BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Makin maskulin


__ADS_3

Setelah mengantar Bu Laras dan Alfani pulang di rumah utama, Alfano melanjutkan perjalanan ke perusahaan batu bara bersama Jaka. Sebelum itu, ia tadi menyempatkan ambil setelan jas untuk ia bekerja hari ini.


Jaka ikut senyum senyum sendiri melihat wajah berseri seri sang bos.


"Wajahmu seneng amat, bos. Kamu beneran bahagia nikah sama Asmara?" tanya Jaka memulai percakapan dijalan sambil nyetir.


"Eheem. Heran aja aku kok bisa sampek bahagia begini hidup bareng Asmara. Memang jatuh cinta semudah itu kah Jak?" tanya balik Alfano sekaligus ngobrol dengan sahabatnya itu.


"Iyaa, jatuh cinta semudah itu, Fan. Sedetik aja kita bisa langsung jatuh cinta sama orang, tapi yang sulit adalah mempertahankan cinta itu" jawab Jaka dengan wajah sendu. Alfano pun merasa asisten dan sahabatnya itu sedang jatuh cinta tapi herannya kok terlihat tak bahagia seperti dirinya.


"Jawabanmu kayak orang jatuh cinta aja, tapi kok wajahmu sedih begitu. Cinta bertepuk sebelah tangan ya?" tebak Alfano sambil nada menggoda.


"Hmmm, jatuh cinta tidak selalu membuat bahagia" sahut Jaka.


"Hmmm, kok gitu. Bener juga sih. Aku jatuh cinta ama si Alexa ular cobra itu juga menyakitkan dan bikin aku tidak bahagia. Tapi beda sama Asmara membuatku langsung bahagia, semoga aja selalu bahagia tidak ada pengkhianatan" curhat Alfano.


"Pinter pinter aja jaga hati biar cintanya gak tersakiti. Kamu berarti udah cinta sama Asmara? 3 hari di Bandung pulang pulang dah kayak begini. Wanita itu keren juga bisa nakluk kin CEO angkuh dan dingin kayak kamu" sindir Jaka.


"Iya, aku udah nyatain cinta sama dia karena udah gak tahan nunggu sah secara hukum baru bilang cinta keburu mulutku gatel manggil dia sayang" ujar Alfano yg membuat Jaka belum mengerti gatel gatel apa maksudnya.


"Maksudmu Fan? apa hubungannya nyatain cinta sama mulutmu gatel?" tanya Jaka yang bingung dengan perkataan sahabatnya .


"Asmara gak mau aku panggil sayang kalau aku belum nyatain cinta. Dia ngehukum aku kalau aku panggil sayang , dia bakal manggil aku pake nama aja. Aneh rasanya yg habis ada panggilan Mas Alfano jadi Alfano aja padahal cuma 3 hari bareng dia tapi panggilan itu udah cocok banget buat aku" jawab Alfano sambil senyum bahagia.


"Hiiiiaaaaaaaaa, emang kamu udah jatuh cinta sama Asmara beneran nih. Akhirnya sahabatku bisa mempertanggung jawabkan kesalahannya" ujar Jaka ikut senang dan lega.


"Eits, jangan salah Jak. Awalnya memang aku nikahi dia karena rasa bersalah dan tanggung jawab doang, tapi ternyata perasaanku lebih dari itu. Apalagi kamu tau rasanya tanganmu ditendang sama bayi bayi dalam kandungan istrimu? Itu rasanya kayak dapet jackpot tender gede" ucap Alfano dengan mata berbinar dan semangat untuk cerita.


"Bayi bayi?" tanya heran Jaka.


"Iyaaaa bayi bayi. Bayinya gak 1 tapi ada 2. Benihku luar biasa kan, meskipun dibuat di mobil tapi jadinya kembar" sombong Alfano.

__ADS_1


"Hmmm, bikinnya gak sadar aja bangga" ejek Jaka.


"Gapapa gak sadar, tapi rasanya membekas haha" sahut Alfano yang menyahuti dengan candaan.


"Dia udah berubah banget. Udah gak gampang marah sama omongan ejekan atau sindiran buat dia. Alfano juga terlihat bahagia banget. Syukurlah" batin Jaka yang bener bener jadi bahagia melihat perubahan Alfano.


Tak terasa obrolan mereka terhenti ketika mobil yang dikendarai Jaka sudah berada di pintu masuk perusahaan batu bara. Karena sudah jam kerja, banyak orang yang berlalu lalang di lobby perusahaan. Alfano sadar jika penampilannya saat ini masih tidak sopan untuk masuk kantor. Ia pakai, setelan yang ia ambil dari rumah utama di dalam mobil. Kaca mobil hitam jadi tidak terlihat dari luar.


Jaka memang sejak menjemput Alfano dan Bu Laras di bandara sudah memakai jas ganteng dan rapi, jadi dia tidak sepanik Alfano untuk ganti baju di mobil.


