
Setelah Bunga memastikan keadaan Asmara baik dan mengetahui apa yang akan dilakukan sahabatnya itu hingga izin tidak masuk kerja hari minggu ini, ia pun izin kembali ke restauran karena sudah ia tinggal sejam untuk mengobrol dengan Asmara. Sedangkan Asmara, bersiap siap untuk pergi menuju rumah sakit dimana Alfano dirawat.
Ketika keluar rumah untuk menunggu taxi yang ia pesan, Asmara menyempatkan menengok rumah sebelah rumahnya. Terlihat sepi seperti tidak ada orang, padahal baru kemarin Asmara melihat penghuninya meskipun hanya dari belakang.
"Tetangga yang aneh. Muncul sebentar terus ngilang lagi. Apa kemarin dia cuma jenguk rumahnya aja ya sekalian jogging terus balik ke rumah asalnya? Biarin deh, malah mikirin tetangga yang gak jelas itu" omel Asmara pada dirinya sendiri, kenapa dirinya perduli dengan tetangga barunya yg gak jelas keberadaan tetangga itu.
Asmara melanjutkan menunggu taxinya dan tidak lama taxi itu datang. Wanita hamil itu pun masuk ke taxi dan menuju ke rumah sakit Kota Bandung.
Jam 11 siang, Asmara sudah sampai didepan RS. Ia berjalan menuju kamar inap pria yg secara sengaja ia racuni dengan sambal dan garam. Ketika membuka kamar inap kelas 1 itu, Asmara melihat keramaian pengunjung 3 pasien lainnya yang terlihat seperti pasar. Kemudian, tatapannya beralih menatap 1 pasien yang sendirian , tidak ada pengunjung untuknya seperti pasien yang lainnya. Siapa lagi kalau bukan pria yang akan ia jenguk, Alfano.
Perasaan Asmara berubah menjadi iba dan kasihan pada Alfano, karena perbuatannya pria itu merasakan kesendirian di rumah sakit.
"Kalau lihat dia sendirian gini diantara keramaian dan kehangatan sebuah keluarga, aku jadi merasa bersalah lagi sama dia" batin Asmara yang masih berdiri di pintu kamar inap kelas 1 itu.
Lalu, Asmara pun berjalan pelan menuju brankar Alfano dan melihat pria itu sedang tertidur. Pasien bapak - bapak disebelah Alfano yang melihat kedatangan Asmara, memulai percakapan.
"Akhirnya ada yang menjenguk nak Alfano. Kasian dia sendirian dari tadi pagi" celetuk pasien bapak bapak itu.
Asmara menoleh ke sumber suara dan melihat pasien pria yang usianya mungkin sudah 50an berbicara padanya dengan senyum.
Asmara hanya membalas dengan senyuman juga pada bapak itu, tapi merasa kurang puas dengan respon wanita yg ia ajak bicara, pasien bapak bapak memulai percakapan lagi.
"Dia tadi pagi muntah - muntah sampai berjam jam. Lalu harus diinfus 2 cairan berbeda. Barusan ia tidur, karena habis makan siang dan dikasih obat sama dokter. Tadi anak saya ini yang bantu nak Alfano ke kamar mandi, saya juga pasien kalau sendirian di rumah sakit itu bingung kemana mana susah. Saya harap jika anda keluarganya, mungkin bisa menjaganya disini" jelas pasien bapak bapak itu sambil menepuk tangan putranya yg mungkin masih sekolah SMA.
Asmara seperti mendengar perkataan yg menyalahkan dia karena tidak menemani Alfano padahal tadi malam jelas jelas ia yg mengantar dan mengaku sebagai istri lelaki yg terbaring didepannya. Dengan menahan malu, Asmara membalas perkataan pasien bapak yg berada disamping brankar Alfano.
"Terima kasih atas bantuan putra bapak dan perhatiannyaa. Saya juga minta maaf telah merepotkan" kata Asmara dengan sendu tidak bisa membela diri, karena memang ia yg salah.
Setelah mendengar jawaban Asmara, pasien bapak itu tersenyum dan tidak memulai percakapan lagi. Ia memilih bercanda dengan anak - anaknya.
