
Perjalanan menuju kampung halaman Asmara membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam. Selama perjalanan, lagi lagi mobil itu di dominasi dengan suara Bu Laras dan Asmara yang saling berbincang mengenai banyak hal termasuk malam panas di mobil mewah Alfano.
Bu Laras memang ibu yang ingin tau banyak hal terkait kehidupan anaknya termasuk menantunya, ya bukan berarti ia bisa ikut campur tapi lebih memahami perasaan anak dan menantunya. Maka dari itu untuk mengisi waktu diperjalanan, ia sengaja membahas topik sensitif itu.
Namun Asmara pun tidak menolak untuk menceritakan perasaanya dan kejadian pada malam itu, hingga Alfano yang hanya mendengarkan menjadi malu sendiri dengan perbuatannya. Bagi wanita itu untuk saat ini, rasa bencinya kepada lelaki yang sudah mengambil keperawanannya itu mungkin hanya tinggal sisa sisa dan tertutupi oleh rasa nyaman dengan kehadirannya Alfano serta keluarganya yang hangat untuknya. Asmara bercerita dengan santai dan ia ungkapkan sepenuh hati.
"Asmara sayang, mami boleh tanya sesuatu yang sensitif nggak ? Mami mau tanya tentang perbuatan Alfano yang menyakitimu sangat dalam itu , apa yang kamu rasakan waktu dia ngelakuin itu sama kamu? Mami hanya denger cerita dari Alfano yang dijebak sama Parmana si orang tua gila itu tapi belum denger dari kamu. Bisa aja Alfano bohong dan nutupi kesalahannya" tanya Bu Laras dengan memegang kedua tangan Asmara yang duduk disampingnya.
Alfano langsung menajamkan pandangannya ke spion tengah mobil , melihat keadaan di bangku penumpang.
"Bisa bisanya mami tanya begitu sama Asmara. Nanti dia benci lagi sama Alfano gimana, mi?" protes Alfano tidak terima maminya itu mengulik luka lama.
Asmara tersenyum smirk mendengar protes dari sang suami dan ia menatap wajah Alfano dari spion tengah mobil juga yang memberikan ekspresi kesal bercampur takut.
"Tenang, Mas. Kamu nggak usah takut gitu, aku gak bakal cerita yang aneh aneh tapi kenyataan hihi. Kamu juga belum tau kan perasaan ku bermalam dengan CEO kayak kamu di mobil mewahmu itu? Ini kesempatanku cerita biar mami juga sekalian tau anaknya sejahat apa sama wanita" sahut Asmara dengan senyuman menyeringai seperti mengibarkan bendera perang.
Bu Laras kembali merasa tidak enak dengan pertanyaannya yang mengingatkan perasaan sakit dari mantunya itu. Namun, jika semua tidak terbuka dan Asmara tidak diberikan kesempatan untuk bercerita dan meluapkan cerita malam itu, ia pun akan memendamnya hingga entah kapan akan menjadi bom atom bagi kehidupan pernikahan Asmara dan Alfano.
"Maafin mami ya, Asmara. Mami gak bisa didik Alfano dengan baik sampai melecehkan kamu dan membuatmu hamil diluar perencanaan. Mami minta maaf banget sama kamu. Mami harap kamu gak benci mami ya" ucap Bu Laras dengan mata berkaca kaca.
"Mami, semuanya udah terjadi. Asmara juga gak benci mami sama sekali, sama Mas Alfano pun aku udah gak ada rasa benci sama dia tapi rada kesel iya hihi" sahut Asmara dengan terkikih terkesan bercanda agar suasana tidak tegang dan canggung karena perjalanannya masih lama, sekitar satu jam lagi setelah 30menitan Alfano menyetir mobilnya.
__ADS_1
"Yaudah, biar mami gak sedih. Asmara akan cerita perasaanku ketika malam itu terjadi. Mas kamu dengerin baik baik ya" lanjut Asmara memberitaukan pada mertua dan suaminya bahwa ia akan bercerita tentang malam itu.
Alfano jadi panik dan mencoba untuk menahan istrinya itu untuk bercerita didepan maminya atau setidaknya Asmara menceritakan perasaan malam itu dengan dirinya dulu.
