
Tak lama kemudian akhirnya Aditia pun sampai.
Ia langsung masuk ke dalam rumah, dan berjalan menuju kamarnya.
Dinda yang baru saja selesai menghabiskan makanannya, langsung menoleh kearah Aditia yang baru saja masuk ke dalam kamar tersebut.
"Sayang, ini aku udah beli obatnya," ucap Aditia seraya berjalan menghampiri Dinda.
"Oh iya Mas, makasih.''
"Kamu udah makan?"
"Udah, ini baru saja selesai Mas. Tadi bibi nganterin ke sini," jawab Dinda.
Aditia mengangguk. Lalu ia duduk di tepi ranjang.
"Sini obatin dulu Yang, biar cepat sembuh." Aditia membuka obat yang berbentuk salep tersebut.
"Biar aku obatin sendiri aja Mas," tolak Dinda.
"Udah diem ah." Aditia menyingkap gamis Dinda, setalah itu ia mengoles salep tersebut sebagai area sebelum milik istrinya itu dengan sangat hati-hati.
"Sakit gak Yang?'' tanya Aditia, tanganya masih mengolesi area di bawah sana.
"Ngilu dikit aja Mas," jawab Dinda jujur, ia merasa ngilu saat Aditia mengoleskan salep tersebut.
"Udah," ucap Aditia. Yang terlihat sudah selesai.
"Terima kasih Mas," ucap Dinda tulus.
"Sama-sama Sayang." Aditia mengusap kepala Dinda lembut.
"Oh iya Mas, Mas cerita sama Mamah ya, soal kondisi aku ini?" tanya Dinda, wajahnya berubah menjadi kesal.
"Enggak, kata siapa?" sangkal Aditia dusta.
"Idih, bohong! Tadi Mamah ke sini tau. Mamah tau kondisi aku. Pasti Mas yang ceritakan? Aduh, Mas. Malu tau aku!"
"Eh beneran, Mas gak cerita sama Mamah." Lagi-lagi Aditia menyangkalnya.
"Terus, Mamah tau dari siapa hmm?"
"Hehe..." Aditia tersenyum kikuk.
"Tuh 'kan, bener. Ih... Mas gitu, aku malu tau Mas!"
"Udah sih gak usah malu."
"Lagian Mas beneran gak cerita sama Mamah dan Papah, tadi Mas cuman keceplosan saja," lanjut Aditia.
"Apa bedanya? Sama aja itu Mas," ketus Dinda.
"Ya beda dong cintaku, kalau cerita itu, Mas cerita langsung sama Mamah dan Papah. Ini mah keceplosan, jadi gak sengaja," jelas Aditia. Tidak mau di salahkan, bikin banyak alasan. Keren bukan?
Wkwkwkw
Oke lanjut....
"Sama aja, Mamah jadi tau Mas!"
"Ya udah, iya. Maaf Sayang..." Aditia memutuskan untuk menyudahi perdebatan tersebut.
"Eh tunggu-tunggu!"
"Tadi Mas bilang, Mamah sama Papah tau?" lanjut Dinda, langsung diangguki oleh Aditia.
"Ya ampun Mas, Papah juga tau! Ah aku malu banget ih, sumpah," lirih Dinda. Dengan wajah yang memerah.
__ADS_1
Bagaimana ini? Malu banget rasa Dinda.
Aditia menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Hehe..." Lalu tersenyum cengengesan.
"Tau Sayang, 'kan tadi pas aku keceplosan, ada Papah juga di sana," lanjutnya.
Dinda langsung menangkubkan kedua tangannya, menutupi wajahnya. Entahlah, tidak tau harus berkata apa lagi. Kayanya Dinda untuk beberapa hari, akan diam di kamar saja, pikirnya.
Rasanya tidak berani, bertemu dengan kedua mertuanya itu. Ini semua gara-gara ulah suaminya, menyebalkan bukan!
***
Sementara itu, Bella dan Reza terlihat sudah rapi.
Mereka memutuskan untuk segera pulang dari hotel.
Sebenernya Reza masih ingin di sana, bermanja-manja dengan istrinya itu. Namun Bella sedari tadi terus meminta pulang. Karna ia merasa tidak tenang, meninggal Baby, walaupun bersama Kakaknya.
Selama ini Bella tidak pernah meninggalkan anaknya itu, jadi tidak bisa berlama-lama jauh dari anaknya itu.
"Kak ayo dong, lama benget sih mandinya?" teriak Bella, seraya mengetuk pintu kamar mandi, di dalam ada Reza yang tengah membersihkan tubuhnya.
"Iya Sayang, bentar ini juga udah mau kelar kok!" sahut Reza dari dalam sana.
