Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 55. Lamaran diterima


__ADS_3

Reza benar-benar merasakan jantungnya berdebar tak karuan. Menunggu jawaban yang akan di berikan oleh Bella, ''ya tuhan, semoga Bella mau," batin Reza.


"Ya, aku mau!" ucap Bella. Akhirnya ia memutuskan untuk menerima lamaran Reza.


Sebenarnya Bella tidak yakin, tapi mengingat lagi ucapan yang di lontarkan sang Kakak. Bahwa kini Bella harus mengingat juga bagaimana nasib bayinya. Mungkin memang ini yang terbaik, walaupun untuk saat ini Bella belum sama sekali ada rasa cinta. Semoga seiring berjalannya waktu cinta itu datang padanya.


"Yes..." Teriak Reza. Sumpah demi apapun Reza benar-benar merasa bahagia, lebih bahagia dari mendapatkan lotre, pikirnya.


"Terima kasih Bella. Aku berjanji akan selalu menjaga kamu dan anak kita," lanjut Reza. Bella hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Sementara Dinda dan Aditia mereka ikut bahagia menyaksikan hal tersebut.


"Baiklah, jadi kapan kita akan menyelenggarakan pernikahan kita?" tanya Reza penuh antusias, lebih tepatnya tak sabaran.


"Hey, kenapa elo jadi gak sabaran banget sih? Gak lihat apa calon pengantin wanitanya saja masih belum pulih," sahut Aditia.


Raza hanya memberikan cengiran kuda seraya menggaruk tengkuknya. Konyol memang.


"Nanti saja setalah Bella pulih, atau setelah habis nifas Bella," ucap Dinda.


"Kalau aku terserah kalian saja," sahut Bella pasrah.


"Ya menurut aku juga begitu, lebih baik setelah habis nifas Bella saja, nanti kasian mereka tidak bisa menikamati malam pengantin mereka, kalau acara pernikahan di gelar sekarang!" pungkas Aditia. Mendapatkan cubitan kecil dari istrinya, bisa-bisanya suaminya itu memikirkan hal tersebut. Aditia hanya terkekeh.


Sementara Reza dan Bella, wajah keduanya terlihat merah merona.


"Oh iya, apa aku bisa melihat bayiku? Jenis kelaminnya apa?" tanya Bella.


"Laki-laki, dia sangat tampan sepertiku," jawab Reza. Dengan bangganya.


"Semua laki-laki memang tampan kali," sahut Bella. Entahlah jika berbicara dengan Reza bawaannya kesal.


"Aku akan membawa bayi kita kesini," ucap Reza. Diangguki oleh Dinda, Aditia serata Bella. Reza pun keluar dari ruangan tersebut, berjalan menuju ruang bayi, untuk mengambil bayinya.


"Kak ipar, apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Bella kepada Aditia, usai melihat Reza keluar dari ruangan tersebut.


"Boleh, tanyakan saja!" ucap Aditia.


"Emm, menurut kakak, Kak Reza itu bagaimana? Maksudku, kakak sudah lama bukan mengenalinya, apa dia laki-laki baik?" tanya Bella, sebenarnya ia sungkan untuk menanyakan hal itu, namun Bella ingin tau bagaimana aslinya Reza. Karna ia belum sama sekali mengenalnya, apa lagi nantinya Reza akan menjadi suami dan ayah dari anaknya. Bella tidak mau sampai memilih laki-laki yang salah. Tidak salahkan, jika Bella bertanya pada Aditia?


"Kenapa kamu bertanya seperti itu Bella? Apa kamu ragu dengan Reza?" Bukannya menjawab pertanyaan Bella, Aditia malah berbalik bertanya.


"Sedikit kak," jawab Bella jujur.


"Baiklah aku akan mengatakan yang sejujurnya."


"Aku sudah mengenal Reza lama, kami sudah bersahabat dari dulu. Sikap Reza memang sedikit bajingan, tapi dia baik, bertanggung jawab dalam segala hal, apalagi mengenai pekerjaan. Bukan aku menjelek-jelekkan dia, ini memang faktanya, Reza seorang Cassanova, banyak wanita yang dekat dengannya dan hanya di buat mainannya saja," lanjut Aditia.

__ADS_1


Bella tidak terkejut mendengar hal tersebut, karna ia sudah bisa menabraknya. Dan sekarang apa keputusan Bella sudah benar? Menerima Reza menjadi suaminya.


"Kenapa kamu ragu?" tanya Aditia. Ia bisa menebak raut wajah adik iparnya itu.


"Tidak perlu ragu, karna itu dulu. Aku rasa sekarang dia sudah berubah, lihatlah bagaimana dia kukuhnya ingin menikahi kamu, aku rasa dia sudah benar-benar bertobat," lanjut Aditia.


"Semoga saja ya kak!" sahut Bella.


"Serahkan saja semuanya sama yang di atas dek," ujar Dinda.


Tak lama kemudian Reza terlihat kembali sambil menggendong bayi mungilnya.


"Ayo sayang, ini mommy kamu ingin melihat kamu," ujar Reza. Ia memberikan bayi mungil tersebut pada Bella.


Bella menggendong bayi mungilnya itu, air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Tentu saja air mata bahagia. Bella tidak menyangka diusianya yang masih terbilang muda ia sudah memiliki seorang bayi mungil yang tampan.


