Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 82. Lisa


__ADS_3

Aditia dan Dinda, serta Mamah Adelia dan Papah Mahendra, kini mereka tengah menikmati sarapan paginya. Dinda terlihat sarapan seraya menjaga baby Azka, yang kini sudah mulai aktif dan sudah tau jika Bundanya, jika Bundanya berajak baby Azka selalu menangis.


"Din, sebaiknya kita harus cepat-cepet cari baby Sister deh," ujar Aditia. Sedari tadi ia memperhatikan Dinda yang terlihat keteteran mengurus baby Azka, seraya menamakan sarapannya.


"Loh Din, emangnya kamu belum bicara sama suami kamu?" sahut Mamah Adelia melihat kearah Dinda.


"Belum Mah, semalam Dinda lupa," jawab Dinda sambil tersenyum. Memang semalam ia tidak mengingat hal itu.


"Apa emangnya Mah?''


"Din, kamu saja yang jelaskan," titah Mamah Adelia.


Dinda mengangguk.


"Ini Mas, tentang baby Sister untuk baby Azka. Bi Santi katanya punya keponakan yang ingin berkerja, kalau Mas mengizinkan, rencananya aku mau suruh keponakan Bi Santi buat jadi baby Sister Azka," jelas Dinda.


"Keponakan Bi Santi?"


"Iya, dia baru lulus SMA, katanya pengen kerja."


"Masih muda, emangnya bisa jagain Azka? Terus belum berpengalaman pula, Mas kurang setuju Sayang."


"Tapi aku kasian Mas, katanya ibunya sakit-sakitan, dia juga tulang punggung keluarga."


Aditia terlihat berpikir sejenak.


"Ya sudah begini saja, menurut Mas, kalau kamu mau terima keponakan Bi Santi itu kerja di sini, biar dia kerja bantuin Bi Santi saja. Kita cari baby sister yang berpengalaman saja. Gimana?"


"Nah, Mamah setuju."


"Iya, Papah juga."


"Baiklah Mas, aku juga setuju. Nanti aku bicarakan sama Bi Santi."


Keputusan sudah ada, jadi Dinda akan tetap mencari baby Sister untuk baby Azka, dan menerima keponakan Bi Santi berkerja di sana.


Setalah itu mereka kembali melanjutkan memakan sarapannya mereka lagi. Setalah beberapa saat kemudian, Aditia terlihat sudah menghabiskan sarapannya. Lalu ia berpamitan untuk segara berangkat menuju kantornya.


Setalah berpamitan pada Dinda dan kedua orang tuanya. Aditia pergi setalah mengucap salam.


***


Aditia menghentikan laju mobilnya, saat lampu merah menyala. Aditia melihat ke sekitar jalanan. Sambil menunggu lampu merah berganti warna menjadi hijau.


Namun tatapan Aditia terhenti saat melihat seorang wanita yang baru saja turun dari sebuah angkot yang berada di depan mobil Aditia.


"Lisa..." gumam Aditia.


Aditia melepaskan setblet-nya, bermaksud akan keluar dari mobil dan menemui Lisa, Aditia ingin menanyakan kebenaran yang sebenarnya. Namun saat Aditia sudah bersiap keluar dari mobilnya itu, suara klakson dari pengendara lain terdengar, membuat Aditia buyar. Soalnya, lampu hijau sudah menyela, dan terlihat kendaraan lain sudah kembali melajukan mobilnya.

__ADS_1


Dengan terpaksa Aditia pun mengurungkan niatnya, ia kembali menggunakan sabuk pengamannya itu dan kembali melajukan mobilnya.


***


Seorang wanita terlihat turun dari angkot, dengan perutnya yang buncit, memperlihatkan bahwa wanita itu tengah berbadan dua.


Setalah turun dan membayar ongkos angkot tersebut. Wanita itu berjalan, ke sebuah Ruko, sebuah ruko kecil, di depan Ruko tersebut terlihat ada plang besar, yang bertuliskan. "Laundry Kiloan"


Dengan senyuman yang mengambang di wajahnya, wanita itu berjalan masuk ke dalam Ruko tersebut, terlihat dua orang wanita yang masih muda menyapanya.


"Selamat pagi Bu.." sapa mereka dengan ramah.


"Pagi.." balas Lisa tak kalah ramah.


"Gimana, rame?" lanjutnya bertanya.


"Alhamdulillah, Bu. Sepagi ini kita sudah dapat lumayan banyak cucian," jawab Susi salah satu pegawai Laundry-nya.


"Alhamdulillah."


"Oh iya Bu, bukannya hari ini Ibu mau ke Rumah sakit buat cek kehamilan Ibu?"


