BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Mencium tangan


__ADS_3

Setelah mereka sampai tujuan, Asmara masuk ke rumahnya melalui rumah Alfano karena ia lupa membawa kunci rumahnya sendiri yang masih tergantung di pintu bagian dalam. Wajar saja lupa karena ketika berangkat ke MCD , dia juga keluar rumahnya lewat rumah suaminya itu.


Ketika Asmara mau masuk kerumahnya melalui connection door, adzan subuh berkumandang membuat Alfano menawarkan untuk beribadah bersama.


"Mau sholat subuh bareng?" tanya Alfano.


"Boleh, dikamarku ya" jawab Asmara.


"Oke, bentar mau ambil sarung dulu" sahut Alfano berjalan menuju kamarnya dan Asmara pun berjalan menuju rumahnya.


Setelah mengambil sarung, Alfano berlari menuju kamar istrinya untuk menunaikan ibadah subuh bersama.


Ketika masuk kamar, Asmara sedang berada di kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Alfano pun menunggu sambil memasang sajadah untuk mereka sholat.


Ketika sudah terpasang sajadahnya, pas banget Asmara keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih tertetes air wudhu.


"Seger banget wanita ini habis wudhu" batin Alfano yang lagi lagi terpesona melihat wajah cantik dan segar istrinya yang terkena air.


Asmara yang melihat Alfano bengong mengeluarkan suara.


"Buruan wudhu, aku udah selesai" ucap Asmara sambil berjalan menuju tempat sholat.


"I..iya" jawab gagap Alfano yang membuat Asmara tersenyum tipis.


"Hih lagi lagi aku tergoda sama dia" batin Alfano malu. Pria itu pun berjalan menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Sesaat kemudian, ia keluar dan memakai sarung yang ada diatas ranjang. Lalu sepasang suami istri itu melakukan ibadah subuh bersama.


Bacaan sholat Alfano memang enak didengar ditelinga Asmara sejak awal ia mendengarnya. Meskipun seorang CEO di ibukota, Bu Laras dan suaminya selalu mengajarkan tentang agama kepada anak anak mereka. Hanya saja, karena pergaulan Alfano untuk main ke club terus minum minuman tidak bisa dihindari karena diluar kemampuan orang tuanya untuk menjaga anak mereka yang telah dewasa. Hingga terjadilah kesalahan semalam itu.


Setelah sholat bersama, seperti biasa Alfano memimpin membaca doa dan diaminin oleh istrinya. Namun ada yang berbeda kali ini daripada seminggu yang lalu. Asmara memberikan kejutan perubahan sikap yang membuat Alfano terharu.


"Mana tanganmu?" minta Asmara.


"Buat apa?" tanya Alfano heran karena biasanya mereka habis sholat bersama langsung beres sendiri sendiri.


"Sini aja tangannya" minta Asmara lagi dengan tekanan.


Alfano yang sebelumnya belum memikirkan apa yang akan diperbuat istrinya itu pun dengan curiga memberikan tangannya kehadapan sang istri.


Asmara pun tersenyum dan meraih tangan Alfano dengan lembut lalu mencium tangan suaminya itu dengan khidmat. Meskipun ini kedua kalinya ia mencium tangan Alfano, tapi ini menjadi yang pertama ia lakukan dengan sepenuh hati dan perasaannya.


Ciuman Asmara dipunggung tangan kanannya, membuat Alfano terpaku.


"Begini ya rasanya tangan dicium sama istri sendiri dengan perasaan tulus" batin Alfano terharu.


Setelah membiarkan bibirnya menyentuh punggung telapak tangan sang suami beberapa detik, Asmara pun melepaskan kecupannya dan menatap Alfano dengan lembut.


"Setelah aku memutuskan kita akan menikah dengan sah jumat depan, mulai pagi ini aku akan berusaha menghormati kamu sebagai suamiku, Mas" ucap Asmara dengan suara halusnya yang membuat Alfano tanpa sadar meneteskan air mata saking terharunya diperlakukan seperti itu oleh wanita yang telah ia sakiti.

