BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Basah keringat


__ADS_3

Dengan wajah yang cemberut, Alfano menghentikan mobil yang ia kendarai di restauran kecil sebelum masuk desa dimana rumah orang tua Asmara berada. Restauran ini Asmara pilih karena beda desa sehingga mengurangi kemungkinan orang lain mengenalnya.


"Kamu yakin disini ndak ada yang kenal kamu, Asmara?" tanya Bu Laras memastikan.


"InshaAllah nggak ada mam, tapi kalau memang akhirnya dikenal ya mau gimana lagi" jawab enteng Asmara.


"Kamu kan udah ada suami, ngapain bingung menyembunyikan identitas" celetuk Alfano dengan mudahnya.


"Iya sih, tapi orang orang pasti akan cari tau kapan aku nikah , hamilnya kapan, dan masih banyak hal nantinya yang diomongin. Pasti semua itu ngaruh ke ayah sama ibu di desa" sahut Asmara.


"Hmmm" deheman Alfano menandakan ia tidak ingin berdebat dengan wajah yg masih cemberut mengingat mami dan istrinya merahasikan sesuatu.


"Kamu jangan cemberut terus gitu dong, Alfano. Gak enak dilihat istrimu tau" protes Bu Laras.


"Biarin, kalian yg bikin aku kesel pake main rahasiaan segala sama aku" ujar Alfano mode merajuk.


Asmara tertawa kecil diikuti oleh tawa dari mertuanya juga.


"Hahaa, kamu tuh udah jadi calon bapak. Masih aja merajuk karena hal kecil yang memang rahasia antar wanita aja, kamu gak perlu tau. Habis ini kamu jemput mertuamu, jangan sampek cemberut didepan mereka" ingat Bu Laras.


"Iya" jawab singkat Alfano.


"Yaudah, mami sama Asmara turun dulu ya. Mami tunggu disini. Udah tau rumahnya kan?" tanya Bu Laras memastikan bahwa putranya itu tidak nyasar ketika menjemput Pak Wawang dan Bu Asih.


"Sudah" jawab singkat Alfano lagi yang menandakan ia benar benar kesal.


Bu Laras dan Asmara cuma bisa tertawa kecil saja lalu mereka keluar mobil dan masuk ke restauran. Sedangkan Alfano melajukan mobilnya mengikuti arah google map menuju rumah mertuanya.


Hanya 10 menit Alfano mengendarai mobilnya hingga sampai di jalan kecil menuju rumah orang tua Asmara. Mobilnya ia parkirkan diujung jalan sebelum ia berjalan untuk menjemput mertuanya itu.


Kedatangannya saat siang bolong, membuat Alfano kepanasan berjalan pelan lalu ia memilih untuk berlari hingga sampai di rumah yang ia tuju dan sudah melihat Pak Wawang serta Bu Asih didepan rumah.


"Loh nak Alfano kenapa lari lari?" tanya Bu Asih heran.


"Maaf, bu. Panas banget kalau jalan biasa hihi, jadi saya lari" jawab Alfano dengan terkikih malu. Lalu sebagai menantu yang baik, ia menyalami Bu Asih dan Pak Wawang bergantian.


Pak Wawang melihat menantunya itu masih dengan tatapan cuek dan dingin. Ia juga sebenarnya merasa bersalah karena telah membuat menantunya yg tampan itu babak belur. Namun, itu memang pelajaran yang harus Alfano terima dari seorang ayah yang putrinya disakiti.


Alfano yang melihat tatapan Pak Wawang jadi takut sendiri.


"Aduh, Ayah masih kelihatan marah dan kayaknya belum menerima aku jadi mantunya nih" batin Alfano.

__ADS_1


Sampai Bu Asih memukul tangan suaminya dengan pelan agar memberikan ekspresi yang lebih baik.


"Ayah, jangan gitu mukanya. Nanti Alfano jadi takut sama ayah" ingat Bu Asih.