"Iya, tapi nanti agak siangan. Makanya saya ke sini dulu."


"Oh gitu, ya sudah. Kami lanjut kerja dulu ya Bu."


Lisa menganggukkan seraya tersenyum.


Lisa memulai hidup barunya, ia membuka sebuah Laundry. Untuk menyambung hidupnya dan juga kedua orang tuanya. Rumah mewah yang sempat ia belikan untuk ke dua orang tuanya, terpaksa Lisa jual, dan hasil penjualan Rumah tersebut Lisa belikan kembali ke rumah yang sederhana. Dan sisinya Lisa gunakan untuk membuka usaha.


Lisa memulai kembali kehidupan dari nol.


Bangkit dari keterpurukannya, mencoba berdamai dengan keadaan. Lisa berusaha ikhlas menerima takdirnya. Lisa kini menjadi tulang punggung keluarga.


"Bu Lisa, mulai hari ini anda sudah bebas." Ucap Polisi kala itu kepada Lisa. Seraya membuka gembok jeruji besi dan membawanya keluar dari penjara tersebut.


Lisa sangat bahagia kala itu, walaupun dia bingung.


Bukannya masa hukumannya enam bulan, tapi Lisa baru mendekam di sana 1 bulan dan sudah di bebas.


Polisi bilang ada orang yang membebaskan Lisa, dan menjadikan dirinya sebagai jaminan. Namun saat Lisa bertanya siapa orangnya, Polisi itu tak mengatakannya. Karna Polisi tersebut mendapat amanat bahwa orang tersebut tak ingin memberi tahu dirinya siapa kepada Lisa.


Lisa merasa bersyukur, siapa pun orang itu Lisa sangat berterima kasih padanya. Saat Lisa akan kembali pulang ke Rumahnya, ternyata Ibunya sudah ada di sana untuk menjemput Lisa.


Lisa memeluk tubuh sang Ibu yang sudah rentang itu.


Lalu Lisa bertanya pada sang Ibu, kenapa sang Ibu bisa tau kalau Lisa bebas hari ini. Dan Lisa juga bertanya siapa orang yang sudah membebaskan Lisa?


Namun lagi-lagi sang Ibu tak memberi jawaban. Karna Ibunya memang tidak tau. Dia hanya di beri kabar lewat sambungan telepon, menyuruhnya untuk menjemput Lisa.

__ADS_1


Lisa benar-benar merasa bahagia, ia bisa berkumpul kembali dengan kedua orang tuanya. Lisa juga memutuskan mulai saat itu fokus mengurus kedua orang tuanya. Namun Lisa harus mengalami kesedihan kembali, tak lama setalah Lisa bebas, Bapaknya meninggal dunia. Lisa kembali terpuruk, namun sosok sang Ibu selalu berusaha menyemangatinya hingga Lisa bisa seperti ini sekarang.


Walaupun hidup saat ini bersama sang Ibu bisa di bilang jauh dari kata Mewah, tapi Lisa bersyukur. Saat ini ia masih bisa menghidupi keluarganya itu. Bagi Lisa ini sudah lebih dari cukup.


"Hallo..." ucap Lisa lewat sambungan telepon.


.......


"Aku akan segera ke sana sekarang."


......


"Tidak apa-apa, biar aku naik taksi online saja."


.....


"Iya."


Lisa mengakhiri percakapan lewat sambungan telepon tersebut. Setalah itu ia berajak. Dan berpamitan pada kedua pegawai.


"Saya ke Rumah sakit dulu ya, kalau ada apa-apa segara kabari saya," ucap Lisa pada kedua pegawainya itu sebelum ia pergi.


"Siap Bu," ucap mereka kompak.


Lisa meninggalkan Ruko tersebut, taksi online yang sudah ia pesan terlihat sudah datang. Lisa langsung masuk ke dalam mobil taksi online tersebut.


"Sesuai yang di aplikasi ya Bu," ucap Sopir taksi online tersebut, sebelum melajukan mobilnya.


"Iya Pak."


Mobil taksi Online itu pun mulai melaju mobilnya.


30 menit kemudian, Lisa sampai di Rumah sakit.


Lisa keluar dari mobil taksi online tersebut, setalah membayar ongkosnya.


Seorang laki-laki terlihat sudah menunggu kedatangan Lisa, laki-laki itu melambaikan tangannya pada Lisa.


Lisa tersenyum lalu menghampirinya.


Bersambung...


Like


Komen


Vote


Kasih kopi sama bunga yuk.

__ADS_1


Lanjut satu bab lagi nehhh...


Terima kasih.


__ADS_2