BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Babak belur


__ADS_3

Sepulangnya penghulu dan saksi, Bunga juga pamit kembali ke restauran Enak Kabeh kepada keluarga mempelai sehingga rumah Asmara hanya ada keluarganya dan keluarga Alfano.


"Maafkan putra saya, Pak Wawang dan Bu Asih. Memang anak itu perlu dikasih pelajaran agar lebih peka sama wanita apalagi istrinya sendiri" kata Bu Laras dengan nada sendu, lagi lagi ia meminta maaf atas kesalahan Alfano.


"Tidak apa apa, Bu Laras. Mereka sekarang sudah menjadi suami istri. Cepat atau lambat dengan arahan dan dukungan dari kita, InshaAllah mereka bisa jadi keluarga yang baik. Mungkin Asmara juga lagi capek dan buru buru ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya" sahut Bu Asih yang mencoba menenangkan Bu Laras.


"Iya. Tapi saya sangat sungkan dengan bapak ibu, kalau Alfano bertindak aneh aneh dengan Asmara. Mohon diingatkan atau kalian pukul juga tidak apa apa. Dia sudah jadi anak bapak ibu juga, mohon bantuannya untuk merubah dia menjadi pria dewasa yang lebih baik" minta Bu Laras dengan mata berkaca kaca.


"Iya Bu Laras. Ibu tenang aja. Kita akan mendidik mereka bersama untuk membina keluarga" sahut Bu Asih. Pak Wawang dengan wajah datar mendengarkan omongan para ibu ibu dan pikirannya sudah mengarah ke tempat lain yaitu keadaan putrinya saat ini di kamar dengan suaminya.


Didalam kamar , terjadi perdebatan Alfano dan Asmara. Mereka sama sama meluapkan perasaannya.


"Kita sama sama terpaksa kan menyetujui hubungan ini, maka dari itu kita sama sama harus mengerti jika kita tidak akan pernah memiliki perasaan dan tidak berhak menuntut kewajiban suami istri. Entah sampai kapan hubungan ini bertahan, tapi sungguh Asmara aku belum kepikiran membangun keluarga dengan siapapun. Aku harap kamu tidak memiliki ekspetasi lebih terhadapku untuk menjadi suami yang baik" ucap Alfano.


"Aku memang tidak memiliki ekspetasi apapun kepadamu, Alfano. Bayangan untuk berusaha membina keluarga denganmu hancur sejak kamu mengatakan terpaksa menikahiku. Tadi malam karena kepura puraanmu bersikap baik padaku, berhasil membuatku membayangkan kesempatan untuk membina keluarga bersamamu. Tapi kamu benar benar pintar membuat bayangan itu hancur. Sejak saat ini, aku tidak akan tertipu dengan sikap baikmu" sahut Asmara dengan nafas menggebu nggebu karena menahan marah dan agar tidak berteriak.


"Oke. Kita sepakat. Hubungan ini hanya sebatas pernikahan paksa yang cepat atau lambat akan kita akhiri. Tapi kita juga harus membuat kesepakatan lain bahwa selama kita menikah , dihadapan keluarga harus terlihat rukun dan damai agar kita tidak dituntut lebih oleh mereka. Mengerti kan?" tanya Alfano.


"Aku malas membuat kesepakatan dengan pria angkuh sepertimu. Kamu memang suamiku tapi kamu bukan pria yang aku inginkan untuk hidup bersamaku. Prinsip saat ini, selama kamu tidak baik padaku, maka aku juga tidak baik kepadamu. Selama kamu tidak memenuhi kewajiban sebagai suami, aku juga tidak akan berusaha memenuhi kewajibanku sebagai istri. Adil seperti itu" jawab Asmara dengan nada yang mulai lelah.


"Baik kalau mau mu seperti ini. Pokoknya, aku akan bersikap baik sebagai suami untukmu didepan keluarga kita dan akan bersikap seperti Alfano yang angkuh didepanmu. Mohon kerjasamanya. Jangan buatku dimarahi oleh mereka" ujar Alfano dengan nada yg masih angkuh.


"Dasar suami gadungan! Takut sama orang tua sampek rela berpura pura jadi suami baik padahal nihil kebaikannya" batin Asmara.


"Aku capek. Silahkan kamu keluar. Bilang aja ke mereka semua kalau aku capek dan mau tidur" kata Asmara lalu berjalan menuju ranjang dan mulai merebahkan tubuhnya.


Alfano menghembuskan nafas berat lalu keluar kamar.


Bu Laras sudah menunggu kedatangan putranya itu dengan raut wajah datar.


"Mana Asmara?" tanya Laras dengan nada marah.


