
Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu, bulan berganti bulan, begitu juga tahun berganti.
Tak terasa, satu tahun berlalu...
Aditia dan Dinda, selama itu melewati hari-hari mereka dengan penuh kebahagiaan, di tambah dengan kehadiran Azka di tengah-tengah mereka, membuat biduk rumah tangga mereka serasa sempurna.
Namun belakangan ini, Aditia selalu pulang larut malam, karna tugas yang harus ia jalankan. Perkejaan di kantornya seolah-olah tidak ada beresnya.
Karna semakin ke sini, Perusahaannya semakin jaya, mungkin karna rezekinya bertambah. Atas kehadiran Azka.
Sebenarnya Aditia tidak bisa lama-lama berjauhan dengan anak dan istrinya itu, namun apa boleh buat, yang ia lakukan itu juga, untuk masa depan keduanya.
Waktu sudah menunjukan jam 10 malam, namun Aditia masih berkutat dengan berkas-berkas yang menumpuk di atas mejanya. Aditia bertekad akan menyelesaikan semuanya malam ini, karna besok, ia akan libur untuk beberapa hari ke dapan.
Ada sebuah rencana yang sudah di siapkan oleh Aditia, untuk Dinda dan Azka.
"Bos, belum pulang?" tanya Reza, yang baru saja memasuki ruangan kerja Aditia.
Aditia menoleh kearah Reza.
"Tanggung dikit lagi," jawabnya, lalu Aditia kembali fokus memeriksa berkas-berkas tersebut.
Reza mengangguk, lalu ia berjalan mendekati Aditia, duduk di kursi yang ada di depan meja Bosnya itu.
Reza bersandar, helaian napas panjang terdengar dari laki-laki itu, membuat Aditia refleks melihat kearahnya.
"Ada apa?" tanya Reza, sambil mengamati wajah sekertaris sekaligus sahabatnya itu, wajah lelah, kusut, masam terlihat dari wajah Reza.
"Pusing!" jawab Reza, sambil mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menyugar rambutnya.
"Makanya jangan makan kipas angin!" sahut Aditia sambil terkekeh.
"Ck..." Reza memutar bola matanya malas.
"Kenapa?" Aditia bertanya, kini menatap Reza dengan tatapan serius.
"Bella, Dit..." jawab Reza lirih.
"Bella? Kanapa bini elo?"
"Belakang ini dia suka marah-marah kagak jelas! Cemburu gak jelas! Bikin pusing!" gerutu Reza.
"Wajah kali Za, namanya juga wanita." Aditia berusaha menenangkan Reza.
"Apa ini yang buat Lo, selalu sengaja pulang larut malam hmm?" lanjut Aditia bertanya.
Reza terlihat menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Ya, belakang ini Reza memang sengaja selalu pulang larut malam, selain di sibukkan dengan perkerjaannya. Kalau pun pekerjaan sudah selesai lebih awal, Reza tidak langsung pulang ke rumah.
Mengingat belakang ini sikap Bella, sang istri, yang belakangan ini suka gak jelas menurutnya.
Sikap Bella yang kadang berubah-ubah. Suka marah-marah tidak jelas, selalu curiga, cemburu buta.
Bahkan semalam Bella tiba-tiba nangis gak jelas, terus marah-marah sama Reza. Gimana gak pusing coba Reza? Liat kelakuan istrinya itu.
Usia Bella memang terpaut jauh dari Reza, tapi perasaan selama ini Reza selalu mengerti Bella.
Tapi, akhir-akhir ini, sikap istrinya itu selalu membuat Reza mengelengkan kepalanya, dan pusing jadinya.
"Ya, di maklum aja Za, Bella-kan masih muda, elo harus bisa ngertiin dia! Dan, seharusnya, kalau elo udah beres kerja langsung pulang aja. Mungkin dia butuh perhatian lebih dari elo," tutur Aditia. Mencoba memberikan energi positif pada Reza, agar Reza tidak berpikir yang tidak-tidak.
"Kurang perhatian apa gue Dit? Apa yang dia mau gue turutin, mau apa-apa gue juga beliin. Semalam aja dia mau makan es Doger Dit, gue cariin!" pekik Reza. Ia ingat semalam pas baru pulang kerja, Bella meminta es Doger, la bingung dong? Tengah malam cari es Doger dimana?
