Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 18. Lebih sakit


__ADS_3

Seminggu berlalu...


Dalam seminggu itu Dinda menghindar pertemuannya dengan Aditia dan Lisa, walaupun mereka tinggal satu atap. Tidak sulit untuk Dinda menghindar dari mereka, karna Aditia selalu sibuk di kantornya, bahkan Dinda selalu mendengar kedatangan mobil Aditia, pulang larut malam. Sementara Lisa, setiap hari hobinya berbelanja, jalan-jalan, ke salon dan yang lainnya, kehidupan Lisa memang bak wanita sosiallita. Karna Aditia memang kaya raya, hartanya tidak akan habis di makan tujuh turunan, uang bulanan yang Aditia berikan memang besar setiap bulannya. Jadi Lisa tak khawatir uangnya akan habis. Begitu juga Dinda, sebagai istri kedua Aditia, ia pun sama mendapatkan haknya, namun Dinda tak pernah menggunakan uang tersebut, uangnya sudah menumpuk di tabungannya, dengan nominal yang lumayan besar selama ia menjadi istri Aditia, walaupun baru dua bulan.


Namun Dinda tak dapat membohongi hatinya sendiri, satu Minggu ia tak melihat wajah suaminya itu, ada rasa rindu yang mulai bersarang di hatinya. Namun sebisa mungkin Dinda menepis rasa itu, dia tak mau berharap lagi pada Aditia. Sudah cukup ia menyakiti dirinya sendiri, entah sampai kapan Dinda seperti ini?


"Haruskah aku mengakhiri semuanya? Sebelum ada janin yang tumbuh di rahim ini?" Lirih Dinda, tanganya mengelus perutnya yang rata itu. Takut, saat ini Dinda takut, bagaimana kalau dirinya hamil?


"Ya tuhan aku mohon, jangan biarkan janin tumbuh di rahim ini, bukan aku tidak menginginkan anugrah darimu, tapi dalam kondisi pernikahanku seperti ini, aku tidak tau bisa menjalankan amanah darimu atau tidak!"


***


Kantor Aditia.


Dengan penuh semangat Aditia menyelesaikan semua perkejaannya, hari ini adalah hari yang di nanti-nanti oleh Aditia, karna hari ini waktunya dengan Lisa habis, dan waktunya akan bergilir kepada Dinda sang istri keduanya. Bahagia dan tidak sabar rasanya, Aditia ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Ia sungguh sangat merindukan istri ke duanya itu, di tambah selama seminggu ini Aditia tidak melihat Dinda sama sekali, sekilas pun tidak Aditia lihat. Walaupun mereka satu atap, apa karna Aditia yang memang sangat sibuk akhir-akhir ini? Atau Dinda yang menghindarinya? Entahlah, terbesit pertanyaan itu di benak Aditia, karna selama satu Minggu ini, bahkan setiap pagi Dinda tak terlihat sarapan bersamanya.


Malam pun datang, akhirnya Aditia selesai mengerjakan semua pekerjaannya. Aditia pun bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya, sebelum pulang Aditia bergegas mandi dan berganti pakaian di kantornya itu, ruangan Aditia memang terdapat ruangan khusus untuknya. Malam ini Aditia harus terlihat rapi dan wangi saat pulang ke rumah dan menemui istri keduanya, Dinda.


Merasa semuanya sudah cukup, Aditia pun langsung keluar dari ruangannya itu, segera berjalan menuju mobilnya dan melajukan mobil tersebut meninggalkan kantornya.


Sekitar 30 menit menempuh perjalanan, akhirnya Aditia sampai di depan rumahnya, Aditia berjalan penuh semangat memasuki rumahnya itu, ia langsung berjalan menuju kamar Dinda.


Klekk...