Bella mendengus kesal, dari tadi Reza bilang sebentar-sebentar, tapi udah hampir setengah jam, suaminya itu belum keluar juga. Itu juga sudah yang ketiga kalinya, Bella memanggil Reza.
"Mandi kok lama benget sih, itu mandi apa semedi," gerutu Bella, sambil melangkah dari depan pintu kamar mandi tersebut, Bella duduk di tepi ranjang dengan wajah masam tak karuan.
Klekk...
Pintu kamar mandi terbuka, nampak sosok Reza muncul keluar dari sana.
Bella menoleh sekilas, menatap suaminya itu kesal.
Lalu mulai memakai baju tersebut.
"Hey, kenapa wajahnya di tekuk gitu?" tanya Reza, usai selesai berpakaian. Ia berjalan menghampiri Bella, lalu duduk di samping istrinya itu.
"Tau ah," sahut Bella jutek.
Reza terkekeh, melihat ekspresi wajah istrinya yang kesal itu, malah membuat Reza merasa gemas.
Ah, kalau boleh, rasanya Reza mau mengigitnya, eh..
"Jangan marah dong, ayo katanya mau pulang,'' ucap Reza, membujuk Bella.
"Iya, ayo." Bella berajak dari duduknya. Reza juga ikut bangkit mengikuti Bella.
"Sebentar," tahan Reza, menarik tangan Bella.
"Apa lagi sih Kak? Cepat ih, kita pulang, aku gak tenang ninggalin Baby, lama-lama," ucap Bella, menatap kesal Reza.
"Iya sebentar," ucap Reza lembut.
"Cium dulu," lanjutnya, sambil menunjuk pipinya.
"Gak mau, ayo cepat kita pulang," tolak Bella dengan cepat.
"Ya udah, kalau begitu kita gak usah pulang!" ancam Reza.
Bella menghelai napasnya, lalu ia mendekati Reza, dan..
Cup...
Bella mendaratkan satu kecupan di pipi suaminya itu.
__ADS_1
Reza tersenyum puas.
"Ayo kita pulang," ajaknya. Bella mengangguk. Lalu mereka pun melangkah keluar dari kamar hotel tersebut.
Tak lupa Reza membawa koper mereka.
Mereka langsung menuju mobil, dan melajukan mobil tersebut meninggalkan hotel tersebut.
"Kita mau kemana dulu Sayang?" tanya Reza pada Bella. Sambil terus melajukan mobilnya.
"Ke rumah Kak Dinda dulu, kita jemput Baby, baru pulang ke rumah," jawab Bella.
"Siap ibu Negera," ucap Reza.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam.
Akhirnya mereka sampai di kediaman Dinda dan Aditia.
Bella langsung keluar terlebih dahulu dari mobil. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anaknya.
Satu hari tak bertemu, rasanya setahun. Bella sangat merindukan anaknya itu.
"Sayang tunggu dong," teriak Reza, sambil berjalan cepat menyusul istrinya itu.
"Cepat Mas," ucap Bella tak sabaran.
Bella dan Reza sudah berada di depan pintu rumah tersebut, mereka langsung masuk, karna kebutuhan pintu rumah itu terbuka, namun mereka tak lupa mengucap salam saat memasuki rumah.
"Asalamualaikum.." ucap Bella dan Reza bersama.
"Walaikum'salam," terdengar sahutan dari dalam sana, menjawab salam mereka.
Tak lama sosok Mertuanya Dinda muncul dari sana.
"Eh Bella, Reza. Kalian kok sudah pulang?" tanyanya sambil berjalan menghampiri mereka.
Bella dan Reza meraih tangan wanita parubaya itu, mereka menyalaminya secara bergantian.
"Iya Mah, Bella gak tenang ninggalin Baby lama-lama," jawab Bella, sambil tersenyum ramah.
"Aduh, padahal tenang aja Bell, Baby anaknya pinter, dia anteng, sekarang aja dia lagi bobo," ujar Mamah.
"Iya Mah, tapi tetap aja Bella gak tenang. Maaf ya Bella jadi ngerpotin kalian."
"Enggak kok Bell, kita gak ngerasa di repotkan, Baby sudah Mamah anggap seperti cucu Mamah juga."
"Terima kasih Mah."
"Oh iya Mah, kakak-kakak ipar dimana?" tanya Reza.
"Dinda sama Aditia di kamar, biasa," jawab Mamah, sambil memainkan alisnya.
"Sebenarnya yang pengantin itu siapa? Kok mereka siang-siang begini masih ngamar aja," ucap Reza, sambil becanda.
"Emangnya gak boleh apa? Terserah mereka dong Kak," sahut Bella.
"Sudah-sudah, biarkan saja. Mungkin mereka mau bikin adik buat Azka," timpa Mamah, melayani candanya Reza.
Bersambung...
Like
Komen
Vote
Terima kasih
__ADS_1