"Mau di beri nama siapa bayi mu dek?" tanya Dinda.


"Adam. Aku akan memberinya nama Adam," ujar Bella.


"Nama yang bagus, aku juga setuju!" timpal Reza.


***


Sementara itu, Lisa yang tak tau di mana keberadaan Dinda, ia menanyakan pada Asisten rumah tangganya, namun ART-nya itu tidak tau.


Tiba-tiba seseorang masuk kedalam rumah dan menghampiri Lisa yang tengah duduk di ruang tengah.


"Nyonya," panggil Pak sopir yang mengantarkan Dinda tadi, kedatangan menemui Lisa untuk menyampaikan amanat yang diberikan Dinda, agar memberitahu Lisa keberadaan Dinda.


"Iya Pak, kenapa?" tanya Lisa.


"Saya hanya ingin menyampaikan amanat dari nyonya Dinda, kalau nyonya tidak perlu mengkhawatirkannya, karna Nyonya Dinda baik-baik saja!" ujarnya.


"Emang Dinda dimana?" tanya Lisa lagi.


"Nyonya Dinda ke rumah sakit katanya ada saudaranya yang di rawat di sana. Di sana juga ada tuan Aditia, nyonya!"


"Oh iya," ucap Dinda.


"Kalau begitu saya permisi nyonya," pamit sang sopir, tanpa menunggu jawaban dari Lisa ia berajak dari sana.


"Siapa yang sakit? Kenapa mas Aditia ada di sana juga?" gumam Lisa bertanya-tanya.


"Ya sudahlah, yang penting keadaan Dinda baik-baik saja. Nanti aku tanyakan saja pada mereka apa yang terjadi," lanjut gumamnya.

__ADS_1


Lalu Lisa menyenderkan tubuhnya di sofa, membuang napas beratnya. Di saat sendiri seperti ini, pikiran Lisa selalu berkelana. Terkadang ia merasa sangat cemburu pada Dinda, karna Aditia yang selalu memprioritaskan madunya itu. Terkadang Lisa lelah, ingin juga mengakhiri semuanya, tapi merasa dirinya sangat mencintai Aditia. Sebisa mungkin Lisa bertahan, walaupun menyakitkan. Ia harus tetap bisa berpikir jernih, jangan sampai setan menggodanya lagi, membuat egonya meninggi.


Lisa tidak mau membuat kesalahan yang kedua kalinya. Karna keegoisannya.


Sejak awal ini keputusannya, jadi ini resiko yang harus ia dapatkan.


Cukup lama bergelut dengan pikirannya. Lisa merasa jenuh, ia pun memutuskan untuk pergi sekadar jalan-jalan.


Lisa berajak dari sofa, ia berjalan menuju kamar untuk bersiap-siap. Sekitar setengah jam kemudian, Lisa sudah terlihat rapi, ia pun melaju mobilnya meninggalkan rumah tersebut.


"Kemana ya?" gumam Lisa. Sadari tadi ia melajukan mobilnya tanpa arah dan tujuan.


"Lebih baik aku ke rumah ibu dan bapak saja," lanjutnya. Setelah berpikir cukup lama Lisa pun memutuskan untuk mengunjungi rumah kedua orang tuanya. Namun sebelum ia ke sana, Lisa menghentikan terlebih dahulu mobilnya di sebuah supermarket, untuk membeli sesuatu untuk kedua orang tuanya.


Ya, Lisa kini sebisa mungkin menjadi orang baik, hubungan dengan kedua orang tuanya semakin hari juga semakin hangat, begitu juga dengan kedua mertuanya. Orang tua Aditia sudah seperti dulu lagi pada Lisa. Orang tua Aditia tidak membeda-bedakan lagi kedua menantunya itu.


Sambil mendorong troli sambil memilih apa saja yang akan dia beli. Lisa membelikan makanan ringan kesukaan orang tuanya.


"Ah kenapa susah sekali," ucap Lisa, ia mencoba meraih sebuah susu yang terletak di bagian atas.


"Sini biar saya ambilkan," terdengar seseorang berbicara, seraya meraih susu tersebut, lalu memberikannya pada Lisa.


"Ah terima kasih," ucap Lisa mengambil susu tersebut dari tangan laki-laki tersebut. Tanpa melihat siapa laki-laki itu.


"Ketahuan sejak kecil gak suka minum susu, jadi kurang tinggi," ujar laki-laki tersebut meledek Lisa. Lisa langsung mengalihkan pandangannya pada laki-laki yang berdiri di belakangnya itu. Dari suaranya seperti tidak asing.


"Kamu," pekik Lisa. Menatap Riki sebal. Laki-laki itu selalu saja membuly-nya. Menyebalkan bukan?


"Hahaha," tawa Riki menggema, melihat wajah Lisa yang kesal padanya.


"Dasar laki-laki menyebalkan," ketus Lisa. Lalu ia mendorong trolinya, dan berjalan menjauhi Riki.


"Lisa tunggu!" teriak Riki, ia berjalan menyusul Lisa. "Aku harus cari tau kebenaran, aku harus bicara serius dengan Lisa," lanjut Riki berucap dalam hatinya, sambil terus berjalan menyusul wanita itu.


Bersambung...


Like


Komen


Vote


Jangan lupa ya.


Gift hadiah bunga juga boleh. Wkwkwk

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2