Asmara pun kembali memperhatikan kondisi Alfano yang terlihat masih pucat. Ia duduk dikursi samping brankar dan mengamati lelaki itu.
"Aku tidak menyangka akan separah ini" lirih Asmara dengan nada menyesal.
Ia melihat kantong infus yg dipasang untuk Alfano ada 2, rasa iba dan penyesalan makin menguasai dirinya.
Hingga kunjungan dokter siang hari datang. Dokter yang merawat Alfano di UGD saat ini sudah berdiri dengan wajah sedikit terlihat kesal dan marah ketika melihat Asmara yg duduk dengan wajah sedih.
__ADS_1
Asmara yang terkejut tiba tiba ada dokter di depan brankar Alfano, langsung berdiri dan menyambut kedatangan dokter yg ia lihat tadi malam.
"Selamat siang, Dokter" sapa Asmara ramah tapi tidak disambut baik oleh dokter.
"Anda kemana saja. Tadi pagi kondisi pasien bisa dibilang parah. Butuh bantuan dari keluarganya, anda seenaknya pergi tanpa pamit ke dokter jaga atau perawat disini" omel dokter yang memang tadi pagi ia kembali piket dan melihat kondisi Alfano memburuk dari awal datang.
Asmara terdiam. Para penghuni ruangan yg lain pun menoleh pada posisi rawat Alfano karena suara dokter cukup keras.
"Maafkan saya, Dok" jawab singkat Asmara sambil menundukkan kepala.
Dokter yang merasa dirinya juga keterlaluan melampiaskan kekesalannya pada keluarga pasien pun, meminta maaf kepada Asmara tapi masih dengan nada kesal namun tidak dengan emosi seperti tadi.
"Maafkan saya. Saya terlalu terbawa emosi, Bu. Saya hanya kesal saja, karena pihak rumah sakit sudah menghubungi kontak yg ada di form pendaftaran pasien tidak diangkat angkat. Padahal tadi pagi memang urgent, untuk meminta persetujuan rawat intensif namun nomor itu tidak bisa terhubung. Nomor anda bukan?" tanya dokter.
Asmara ingat memang betul nomornya yg ia daftarkan sebagai wali pasien.
"Iya betul, Dok. Tapi maaf saya memang hari ini tidak tau kalau ada panggilan dari rumah sakit. Saya tidak memegang hp dari pagi" jawab Asmara mencoba membela diri karena memang ia tidak tau kalau ada telepon dari rumah sakit.
"Hmm, yasudah. Saya tidak tau hubungan asli kalian seperti apa. Saya mencoba percaya info dari anda jika anda adalah istri pasien ini diluar permasalahan kalian. Tapi, saya infokan kondisi lambung dan usus pasien ini luka, sehingga memerlukan waktu lebih lama dirumah sakit sekitar 3 hari. Jika, anda memang tidak bisa menjaganya, lebih baik bilang dari awal agar perawat kami yg standbye" jelas dokter.
"Jangan salahkan istri saya, Dok. Saya yang menyuruh dia pulang tadi malam karena harus mengurus anak kami yang masih balita di rumah. Kemarin, ia dititipkan di tetangga. Jadi, istri saya harus pulang untuk mengurusnya. Saya sudah tidak apa apa kok Dok" kata Alfano yang membela Asmara dan spontan meraih salah satu tangan wanita hamil itu yg bisa ia jangkau di samping brankar.
Dokter itu pun gantian merasa malu karena sudah menyalahkan Asmara tanpa tau alasan yang sesungguhnya, meskipun alasan yg diberikan Alfano itu bohong. Sedangkan Asmara, menatap wajah Alfano yang telah membela dirinya dengan raut wajah lega.
"Kenapa aku merasa lega , ia membelaku didepan orang lain?" batin Asmara dengan menahan senyum dibibirnya agar tidak terlihat oleh Alfano jika dirinya senang dibela.
"Maafkan saya terlalu emosi tadi. Saya tidak akan bertindak sejauh itu pada keluarga pasien" kata dokter terlihat menyesal juga.
