
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Dinda baru saja selesai dengan ritual mandinya, dengan langkah yang sangat hati-hati karna masih terasa perih di bagian area sensitifnya itu, Dinda mulai berjalan. Ada rasa sedikit ragu saat ia melangkahkan kakinya, karna ia keluar hanya menggunakan handuk kimono serta handuk kecil yang terlilit di atas kepalanya, menutupi rambutnya yang masih basah. Dinda masih merasa malu jika suaminya itu melihat sebagian dari auratnya, memang Aditia suami sah-nya tapi Dinda belum terbiasa, padahal semalam Aditia sudah melihat semua bagian inti dari tubuh moleknya itu.
Namun saat Dinda menoleh kearah ranjang, di sana terlihat tidak ada siapa-siapa. Sosok sang suami sudah tidak ada di sana. Ada sedikit rasa lega di hati Dinda, tapi ada juga rasa kecewa, sudah di pastikan suaminya itu pindah ke kamar istri pertamanya.
Dinda menghelai nafasnya, lalu ia berjalan menuju arah lemari untuk mengambil pakaiannya, setelah berganti pakaian Dinda melakukan kewajibannya sebagai umat Muslim.
***
Aditia sudah rapi dengan setelan jasnya, ia sudah siap untuk berangkat menuju kantornya. Lisa terlihat masih tertidur pulas, Aditia tak tega membangunkan istrinya itu.
"Mas berangkat dulu ya sayang!" Ucap Aditia, lalu mendaratkan kecupan di kening Lisa yang masih tertidur sebelum ia berlalu keluar dari kamar tersebut.
Sementara itu Dinda terlihat sedang menata sarapan pagi di atas meja makan. Aditia yang tengah berjalan menuruni anak tangga, ia tersenyum melihat kearah istri mudanya itu.
"Selamat pagi," sapa Aditia kepada Dinda, seraya menarik kursi meja makan dan duduk di kursi tersebut.
Dinda menoleh, ia terdiam sejenak. Apa benar barusan suaminya menyapa? Ada rasa bahagia di hati Dinda, apa suaminya mulai menerimanya?
"Pagi mas," jawab Dinda, sambil tersenyum. Lalu ia pun duduk di samping Aditia.
Setalah itu keduanya terdiam, keheningan mulai mendominasi di ruang makan tersebut. Baik Aditia dan Dinda mereka tak bergeming, Meraka larutan dalam pikirnya masing-masing sambil menatap makanan yang berada di atas meja makan tersebut.
'Kenapa aku jadi gugup begini?' gumam Aditia. Ia berusaha menormalkan detak jantungnya, yang berdetak tak karuan seperti biasanya. Begitu juga dengan Dinda ia merasa hal yang sama dengan Aditia, namun sebisa mungkin keduanya terlihat biasa saja, padahal kegugupan keduanya sangat terlihat.
"Eheeem," Aditia berdehem. Berusaha memecah keheningan tersebut, berharap kegugupan di hatinya sedikit mereda. Tidak baik berlama-lama dengan istri keduanya itu hanya berduaan seperti ini, bisa-bisa jantung Aditia harus di periksa.
Dinda tersentak, "eh iya mas. Emm, mau aku ambilkan?" Tanya Dinda kemudian. Aditia mengangguk kepalanya pelan, Ada apa dengan Aditia? Biasanya ia tak mau di layani oleh Dinda, jangankan di layani seperti ini. Biasanya menatap istri keduanya itu pun enggan.
Dengan telaten Dinda melayani suaminya itu, dengan wajah yang merah merona, karna Aditia sedari tadi terus menatapnya. Usai mengambilkan nasi goreng ke piring Aditia, Dinda mulai mengambil untuknya.
"Ayo mas di makan!" Ucap Dinda. Membuat Aditia langsung berhenti menatapnya, Aditia mengangguk lalu mulai menyantap makanannya.
'Sial ada apa denganku? Kenapa pagi ini dia terlihat begitu cantik! Apa mata yang bermasalah?' batin Aditia, seraya menyuapkan makanan tersebut pada mulutnya.
