkahnya dari belakangnya. Mereka pun berjalan menuju ruangan dokter tersebut.
"Silahkan duduk pak!" Ujar dokter dengan ramah, mempersilahkan Aditia duduk.
Aditia mengangguk, ia pun menarik kursi yang berada di hadapan meja dokter, lalu duduk di kursi tersebut.
"Apa yang terjadi pada istri saya dok?" Tanya Aditia.
__ADS_1
"Jadi begini pak, ibu Lisa mengalami depresi yang cukup berat, jadi ia histeris seperti itu. Agar depresinya bisa hilang, di usahakan bapak atau siapa pun, jangan terlebih dahulu berbicara yang dapat membuat pikirannya tertekan. Karna itu akan memicu kembali kejadian seperti tadi," jelas dokter.
"Depresi dok? Kok bisa?"
"Iya pak, karna sebelumnya bu Lisa terlalu banyak pikiran, sehingga membuat kejiwaannya tertekan. Saya harap bapak bisa menjalan apa yang sudah saya katakan, jangan membicarakan hal yang membuat pikiran dan batinnya tertekan. Karna itu akan membuat kondisinya sangat buruk, saya takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi lagi. Bisa saja ibu Lisa mencoba lagi bunuh diri seperti yang sudah terjadi. Karna dalam kondisi seperti itu ia akan hilang kesadarannya dan tidak akan segan-segan menyakiti dirinya sendiri, atau bisa juga menyakiti orang lain."
Aditia terdiam, ia mencoba mencerna semua kalimat yang di ucapkan dokter tersebut, 'tertekan? Apa selama ini Lisa tertekan? Ya tuhan harus bagaimana aku sekarang? Dalam kondisi yang seperti ini, aku tidak mungkin menceraikan Lisa, apa lagi dokter bilang Lisa bisa saja melukai dirinya dan juga orang lain. Bagaimana jika Lisa nekad melukai Dinda? Apa lagi kalau ia tau Dinda sedang mengandung, jangan sampai Lisa berbuat nekad pada Dinda dan calon anakku,' ucap Aditia membatin.
"Apa Lisa bisa sembuh dok?" Tanya Aditia kemudian.
"Tentu saja bisa pak, seperti yang sudah saya jelaskan tadi, untuk semantara waktu jangan membuatnya tertekan dulu, agar kondisinya cepat pulih."
"Baiklah dok. Kalau begitu saya permisi." Pamit Aditia, diangguki oleh dokter tersebut. Aditia pun berlalu keluar dari ruangan tersebut. Aditia berjalan menggontai, ia benar-benar tak tau harus bagaimana? Aditia sudah benar-benar mantap ingin mencerikan Lisa. Namun di sisi lain ia teringat kepada Dinda dan calon anaknya, bagaimana jika Lisa nekad menyakiti Dinda dan calon anaknya, apa Aditia harus menunda untuk menceraikan istri pertamanya itu?
Dan satu hal lagi, ada hal yang mengganjal dalam hati Aditia, kenapa Lisa bisa tertekan seperti itu. Bukannya selama ini ia selalu melihat Lisa bahagia, bahkan dia semena-mena menindas madunya, harusnya yang tertekan itu Dinda bukan Lisa? Apa Lisa berpura-pura, tapi tidak mungkin, Aditia melihat sendiri tadi bagaimana histerisnya Lisa.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Votenya.
Terima kasih yang sudah mendoakan kesembuhan anak saya, semoga kalian juga selalu di berikan kesehatan ya!
Alhamdulillah kondisi anak saya sudah membaik.
Salam sayang dari Author.
Terima kasih.
__ADS_1