Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)

Berbagi Cinta: Dua Cincin (Aku Yang Tak Dirindukan)
Bab 78. Drama Mamah Mertua


__ADS_3

"Ayo kita berangkat," ajak Aditia pada Reza. Setalah selesai menghabiskan sarapannya.


"Kemana?" tanya Reza, menatap Aditia bingung.


"Ke Mall," jawab Aditia ketus. "Ya ke kantorlah," lanjutnya seraya berajak dari kursi meja makan tersebut.


"Lah, kan kita mau ngomongin rencana pernikahan aku sama Bella!"


"Nanti saja setelah pulang dari kantor kita bicarakannya, sekarang cari duit dulu, elo pikir biaya pernikahan murah hah?" papar Aditia.


Reza mendengkur kesal, tapi ada benarnya juga sih.


Biaya pernikahan memang gak murah. Belum sewa hotel, untuk tempat repsesi, catering, soufenir, WO dan lainnya.


"Ya aduh, iya. Ayo..." Reza bangkit dari tempat duduknya.


Sementara Dinda, ia hanya mengelengkan kepalanya, mendengarkan percakapan suami dan calon Adik iparnya itu.


"Sayang, aku berangkat dulu ya," pamit Aditia, mengulurkan tangannya kearah sang istri.


Dinda meraih tangan Aditia, dan menyalaminya dengan takzim.


"Hati-hati Mas," pesan Dinda, langsung diangguki oleh Aditia.


"Kamu baik-baik juga di rumah ya, kalau ada apa-apa segara kabari aku." Aditia mendaratkan kecupan di kening sang istri, sebelum berajak pergi.


"Kakak ipar, aku juga pamit ya," ucap Reza. Reza terlihat mendapati Dinda, dan ingin meraih tangan wanita itu, bermaksud untuk menyalaminya. Namun belum saja apa-apa.


Aditia terlihat memberikan tatapan tajam pada Reza,


"jangan sentuh istri gue!" pekiknya. Membuat Reza langsung mengurungkan niatnya.


"Asalamualaikum," ucap Aditia seraya menarik tangan Reza.


"Walaikum'salam," jawab Dinda. Sambil terkekeh melihat tingkah suaminya itu. Dinda memandangi dua laki-laki itu dengan senyuman yang merkah di bibirnya.


Aditia memang belakangan ini, selalu posesif pada Dinda. Dalam hal apapun.


Dinda merasa senang, tapi terkadang ia merasa kesal juga.


Setalah kepergian Aditia dan Reza, Dinda langsung membereskan meja makan, membawa piring kotor bekas mereka sarapan menuju dapur.


"Biar saya saja yang nyuci Nyonya," ucap Bu Santi.


"Gak apa-apa Bi, biar saya saja," tolak Dinda, tanganya mulai bergerak mencuci piring itu satu persatu.


"Oh iya Nyonya, Nyonya sudah dapat baby sister untuk mengurus baby Azka belum?" tanya Bi Santi.


"Belum Bi, emang kenapa?"


"Emm, anu Nyonya. Kalau belum saya ada keponakan yang lagi nganggur di kampung, dia baru lulus SMA, katanya mau kerja," jelas Bi Santi, sebenarnya ia ragu untuk mengatakan hal tersebut.


"Lulus SMA? Berarti belum pengalaman dong Bi?"


"Iya belum Nyonya. Tapi dia sudah bisa berkerja kok, terus dia juga bisa jagain bayi."

__ADS_1


"Emm, begitu ya Bi. Nanti saya bicarakan dulu sama Mas Aditia ya," ucap Dinda ramah.


"Baik Nyonya. Semoga Tuan mengizinkan ya Nyonya. Soalnya saya kasian sama ponakan saya, dia itu tulang punggung keluarga Nyonya. Ayahnya sudah meninggal, Ibunya sakit-sakitan pula, mana Adiknya masih kecil-kecil."


"Ya ampun, kasian sekali Bi. Lalu kalau dia kerja ke sini, siapa yang merawat ibunya?"


"Ada Adiknya Nyonya."


"Udah besar Adiknya?"


"Sekolah SMP nyonya," jawab Bi Santi.


Dinda terlihat menganggukan-anggukan kepalanya. Entah mengapa rasanya hatinya sangat tersentuh saat mendengar cerita dari Bi Santi, tentang keponakan Asisten rumah tangganya itu.


Tulang punggung keluarga, ah Dinda jadi teringat saat-saat masa susahnya dulu.


"Ya sudah, saya ke atas dulu ya Bi. Mau liat Azka, takutnya dia terbangun," pamit Dinda.


"Iya Nyonya."


Dinda pun berlalu dari dapur, ia berjalan menuju kamarnya.


Saat tiba di kamar, Dinda langsung menghampiri ranjang baby Azka. Di lihatnya baby kecilnya itu masih tertidur.


"Emm, anak Bunda, anteng banget deh Bobonya. Bangun sayang, ini udah siang." Dinda mencubit-cubit pipi baby Azka yang tembeb dengan gemas.


