BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Sahabat kompor


__ADS_3

Di sebuah restauran wilayah Bandung yang menyediakan aneka macam makanan, terlihat penuh pelanggan karena jam makan siang , tidak lain tidak bukan adalah restauran Enak Kabeh.


Asmara yang sedang berbahagia hatinya, begitu semangat dan antusias memasak banyak pesanan yang diterima Enak Kabeh. Karyawannya yg berada didapur pun heran dengan semangat ibu hamil itu.


"Mbak Asmara hari ini terlihat berbeda ya. Dia semangat sekali masaknya" bisik seorang karyawan.


"Iya nih, aku lihatnya ikut seneng juga. Mbak Asmara memang wanita kuat ya. Hamil diluar nikah terus dinikahi pria yg menghamilinya setelah berbulan bulan berjuang sendiri" sahut karyawan lainnya.


Hani sebagai asisten Asmara mendengar bisik bisik rekan kerjanya pun ikut menyahuti.


"Hust.. kerja kerja , jangan ngosip aja. Doakan aja Mbak Asmara selalu bahagia dan berkerja semangat kayak begini. Kalian tuh ya, jangan ngumbar aib orang, gak baik" sela Hani.


"Hehehee, maap Han. Memang mulut kita tuh agak gatel aja melibat Mbak Asmara terlihat lebih baik dan bahagia sekarang. Kami seneng juga" ucap karyawan yg saling berbisik tadi.


"Yaudah, lanjut kerja yuk. Pesenan banyak" ucap Hani sambil berjalan menuju kulkas untuk mengambil bahan masakan.


Asmara yang sedang dibicarakan karyawannya tidak mendengar bisikan tentang dirinya malah ia tetap fokus mendengarkan bunyi masakan di dapur dari berbagai wajan yang digunakan para karyawan lainnya.


Tak terasa , waktu semakin sore akhirnya Asmara bisa beristirahat dari keramaian pesanan yang ia masak tadi. Ia pun izin ke asistennya Hani untuk istirahat dulu.


"Han, tolong ambil alih ya. Saya mau istirahat sebentar. Pesanan sudah tinggal beberapa, kamu handle sama yang lain" ucap Asmara.


"Baik, mbak" sahut Hani.

__ADS_1


Asmara pun keluar dapur Enak Kabeh dan berjalan menuju ruang istirahat. Bunga yang dari pagi ingin ngobrol dengan sahabatnya itu tidak sempat karena pagi pagi ia dan Asmara sudah sibuk melayani pesanan nasi kotak hingga siang pun mereka masih sibuk melayani pelanggan.


Melihat Asmara berjalan ke ruang istirahat, Bunga pun memanggil Rahma , asisten keuangannya untuk menggantikannya di meja kasir. Setelah digantikan, Bunga pun mengikuti Asmara menuju ruangan dimana mereka bisa bersantai.


"Hei, Nyonya Alfano. Apa kabar nih? Yaampun dari tadi aku gak sempet ngobrol sama kamu karena hari ini Alhamdulillah rame banget" sapa Bunga ketika sudah masuk ke ruang istirahat dan melihat Asmara sudah duduk di kursi sofa dan meluruskan kakinya.


"Apaan sih Bun? Manggil namaku pake nama suamiku" sahut Asmara dengan ekspresi tidak terima tapi sebenarnya dia malu dan aneh aja dipanggil begitu.


"Hayolooh, udah ngakuin Alfano jadi suamimu yaa?" goda Bunga yang sudah duduk disamping Asmara.


"Hmmm, kamu yaaaaa bikin aku malu aja" protes Asmara dengan lirih.


"Hahahahaa. Wah cepet amat kamu ngakuin pria breng*** itu jadi suamimu" cibik Bunga.


"Bun, please. Ternyata dia gak seburuk itu. Lagian memang aku udah maafin dia. Jangan panggil dia kayak gitu lagi, itu hanya membuat luka lama teringat lagi" ucap Asmara.


"3 hari bareng, dia memang memperlakukanku dengan baik. Beda banget sama Alfano yang aku kenal selama ini. Aku yakin dia akan menjadi ayah yang baik dan luar biasa untuk twins" sahut Asmara dengan mata berbinar ngomongin suaminya hingga Bunga geleng geleng kepala merasa sahabatnya ini udah terlena oleh cinta.


"Asmara sudah jatuh cinta hingga semua terlihat baik dimatanya tentang pria yang dicintai. Tapi, kenapa kamu hanya bilang ia akan menjadi ayah yg baik untuk twins tapi tidak bilang kalau dia akan menjadi suami yang baik juga buat kamu? Sebelum dia menjadi ayah yang baik, dia seharusnya menjadi suami yang baik untuk istrinya bukan?" tanya Bunga memberikan pertanyaan yang mendalam.