Pak Wawang masih berusaha cuek tapi ya mau gimana lagi, kehidupan anaknya sudah ditangan pria didepannya ini. Marah pun sudah ia lampiaskan dengan memukulnya. Jadi, pelan pelan ia juga harus menerima kehadiran Alfano di keluarga mereka.


"Lain kali gak usah lari lari. Bawa payung aja buat jalan kesini" celetuk Pak Wawang yang membuat suasana mencair dan tidak canggung lagi.


"Siap, Ayah" sahut Alfano dengan senyuman merekah di bibirnya karena mendapatkan saran sekaligus seperti candaan baginya.


"Yaudah, ayo ke mobilmu. Gak enak buat Bu Laras dan Asmara nunggu" ucap Pak Wawang sambil berjalan kaki duluan dengan mengandeng Bu Asih meninggalkan Alfano di belakangnya.


Pak Wawang yang sok cuek ternyata hanya ngerjai Alfano. Ia menoleh ke istrinya dan tersenyum tipis menandakan bahwa ia hanya bercanda bersikap dingin dengan menantunya itu. Entah ngerjainya sampai kapan. Bu Asih pun membalas senyuman pada suaminya. Ia tau jika ayah dari Asmara itu tidak bisa lama lama marah atau kesal dengan orang lain selama orang lain itu sudah meminta maaf atau bersikap lebih baik dari sebelumnya.


Alfano dengan menahan panas dari terik matahari berjalan mengikuti langkah kaki mertuanya. Pak Wawang memang sengaja mengajak Bu Asih berjalan pelan agar menantunya itu kepanasan.


Hingga dengan keringat Alfano yang bercucuran dan kaosnya udah basah hingga melepaskan kemeja yang ia pakai di tengah jalan, akhirnya sampai juga di mobilnya. Pak Wawang dan Bu Asih duduk di bangku penumpang belakang dan Alfano selayaknya supir yang menjemput tuannya. Anggap saja mertua itu tuan yang harus dihormati 😁


Langsung saja Alfano nyalakan AC mobilnya dan mengarahkan ke tubuh serta wajahnya.


"Aaah , akhirnya dingin juga" lirih Alfano dan terdengar oleh mertua dibelakangnya.


Pak Wawang dan Bu Asih tertawa kecil bersama. Alfano pun bisa mendengar tawa mertuanya dan melihat ekspresi mereka menertawakan dirinya yang lagi kepanasan dari spion tengah mobil.


"Kapan kamu balik ke Jakarta?" tanya Pak Wawang ditengah perjalanan.


"InshaAllah besok pagi sama mami juga, Yah" jawab Alfano.


"Terus kapan kamu balik kesini lagi buat nikah di KUA?" tanya Pak Wawang lagi dengan nada tegas.


"Kamis malam. Sepulang kerja saya langsung berangkat ke Bandung. Ayah tidak perlu khawatir, saya akan siap menikahi putri ayah dengan sah didepan ayah, ibu, penghulu dan negara" jawab Alfano dengan yakin membuat Pak Wawang dan Bu Asih pun tersenyum lega.


"Memang benar kata Bu Laras, Yah. Mereka udah membaik hubungannya" bisik Bu Asih pada suaminya.


"Alhamdulillah"sahut Pak Wawang dengan suara pelan.


Tidak ada percakapan lagi setelah itu karena tidak lama kemudian, mereka sudah sampai direstaurant tempat Bu Laras dan Asmara menunggu.


Bu Asih dan Pak Wawang keluar dari mobil terlebih dahulu dan berjalan masuk ke restauran baru Alfano mengikuti mereka.


"Ayah Ibu" panggil Asmara bahagia ketika melihat orang tuanya masuk restauran. Wanita hamil itu berdiri dari kursinya dan menunggu ibunya untuk mendekat.

__ADS_1


"Asmara, putri ibu yang cantik" sahut Bu Asih lalu memeluk putrinya itu dengan erat.


"Gimana kabarmu sayang?" tanya Bu Asih.


"Alhamdulillah baik, bu. Kabar ibu gimana sama ayah? Baik juga kan?" tanya balik Asmara lalu melepaskan pelukan ibunya dan berganti memeluk sang ayah. Giliran Bu Laras yang memberikan sambutan kepada Bu Asih dengan memeluk besannya itu.