Baby Azka terlihat langsung mengeliat. Lalu mengeluarkan suaranya.


Oaaa...Oaaa...


Suara tangis bocah kecil itu langsung berhenti.


"Kita mandi dulu ya sayang, kamu bau acemm ih," ucap Dinda seraya mencium pipi gembul anaknya itu.


Setalah itu Dinda membawa baby Azka ke kamar mandi, untuk memandikannya.


***


"Ayo dong Pah ih," ucap Mamah Adelia tak sabaran.


"Iya Mah, iya. Ayo..." sahut Papah Mehendra.


"Ayo-ayo tapi dari tadi nyisir rambut gak kelar-kelar," ketusnya. Seraya menatap suaminya itu dengan kesal.


"Biar rapi Mah," jawab Papah Mehendra tak mau kalau, tangannya terus bergerak menyisir rambutnya yang masih lebat, namun terlihat uban-uban mulai tumbuh di sana.


"Genit banget sih, mau ke rumah cucu juga."


"Sudah ah, ngomel mulu. Panas kuping Papah. Ayo berangkat!" ujar Papah Mehendra, meletakan sisirnya dia tas meja, lalu berjalan menuju arah pintu kamarnya.


Dengan wajah yang di tekuk Mamah Adelia bangkir dari duduknya, lalu berjalan mengikuti sang suami keluar dari kamar.


Ya, sadari jam 6 pagi, tepatnya setalah bangun tidur, Mamah Adelia, langsung mandi, dan bersiap-siap. Hari ini rencananya mereka akan mengunjungi rumah Aditia.


Mamah Adelia sudah merasakan rindu yang amat sangat dalam pada baby Azka, sang cucu tercintanya itu. Padahal mereka tidak bertemu hanya beberapa hari saja.

__ADS_1


Dalam perjalanan, Mamah Adelia masih terus mengomel, membuat kuping Papah Mehendra panas, rasanya. Ada lampu merah, Papah Mehendra yang di salahkan. Macet sedikit, Papah Mehendra yang di salahkan.


"Papah sih tadi gak buru-buru, jadi keburu lampu merahkan!"


"Papah sih tadi di suruh cepat-cepet, gak ngerti-ngerti. Jadi macetkan!"


Itulah ucapan Mamah Adelia. Membuat Papah Mehendra hanya bisa mengelus dadanya.


Fix, wanita selalu bener. Pikir Papah Mehendra.


Setalah menempuh perjalanan sekitar kurang lebih satu jam, dengan drama yang membuat Papah Mehendra geleng-geleng kepala itu. Akhirnya mereka sampai di depan rumah Aditia.


Mamah Adelia tersenyum lebar. Ah, rasanya dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Baby Azka.


"Cepat turun Pah, ih Papah dari tadi lelet benget sumpah," ketus Mamah Adelia, yang menunggu suaminya keluar dari mobil, sementara dirinya sudah keluar terlebih dahulu.


"Sabar Mah, sabar ih!" kesal Papah Mehendra.


"Ayo cepat," Mamah Adelia menarik tangan suaminya itu. Papah Mehendra hanya pasrah mengikuti langkah sang istri.


Sesampainya di depan pintu rumah tersebut, Mamah Adelia langsung menekan tombol bel. Beberapa detik kemudian, pintu terlihat terbuka. Nampak Bi Santi menyambut mereka dengan ramah.


"Asalamualaikum, Bi..."


"Walaikum'salam, Nyonya, Tuan. Silahkan masuk," ucap Bi Santi seraya mempersilahkan orang tua majikannya itu masuk.


Mereka mengangguk lalu masuk.


"Dinda sama Azka di mana Bi?" tanya Mamah Adelia.


"Di gazebo belakang Nyonya, tadi Baby Azka habis di mandiin, katanya mau berjemur," jawab Bi Santi.


Mamah Adelia terlihat langsung berjalan ke halaman belakang, ia tersenyum, namun matanya terlihat berkaca-kaca. Ketika melihat Dinda yang sedang duduk menggendong baby Azka, di gazebo yang memang tersorot mentari pagi.


"Dinda, Azka..." panggil Mamah Adelia, membuat Dinda langsung menoleh kearah Mamah mertuanya itu.


"Mamah," ucap Dinda. Mamah Adelia langsung berjalan menghampirinya.


"Hiks...Hiks..." Mamah Adelia terlihat terisak tangis, membuat Dinda terlihat kebingungan.


"Mamah kenapa?" tanya Dinda, panik.


"Mamah kangen sama baby Azka," jawabnya lirih. Sambil terisak tangis.


Dinda melongo, ya ampun Dinda pikir ada apa.


Pagi-pagi Mamah mertuanya sudah datang ke rumah, sambil nangis. Ternyata sedang rindu sama cucunya.


Dinda terlihat menahan tawanya, "Drama Mamah mertua," batinnya.


Bersambung...


Jangan lupa, like, komen dan Votenya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2