
Jam 5 sore, pekerjaan renovasi connection door rumah Alfano sudah selesai. Jadi sekarang kalau dia mau mengunjungi istrinya bisa langsung lewat dalam rumah tanpa perlu keluar rumah dulu.
Alfano juga sengaja tidak memberikan kunci untuk pintu itu agar selalu bisa dibuka kapan aja. Kuncinya ia simpan di lemari kamarnya.
Setelah benerin atap bocor dan mengecat dinding sekitar pintu penghubung, tukang yang disewa Alfano pulang dengan membawa uang hasil kerja mereka yang dilebihin sama pria yang menyewanya.
Nah giliran Alfano yang bekerja ekstra untuk bersih bersih dan ngerapiin sisa renovasi. Nyapu, ngepel, dan ngelap debu debu disekitar. Tadi udah dibersihin sama tukangnya sih tapi bagi pria itu masih kurang bersih dan menduga jika ia tidak membersihkannya lagi pasti Asmara marah.
Habis jadi kuli bangunan, Alfano bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumahnya sendiri. Sebenarnya, sang CEO itu ahli dalam menata rumah dan membersihkan rumah. Sudah terbiasa karena Bu Laras tidak memanjakan anaknya untuk mengabaikan urusan rumah tangga. Meskipun di rumah mereka ada beberapa art , namun ada hari dimana Alfano dan Alfani disuruh membersihkan rumah karena mungkin bertepatan ketika art nya sedang mudik atau memang sebagai pembelajaran hidup.
"Kalau aku jadi bapak rumah tangga , bersihin rumah setiap hari , mending aku kerja aja setiap hari kali ya" keluh Alfano ketika hampir selesai mengepel dapur rumahnya yang ditinggali Asmara.
"Pekerjaan art atau ibu rumah tangga memang berat ternyata" gumam Alfano sambil tetap menyelesaikan bersih bersih.
Hingga tak terasa hari semakin malam, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Alfano baru selesai membersihkan seluruh rumahnya lebih tepatnya 2 rumah yang ia miliki. Ia berfikir sekalian lah bersihin rumahnya ketika sudah membersihkan rumahnya yang ditinggali Asmara.
Alfano pun yang sudah lelah membersihkan rumah langsung mandi air hangat di kamarnya. Lalu keluar kamar lagi dengan pakaian bersih dan wangi seperti kebiasaanya. Ia merasa lapar karena belum makan malam dan berniat menunggu Asmara pulang.
Pria itu pun masuk ke rumah Asmara melalui pintu penghubung yang sudah bisa dengan mudah dilalui.
Ia mendudukan tubuhnya di kursi sofa ruang tamu dan melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul set 9 malam.
"Kemana wanita hamil itu? Kok belum pulang pulang? Apa emang biasanya pulang malem ya?" tanya Alfano mulai khawatir.
"Jangan khawatir, Alfano. Dia pasti pulang habis ini. Kan emang restaurannya tutup jam 9an. Tenang, gak usah panik. Tapi aku lapeeer" ucap Alfano pada dirinya sendiri dan sambil memegang perutnya yang terasa perlu segera diisi.
"Apa aku telepon Enak Kabeh aja ya atau telepon dia langsung ya sekalian bawa makanan daripada nanti keluar lagi?" tanya Alfano kebingungan sendiri.
"Aku telepon Asmara aja deh. Biar langsung dimasakin disana itupun kalau dia mau. Dicoba aja dulu" ucap Alfano sambil mencari nama Macan Tutul di kontak panggilan.
Tapi sebelum ditekan tombol memanggilnya, pintu rumah sudah terbuka dengan menampakan Asmara dengan membawa kresek.
"Ah, syukurlah kamu udah dateng. Aku laper banget, Asmara. Belum makan malam" seru Alfano kegirangan padahal ekspresi Asmara masih datar dan cuek.
Asmara berjalan menuju kursi sofa dimana Alfano duduk dan memberikan kresek berisi tempat makan yang ada isinya.
"Aku udah mengira kalau kamu belum makan. Ini aku bawain oseng oseng daging sama udah ada nasinya" kata Asmara dengan suara lembutnya.
Alfano menerima kresek itu tapi dengan ekspresi takut atau seperti ragu ragu dengan makanan yang ia terima karena terakhir kali makan oseng oseng enak kabeh itu, dia kena diare parah dan masuk rumah sakit.
Asmara yang melihat ekspresi sang suami menahan tawanya. Ia tau jika Alfano sepertinya takut makan oseng oseng daging lagi.
