
Keesokan harinya...
Aditia dan kedua istrinya kini tengah menikmati sarapan pagi mereka. Kehangatan nampak terlihat disana. Kini Lisa harus bisa membiasakan diri melihat sikap Aditia yang lebih condong pada Dinda. Kini semuanya seakan berbalik, namun sebisa mungkin pula Lisa menyabarkan hatinya.
"Mas berangkat dulu ya!" pamit Aditia.
"Iya mas," sahut Dinda dan Lisa bersamaan. Lisa dan Dinda langsung saling melemparkan padangan mata mereka, lalu terkekeh. Lalu keduanya menyalami Aditia secara bergantian.
"Asalamua'allaikum."
"Walaikum'salam."
Setalah berpamitan pada dua istrinya itu, Aditia langsung berlalu meninggalkan rumah berangkat menuju kantor. Sebenarnya Aditia merasa khawatir meninggalkan Dinda di rumah bersama Lisa, tapi apalah daya ia punya tanggung jawab juga terhadap perusahaannya.
"Non ini susunya diminum dulu ya, biar Dede bayinya sehat." Ucap bi Santi, wanita itu membawa satu gelas susu khusus ibu hamil.
"Eh iya bi, terima kasih."
Lisa terdiam, ia berusaha mencerna kata-kata asisten rumah tangganya barusan. 'Dede bayi?' gumam Lisa.
"Din kamu hamil?" tanya Lisa kemudian. Dinda yang tengah meminum susu tersebut terkejut, dan...
"Uhukk.. uhukk..."
"Ya ampun Din pelan-pelan dong." Lisa terkejut, ia mengelus lembut bahu madunya itu.
'Ya ampun, bagaimana ini? Harus jawab apa aku?' gumam Dinda.
"Din..." panggil Lisa, membuat Dinda langsung tersentak dari lamunannya.
"Eh, iya kenapa mbak?"
"Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi Din!"
"Maksud mbak?" Dinda berpura-pura tak mengetahuinya.
"Jawab aku Din, kamu sedang hamil anak mas Aditia?" tanya Lisa lagi. Dinda menganggukkan kepalanya pelan, tidak mungkin Dinda berbohong, Lisa sudah tidak mungkin percaya. Dinda lupa memberi tahu asisten rumah tangga, untuk merahasiakan terlebih dahulu kehamilannya itu. Dinda menundukan kepalanya, detak jantungnya mulai berdetak tak karuan, takut, itulah yang saat ini Dinda rasakan. Bagaimana kalau Lisa tak menerimanya? Bagiamana kalau Lisa malah? Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di benak Dinda.
"Benarkah Din?" Lisa terkejut mendapati pengakuan Dinda.
"Ah akhirnya..." seru Lisa, ia langsung memeluk madunya itu. Dinda terdiam, apa ini? Lisa tidak marah? Lisa menerimanya? Ya tuhan betapa berdosanya Dinda sudah berprasangka buruk pada istri pertama suaminya itu. Apakah Lisa sudah benar-benar berubah? Kalau iya, Dinda sangat bersyukur.
Lisa memeluk Dinda cukup lama, entahlah Lisa harus bahagia atau tidak? Yang pasti saat ini hatinya terasa hancur. Namun Lisa berusaha sekuat tenaga menahan kesakitannya itu. Lisa ingin terlihat baik-baik saja.
"Akhirnya Din, kamu bisa memberikan keturunan pada mas Aditia," lanjut Lisa seraya melepaskan pelukannya pada Dinda, mata Lisa terlihat berkaca-kaca.
Dinda tersenyum tipis, ia menatap lekat mata istri pertama suaminya itu. Dari sorot mata Lisa, Dinda bisa melihat ada kesedihan dimata Lisa, sebagai seorang wanita tentu saja Dinda bisa merasakannya.
"Mbak, aku---"
__ADS_1
"Aku baik-baik saja Din," pungkas Lisa memotong ucapan Dinda, Lisa tau apa yang akan dikatakan madunya itu. 'Aku baik-baik saja Din, aku akan berusaha menerimanya, kebahagian utamaku sekarang adalah mas Aditia, aku tidak perduli mas Aditia tidak mencintaiku lagi, berada ditengah-tengah kalian sudah lebih dari cukup sekarang, walaupun aku akui semua ini menyakitkan,' lanjut Lisa berucap dalam hatinya.
"Terima kasih mbak," ucap Dinda.
"Kenapa berterima kasih Din? Aku senang kamu hamil, malah aku sangat menantikan moment ini."
"Maaf mbak, sebenernya mas Aditia memintaku untuk menyembunyikan kehamilanku pada mbak Lisa," lirih Dinda.
"Tidak apa-apa Din, aku mengerti. Aku tau kenapa mas Aditia melakukan itu, tapi aku merasa sedih kalian belum sepenuhnya mempercayai aku, aku tau ini semua pasti sulit. Setalah apa yang sudah aku lakukan selama ini." Air mata Lisa terlihat lolos dari pelupuk matanya.
