BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Bukan mata duitan


__ADS_3

Malam sudah terlewat. Matahari sudah muncul menampakkan cahayanya. Alfano seperti biasa melakukan jogging pukul 6 pagi mengitari perumahan tempat ia tinggal. Ketika ia kembali sudah melihat pintu rumah Asmara terbuka meskipun belum terlihat wanita hamil yang tinggal disitu.


"Dia udah bangun pastinya. Apa dia buka pintu gitu biar aku masuk ya?" tanya Alfano ke-GR an.


"Coba mampir ah. Pagi pagi biasanya mood ibu hamil minta dimanja dan digoda" lirih pria yang semakin lama seperti terjebak pada perasaanya sendiri. Pria itu pun berjalan kearah rumah Asmara. Sesampainya di pintu, Alfano bisa melihat Asmara sedang senam hamil di ruang tamu dengan hp didepanya melihat youtube. Asmara yang menyadari kedatangan Alfano dirumahnya karena adanya pria itu dipintu membuat cahaya dari luar tidak bisa masuk.


"Ngapaian berdiri di depan pintu gitu? Ngehalangin cahaya masuk, Alfano" tegur Asmara dengan nada tidak ketus tapi juga tidak terlalu lembut. Udah nada biasa aja.


"Mau lihat kamu aja lagi apa, kok pintu rumahnya udah dibuka pagi - pagi" jawab Alfano jujur.


"Setiap pagi emang aku buka begini biar udara dan cahayanya bisa masuk ke rumah. Aku juga ngelakuin senam hamil dari youtube sejak sebulan lalu bikin badan ku gak capek capek" jelas Asmara sambil tetap melanjutkan senamnya.


"Oh gitu ya, oke. Aku masuk ya biar gak halangin cahaya sama udaranya" minta Alfano.


"Terserah" balas singkat Asmara.


Alfano langsung melepas sepatunya dan masuk kerumah istrinya itu lalu duduk di kursi tamu dibelakang Asmara yangs sedang senam.


"Kenapa kamu gak ikut senam hamil atau yoga hamil di studio gitu kan lebih terarah? tanya Alfano mengingat beberapa karyawannya yang hamil sering bikin status senam hamil bareng suaminya di sebuah studio dan ada instrukturnya.


"Gak ada waktu. Mereka buka kelasnya setiap sore sama malam doang. Aku kan kalau siang lagi repot ngurusin pelanggan di Enak Kabeh dan kalau malam gak ada kendaraan yang bikin nyaman ke studio senamnya. Lagian ada youtube gratis ngapain bayar" jawab Asmara.


Padahal batinnya berkata lain.


"Ya karena aku gak mungkin ngajak kamu senam hamil bareng buat nemenin aku dan membantu aku buat ngikutin gerakan senam yang harus dibantu sama suami" batin Asmara dengan gengsinya muncul.


"Hmmm. Kamu itu ngandung anak CEO ya masak ngasih alasannya karena milih gratisan" iucap Alfano kembali rada angkuh.


"Tapi kan aku yang ngelakuin. Mereka belum lahir Alfano jadi gak butuh uang seorang CEO" sahut Asmara kesal.


"Terus mereka butuhnya apa?" tanya Alfano dengan serius.

__ADS_1


Asmara menghentikan senamnya karena terganggu dengan obrolan bersama Alfano pagi pagi yang mulai keributan dan perdebatan. Ia menoleh ke arah Alfano yang duduk di belakangnya.


"Kamu tanya mereka butuh apa? Yang jelas seperti yang aku bilang barusan , mereka tidak butuh uangmu" jawab Asmara dengan serius juga.


"Hahahahahhahaa. Iya bener juga, mereka belum mata duitan kayak seseorang" sindir Alfano dengan ketawa keras.


Asmara merasa omongan Alfano itu ditujukan pada dirinya padahal ia tidak pernah meminta uang sama sekali pria itu. Bisa bisanya dibilang mata duitan. Dengan emosi yang muncul, Asmara berdiri dan berjalan menghampiri Alfano yang sedang duduk.


Tanpa aba - aba, satu tamparan keras mengenai pipi Alfano.


Plaaaak...


"Kamuuuuuu!" terika Alfano sambil memegang pipinya yang terasa panas setelah ditampar oleh Asmara.


"Mau lagi?" tanya berani Asmara.


Alfano langsung berdiri dan meraih tangan Asmara yang telah menamparkanya dengan lumayan kasar.