"Ini oseng osengnya kamu yang masak? tapi gak pake sambel sama garam kan?" tanya Alfano dengan ragu ragu sambil menatap Asmara dengan tatapan memelas.
"Waktunya pas buat ngerjain dia nih" batin Asmara yang ingin menggoda sang suami.
"Kalau gak mau , gak usah dimakan. Sini kreseknya, aku buang aja" jawab Asmara pura pura kesal.
__ADS_1
"Eh jangaaan. Aku laper banget, Asmara. Aku udah capek juga bersihin 2 rumah tapi kalau kamu ngasih makanan kayak waktu itu mending aku keluar aja beli makan daripada aku harus masuk rumah sakit lagi" sahut Alfano dengan nada benar benar pasrah.
Asmara sudah tidak tahan ingin ketawa melihat ekspresi Alfano yang terlihat lucu kalau pasrah gitu.
"Yaudah, cobain dulu. Atau kamu mau aku makan dulu buat uji coba kalau makanannya aman?" ujar Asmara dengan lembut.
"Minggir aku mau duduk disebelahmu" lanjut Asmara membuat Alfano refleks bergeser duduknya.
"Kenapa kamu duduk disini?" tanya heran Alfano yang belum paham kalau Asmara sedang menggodanya.
"Kamu gak buruan jawab tawaranku. Oseng oseng dan nasinya keburu dingin kalau kamu gak buru buru makan. Sini kreseknya , aku makan dulu aja biar bisa kamu lihat apakah makanan ini layak makan atau nggak" jelas Asmara sambil menarik kresek yang dibawa Alfano untuk ia buka.
Alfano hanya terpaku melihat sikap Asmara yang serba spontan baginya.
"Nih cewek gapapa kan , tiba tiba baik gini sama aku? Apa aku mau dikerjain lagi ya?" batin Alfano mengerutkan dahinya penuh curiga melihat Asmara dengan lembutnya mengambil tempat makan dari dalam kresek dan membukanya.
Bau semerbak oseng oseng daging khas enak kabeh membuat Alfano tergiur dan aroma yang ia hirup ini berbeda dengan oseng oseng waktu itu.
"Baunya enak banget. Pasti beda sama yang kapan hari itu. Sayang banget kalau gak aku makan" batin Alfano.
"Sini tempat makannya, aku mau makan. Aku percaya kali ini oseng osengnya aman kan? Kamu gak bakal ngeracunin aku lagi?" tanya Alfano memastikan sambil mengambil tempat makan di meja tamu yang sudah buka itu untuk ia pegang.
Asmara hanya tersenyum manis melihat Alfano mengambil makanan yang ia buat sebelum pulang tadi.
"Makan dulu, rasain rasanya. Baru bisa nilai apakah aku racunin atau nggak" jawab Asmara sok jutek tapi dalam hatinya senang setidaknya Alfano mau makan masakannya tanpa ia harus bilang dulu kalau itu masakannya.
Setelah mengunyah dan menelan suapan itu, Alfano menatap wajah Asmara dengan dalam tanpa senyum dan datar membuat wanita itu mengerutkan dahi, bertanya pada diri sendiri apakah ada yang salah dengan masakannya?
"Apa nggak enak oseng osengnya?" tanya Asmara dengan ragu.
Alfano masih diam tak menjawab dan meresapi rasa oseng oseng di mulutnya.
"Hei jawab, Alfano. Makanannya gak enak?" tanya Asmara lagi dengan panik karena takut makanan yang ia masak itu tidak cocok dilidah Alfano, padahal tadi dia masaknya dengan sedikit hati lah sebagai tanda terima kasih tadi pagi sudah diantar.
"Makananmuu ini......" jawab Alfano yang sengaja ia potong agar menbuat Asmara panik dan penasaran.
"Kenapa makananku ? Gak enak ya?" tanya Asmara lagi dengan wajah sendu.
"Makananmu ini... uenaaaaak!!!" seru Alfano memuji masakan Asmara yang membuat wanita hamil itu menghembuskan nafas kasar karena kesal udah dikerjain tapi juga menyandarkan tubuhnya di sofa karena lega.
"Kenapa sih peduli banget kalau makanan ini enak atau nggak? Selama kamu yakin masaknya gak kamu tambahin sambel atau garam ya pasti enak lah hahaha" goda Alfano sambil tertawa.
"Ya kan ini masakan pertamaku buat kamu yang emang bener bener aku masak pake hati" sahut Asmara yang tidak sadar keceplosan membuat wanita itu jadi kikuk.
Tapi beda sama Alfano, yang tersenyum lebar mendengar pengakuan istrinya itu.