Tak lama kemudian, Aditia terlihat terlebih dahulu menghabiskan makanannya. Setalah itu ia berajak dari tempat duduknya.
"Aku berangkat," pamit Aditia. Dinda mengangguk lalu ia berdiri menyordorkan tangan kearah Aditia. Dan tak di sangka Aditia meraih tangan tersebut, Dinda sedikit terkejut, lalu ia mencium tangan suaminya dengan takzim.
"Asalamua'allaikum."
"Walaikum'salam."
__ADS_1
Aditia berajak dari hadapan istri ke duanya itu, Dinda menatap kepergian suaminya itu dengan senyuman manisnya. Bahagia, Dinda tak bisa membohongi dirinya sendiri, sikap Aditia pagi ini membuat hatinya berbunga-bunga. Semenjak menikah, ini untuk pertama kalinya Dinda memberikan salam takzim kepada suaminya itu, serta sikap Aditia pagi ini sedikit hangat padanya.
'Ya tuhan, apa engkau mulai mendengar doa-doaku, apa doa-doaku selama ini mulai terijabah olehmu, terima kasih tuhan.' batin Dinda.
Sementara itu sepasang mata sedari tadi memperhatikan Dinda dan Aditia, semua yang Aditia dan Dinda lakukan tadi terlihat jelas oleh mata kepalanya sendiri. Lisa mengepalkan kedua tangannya geram, kenapa suaminya bersikap seperti itu kepada madunya? Bahkan Aditia membiarkan tanganya di sentuh oleh madunya itu? Apa Aditia mulai mencintai Dinda? Lisa merasakan dadanya sangat sesak, antara marah dan cemburu bersarang di hatinya. Ia benci Aditia melakukan hal itu kepada Dinda, Aditia hanya miliknya, jangan sampai cinta Aditia terbagi, Lisa tak rela berbagi cinta dengan madunya itu.
"Tidak jangan sampai hal itu terjadi, wanita itu hanya alat menuju puncak kebahagiaanku, bukan untuk menghancurkan pernikahanku dengan mas Aditia," ucap Lisa. Amarah terlihat jelas terpancar dari wajahnya.
Lisa berjalan menuju kamarnya kembali, ia membanting pintu kamar tersebut dengan sangat keras.
***
Di kantor.
Aditia terlihat tengah duduk di kursi besarnya. Sedari tadi Aditia tak henti mengambangkan senyumanya, gelagat Aditia seperti orang yang tengah jatuh cinta. Bayangan Dinda terus menghantui benak Aditia.
Bahkan orang-orang kantor terlihat sedikit heran melihat tingkah bos besarnya itu, saat dia memasuki kantornya bahkan ia membalas sapaan setiap para karyawan yang menyapanya, biasanya hanya senyuman tipis saja. Tapi tadi Aditia menjawab dengan ramah dan senyuman manisnya. Membuat mereka bertanya-tanya? Bukan hanya itu, bahkan mereka merasa kalau hari ini hari keberuntungan mereka, dapat balasan sapa dari seorang Persdir Aditia Mehendra yang gantengnya kemana-mana, membuat mereka melelahkan seketika.
"Ehemm," suara deheman terdengar, membuat Aditia buyar dari lamunannya yang memikirkan istri mudanya itu.
"Sial, ngagetin aja elo." Ucap Aditia kesal kepada Reza yang sudah berdiri di hadapan.
"Ngagetin apaan? Gue udah ketuk tuh pintu ribuan kali, tapi gak ada sahutan. Makanya gue masuk aja. Eh pas liat yang punya ruangan lagi ngelamun. Pantesan gak dengar ketukan pintu gue!" Ucap Reza tak mau kalah. Dan memang benar Reza sudah mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum ia masuk ke ruangan Aditia, ya walaupun sedikit berbohong sih, Reza gak ngetuk pintu sampe ribuan kali seperti yang dikatakan. Dusta sedikit tak apalah ya!
"Gimana-gimana?" Tanya Reza, ia menarik kursi yang berada dihadapan Aditia, tatapan antusias terpancar dari bola matanya.
"Giman apanya?" Aditia berbalik bertanya, ia menatap heran Reza.
