Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 46. Tidak usah khawatir


__ADS_3

Hari ini Aditia sudah bersiap untuk menjemput Dinda di kediaman orang tuanya. Walaupun sebenarnya Aditia ragu, membawa Dinda kembali ke rumahnya itu, namun apa boleh buat, saat ini Aditia tidak bisa menolak lagi keinginan istri mudanya itu, untuk tinggal seatap bersama Lisa. Entahlah, apa istri mudanya sekarang itu Dinda atau Lisa.


"Mas, kamu mau jemput Dinda?" Tanya Lisa.


"Iya."


"Emm, apa aku boleh ikut?"


"Tidak usah, kamu tunggu saja di rumah!"


"Tapi mas, aku mau ikut. Boleh ya?" Lisa memberikan tatapan memohon pada Aditia. Aditia menghelai nafasnya.


"Ya sudah ayo."


Lisa menganggukkan, lalu ia berjalan mengikuti suaminya itu menuju mobil. Aditia melajukan mobilnya langsung menuju rumah orang tuanya.


Dalam perjalanan, Aditia terlihat fokus mengendarai mobilnya, semantara Lisa. Kini pikiran tak karuan, 'bagaimana nanti aku menghadapi orang tua mas Aditia? Apa mereka akan memberikan aku maaf, atas semua yang sudah aku lakukan pada mereka?' gumam Lisa. Kecemasan melanda hatinya.


Tak lama kemudian akhirnya mereka pun sampai, Aditia keluar dari mobilnya terlebih dahulu, di susul oleh Lisa dan mereka pun berjalan masuk kedalam rumah tersebut.


"Kamu sudah sampai nak?" ucap mamah Amira menyambut putranya itu, dengan gembira. Namun senyumanya seketika pudar saat, mamah Amira melihat kearah belakang Aditia.


"Mau apa wanita ini datang kemari?" lanjut mamah Amira bertanya pada Aditia, menatap Lisa dengan tatapan yang tidak bersahabat.


"Mah," sahut Lisa tersenyum. Lalu ia menghampiri mamah mertuanya itu, menyalaminya.


"Mah jangan bicara seperti itu, Lisa istri juga mah!" protes Aditia.


"Ya sudahlah terserah kamu, mamah mau panggilkan dulu Dinda, kamu ajak istrimu itu duduk!" ucap mamah Amira, ia berlalu begitu saja dari hadapan anak dan menantunya itu. Mamah Amira berjalan menuju kamar Dinda.


"Mas, apa mamah segitu bencinyakah sama aku?" tanya Lisa lirih pada Aditia dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.

__ADS_1


"Mamah tidak membencimu, dia hanya kecewa saja padamu." Lisa menghelai nafas beratnya, sulit sekali rasanya ingin menjadi orang baik. Namun Lisa tak boleh menyerah, tekadnya sudah bulat, akan memperbaiki semuanya.


'Semoga lambat laun, mamah bisa seperti dulu lagi. Aku merindukan mertuaku yang dulu,' gumam Lisa dalam hatinya.


Tak lama kemudian, mamah Amira kembali bersama Dinda, mamah Amira membawakan koper milik Dinda, mereka kini berjalan menuju Aditia dan Lisa yang berada di ruang tamu.


"Sudah siap semuanya sayang?" Tanya Aditia pada Dinda yang kini sudah berada di sana.


"Sudah mas," jawab Dinda sambil tersenyum.


"Eh mbak Lisa ikut juga!" Lanjut Dinda, tersenyum pada Lisa. Lisa membalas senyuman Dinda seraya menganggukan kepalanya.


"Ya sudah sebaiknya kita berangkat sekarang!" Ajak Aditia diangguki oleh Dinda dan Lisa.


Mereka pun berpamitan pada mamah Amira, papah Mehendra tidak ada di rumah ia tengah di luar ad urusan penting katanya. Mereka bergantian menyalami mamah Amira.


"Aditia, mamah titip Dinda ya!" pesan mamah Amira, sudut matanya melirik kearah Lisa.


Lisa yang merasa bahwa sang mamah mertua menyindirnya ia pun membuka suara, "mah, mamah tidak usah khawatir. Lisa berjanji tidak akan melakukan hal yang bodoh lagi pada Dinda, Lisa tidak akan menyakiti Dinda lagi. Lisa janji mah, Lisa sudah menyesali semuanya, Lisa ingin memperbaiki semuanya, Lisa tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kalian berikan." Timpal Lisa.


"Baguslah, kalau kamu sadar diri!"


"Sudah-sudah, jangan ribut. Ayo kita pulang," relai Aditia.


"Asalamua'allaikum."


"Walaikum'salam."


Aditia dan kedua istrinya itu pun keluar dari rumah orang tuanya, mereka berjalan menuju mobil Aditia.


"Sini biar mbak masukan koper kamu kebagasi," ucap Lisa seraya mengambil koper Dinda.

__ADS_1


"Tapi mbak--"


"Gak apa-apa Din." pungkas Lisa. Ia berjalan menuju bagasi mobil tersebut dan memasukan koper milik Dinda.


"Loh Din, kamu kau kemana?" tanya Lisa, ia melihat Dinda membuka pintu belakang mobil.


"Masuklah mbak,"


"Kamu duduk di depan saja, biar mbak yang dibelakang." pinta Lisa, dengan ragu Dinda menganggukkan kepalanya. Lisa masuk kedalam mobil, ia duduk kursi belakang, sementara Dinda ia duduk di depan di samping Aditia yang sudah siap melajukan mobilnya.


"Jalan mas," pinta Lisa.


Aditia mulai melajukan mobilnya meninggalkan kediaman orang tuanya itu. Ada kebahagiaan tersendiri yang di rasakan Aditia melihat kedua istrinya itu akur. Lisa terlihat sangat bijaksana.


'Semoga Lisa benar-benar berubah, ini bukan sandiwaranya semata.' batin Aditia.


'Aku akan berusaha ikhlas menerima semuanya, berbagi suami dengan Dinda, semoga aku bisa memperbaiki semuanya.' batin Lisa.


'Ya tuhan, semoga rumah tangga kami selalu bahagia,' batin Dinda.


Bersambung...


Like


Komen


Vote


Jangan lupa ya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2