"Tidak apa apa, Dok. Memang saya yg salah. Untuk pembelajaran saja, saya tidak akan meninggalkan suami saya tanpa info terlebih dahulu" sahut Asmara dengan senyuman dan mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Alfano.
Dokter itu pun tersenyum melihat pasien dan istrinya bergandeng tangan serta terlihat saling peduli , tidak seperti yang ia kira sebelumnya.
"Saya izin memeriksa bapak Alfano dulu. Mohon izin ya bu" kata dokter kepada Asmara dengan nada lebih sopan. Mau tidak mau, Asmara melepaskan gengaman tangan Alfano karena posisinya digantikan posisi dokter untuk memeriksa keadaan pria itu.
Tidak lama pemeriksaan yang dilakukan, dokter jaga itupun izin untuk berpindah ke pasien lain. Sebelum itu ia menjelaskan kondisi terkini dari Alfano.
"Syukurlah, keadaan bapak Alfano sudah membaik. Jika kedua cairan infus ini habis , nanti akan diganti 1 infus baru. Tolong pencet bel ini agar, perawat kami menggantinya ya" jelas dokter.
__ADS_1
"Baik dok, terima kasih" sahut Asmara dengan ramah lalu dokter dan perawat yang sedang bertugas berpindah ke brankar pasien selanjutnya.
Ketika Asmara sudah berdua dengan Alfano di ruang rawat , wanita itu menatap lekat lelaki dihadapannya yang sudah berposisi duduk menyandar di brankar. Asmara tidak mengatakan apapun, hatinya masih senang karena dibela Alfano tadi.
Malah Alfano yang heran, tumben wanita ini tidak bersikap dingin, kaku, dan cuek padanya.
"Kenapa kamu natap aku gitu? Aku kelihatan jelek banget ya?" tanya Alfano memecahkan keheningan diantara mereka.
Asmara masih diam, ia mengamati raut wajah Alfano yg masih terlihat tampan baginya meskipun masih pucat.
"Kok diam aja. Awas nanti jatuh cinta" goda Alfano sambil terkekeh.
Asmara pun mulai merasa aneh digoda Alfano begitu. Ia memasang wajah datar lagi setelah mengamati wajah Alfano dengan serius dan tatapan penuh makna.
"Apaan sih. Aku gak mungkin jatuh cinta sama pria baji**an kayak kamu" elak Asmara makin membuat Alfano tertawa.
Asmara yg kesal pun duduk di kursi sebelah brankar dan menyilangkan tangannya di atas perut. Lalu ia mengingat belum membuktikan bahwa ada telepon rumah sakit yang masuk apakah benar ? Karena ketika membuka hpnya tadi pagi hanya melihat panggilan tak terjawab dari Bunga yang sudah 15 kali dan pesan 20.
Asmara mengambil hp di tas yg ia bawa dan mulai melihat histori panggilan.
"Astaga beneran ditelepon rumah sakit 7 kali" kata Asmara terkejut melihat apa yang diomongkan dokter tadi terkait upaya rumah sakit untuk menghubungi keluarga pasien ternyata benar.
Alfano hanya tersenyum saja.
"Lucu juga lihat dia panik dan merasa terkejut" batin Alfano yg mengamati ekspresi Asmara.
Asmara meletakkan hpnya lagi lalu menatap Alfano.
"Aku sungguh minta maaf sudah membuatmu kayak gini" kata Asmara terdengar tulus.
"Aku maafkan" sahut Alfano dengan santai.
"Kok kamu bisa memaafkanku semudah itu?" tanya Asmara heran karena lelaki yg didepannya ini terkenal angkuh dan tak tau belas kasihan.
"Ya mudah, karena aku merasa kesalahanku ke kamu lebih besar dan tidak bisa termaafkan begitu saja, kecuali kalau aku meninggoy mungkin baru aku tidak bisa memaafkanmu" jawab Alfano dengan tertawa kecil , dibuat seperti candaan.
Asmara mengerutkan keningnya, merasa tidak percaya Alfano bisa bercanda seperti itu.
__ADS_1