"Dia istirahat mam. Lagi capek, katanya" jawab Alfano sesuai intruksi dari Asmara.


"Beneran dia lagi capek? Capek hati atau capek fisik?" goda Alfani yang duduk disamping Jaka.


Alfano melotot pada kembarannya itu dan membuat Alfani terkekeh kecil.

__ADS_1


"Alfano" panggil Pak Wawang.


"Iya, Yah?" sahut Alfano yg masih berdiri agak jauh dari posisi Pak Wawang.


"Sini, mendekatlah" minta Wawang pada menantunya itu.


Alfano langsung berjalan menuju hadapan mertuanya. Wawang berdiri dari posisi duduknya untuk berhadapan dengan Alfano yang berjalan kearahnya. Kurang 1 langkah saja sampai di hadapan Wawang, Alfano sudah lebih dulu mendapatkan tamparan keras di pipinya.


Plaaaak!!!


Suara tamparan itu begitu keras hingga membuat orang orang yang berada di ruang tamu tersebut berdiri karena terkejut dan tidak percaya Pak Wawang yang diketahui lelaki lembut dan penyayang bisa menampar mantunya seperti itu.


"Kata ibumu, aku boleh memukulmu kan setelah kamu sah menikah dengan putriku hingga babak belur yang penting gak sampek kamu nyusul ayahmu ke dunia lain ?" kata Wawang dengan ekspresi senyuman smirk dan wajahnya memerah karena melampiaskan marah.


"Terima ini balasan dari seorang ayah untuk lelaki yang telah membuat putrinya menderita dan mengalami kejadian yang menyakitkan!" seru Wawang dengan amarah yang menggebu gebu sambil memukul perut Alfano dengan keras.


Bugh!!!


Plak!!!


Bugh!!!


Suara pukulan dan tamparan terus terdengar beberapa kali dari tubuh Alfano karena pukulan Wawang.


Bu Laras tidak bisa membela putranya karena memang Alfano salah dan ia hanya bisa menangis bersama Bu Asih yang juga merasa kasihan pada menantunya itu tapi ia juga memikirkan perasaan putrinya saat ini.


Alfano yang dihajar habis habisan tidak melawan. Hingga ia memuntahkan darah baru Wawang berhenti memukulinya.


"hahaha itu masih sedikit darah yang keluar dari mulutmu. Masih bisa menerima pukulan nggak mantuku? Meskipun aku menghajarmu terus, itu tidak bisa mengembalikan kondisi putriku seperti semula" ujar Pak Wawang dengan emosinya.


Bu Asih yang sudah tidak tega melihat Alfano babak belur dan muntah darah menghentikan sang suami.


"Udah, Yah. Kasian Alfano, dia juga kemarin habis opname, gimana kalau dia masuk rumah sakit lagi" bujuk Asih.


"Hahahaha, anak begini masuk rumah sakit ya biarkan saja pokoknya gak sampek pergi dari dunia ini. Maafkan saya ya Bu Laras, saya sudah tidak bisa membendung amarah ini dan kekecewan pada putra anda. Mungkin anda juga bisa membayangkan jika putri anda mendapatkan perlakuan yg tidak menyenangkan seperti apa yang putra anda lakukan pada putri saya" ucap Wawang dengan mata berkaca kaca.


Bu Laras hanya bisa menangis mendengar perkataan besannya itu.

__ADS_1


Di depan kamarnya, Asmara melihat kejadian yang baru terjadi. Ia melihat Alfano dihajar habis habisan oleh ayahnya didepan matanya sendiri. Ia hanya bisa melihat suaminya dipukul seperti itu karena baginya saat ini, lelaki itu pantas mendapatkannya.


Singkat cerita ketika tadi Alfano keluar kamar, Asmara bangun lagi dari tempat tidur karena mau ambil minum di dapur. Namun, ketika baru keluar kamar, ia melihat Wawang sudah menampar keras Alfano dan dilanjutkan pukulan bertubi tubi hingga pria itu muntah darah.


Sebenarnya ia tidak tega melihat daddy dari bayinya babak belur begitu, namun pembicaraannya dengan Alfano tadi membuat ia seperti mati rasa pada lelaki itu.


"Aku tidak akan terbujuk lagi oleh kesakitan yang kamu rasakan, kebaikan atau perhatianmu, Alfano. Aku tidak akan berharap apa apa padamu. Sakit yg kamu rasakan saat ini tidak sesakit omonganmu dan keangkuhanmu padaku" batin Asmara lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman seperti tujuan awal ia keluar kamar.