"Mbak aku mempercayai mbak kok. Aku yakin mbak Lisa sudah berubah."
"Terima kasih Din."
"Kepercayaan itu seperti halnya sebuah kertas, jika kita sudah merobeknya pasti susah membuat kertas itu kembali utuh seperti semula. Tapi mbak jangan putus asa, mbak bisa membuat kertas itu kembali kebentuk semula," ucap Dinda.
"Dengan cara memperbaikinya, menghubungkan kertas itu kembali," timpal Lisa. Dinda menganggukkan kepalanya.
"Tetap saja Din, kertas itu tidak akan seutuh pada awalnya, tetap akan ada bekas sobekan yang terlihat."
"Maka dari itu, mbak harus membuat kertas baru!"
"Kertas baru? Maksudmu, lembaran baru?"
"Iya."
"Buka lembaran baru dengan mas Aditia, mbak harus bisa membuat mas Aditia mempercayai mbak," lanjut Dinda.
"Aku rasa itu terlalu jauh Din. Aku tidak akan terlalu banyak berharap, aku akan pasrah semuanya pada yang maha kuasa."
"Itu mungkin lebih baik mbak."
"Tapi apa aku boleh minta sesuatu sama kamu Din?"
"Apa?"
"Apa aku bisa menjadi ibu dari anak kalian juga?" tanya Lisa dengan ragu.
"Tentu saja mbak, bukankah ini awal tujuan mbak, menyuruh mas Aditia untuk menikahiku?"
"Iya aku tau Din, tapi sekarang keadaannya berbeda."
"Tidak mbak, keadaannya masih sama. Kita sudah sepakat menjalankan awal tujuan kita, setelah bayi ini lahir mas Aditia akan menceraikan aku, mbak dan mas Aditia yang akan merawatnya," jelas Dinda. Berat rasanya Dinda mengucapkan kalimat tersebut, hatinya sangat sesak saat berucap, namun apa boleh buat, toh itu memang kenyataannya. Mereka sudah sepakat melanjutkan tujuan awal yang buat bersama.
Lisa hanya tersenyum tipis, entahlah Lisa harus bahagia atau apa, rencana awal memang seperti itu. Tapi keadaan saat ini sudah jauh berbeda. Aditia sudah jatuh hati pada madu pilihan Lisa. Pemikiran Lisa dan Dinda jauh berbeda, malah berbalik. 'Mungkin setalah bayi itu lahir, bukan kamu yang diceraikan mas Aditia Din, tapi aku. Tapi jika memang benar itu terjadi, aku sudah pasrah, untuk saat ini aku hanya ingin memperbaiki semuanya, dan jika nanti aku pergi, aku tak ingin membuat bekas luka di hati kalian." Batin Lisa.
"Mbak..." panggil Dinda. Lisa langsung tersadar dari lamunannya. Lisa menoleh kearah Dinda dengan memasang senyum manisnya.
"Iya Din."
__ADS_1
"Aku lupa, hari ini ada jadwal kontrol kandungan aku, ke rumah sakit. Mbak mau gak temenin aku?"
"Sekarang?"
"Enggak, nanti agak siangan."
"Iya, aku siap-siap dulu deh." Ucap Lisa seraya berajak dari tempat duduknya.
"Iya mbak, aku juga mau siap-siap dulu."
Lisa pun berlalu dari hadapan Dinda, ia berjalan menuju kamarnya. Memang Dinda lupa, hari ini dia ada kontrol periksa kandungan.
***
Di kantor.
Aditia tengah fokus menatap layar leptopnya. Tiba-tiba ponsel yang ada di atas mejanya berbunyi. Aditia mengambil ponselnya itu, satu panggil masuk terlihat di layar ponselnya.
"Dinda." gumam Aditia.
"Hallo, asalamualaikum Din."
"Hallo mas, walaikum'salam. Mas aku mau minta izin buat ke rumah sakit. Hari inikah ada jadwal kontrol kandungan aku."
"Oh iya mas lupa, mas pulang sekarang ya!"
"Enggak usah mas."
"Loh kenapa? Terus siapa yang akan menemani kamu Din?"
"Mbak Lisa akan menemaniku mas."
"Apa Lisa? Lisa tau kamu hamil?"
"Iya mas, maaf. Nanti setalah mas pulang, aku akan menjelaskan semuanya sama mas. Sudah dulu ya mas, aku mau siap-siap dulu. Mas gak usah khawatir, aku pasti baik-baik saja kok."
"Tapi Din---"
"Asalamua'allaikum."
Dan sambungan telpon itu pun terputus, Dinda mematikan sambungan telpon tersebut secara sepihak. Padahal Aditia belum selesai berbicara.
"Waalaikum'salam." Aditia menjawab salam Dinda, usai telpon tersebut terputus sambil menatap layar ponselnya.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Votenya ya.
Terima kasih.
__ADS_1