"Hmmm, meskipun aku diberlakukan baik olehnya beberapa hari ini dan membuat kita berhubungan lebih baik tapi sebenarnya aku masih merasa takut untuk melayaninya dan menjalani kewajibanku sebagai istri. Jadi aku tidak bisa menuntut dia menjadi suami yang baik sebelum aku berusaha untuk menjadi istri yang baik juga untuknya" jawab Asmara dengan wajah sendu namun membuat Bunga menatap tajam mendengar jawaban dari wanita hamil disebelahnya.


"Apaa??? Kalian berhubungan baik tapi belum melakukan hubungan suami istri? Hahahahahhaha, betah amaaat" sahut Bunga yang tadi menatap tajam menjadi tatapan tak percaya dan tertawa.

__ADS_1


"Kenapa kok kamu ketawa sih, Bun?" tanya Asmara heran dengan tawa Bunga yang cukup keras di ruangan itu.


"Hehe, maaf maaf. Refleks ketawanya. Hmm, kalau semisal kalian menikah karena cinta diawal mungkin gak bisa tahan kalau pingin begituan. Langsung gas hahaa. Tapi ya karena kalian memang menikah karena tanggung jawab mungkin dan masih ada ketakutan dalam dirimu, hal itu wajar sih. Aneh kalau kamu , mau mau aja ngelakuin itu sama lelaki yg udah nyakitin kamu" jawab Bunga.


"Iyaa. Jujur aku takut wajah Mas Alfano akan seperti malam itu ketika kita melakukan hal itu lagi. Meskipun dia sudah jadi suamiku, aku hanya merasa ngeri aja merasakan ada sesuatu yang masuk ditubuhku apalagi aku lagi hamil begini" ucap Asmara.


"Oh jadi kalau kamu gak hamil, kamu mau dimasukin lagi sama lelaki yang udah jadi suami mu itu?" tanya Bunga dengan tatapan smirk kepada Asmara.


"Ah kamu ngasih pertanyaan jebakan terus dari tadi. Udah ah, aku mau ganti baju. Aku ngerasa bau sendiri sama badanku. Kamu gak bau aromaku yg gak enak?" tanya balik Asmara mengalihkan pembicaraan.


"Ciee malu malu. Haha, bau sih emang tapi aku tahan dari tadi karena mau ngobrol sama kamu secepatnya, kepo sama kamu hari ini yang bahagia banget kayaknya. Sanaa, ganti baju sanaa" jawab Bunga dengan pura pura menutup hidungnya mendukung ekspresi mencium bau tidak sedap dari tubuh Asmara padahal sebenarnya gak terlalu menganggu penciumannya karena sahabatnya itu tetap wangi parfum feminimnya meskipun juga bercampur aroma masakan.


"Ih, dasar Bungaa. Yaudah sana balik ke kasir, aku mau ganti dulu. Aku minta istirahat 30 menit yaa sekalian mau sholat asar dulu" ucap Asmara lalu berdiri dari duduknya dan berjalan ke ruang ganti di ruangan istirahat itu"


"Okee. Aku balik dulu yaaa. Oh ya baru ingat, kamu bulan ini belum ke dokter Aryanti ya buat periksa kandunganmu?" tanya Bunga yang menghentikan langkah Asmara menuju ruang ganti.


"Yaampun, bener banget sampek lupa cek rutin si twins. Besok yaa, aku izin periksa. Nanti aku chat dokter Aryanti untuk janji temu. Kamu bisa nemenin aku lagi kah Bun?" jawab Asmara lalu mengajak Bunga untuk mengantar dia periksa.


"Ya bisaa dong. Apa sih yg gak buat sahabatku yang paling buaik ini. Besok pagi pagi aja ya periksanya jam set 8 an gitu biar restauran gak kita tinggal lama lama" sahut Bunga.


"Boleh Bun. Makasih banyaaak ya mau nganter akuu. Besok aku juga mau tanya sesuatu sama dokter Aryanti, terus mau minta pendapatmu" ucap Asmara dengan senyuman mencurigakan.


"Pasti tentang...." kata Bunga yang terputus karena disela oleh Asmara duluan.

__ADS_1


"Udah deh jangan nebak nebak. Sana balik ke tempatmu, aku mau ganti dulu" sela Asmara lalu berjalan menuju ruang ganti dengan senyum senyum sendiri.


"Hahaa, dasar Asmara. Wanita lugu yang mungkin udah gak lugu lagi habis ini" celetuk Bunga dengan tertawa kecil melihat punggung Asmara masuk ke ruang ganti lalu berdiri dan berjalan keluar ruangan menuju meja kasirnya.


__ADS_2