__ADS_1


Asmara jadi panik melihat suaminya nangis. Tapi sebelum ia bisa menghapus air mata di pipi sang suami, Alfano menarik Asmara dalam pelukannya sambil menangis terisak isak.


Sang CEO sudah kalah telak dalam permainan dan tantangan yang ia buat sendiri.


"Loh loh loh, kenapa malah nangis? Kamu nangis karena aku cium tangannya atau aku panggil mas?" tanya Asmara yang kaget dipeluk suaminya dengan erat untuk pertama kali dan ia berusaha membuat suaminya itu tenang dengan mengelus elus punggung Alfano.


Malah Alfano makin nangis. Asmara tau jika Alfano sedang menyalurkan perasaanya yang tidak bisa diucapkan oleh suaminya itu. Ia pun membiarkan pria yang sudah ia terima sebagai suaminya untuk menangis di pundaknya hingga merasa tenang.


"Maaf kan aku, Asmara" lirih Alfano disela sela ia menangis.


Asmara tersenyum dan ikut meneteskan air mata bahagia. Benci yanh ia rasakan pada pria yang memeluknya saat ini benar benar tidak tersisa.


"Udah. Jangan nangis, malu sama si kembar. Masa papinya nangis kayak anak kecil padahal anaknya aja belum lahir dan belum nangis" sahut Asmara dengan bercanda.


Alfano pun menuangkan semua penyesalannya dengan memeluk Asmara sepenuh hati, sepenuh perasaan, dan tulus.


Alfano pun menangis sekitar 5 menit lamanya lalu berangsur angsur mulai tenang.


"Udah habis air matanya?" ejek Asmara.


"Biarin aku meluk kamu bentar lagi" sahut Alfano tidak membalas ejekan sang istri.


Asmara masih dengan segenap hati membalas pelukan istrinya, hingga suara handphone Alfano berbunyi.


"Tuh hp mu berbunyi, Mas" ucap Asmara.


Asmara pun langsung menjauhkan tubuhnya dari pelukan Alfano dan menatap wajah sang suami yang sudah terlihat memerah dengan mata merah khas habis orang nangis.


Asmara pun berusaha menahan tawanya, tapi tak bisa.


"Yaampun, CEO Batu Bara bisa nangis juga ternyata" ejek Asmara dengan tawa.


Alfano pun memalingkan wajahnya kesamping untuk menghindari tatapan istrinya.


Dengan lembut kedua tangan Asmara terangkat dan menangkup wajah Alfano.


"CEO Batu Bara juga manusia yang masih punya hati jadi wajar kalau nangis. Tapi aku heran aja selama ini aku tidak pernah berfikir kamu akan menangis seperti ini. Sisi mu seperti ini membuatku yakin kamu juga manusia biasa bukan superman yang angkuh dan sombong" goda Asmara memberikan pujian sekaligus olokan.


"Kamu niat ngasih pujian atau ejekan pada suami?" tanya serius Alfano tapi terlihat lucu dengan ekspresi wajah habis nangis.


"Dua duanya. Memang kamu nangis kenapa?"' tanya Asmara tapi kemudian suara hp Alfano berbunyi lagi.


"Bunyi lagi tuh. Angkat teleponnya, nanti mami marah" suruh Asmara.


Alfano pun terpaksa berdiri dan mengambil hp nya yang berbunyi diatas ranjang.


"Iya ini telepon dari mami. Takut amat anaknya gak sholat subuh" celetuk Alfano.

__ADS_1


"Udah angkat aja" kata Asmara.


Alfano pun menerima panggilan dari Bu Laras.


"Kamu kemana aja sih kok nggak angkat telepon dari mami padahal kalau subuh gini pasti kamu langsung angkat kecuali kalau memang kamu ke luar negeri karena beda jam juga. Udah ditelepon susah kalau siang sampek malam, pagi pun jadi susah" omel Bu Laras karena memang kesempatan teleponnya diangkat putranya itu kalau subuh aja. Setelah waktu subuh selesai, pasti pagi - siang - sore sampek malam, nih anak susah banget ditelepon. Ya memang jadwalnya padat banget di waktu itu.