"Aaaakh!" rintih Asmara karena tangannya digenggam oleh Alfano dengan kuat.


"Salahmu? hahahhahahaa. Salahmu itu banyak sampai aku tidak bisa menyebutkan satu satu tapi yang paling baru kamu telah menyebutku mata duitan, bukan? Kamu bilang tadi kalau seseorang itu aku kan?" balasan tanya sengit dari Asmara.


"Hahaha, kamu tersindir kalau kamu mata duitan?" giliran Alfano yang tertawa dan memberikan pertanyaan serangan.


"Aku bukan tersindir karena aku tidak merasa pernah meminta uang kepadamu dan lagi lagi aku ingatkan soal 500 juta itu kan kamu sendiri yang ngasih. AKU GAK PERNAH MINTA!" seru Asmara dengan mata berkaca kaca.


"Ya terus kalau kamu gak ngerasa, ngapain nampar aku , ASMARA?" seru balasan Alfano yang membuat Asmara akhirnya menangis didepannya.


"Karena aku tidak suka kamu menatapku seperti aku seseorang itu! Seolah olah aku sudah meminta hartamu dan membuatku jadi mata duitan! AKU JUGA PUNYA HARGA DIRI!" teriak Asmara sambil menangis.


Alfano pun melepas genggaman tangannya dari tangan Asmara karena ia rasa ia sudah keterlaluan lagi kali ini mencari masalah.

__ADS_1


"Aduh, bodoh banget kamu Alfano! Dasar suami gak punya otak!" batin Alfano menghina dirinya sendiri karena ketika melihat tangisan Asmara didepannya dan mendengar teriakan marah wanita ini untuk pertama kalinya membuat ia benar benar merasa bersalah.


Beberapa saat Alfano tidak berbicara, ia hanya melihat Asmara yang menangkupkan tangannya menutupi wajah dan mendengar isakan tangis dari wanita itu.


Dengan refleks, Alfano memajukan langkah kakinya mendekat dengan tubuh Asmara dan memeluknya. Wanita hamil yang sedang menangis itu berusaha melepaskan pelukan sang suami tapi pelukan Alfano cukup erat.


"Lepasin aku!" seru Asmara sambil tetap menangis.


"Maafin aku. Aku lagi lagi salah" sahut Alfano sadar jika ia telah menyakiti wanita yang ia peluk lagi dan lagi.


"Lepasin aku, Alfani!" seru Asmara lagi dengan tangannya berusaha mendorong tubuh Alfano dari tubuhnya.


"Biarin aku nenangin kamu. Aku salah. Kamu benar, kamu wanita pertama yang tidak mengharapkan kekayaanku atau harta yang kumiliki. Aku memang bodoh, Asmara. Tidak bisa membedakan kata kata menggoda dan menyindir. Entah kenapa aku suka sekali membuatmu bertengkar denganku" jelas Alfano dengan nada selembut mungkin.


Asmara pun akhirnya tak memberontak lagi dan menerima pelukan Alfano dengan erat.


"Kalau kamu bukan suamiku, aku udah laporin kamu atas pencemaran nama baik" lirih Asmara dengan sesengukan.


Kata kata Asmara membuat Alfano heran kok bisa sampai bahas pencemaran nama baik.


"Kok pencemaran nama baik? Sebaiknya kalau aku bukan suamimu, bunuh aku waktu aku tidur aja atau racuni aku sekalian biar tidak mencari gara gara sama kamu. Tapi syukurlah aku suamimu jadi cukup satu kali tamparan keras yang berhasil buat aku pusing tujuh keliling tadi dan bikin aku naik darah sesaat. Maaf ya Asmara, aku cuma syok lagi lagi kamu menjadi wanita yang bisa nampar aku. Tapi sejak hari ini , kalau kamu nampar aku akan aku terima karena pasti aku yang salah" ucap Alfano dengan tulus.


Asmara makin mengeratkan pelukannya pada Alfano dan tiba tiba perutnya terasa kram.


"Aduh!" rintih Asmara sambil melepaskan pelukannya dan memegang perutnya.


Alfano langsung panik melihat ekspresi wajah wanita didepannya menahan sakit.


"Eh kenapa? Perunya sakit? Kram lagi?" tanya Alfano ikut memegang perut istrinya.


Asmara hanya menganggukan kepalanya saja.

__ADS_1


"Aku gendong ke kamar ya" izin Alfano dan diiyakan oleh Asmara.


Alfano pun langsung menggendong istrinya menuju kamar untuk dibaringkan.


__ADS_2