
Pagi harinya.
"Nyonya sudah biar saya saja yang menyiapkan sarapan," ujar bi Santi.
"Gak apa-apa bi, biar saya bantu."
"Tapi nyo--"
"Sudah bi, enggak apa-apa. Lagian saya bingung harus ngapain," pungkas Dinda. Ia memberikan senyuman tipisnya, tanganya sibuk mengorak-arik nasi goreng yang tengah ia masak.
Bi Santi akhirnya mengangguk pasrah. Sebenarnya ia merasa tidak enak. Bagaimana kalau tuannya Aditia marah? Melihat istrinya membantunya di dapur. Dinda--kan istrinya Aditia juga! Selama ini Lisa tidak pernah diperbolehkan terjun ke dapur oleh Aditia. Status Dinda dan Lisa sekarang sama, sama-sama istrinya Aditia. Tapi ya mau bagaimana lagi? Istri muda sang majikannya itu tetap keukeh ingin membantunya.
Jika bi Santi boleh membandingkan, ia lebih suka istri muda sang majikannya itu dari pada istri tuanya. Bukan karna Dinda membantu meringankan pekerjaanya, tapi dari wajah dan sikap Dinda, bi Santi yakin kalau Dinda wanita yang sangat baik dibandingkan nyonya yang satunya, yaitu Lisa. Tapi kenapa wanita seperti Dinda mau jadi istri kedua majikannya? Entahlah, bi Santi hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya, lagi pula siapa dirinya. Dia hanya seorang pembantu tidak patut rasanya ikut campur urusan pribadi sang majikannya. Cuman, hanya di sayangkan saja pikirnya.
Lama berkutat di dapur, akhirnya mereka--pun selesai menyiapkan sarapan tersebut. Dinda menata nasi goreng yang sudah ia masak itu di atas meja makan. Waktu masih menunjukan jam setengah tujuh pagi. Aditia dan Lisa belum turun dari kamar mereka, Dinda--pun kembali ke kamarnya, ia memutuskan untuk membersikan diri.
***
Aditia dan Lisa terlihat sedang berjalan menuruni anak tangga, dengan tangan yang bergandengan. Seperti tidak terjadi apa-apa, Aditia dan Lisa bersikap seperti biasanya. Entah mereka lupa, atau pura-pura dengan kehadiran Dinda di rumah tangga mereka.
Mereka berjalan menuju meja makan.
Aditia dan Lisa langsung menyantap sarapan tersebut. Nasi goreng yang sudah di siapkan Dinda.
'Rasa nasi gorengnya tidak seperti biasanya? Rasanya sangat enak,' gumam Aditia. Ia semakin bersemangat menyuapkan nasi goreng tersebut ke mulutnya.
"Eh mas, nasi goreng kok beda ya? Bibi ganti resep apa ya mas? Ini rasanya luar biasa enaknya!'' ujar Lisa. sepertinya wanita itu--pun sama merasakan halnya seperti Aditia.
"Iya mungkin, sayang!"
Lisa dan Aditia menghabiskan nasi goreng tersebut. Tanpa sisa, bahkan mereka tak menyisakannya untuk Dinda, padahal Dinda yang membuat nasi goreng itu.
"Selamat pagi," sapa Dinda. Ia ikut duduk bergabung di meja makan, bersama suaminya dan Lisa.
"Pagi," jawab Lisa ramah. Sementara Aditia ia terlihat acuh, sama sekali tidak menghiraukannya.
__ADS_1
"Sayang aku berangkat dulu ya," pamit Aditia. Ia langsung berajak dari kursi yang ia duduki.
Aditia mengulurkan tanganya kepada Lisa, Lisa meraihnya dan menyalaminya dengan takzim.
"Hati-hati ya mas," ucap Lisa. Diangguki oleh Aditia. Aditia mendaratkan kecupan di kening Lisa sebelum ia berlalu dari sana.
"Mas," Dinda ingin meraih tangan Aditia, berniat menyalaminya. Namun dengan segara Aditia menjauhkan tanganya dari Dinda.
"Assalamu'alaikum." Ucap Aditia, dan berlalu dari hadapan kedua istrinya itu.
"Walaikum'salam." Ucap Dinda dan Lisa bersamaan.
