BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Diare parah


__ADS_3

Pelayan restauran pun melayani Alfano dengan baik karena tidak tau permsalahan yg terjadi. Lelaki itu memesan oseng oseng daging dan es teh.


Ketika pesanan diterima bagian dapur, Asmara enggan memasak pesanan Alfano dan dilimpahkan pada Hani, hingga membuat asistennya itu heran tumbenan Asmara tidak memasak pesanan pertama. Hani tidak bisa menolak perintah bosnya. Ia pun membuat masakan untuk Alfano.


Namun ide nakal Asmara muncul setelah oseng oseng daging mulai matang. Ia menaburkan garam berlebih dan menuangkan beberapa sendok sambal yang super pedas.


"Eh Mbak Mara, gak salah kasih bumbu?" ujar Hani spontan.


"Bener kok, ini makanan spesial buat pelanggan itu. Udah kamu masak aja" sahut Asmara dengan senyuman smirk.


Hani pun melanjutkan masaknya hingga selesai dan dituangka di piring untuk disajikan bersama nasi.


Asmara tersenyum bahagia melihat pesanan Alfano sudah diantarkan oleh pelayannya. Ia tidak sabar melihat ekspresi kesal dan marah lelaki yg ia benci itu. Hingga ia memilih keluar dapur dulu menuju ruangan istirahat yg ada CCTV restauran dan melihat Alfano dari sana.


"Ini seranganku pertama, rasakan oseng oseng daging super pedas dan asin itu haha" kata Asmara sambil tertawa.


Alfano tanpa curiga dan sudah merasa lapar langsung menyendokkan makanan yg ia pesan untuk ia makan. Setelah suapan itu masuk ke mulutnya, ia merasa rasanya terlewat pedas dan asin tp ia yakin ini adalah perbuatan Asmara.


Alfano tidak mau kalah. Jika ia marah dan tidak memakan makanan yg telah ia pesan, ia pasti akan ditertawakan oleh Asmara. Jadi, ia tetap memakan oseng oseng super pedas dan asin itu dengan memaksakan diri hingga ia memesan es teh lagi 2 gelas dan nasi putih 1 porsi untuk meredakan rasa asin di lauknya.


Setelah menghabiskan 1 porsi oseng oseng daging, 2 porsi nasi putih, dan 3 gelas es teh , Alfano merasa klepek klepek sendiri. Asmara yang masih setia menonton Alfano ketika menghabiskan makanannya pun merasa kecewa karena rencananya memberi serangan pada lelaki itu gagal. Tapi wanita hamil itu tersenyum entah karena puas melihat Alfano kekeyangan atau karena melihat perjuangan lelaki itu memaksa memakan makanan yg pedes banget yg ia racik.


"Kamu pasti tau kalau itu perbuatanku, mangkanya kamu makan sampek habis" lirih Asmara dengan senyuman smirk. Dirasa sudah puas menonton Alfano, Asmara kembali menuju dapur karena pelanggan baru sudah berdatangan.


Alfano yang sangat kekeyangan , diam sejenak di bangkunya. Bernafas dengan tenang dan memegang perutnya yg membuncit seakan menghilangkan otot otot perutnya.


"Sumpah yaa, ini kekeyangan banget. Tapi pasti wanita itu kesel karena gak bisa godain aku" batin Alfano.


Bunga yang melihat Alfano seperti sudah tak bisa berdiri karena perut kekeyangan, tertawa kecil di tempat kasir dimana dia berada.


"Hahaha syukurin. Gak kuat berdiri" lirih Bunga dengan kikihan.


Semakin siang semakin rame, sudah jam 10 pagi Alfano masih duduk di meja tamu Enak Kabeh. Dirasa perutnya sudah tidak terlalu penuh tapi mulai bergejolak, ia memilih untuk pulang sebelum ia buang hajat di restauran.


Alfano berjalan dengan cepat sambil memegang perutnya menuju rumah. Sesampainya dirumah, ia langsung masuk kamar mandi dan mendudukan dirinya di closet wc.

__ADS_1


Broooooool....


Serasa isi perutnya keluar namun rasa melilitnya masih tersisa.


"Gara gara oseng oseng daging pedes dan asinnya kebangetan! Perutku jadi diare begini!" gerutu Alfano ketika keluar kamar mandi. Tapi belum sempat duduk, perutnya terasa mulas lagi dan akhirnya ia berakhir di closet wc lagi.


Alfano dibuat bolak balik ke wc dari siang sampai malam, hingga ia tidak ada kekuatan untuk membuka laptop atau membuka hpnya yg sampek lupa ia letak kan dimana. Lelaki itu memilih merebahkan tubuh lemasnya di sofa karena dirinya tak bertenaga seperti kekurangan cairan dan asupan makanan setelah dibuang di wc berkali kali.


"Kebangetan Asmara! Bikin aku kesakitan begini! Gerutu Alfano dengan posisi tubuhnya meringkuk di sofa.


Setelah jam tutup restauran Enak Kabeh, Asmara tiba tiba merasa bersalah karena serangan sambel dan garamnya tadi pada Alfano. Ia merasa khawatir karena ia kira lelaki itu akan mengganggunya sepanjang hari, eh ternyata hingga malam tak muncul juga.


"Apakah aku keterlaluan membuat dia memakan makanan yg tidak layak makan tadi ya?" lirih Asmara ketika berjalan menuju rumahnya.