"Hahaha..." Aditia tertawa.
"Pusing gue Dit, bayangin tengah malam, gue capek pulang kerja, pas pulang rumah, malah suruh cari Es Doger pula! Pusing gue, pusing sumpah!" keluh Reza.
"Terus, dapat es Doger-nya?"
"Ya kagaklah, mana ada yang jual es Doger tengah malam, Abang es juga masih waras kali," jawab Reza.
Membuat Aditia langsung tertawa.
"Terus yang gak waras siapa?"
"Hahahaha..." Tawa Aditia kembali menggema.
"Kualat lho, nyebut bini elo kagak waras!" lanjut Aditia, sambil tertawa.
"Keceplosan woy...." Reza terlihat kesal.
"Sumpah gue mumet Dit, Bella akhir-akhir ini sensitif banget!" ucap Reza penuh drama.
"Ya udah sih, jangan di bawa pusing, nikmati aja Za."
"Ck, enak banget elo ngomong Dit, elo sih gak ngerasain gimana jadi gue!" sahut Reza sendu.
"Mungkin istri elo lagi ngidam kali Za, si Baby mau punya adik lagi kali," ucap Aditia. Asal-asalan berbicara.
Namun nampaknya ucapan Aditia sangat berpengaruh pada Reza. Reza terdiam, ia mencoba mencerna apa yang di ucapkan Aditia barusan.
"Masa iya sih Dit?" tanya Reza.
"Ya mungkin, bukannya kalau wanita sedang hamil itu sikapnya suka sensitif, terus suka minta yang aneh-aneh juga! Mungkin waktu Bella minta es Doger tengah malam dia ngidam," jelas Aditia. Hanya menebak saja sih sebenarnya.
__ADS_1
Lagi-lagi Reza terdiam, apa yang katakan Aditia emang ada benarnya sih.
"Benar juga sih Dit. Terus kalau semalam itu Bella ngidam pengen es Doger, dan gak sampean, bayi gue ileran dong nanti," ucap Reza panik.
Aditia terlihat menahan tawanya.
"Bisa jadi," ucap Aditia sengaja membuat Reza gelisah.
"Ih jangan sampai dong, amit-amit...." Reza mengetuk-ngetuk meja dihadapannya.
"Hahaha..." Aditia tertawa.
"Udah sana pulang! Pastikan dulu, apa enggaknya, bini elo hamil lagi," titah Aditia.
Reza langsung mengangguk, lalu ia beranjak.
"Gue duluan Dit," pamitnya seraya berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Aditia hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Reza benar-benar penuh drama pikirnya.
"Eh tunggu! Kalau benar Bella hamil..."
"Ah masa iya, keselebet lagi. Jangan sampe kalah sama si Reza nih, aku juga harus cepat-cepet bikin adik buat Azka." Aditia bermonolog dengan dirinya sendiri. Konyol sih, tapi gak rela kalau Reza lebih dulu punya anak dua.
Aditia pun kembali melanjutkan perkejaannya, ia harus bisa cepat menyelesaikan semuanya. Lalu pulang, eh ngomong-ngomong jadi kangen benget Aditia sama Dinda.
"Semangat Aditia, bereskan tugas kamu, terus pulang, bikin adik buat Azka," ucap Aditia sambil terkekeh.
Satu jam kemudian, akhirnya Aditia selesai.
Ia meregang otot-otot sejanak. Melelahkan, tapi dia puas, akhirnya semua selesai.
Aditia membereskan meja kerja, setalah selesai ia bersiap-siap untuk pulang.
Sementara itu, Dinda tengah duduk di tepi ranjang, sesekali ia melirik kearah jarum jam. Wajah cemas terlihat dari wajah cantiknya.
"Sudah jam segini, Mas Aditia kok belum pulang ya?" gumam Dinda. Ia merasa khawatir dengan suaminya itu.
Pasalnya Aditia memang selalu pulang larut malam, tapi tidak semalam ini. Sudah lewat satu jam, dari jam biasanya dia pulang.
Bersambung...
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Jangan lupa ya
Terima Kasih.