Aditia membuka pintu kamar Dinda pelan, istrinya itu terlihat baru saja menyelesaikan kewajibannya. Aditia tersenyum memandangi Dinda yang membelakanginya, Dinda tak menyadari Aditia yang tengah berdiri di belakangnya itu. Betapa beruntungnya Aditia memeliki istri seperti Dinda, walaupun Dinda hanya istri keduanya namun Aditia tak bisa membohongi hati dan dirinya sendiri, kini ia benar-benar sudah menerima Dinda dan mencintainya, mungkin kini cintanya untuk Dinda lebih besar dari pada untuk Lisa. Karna perasaan Aditia lebih merasa nyaman saat bersama Dinda, jika bersama Lisa kenyamanan itu tidak ada.


Aditia berjalan mendekati Dinda, lalu ia melingkarkan tanganya ke pinggang istri keduanya itu, Aditia memeluk Dinda dari belakang. Dinda terkejut, lalu ia mencoba melepaskan tangan Aditia yang di depan perutnya.


"Hey, sayang ini aku!" Ucap Aditia.


"Mas, kamu ngagetin aja. Aku pikir siapa!"

__ADS_1


"Emang kamu pikir siapa hmm? Memangnya ada laki-laki selain aku yang suka masuk ke kamar kamu?" Tanya aditia, ia mengeratkan pelukannya, membenamkan kepalanya di ceruk leher istrinya itu, menghirup bau wangi khas Dinda, yang membuat adik kecilnya langsung menegang dibawah sana.


"Tidak ada mas, cuman kamu yang suka masuk ke kamarku, memangnya siapa lagi coba?" Ucap Dinda seraya mencoba melepaskan tangan suaminya itu, "lepaskan mas, sesak nafasku," lanjutnya.


Perlahan Aditia pun melepaskan pelukannya itu, lalu membalikan tubuh Dinda agar menghadap padanya, Aditia tersenyum lalu mengusap wajah istri mudanya itu.


"Istriku cantik sekali malam ini," puji Aditia.


"Terima kasih mas," ucap Dinda. "Bagaimana aku tak mengharapkanmu mas? Lihatlah sikapmu begitu manis padaku, seakan kamu benar menerimaku dan mencintaiku!" Lanjut Dinda berucap dalam hatinya.


"Sama-sama sayang, aku cinta kamu Dinda." Aditia mendaratkan kecupan di kening istri mudanya itu, cukup lama ia mengecup kening Dinda, 'Aku mencintaimu, aku tidak akan pernah melepaskan kamu Din, sampai kapan pun,' batin Aditia.


Dinda tersenyum getir, 'Cinta? Kamu hanya pura-pura mencintaiku mas, aku mohon jangan bersikap seperti ini. Aku lelah mas, jangan memberiku harapan yang tak pernah bisa ku gapai, itu menyakitkan mas,' batin Dinda menjerit. Bagaimana tidak? Ucapan Aditia seakan membuatnya merasa benar-benar menjadi wanita yang di cintai, tapi nyatanya? Bahkan Dinda mendengar sendiri ucapan yang sangat menyakitkan dari mulut Aditia. Dinda hanya selir nafsu untuk Aditia, bahkan dia hanya menginginkan anak dari darinya, setelah tujuan itu tercapai. Dinda akan di buang begitu saja bagaikan sampah. Habis manis sepah di buang, sampai kapan pun Dinda hanya istri yang tak pernah di rindukan.


"Oh iya mas, mas sedang apa di sini?" Tanya Dinda kemudian, sekuat tenaga ia mencoba tetap tersenyum.


"Mas rindu sekali sama kamu sayang! Apa kamu lupa? Malam inikan sudah jatah malam kamu sayang," jawab Aditia.


"Dasar!" Ucap Aditia, seraya mendaratkan cubitan gemas di hidung mancung milik Dinda.


"Aww, sakit mas." Rengek Dinda sedikit manja. Dinda tak bisa membohongi hatinya, ia senang Aditia seperti ini, tapi...


Aditia yang melihat tingkah Dinda tersebut, benar-benar merasa semakin gemas, ingin rasanya Aditia langsung melahap istri mudanya. Apa lagi adik kecil di bawah sana sudah tak kuasa lagi menahan hasratnya.