Alfano yang sudah berlutut dihadapan Wawang dengan bibir penuh darah, mendonggakan wajahnya menatap mertua.


"Ayah, maafkan aku" kata Alfano dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya.


"Hahaha, maaf. Maafkanku entah kapan akan kamu dapatkan, Alfano. Ingat kalimat yang aku katakan ini, jika berani kamu menyakiti putriku lagi maka pilihannya ada dua, kamu aku penjarakan atau aku membunuhmu. Cam kan itu" ancam Wawang kemudian pergi ke kamar yang ia tempati tadi malam.


Ketika berjalan menuju kamarnya yang berada disekitar dapur, ia melihat Asmara sedang meminum minumannya di meja makan.


Wawang jadi gugup dan menyembunyikan tangannya yg terlihat memar juga karena telah memukul Alfano.


"Ayah gak perlu menyembunyikan tangan ayah. Sini aku kompres pake es" tawar Asmara.


"Kamu tadi melihat semuanya, Nak?" tanya Wawang.


"Iya, Yah. Tapi Ayah tidak perlu khawatir, lelaki itu tidak akan kubiarkan menyakitiku lagi. Jadi Ayah tidak perlu melukai ayah sendiri dengan memukulnya seperti ini. Ayah juga akan sakit jadinya" jawab Asmara sambil mengambil es di kulkas untuk ia letakkan di baskom dan diberi air.


"Sakit ayah ini tidak ada apa apanya ketika tau kamu menjadi seperti ini karenanya. Sakit yg ayah rasakan saat ini tidak bisa mengalahkan sakit yg ayah rasakan karena gagal melindungi, Asmara" kata Wawang dengan deraian air mata yang tidak bisa ia tahan lagi.


Asmara yang membawa baskom dan ia letakkan di meja makan dimana ayahnya duduk di kursinya, menahan tangis agar tidak membuat ayahnya makin khawatir. Wanita itu berjuang untuk terlihat kuat didepan ayahnya padahal hatinya juga sungguh terluka.


Pelan pelan, tangan Asmara mengambil tangan Wawang untuk ia letakkan di dalam baskom.


"Ayah coba lihat Asmara. Putrimu ini sungguh kuat, ia akan bertahan dengan baik dalam menjalani hidup. Ayah sudah tak perlu khawatirkan Asmara lagi. Asmara benar benar dalam kondisi yang baik. Apalagi setelah ini, Asmara juga akan melahirkan bayi ini jadi putrimu akan jadi ibu yang kuat dan baik. Ayah percaya sama Asmara ya. Jangan nangis lagi" ucap Asmara dengan mata berkaca kaca dan tidak terasa ia juga meneteskan beberapa air mata sebelum ia usap dipipinya.


Tanpa membalas dengan kata, Wawang memeluk putrinya itu dengan erat. Tangis seorang ayah pecah dalam pelukan itu. Asmara menahan agar tidak ikut menangis. Menahan sekuat tenaga agar ayahnya juga bisa tenang.


Jika didapur terdapat pelukan yang mengharukan, berbeda dengan ruang tamu rumah Asmara. Bu Laras mengangkat tubuh putranya dan mendudukan Alfano sambil disandarkan di dinding.


"Gimana rasanya dihajar begini, Alfano? Kamu merasa bangga kah karena sudah membuat seorang ayah marah besar padamu? Mami udah gak tau lagi harus gimana lagi sama kamu. Kamu sudah menikah, tugas mami udah sampai disini untuk memperbaiki kesalahanmu yang sangat besar ini. Apapun yang akan kamu lakukan untuk hidupmu, terserah padamu. Mami cuma pesan, jangan sakiti Asmara lagi. Saat kamu sakiti dia, mami beneran akan mencabut semua harta dan warisanmu" ucap Laras dengan serius.

__ADS_1


"Oh ya, mami akan pulang nanti sore ke Jakarta setelah mengantar keluarga Asmara pulang juga untuk mengurus nikahan secara legal 2 minggu lagi. Jadi mami harap, selama 2 minggu ini kamu bisa memperbaiki hubungan dengan Asmara" lanjut Bu Laras sebelum ia pergi dari hadapan Alfano menuju rumah putranya disebelah. Sebelumnya, Laras berpamitan kepada Bu Asih dan membicarakan rencana mereka pulang sore nanti.


Kemana Rani dan Rian? Mereka ikut Bunga ke restauran Enak Kabeh karena merasa mereka paling muda dan tidak ingin terlibat urusan orang tua. Tepat banget keputusan mereka tadi, daripada melihat ayahnya mukulin kaka ipar, bisa bisa mereka trauma 🤣


__ADS_2