"Alhamdulillah kami baik, Asmara" jawab Pak Wawang dalam pelukan putrinya. Lalu pelukan selamat datang itu terlepas dan Pak Wawang memberikan uluran tangannya untuk bersalaman dengan Bu Laras.


"Mari mari duduk, Pak Wawang dan Bu Asih. Ini tadi maaf kami pesan minum dulu, tapi makannya kita bersama sama kok" ujar Bu Laras mempersilahkan besannya untuk duduk.


"Gapapa, Bu Laras. Nunggu kami lama ya? Sebenarnya tidak jauh , tapi memang jalan ke rumah kami yang membuat Nak Alfano harus jalan sebentar untuk menjemput kami. Sampai tadi dia mandi keringat karena kepanasan" sahut Bu Asih menceritakan kondisi jalan rumahnya dan perjuangan Alfano.


"Hahaa, udah biasa Alfano keringetan kalau panas panas begini, Bu. Dia tuh gak bisa kena panas, tapi mainnya suka ke pantai ke gunung dan olahraga yg panas2" balas Bu Laras dengan enteng.


Alfano yang diomongin para ibu ibu pun hanya diam dan tanpa izin meminum jus alpukat milik Asmara di meja makan depannya. Pemilik jus alpukat itu tidak mempermasalahkan jusnya diminum suaminya, malah ia fokus dengan baju yang dipakai Alfano.


"Aah segarnya" batin Alfano dengan ekspresi wajah langsung segar. Asmara pun melihat tingkah sang suami dan tersenyum lalu melihat kemeja Alfano yang dipakai ternyata juga mulai basah kena kaos dalamnya dibagian lengan. Kemeja yang suaminya itu pakai jenis kemeja formal polos warna biru muda sehingga terlihat jika basah karena berubah warna.


Asmara pun mendekatkan wajahnya ke telinga sang suami.


"Mas, baju mu basah. Gapapa ? Nanti masuk angin?" tanya Asmara mulai perhatian dengan berbisik sedangkan para orang tua asyik ngobrol.


"Gapapa. Ini udah lumayan kering kok, bentar lagi bakal kering juga" sahut Alfano dengan pelan.


"Hmm, meskipun kamu tetep wangi, tapi aku gak mau kemeja yang kamu pakai basah, Mas. Lepas aja kaosnya, pakai kemeja aja" bisik Asmara lagi.


"Kamu mau ngelepasin?" tanya Alfano menggoda sang istri dengan menatap wajah Asmara.


"Yaudah, kalau gak mau" ucap Asmara menjauhkan wajahnya dan duduk normal lagi tapi dengan muka datar.


Alfano pun senang dengan perhatian kecil dari Asmara. Ia tidak ingin menyia-nyiakan perhatian itu mangkanya ia pun berdiri dan berniat menuju kamar mandi untuk melakukan perintah istrinya.


Sebelum itu, ia menundukan kepalanya pas ditelinga sang istri dan berbisik.


"Kamu harus kasih aku hadiah kalau aku nurutin perintahmu ya" bisik Alfano lalu berjalan menjauh dari meja makan menuju kamar mandi.


"Ya kan aku merintahin gitu buat kebaikannya, kok malah minta hadiah" batin Asmara heran.


Pak Wawang , Bu Asih dan Bu Laras meskipun daritadi mengobrol sendiri antar orang tua tapi mereka curi curi pandang melihat tingkah anak anak mereka. Mereka pun bahagia melihat hubungan Asmara dan Alfano membaik.


Kemudian, pelayan restauran menghampiri meja makan keluarga Asmara Alfano dan memberikan menu makanan yg akan dipesan.

__ADS_1


Setelah beberapa saat memilih pesanan masing masing beserta minumnya, pelayan itu pun menuju kasir untuk diteruskan ke dapur. Alfano yang belum kembali dari kamar mandi, membuat Asmara yang memesankan makanan serta minuman suaminya.


__ADS_2