"Pake hati? Jadi kamu ngakuin nih udah ada hati sama aku?" tanya Alfano menggoda Asmara.
__ADS_1
Asmara mencoba menegakkan duduknya dan berusaha mengelak dari kenyataan.
"Ih masak kok pake hati, masak tuh pake tangan. Lagian ya, aku masakain pelanggan ya rasanya kayak gini, gak usah keGRan. Kan aku udah bilang, gak akan ngasih rasa ke kamu dulu sebelum kamu ngakuin punya rasa sama aku" elak Asmara dengan wajah serius.
Alfano hanya tersenyum mendengar alasan Asmara yang menurutnya begitu terlihat salah tingkah istrinya.
"Iya iya. Aku gak keGR an. Tapi masakanmu emang enak ya mangkanya restauran Enak Kabeh udah terkenal" puji Alfano dengan tulus.
"Hmmm" deheman Asmara yang masih kesal dikerjain suaminya.
Melihat ekspresi sang istri, Alfano memutuskan untuk tidak melanjutkan godaanya karena ia harus segera habisin makanan yang ada ditangannya sebelum dingin dan makin kelaparan kalau tidak buru buru makan.
Asmara merubah wajah kesalnya menjadi senang ketika melihat Alfano melanjutkan memakan makanan yang ia bawakan dengan lahap.
"Syukurlah kalau kamu suka" batin Asmara dengan senyuman manis merekah di bibirnya.
Disela sela makannya, Alfano menatap Asmara yang masih setia menatapnya makan dengan lahap.
"Kamu mau makan ini juga? Natap aku gitu banget, sini aku suapin" tawar Alfano dengan lembut.
"Nggak. Aku udah makan tadi" jawab Asmara.
"Sini aku suapin, pasti beda rasanya kalau makan sendiri kan . Kayak kemarin makan soto juga aku suapin kamu mau" bujuk Alfano.
"Nggak, Alfano. Makan ajaaa" tolak Asmara tapi dalam hatinya juga tergoda makan disuapin Alfano lagi.
Alfano tak memperdulikan penolakan dari Asmara, tiba tiba ia menyodorkan sendok yang sudah terisi suapan oseng oseng dan nasi didepan mulut istrinya.
"Ini makan, udah aku sendokin loh buat kamu. Sebagai tanda makasih udah dibawain makan malam" ujar Alfano dengan senyum tampan dan manis yang membuat Asmara menerima suapan itu.
"Gitu dong, pinter ibunya anak anak daddy" puji Alfano sambil mengelus perut buncit sang istri.
Menerima sentuhan mendadak di perutnya , membuat si twins merespon menendang nendang tangan si daddy.
"Yakaan mereka seneng banget aku sentuh begini. Kamu pasti capek ya bawa mereka kemana mana apalagi kalau lagi aktif gini. Apa aku gak asal sentuh perutmu ya sebelum izin sama kamu?" tanya Alfano merasa bersalah dan mencoba merasakan apa yang dirasakan ibu hamil.
Asmara mencerna omongan suaminya itu. Wanita itu merasa Alfano semakin kesini memang semakin baik , bukan lelaki angkuh yang ia kenal sejak pertama bertemu meskipun ketampanan pria ini tidak diragukan hingga membuat ia tergoda sesaat waktu itu ketika interview pekerjaan dan tapi bisa mengabaikan perasaanya itu karena punya pacar.
Namun saat ini berbeda. Lelaki didepannya ini sudah menjadi suaminya dan dia tidak memiliki pacar. Perasaan kagum dan suka melihat wajah sang suami memunculkan benih benih rasa yang dibilang Bunga tadi pagi benar benar ada. Tapi Asmara berusaha menahan perasaanya agar tidak terlalu berharap dan tersakiti lagi.
"Nggak, aku nggak capek bawa mereka. Mereka aktif malah aku seneng karena tau mereka baik baik saja. Kalau mereka diem , malah buat aku khawatir. Kamu bisa nyentuh perutku selama kamu ingin" jawab Asmara dengan wajah dan suaranya yang terlihat lembut bagi Alfano saat ini.
"Aduh ini udah bahaya banget. Dia cantik banget kalau lagi lembut gini" batin Alfano yang jadi bengong menatap Asmara.
Buru buru ia alihkan pandangannya dengan melanjutkan makannya lagi hingga habis tak tersisa satu butir nasi pun di tempat makan yang ia bawa di tangannya sekarang.
"Alhamdulillah. Enak banget" kata Alfano puas memakan makan malamnya.
__ADS_1
Asmara tersenyum lagi melihat ekspresi sang suami yang benar benar menikmati makanan yg ia bawa.