"Eh, sayaang? Kamu gak kasian suamimu ini nanti bisa ditinju sama mami dijalan hah? Aku tau aku salah, aku tau aku baji**an, aku tau aku lelaki bi*dab yang nyakitin wanita dengan memperkaosnya. Please, sayang jangan cerita ya" mohon Alfano dengan ekspresi mengiba di kaca spion tengah mobil dan membuat Asmara menahan tawa.
"Setakut itu suamiku kalau aku bakal jelek jelekin dia didepan mami" batin Asmara.
"Kamu yaaa, Alfano. Ngelarang Asmara untuk cerita pasti ada apa apanya yakan? Kamu nyakitin dia apa lagi selain memperkaos dia , hah?" sela Bu Laras dengan emosi.
"Mami nih, gak percaya banget sama anak sendiri. Alfano udah ngaku salah mami. Alfano udah minta maaf dan tanggung jawab juga kan sama Asmara, udah deh jangan diungkit ungkit" sahut Alfano ikut kesal dimarahin maminya mulu.
Asmara merasa bersalah jadinya karena suaminya serba salah dimata mertuanya.
Bu Laras pun siap siap mendengar cerita sang menantu.
"Biar mami juga tau ceritanya, aku kenal Mas Alfano tuh sejak beberapa tahun lalu ketika aku wawancara pekerjaan di perusahaan Batu Bara. Anak mami ini memang udah terkenal angkuh sejak aku masuk ke perusahaan dan pertama kali melihatnya" cerita pembuka dari Asmara.
Alfano kaget dengan cerita awal Asmara itu, karena ia tidak pernah mengingat istrinya sebelum malam panas di mobil mewahnya.
"Masa iya sih? Aku kok nggak ingat ya?" sela Alfano.
__ADS_1
"Udah deh, dengerin aja mas. Kamu mana mau kenal aku, cewek biasa yang gak menarik dimata kamu yakan ? Apalagi karyawan biasa? Nggak heran kalau kamu nggak ingat aku, jadi diem aja dulu dengerin ceritaku" omel Asmara membuat Bu Laras tersenyum tipis medengar omelan wanita itu pada anaknya.
"Hehhee, iya maaf maaf" sahut Alfano merasa bersalah memotong cerita sang istri sambil menggaruk kepalanya yg tidak gatal.
"Aduh, bisa bisa aku nanti suami suami takut istri" batin Alfano serba salah.
"Terus Asmara?" minta Bu Laras yang sudah tidak sabar mendengar cerita Asmara terkait perasaanya pada Alfano.
"Meskipun Mas Alfano terlihat angkuh, entah kenapa ia terlihat tampan dan menarik di mataku waktu itu. Sayangnya, aku udah punya pacar jadi gak jadi suka deh hehe" jelas Asmara dengan tertawa kecil.
Alfano menarik sudut bibirnya keatas seolah olah, wajar aja kalau wanita menyukai dia.
"emang aku tampan sejak lahir" batin Alfano menyombongkan diri.
"Hahaha, emang anak mami tuh angkuhnya kebangetan. Untung ada kamu, dia agak lunak sedikit" sahut Bu Laras.
Asmara hanya tertawa kecil mendengar perkataan mertuanya itu.
"Terus Asmara, lanjutin" minta Bu Laras
"Yaudah mami, setelah wawancara itu, Alhamdulillah aku keterima dan jarang sekali ketemu Mas Alfano. Mungkin kalau lagi presentasi laporan keuangan tiap semester atau agenda penting tentang finance. Pasti Mas Alfano juga gak nyadar kalau aku ada di ruang meeting juga waktu laporan keuangan perusahaan , iya kan?" tanya Asmara dengan menyeringaikan senyumannya sambil menatap spion tengah mobil yang menampakkan wajah Alfano yang melihat arahnya juga.
__ADS_1
Alfano hanya terkekeh karena merasa yang diomongin istrinya benar lalu ia lanjut mendengarkankan Asmara bercerita tentangnya.
Lanjuuuut obrolan dimobil.......