"Ih, mami ini aku lagi bermesraan sama Asmara kok diganggu" sahut Alfano dengan kesal.


Bu Laras pun terkejut dengan sahutan putranya tapi membuat ekspresinya bahagia.


"Wah, udah main romantis romantisan sekarang cieeeeee" goda sang mami.


"Hmmm. Alfano udah sholat mami, apa ada yang mau diomongin lagi kah?" tanya Alfano dengan sendu.


"Ada. Mami sekarang udah di bandara Jakarta mau berangkat ke Bandung, sendirian. Alfani hari ini ada jadwal kunjungan ke proyek yang akan ia bangun di Jakarta. Mami mau kamu jemput jam 7 pagi di bandara ya" jawab Bu Laras dengan hati yang berbunga bunga karena sepertinya hubungan putra dan mantunya sudah membaik.


"Iya mamiku sayaaaang. Jam 7 akan Alfano jemput di bandara" sahut Alfano mengiyakan permintaan maminya.


"Ajak Asmara kalau dia mau, mami kangen sama dia dan cucu mami. Maunya langsung ketemu di bandara" ujar Bu Laras lagi.


"Bentar, aku tanya dia mau apa nggak ya mi. Kamu mau ikut jemput mami di bandara jam 7 pagi nanti nggak , sayang?" ucap Alfano yang memanggil sayang istrinya didepan handphone yang terhubung dengan panggilan ke maminya.


Asmara kaget dan langsung menajamkan pandangannya setelah mendengar panggilan baru Alfano pada dirinya tapi didepan sang mertua. Sambil memberi isyarat, dia malu dipanggil itu kalau sampai didengar mami.


"Jawab sayang, ini loh mami tanya. Aku speaker ya. Mami coba mami ajak asmara sendiri jemput mami deh, dia gak mau jawab kalau aku yang tanya" kata Alfano menggoda sang istri yang habis buat dia nangis kejer sambil menekan tombol speaker di hpnya.


"Halo, Asmara. Jemput mami yaa nanti" minta Bu Laras yang otomatis tidak bisa ditolak sang mantu.


Asmara pun menjawab dengan lembut meskipun hatinya kesel sekaligus deg degan karena dipanggil sayang pertama kali sama suaminya.


"Hai, mami. Iya, nanti Asmara ikut sama Mas Alfano jemput mami" sahut Asmara malu malu.


"Eh, udah manggil suami pake panggilan mas ya? Kalian bener bener udah baikan ? Alhamdulillah, mami seneng banget kalau Alfano bisa bersikap baik sama kamu, Asmara. Mami lega" ucap Bu Laras dengan mata yang mulai berkaca kaca. Bersyukur sekali jika hubungan Alfano dan Asmara menjadi baik meskipun diawali dengan jalan yang kurang benar.


"Iya, mami. Alhamdulillah, Mas Alfano bersikap baik sama Asmara dan kandunganku" ujar Asmara sambil menatap Alfano dengan senyum.


Alfano pun mematikan speaker hpnya , sebelum percakapan istri dan maminya itu makin lebar dan panjang.


"Alhamdulillah" ujar Bu Laras.


"Mami, udah yaa. Alfano mau melanjutkan romatisan sama Asmara. See you nanti jam 7 ya mamiku sayang" pamit Alfano.


"Iya. Jangan sampek kamu nyakitin dia loh ya, awas aja" ancam Bu Laras.


"InshaAllah , mami" sahut Alfano lalu panggilan itu berhenti , namun dihadapan pria itu sudah ada wanita yang memasang wajah sok marah kepadanya.


Marah kenapa ya Asmara sama suaminya? Apa jangan - jangan hanya karena dipanggil sayang didepan mertuanya , ia jadi marah?

__ADS_1


Bacaaaa episode selanjutnya....


__ADS_2