Alfano kira perusahaan tidak akan serame ini karena biasanya ia datang pagi jadi sepi. Eh ternyata dia datang hari ini kesiangan dan hari senin pula, wajar kalau perusahaanya rame.


"Udah ganti bajunya?" tanya Jaka.


"Bentar tinggal pake kemeja sama jas doang" sahut Alfano sambil mengancingkan kancing di kemeja putih yg ia pakai.


"Ini pertama kali kamu pake baju 1 setel jas di mobil. Masa orang udah nikah gak keurus begini" celetuk Jaka dengan senyuman smirk.


"Ayo keluar" ajak Alfano yang sudah merasa memakai setelan jas dengan rapi tapi beda dengan Jaka yang merasa penampilan Alfano kali ini sungguh seperti bukan CEO batu bara.


"Wait. Jangan keluar dulu. Benerin rambut mu. Masak acak acakan begitu" kritik Jaka.


Alfano pun langsung memajukan tubuhnya hingga melihat wajahnya di spion tengah mobil.


"Hahahaa, yaampun aku berantakan banget ya" ucap Alfano menilai dirinya sendiri.


"Iya, tumbenan kamu begini. Semoga kayak begini cukup sekali tidak terulang lagi. Malu sama karyawan" ingat Jaka.


"Iya iya, siap Pak Jaka" sahut Alfano menuruti perkataan Jaka.


Alfano buru buru merapikan rambutnya dengan pomade yang diberikan Jaka. Setelah penampilannya dirasa lebih pantas untuk dilihat sebagai CEO perusahaan besar, Alfano pun turun dari mobil dan diikuti oleh Jaka.

__ADS_1


"Selamat pagi, Pak Alfano dan Pak Jaka" sambut beberapa security serempak menyambut direktur perusahaan bersama asisten di perusahaan tempat mereka bekerja.


"Selamat pagi" sahut Alfano dan Jaka bergiliran.


Tampilan Alfano yang terlihat berbeda dari biasanya, tidak luput dari pandangan para karyawan yg melihatnya berjalan menuju kantor CEO. Apalagi karyawan wanita single yang selalu update dan saling berbagi gosip tentang CEO perusahaan Batu Bara.


"Eh, tumbenan Pak Alfano tampil beda begitu ya? Kurang rapi tapi tetep aja tampan dan aku lebih suka agak berantakan gini rambutnya sama bajunya gak pakai dasi" ucap salah satu karyawan wanita yang dilewati oleh Alfano dan Jaka tadi.


"Iya bener. Ini pertama kali aku lihat Pak Alfano gak pake dasi dan kancing kemejanya sengaja dibuka 1 kancing di atas kelihatan makin cool" sahut karyawan wanita lainnya.


Setelah menilai penampilan bos, para wanita itu melanjutkan pekerjaannya namun tetap saja disela sela mereka bekerja masih membicarakan Alfano.


Tak disangka, perubahan penampilan langka Alfano heboh di grup wa perusahaan antar karyawan. Tidak terduga banyak wanita yang lebih suka penampilan maskulin CEO tanpa dasi. Hingga ketika istirahat, suasana kantin perusahaan rame dengan gosip gosip dan pembicaraan tentang pria tampan serta kaya raya pemilik Perusahaan Batu Bara.


Jaka yang memang sering makan siang di kantin jika tidak diajak makan Alfano di luar, mendengar pembicaraan tentang sahabatnya itu namun ia memilih cuek saja sampai asisten manager HRD yang tidak lain adalah temannya bernama Rahul menyapanya dan duduk didepannya.


"Hey bro. Kamu denger kan pembicaraan para wanita yang ngomongin Pak Alfano? Katanya penampilan bos kita terlihat lebih gaul dan maskulin tanpa dasi" ucap Rahul tanpa basa basi sambil meletakkan gelas berisi teh hangat di meja makan kantin.


"Hmmm, memang para wanita itu heboh sendiri. Kita temen kuliahnya dulu kan juga sering lihat dia pake kemeja tanpa dasi dan biasa aja" sahut Jaka acuh.


"Yakan kita cowok bro, masa muji kegantengan Alfano padahal kita juga ganteng kan" canda Rahul.


"Itu aja kamu sendiri. Biarin dah , wanita wanita membicarakan Alfano. Kita fokus aja cari jodoh" ucap Jaka sambil melanjutkan makan siangnya.


"Lu yaa Jak, gak seru buat nge-gosip" kesal Rahul.


"Kan emang gw cowok keren mana ada ikut nyebarin gosip gak bener" ucap Jaka cuek.


"Bener juga sih" setuju Rahul yang merasa terhasut oleh omongan para wanita karena rasa keponya.


Akhirnya Rahul pun memutuskan menemani Jaka menyelesaikan makan siangnya dan ia menghabiskan teh hangat yang ia bawa tadi.

__ADS_1


__ADS_2