"Berhasil gak bobo gawang istri muda elo itu?"
"Berhasil dong!" Jawab Aditia, tersenyum bangga, "thank obat itu manjur." Lanjut Aditia.
"Hahaha," Reza tertawa begitu kerasnya. "Gimana rasanya?" Lanjut Reza bertanya.
"Emang gue harus cerita semuanya sama elo hah? Itu privasi guelah," jawab Aditia.
"Oke-oke deh, oh iya ini." Reza meletakan sebuah map di atas meja Aditia. "Tanda tangan berkasnya dan jangan lupa periksa lagi, takut ada yang salah. Nanti gue lagi yang di salahkan, gue lanjut kerja lagi." Lanjut Reza, lalu ia berajak dari tempat duduknya dan berlalu keluar dari ruangan Aditia.
'Si Aditia percaya apa ya obat yang gue kasih itu obat perangsang? Padahalkan obat kuat, ya walaupun gue campurin sedikit obat perangsang sih? Tapi kalau takaran segitu, gak akan ngaruh kalau sama gue! Mampus gue jebak elo, pura-pura gak terima madunya si Lisa, gak sadar apa elo udah jatuh cinta sama si Dinda!' gumam Reza, seraya berjalan menuju ruangannya.
***
__ADS_1
Sore pun tiba, Aditia begitu semangat untuk pulang menuju rumahnya, padahal setalah resmi menikahi Dinda, Aditia paling malas pulang kerumahnya, ia merasa tidak nyaman di rumahnya itu.
Aditia sudah berada di mobilnya, ia langsung melajukan mobilnya untuk pulang.
Sekitar 30 menit kemudian, ia sampai di depan rumah mewahnya itu.
Aditi melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, dengan senyuman yang mengambang di wajah tampannya, hal pertama yang ingin Aditia lihat saat sampai di rumahnya itu adalah Dinda. Aneh, bisanya yang pertama ingin Aditia lihat itu Lisa. Entahlah Aditia tak bisa menjelaskannya.
Namun setelah masuk ke dalam rumah, Aditia tak melihat sosok istri keduanya itu, hanya sosok Lisa sang istri pertama, yang terlihat tengah berjalan mendekatinya dengan senyuman manisnya. Ada rasa kecewa dalam hati Aditia, namun ia berusaha menyembunyikannya ia tak mau Lisa melihatnya.
"Mas udah pulang!" Tanya Lisa. Ia meraih tangan suaminya dan mencium tangan suaminya itu. Aditia hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Ya sudah ayo, aku antar mas ganti baju ke kamar," ucap Lisa lagi. Aditia hanya menurut.
Mereka pun berjalan menuju kamar Lisa dan Aditia. Lisa membantu menyiapkan baju ganti untuk suaminya itu.
"Mas boleh aku bertanya?'' ucap Lisa.
"Apa?"
"Apa mas mulai menyukainya?" Tanya Lisa lagi.
"Menyukai siapa?"
"Wanita itu, apa mas juga sudah menerimanya?"
"Siapa Lisa, bicara yang jelas?"
"Dinda mas, apa kamu sudah jatuh cinta pada maduku itu?" Mata Lisa terlihat berkaca-kaca.
Aditia terdiam sejanak, Aditia bingung. Harus menjawab apa?
"Mas kenapa kamu diam? Apa benar apa yang aku katakan itu. Mas apa mas tidak ingat apa tujuan mas menikahi dia?" Lirih Lisa, air mata kini terlihat menetes dari pelupuk matanya.
"Hanya untuk membuatnya hamil dan memberikan anak untuk kita." Jawab Aditia. Melihat istrinya menangis, Aditia pun tak tega ia langsung mendekap Lisa.
"Sudah jangan menangis, aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintai kamu Lisa. Aku ingat tujuan pernikahan aku dan Dinda. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak ya," lanjut Aditia. Ia berusaha meyakinkan Lisa. Walaupun hatinya sendiri tidak yakin jika ia tidak mencintai Dinda.
Bersambung...
Jangan lupa, like, komen dan Votenya ya!!
__ADS_1
Terima kasih.