"Biarian deh. Biar tau rasa gimana rasanya disakitin. Palingan cuma diare yg tidak sesakit dia menyakitiku" lanjut Asmara berusaha mengabaikan perasaan khawatir dan merasa bersalahnya.


Sesampainya dirumah, Asmara heran dengan tetangga barunya itu karena lampu rumah belum dinyalakan padahal ia melihat ada sandal dan sepatu di depan pintu.


"Ini juga, lelaki gak jelas jadi tetanggaku. Masa udah malam, lampu rumahnya gak dihidupin kalau ada orang didalam" omel Asmara.


Wanita hamil itupun mengabaikan tetangganya itu. Ia pikir itu bukan rumahnya, ngapain dia ikut sewot dan mikirin hal yg tidak berhubungan dengannya. Asmara pun masuk kerumahnya dan menyalakan lampu rumah.


"Siapa itu? Tumbenan malam malam ada tamu?" tanya Asmara heran.


Setelah ia mengaduk susu hamilnya, Asmara berjalan menuju pintu rumahnya dan melihat dari jendela siapa yang telah mengetuk pintunya malam malam begini.


Asmara tidak bisa melihat keberadaan tamunya, karena tamunya duduk di depan pintu menghadap jalan sambil meringkuk.


"Apa ada yang iseng malam malam begini ya?" gerutu Asmara mulai kesal.


Tok...tok..tok...


Suara ketukan itu terdengar lagi dari pintu dengan lirih.


Asmara merasa dikerjai, langsung membuka pintu rumahnya dan terkejut ada lelaki duduk meringkuk didepan rumahnya. Dari pakaian yang dikenakan lelaki itu, Asmara tau jika dia adalah Alfano.

__ADS_1


"Heh ngapain kamu disini!" teriak Asmara yang terkejut lagi lagi pria yg ia benci ada dihadapannya.


Alfano tidak menjawab, ia berusaha mengangkat wajahnya menatap Asmara yg berdiri disampingnya. Terlihat wajah Alfano yang pucat, sangat pucat malah dengan keringat dingin bercucuran dari wajah dan bagian tubuhnya yg lain, membuat Asmara merubah ekspresi marah dan kagetnya menjadi khawatir, namun gengsi ingin membantu.


"Heh, kamu jangan pura pura sakit di hadapanku. Panggil asistenmu sana!" seru Asmara mencoba tak peduli terhadap lelaki yang terlihat kesakitan didepannya ini.


Lagi lagi, tatapan Alfano tak berubah. Ia menatap Asmara dengan lekat dan tak bersuara bersamaan dengan keringat dingin yang semakin banyak bercucuran dari wajahnya, serta tangannya yang berada diperut menahan sakit.


Asmara mulai panik. Ia bisa memastikan bahwa lelaki yg sedang meringkuk ini memang sedang kesakitan. Kekhawatirannya mulai tak terbendung. Wanita hamil ini menjongkok kan dirinya untuk bisa sejajar dengan tubuh Alfano.


"Heh kamu gapapa kan? Jangan sakit disini" kata Asmara tanpa amarah malah terdengar lembut.


Karena mulai terlihat kepedulian dari Asmara, Alfano pun akhirnya membuka suara.


"Tolong aku, perutku sakit banget" lirih Alfano dengan wajah pucatnya.


Sesaat kemudian, Alfano tak sadarkan diri dipelukan Asmara yang berada disampingnya.


"Astaga, dingin banget badannya!" panik Asmara yang merasakan kulit Alfano dingin serta basah karena keringat dingin dan ditambah lagi udara Bandung malam yang juga dingin.


Paniklah Asmara. Ia bingung harus bagaimana, mengingat ia juga hamil jadi tidak bisa mengangkat Alfano untuk berdiri. Lalu, wanita itu berfikir untuk memanggil ambulan saja. Ia letakkan tubuh Alfano untuk bersandar di pintu dan ia berdiri kemudian mengambil handphonenya di kamar untuk menelepon ambulance.


Setelah itu, Asmara kembali lagi disamping Alfano dan menatap lelaki itu dengan rasa sesal.


"Maafkan aku" lirih Asmara dengan mata berkaca kaca. Wanita itu hanya bisa menatap Alfano sambil menunggu ambulance datang.


Lagi lagi, bayi kembar yang dikandung Asmara berulah membuat perut ibunya kram.


"Aaaakh" rintih Asmara memegang perutnya yang tiba tiba menegang dan membuat ia mendudukan dirinya di lantai.


"Tenang sayaaang, daddy mu gapapaa. Kalian jangan bikin mommy ikut kesakitan ya" batin Asmara sambil mengelus elus perutnya, agar bayinya rileks juga.


Asmara pun menyandarkan tubuhnya di pintu juga, disamping Alfano. Mengingat kejadian perutnya kram ketika membeli seblak dan menjadi tidak kram lagi saat perutnya dipegang oleh Alfano, Asmara mencoba mengambil tangan lelaki yg sedang tidak sadarkan diri itu untuk ia letakkan di perutnya.


Dan benar saja, belum lama tangan Alfano diletakkan di perutnya, kram yang Asmara rasakan mulai berkurang.

__ADS_1


"Memang kamu, daddy dari anak anak ini sampai mereka nyaman kamu sentuh" batin Asmara dengan senyuman lega. Beberapa menit ia biarkan tangan Alfano diperutnya hingga kramnya benar benar tidak ia rasakan lagi. Bertepatan dengan ambulamce datang.


Asmara pun buru buru berdiri dan menyambut petugas dari ambulance untuk mengangkat tubuh Alfano.


__ADS_2