"Sayang, apa aku boleh?" Tanya Aditia, tanpa menunggu jawaban dari Dinda Aditia langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Dinda. Namun Dinda langsung memalingkan wajahnya saat Aditia akan mendaratkan ciuman di bibir ranumnya.


"Ada apa?" Tanya Aditia kebingungan. Tak biasanya istrinya itu seperti ini.


"Maaf mas, aku lagi ada tamu bulanan." Jawab Dinda bohong. 'Maafkan aku mas, aku terpaksa melakukan ini, semuanya demi kebaikan kita, keselamatan adikku juga,' gumam Dinda.


"Tamu bulanan? Menstruasi maksudnya?" Tanya Adita. Dinda mengangguk kepalanya pelan.

__ADS_1


"Tapi bukankah kamu baru saja melakukan selesai shalat isya barusahan? Kamu berbohongkan?" Cerca Aditia.


Dinda menggigit bibir bawahnya, 'bodoh kenapa aku kasih alasan seperti itu,' gumam Dinda menggerutuki kebodohannya itu sendiri, jelas-jelas Aditia tadi melihatnya ia shalat sudah pasti Aditia tidak akan percaya.


"Ayolah sayang! Mas sudah rindu sekali sama kamu," rayu Aditia. Ia menarik Dinda kedalam pelukannya.


"Mas," bentak Dinda, melapaskan pelukannya suaminya dengan sedikit kasar.


"Dinda," Aditia berbalik membentaknya, wajah Aditia terlihat penuh amarah, "harusnya kamu tau apa hukum seorang istri yang menolak permintaan suaminya. Percuma Dinda kamu melakukan ibadah setiap waktu, jika sikapmu seperti pada suami kamu sendiri. Aku suami sahmu, kamu tau hukumnya menolakku hah? Dasar istri durhaka, harusnya kamu sadar diri." Pekik Aditia, dengan wajah yang kesal dan marah Aditia berlalu dari hadapan Dinda, Aditia keluar dari kamar tersebut, menutup pintu dengan keras.


"Maafkan aku mas, ya tuhan maafkan aku. Aku sangat berdosa sudah menolak suamiku," lirih Dinda. Butiran bening terlihat mengalir begitu saja membasahi wajahnya. Sakit, ini lebih sakit rasanya, bahkan Aditia mengucapkan Dinda istri yang durhaka. Dinda tau semua yang di lakukannya itu salah, tapi tidak ada yang mengerti posisinya sekarang itu seperti apa.


Sementara itu, dengan penuh amarah Aditia berjalan menuju kamar Lisa. Aditia membuka pintu kamar Lisa, lalu berjalan menghampiri Lisa yang tengah duduk di tepi ranjangnya.


"Mas, kamu ngapain?" Tanya Lisa menatap suaminya itu keheranan, bukannya malam ini suaminya itu tidur di kamar madunya, tapi kenapa malah ke kamarnya?


Tanpa menjawab pertanyaan istri pertamanya itu, Aditia langsung menarik Lisa dalam pelukannya, lalu menyerang Lisa tanpa aba-aba. Aditia sudah tidak bisa menahan lagi hasrat yang sudah menggebu-gebu di hatinya, terpaksa Aditia menyalurkan hasrat itu kepada Lisa. Lisa yang sudah lama merindukan sentuhan suaminya itu, langsung membalas permainan Aditia dengan agresifnya. Aditia membaringkan tubuh Lisa di atas ranjang, Aditia langsung menyatukan tubuhnya dengan istri pertamanya itu. ******* kenikmatan terdengar dari mulut Lisa, Lisa begitu menikmati permainan Aditia yang sudah lama tidak ia rasakan.


Namun tidak dengan Aditia, entah kenapa ia tak bisa menikmati permainan tersebut. Melihat wajah Lisa sekitar nafsunya lenyap begitu saja, Aditia menyudahi permainannya dengan Lisa tanpa mencapai puncak kenikmatannya.


Bersambung...


Dicabut pas enak-enaknya gimana tuh rasanya Lisa? Eh


Wkwkwkwk


Like


Komen


Vote ya

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2