Lisa terlihat menatap Dinda dengan senyuman penuh kemenangan. Aditia mengacuhkan madunya itu, membuatnya merasa menang. Sementara Dinda ia menatap nanar kepergian Aditia. Sebisa mungkin Dinda menahan air mata yang sudah membendung di pelupuk matanya. Tidak, Dinda tidak boleh cengeng, dia harus kuat. Dia harus bisa membuat Aditia bersikap adil kepadanya. Dinda tidak berharap cinta dari Aditia, saat ini dia hanya butuh sedikit saja Aditia bisa menghargainya dan menganggapnya ada, itu sudah lebih dari cukup untuk Dinda.
"Bibi, bi...." Teriak Lisa. Bi Santi terlihat jalan tergesa-gesa menghadap Lisa.
"Iya nyonya, ada yang bisa saya bantu?"
"Bibi bersiap-siap gih, temani aku ke mall hari ini," titah Lisa.
"Ya iya sekarang. Sudah masalah perkejaan tidak usah di pikirkan."
"Hey kamu," panggil Lisa kepada Dinda.
"Iya mbak, kenapa?"
"Kamu beresin semua ruangan rumah ini, sampe bersih. Pokoknya kerjakan semua yang biasa bi Santi kerjakan, ingat kamu ini numpang di rumah ini, jadi kamu harus tau diri. Paham kamu?"
Dinda terkejut, mendengar semua yang dikatakan istri pertama suaminya itu. Membersikan rumah sebesar ini? Sendirian? Dinda bukan pembantu, dia sama seperti Lisa istrinya Aditia, kenapa Lisa bersikap semane-mena, seenaknya kepada Dinda.
"Tapi mbak, saya di sinikan bukan numpang, saya juga sama seperti mbak. Istrinya mas Aditia, kenapa mbak memperlakukan saya seperti ini?" Tanya Dinda.
"Benar nyonya, sebaiknya biar saya saja, itu tugas saya. Biar yang nemenin nyonya ke mall nyonya muda saja," timpal bi Santi.
"Diam kamu, kamu itu hanya pembantu. Berani sekali kamu mengatur saya hah! Kamu mau saya pecat hah?" Bentak Lisa. Bi Santi langsung mengelengkan kepalanya, wanita itu terlihat ketakutan dengan ancaman Lisa.
__ADS_1
"Sudah mbak, jangan memarahi bi Santi, kasian dia. Saya akan melakukan apa yang mbak minta," ucap Dinda. Lebih baik ia mengalah dari pada suasana semakin runyam nantinya.
"Bagus!" Lisa tersenyum penuh kemenangan.
"Bi cepat siap-siap. Kita berangkat sekarang!" Lanjutnya kepada Bi Santi, lalu Lisa bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Nyonya, maafkan saya!" Ujar bi Santi, ia menundukan kepalanya. Merasa tidak enak dengan nyonya mudanya itu.
"Tidak usah minta maaf bi, gak apa-apa kok. Sebaiknya bibi siap-siap sana." Dinda memberikan senyuman manisnya. Ia tak mau kalau bi Santi merasa tertekan.
"Terima kasih nyonya!"
"Iya bi."
Bi Santi pun berlalu dari hadapan Dinda, ia berjalan menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Sementara Dinda, ia langsung memulai tugas yang diberikan oleh istri pertama suaminya. Dinda mulai membereskan meja makan, bekas sarapan Aditia dan Lisa.
'Kenapa sikap mbak Lisa berbeda saat bersama dengan mas Aditia kepadaku? Dan saat mas Aditia tidak ada dia bersikap semena-mena kepadaku, bahkan aku diperlakukan seperti seorang pembantu! Ya tuhan, ini baru beberapa hari aku menjalankan pernikahan ini dan mereka sudah mengikis kesabaranku. Kuatkan aku tuhan.' Gumam Dinda.
Ya memang Lisa sengaja melakukan hal itu, tentu saja mencari simpati kepada suaminya, semua itu agar Lisa dipandang seperti wanita berhati malaikat oleh Aditia. Berpura-puru berlapang dada, ikhlas menerima madunya. Agar Aditia selalu merasa bersalah kepadanya dan Aditia tidak akan berpaling kepada madunya. Dan dibelakang Aditia, Lisa akan melakukan apa saja semaunya, bahkan salah satunya memperlakukan Dinda sang madu seperti pembantu.
'Ini hanya permulaan Dinda, aku akan membuatmu seperti hidup dalam neraka,' gumam Lisa. Ia menyunggingkan semuanya smirk, melihat Dinda yang tengah mengelap meja dari lantai dua.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan votenya.
Aku up rutin lagi ya!!
Sebenarnya belum dapat feedback dari editor. Tapi tanganku gatel pengen up.
Semoga gak ada revisi ya nantinya.
Salam sayang dari author.
Terima kasih.
__ADS_1