
Setelah masuk ke kamar Asmara, Alfano meletakkan tubuh istrinya yg ia gendong diatas ranjang dengan pelan dan hati hati.
Asmara lalu memposisikan dirinya untuk duduk dan bersandar dikepala ranjang dan mengelus elus perutnya agar rileks lagi.
Alfano yang mulai khawatir langsung berjongkok disamping ranjang agar dia bisa melihat wajah Asmara.
"Kamu gapapa? Perlu aku anter ke rumah sakit?" tanya Alfano.
"Nggak perlu, cuma bentar aja kok kalau kram kayak gini. Ya kan ini doamu kemarin biar anak anakmu bikin perut mommynya kram" celetuk Asmara yanh bikin Alfano merasa bersalah.
"Maaf ya" kata singkat Alfano dengan tatapan wajah menyesal. Asmara yang melihatnya menjadi tersenyum tipis dan terlihat oleh suaminya.
"Kenapa kamu senyum? Kamu seneng ya kalau aku minta maaf terus?" lanjut Alfano dengan senyuman smirk.
"Iya , biar kamu tau kalau kamu salah" jawab Asmara dengan senyuman smirk juga.
"Hmmm, iya aku salah. Pagi pagi buat mommynya twins marah marah sampek perutnya kram. Maafkan daddy ya twins" ucap Alfano lalu mengelus perut Asmara dengan lembut.
Asmara makin nyaman dapat sentuhan dari suaminya itu.
"Memang dia yg nyakitin, dia juga yg bikin sembuh" batin Asmara.
"Sekarang udah enakan? Udah nggak kram lagi?" tanya Alfano.
"Iya udah enakan. Kamu elus elus, mereka seneng kayaknya" ucap Asmara memberi kode untuk digoda sang suami.
"Oh seneng ya? Bukan mommynya yg seneng perutnya dielus elus?" goda Alfano.
Asmara memutar matanya bertanda malas menanggapi godaan Alfano tapi hatinya seneng banget.
__ADS_1
"Ih, siapa yang seneng kamu elus elus kalau kamu juga yang bikin kram. Aneh emang, kalau aku gak ketemu kamu dan bertengkar sama kamu, mereka aman aman aja gak banyak tingkah begini" sewot Asmara menyembunyikan perasaan senangnya.
Alfano hanya menanggapinya dengan senyum lalu memancing menggoda istrinya lagi.
"Mungkin aku bikin kamu marah biar aku bisa ngelus ngelus perutmu kali ya sama bisa deket si twins" ujar Alfano.
"Hih, please Alfano . Jangan bikin aku marah marah, beneran. Bahaya juga kalau sering kram begini buat si twins. Kamu ya, meskipun kamu gak ada perasaan sama aku tapi setidaknya kamu ada perasaan sama bayi ini kan? Jadi jangan bikin mereka streess karena mommynya stress juga kalau berantem terus sama kamu" ucap Asmara meluapkan isi hatinya.
Alfano yang mendengar ucapan Asmara itu entah kenapa jadi seneng dan menganggap ucapan itu sebagai permintaan damai diantara mereka. Meskipun ya mungkin damainya sampai anak mereka lahir atau damai untuk waktu yang tak terbatas.
"Ini udah kode hijau nih, dia biarin aku deket sama anak anakku" batin Alfano kegirangan.
"Oke, tandanya kita berdamai untuk anak anak kita ya?" tanya Alfano dengan penuh harap.
"Aneh banget cowok ini , kok jadi baik gini dan minta damai segala" batin Asmara keheranan.
"Kenapa natap aku begitu? Emang gak boleh aku minta damai demi menjaga perasaan si twins juga biar gak berulah di perut mommynya?" tanya Alfano dengan mengangkat alisnya.
"Gapapa. Heran aja setelah kamu salah terus bersikap baik kayak gini sama aku dan si kembar. Takut kamu ada rencana lain yg akan nyakitin kita lagi" jawab Asmara penuh curiga.
Alfano pun tersenyum dengan tulus pada istrinya itu.
"Karena kesalahanku barusan yang bikin kamu kram lagi perutnya, aku sadar kalau aku buat kamu marah2 terus bisa bikin twins dan kamu kesakitan. Jujur Asmara, semakin kesini entah kenapa naluri ku sebagai seorang ayah muncul dan jadi mengkhawatirkan mereka kalau terjadi apa apa" sahut Alfano dengan heran juga menyadari dirinya berubah akan perasaannya terhadap bayinya atau sebenarnya ke Asmara juga tapi belum ia sadari.
"Terus kapan naluri mu sebagai seorang sumi muncul?" tanya Asmara membuat Alfano diam terpaku.
Disitulah Asmara tau jika Alfano melakukan semua ini hanya karena anak mereka bukan karenanya dari raut wajah pria yang ia pandang sekarang.
"Bercanda. Aku tau kamu disini hanya untuk mereka. Setidaknya, kalau kita berdamai mereka juga tidak sering sering buat kram kalau aku lagi marah" lanjut Asmara dengan nada bercanda agar mencairkan suasana antara mereka tapi sebenarnya hatinya terasa sakit.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu menganggapku hanya sebagai wanita yang mengandung anak anakmu, Alfano? Sampai kapan kamu menjadikan korban dari perbuatanmu? Kapan kamu akan memberikan perasaanmu padaku? Atau kita tidak akan pernah bersama sebagai pasangan tapi hanya orang tua saja bagi si twins?" batin Asmara galau yang ia sembunyikan dengan kikihan kecil didepan Alfano.
Alfano pun ikut memberikan senyuman terpaksa karena saat ini ia juga memikirkan pikirannya sendiri terkait perasaanya pada Asmara.
"Aku bukan pria apalagi suami yang baik untuk kamu, Asmara. Tapi aku janji akan jadi daddy yang baik untuk mereka" batin Alfano merasa dirinya tidak pantas untuk memberikan perasaanya pada sang istri dan lebih membatasi diri untuk tidak membuka hati.
Disela sela pikiran masing masing, perut Alfano berbunyi pertanda sudah minta diisi.
Krucuukkk....krucuuukk...
Asmara dan Alfano sontak tertawa bersama.
"Kamu laper ya?" tanya Asmara dengan kikihan.
"Hehe, iya. Habis jogging biasanya aku langsung sarapan soalnya" jawab Alfano malu.
"Yaudah, kita sarapan bareng ya. Aku bikinin sarapan" kata Asmara sambil mencoba turun dari ranjang dan membuat Alfano panik lagi.
"Eh eh, mau kemanaa??? Perutmu kan habis kram , jangan banyak tingkah deh" omel Alfano.
"Udah gapapa. Kramnya beneran udah ilang sejak kamu elus elus tadi. Jadi aman, aku masakin sarapan telur ceplok sama kecap ya. Mau?" tanya Asmara.
"Mau" jawab singkat Alfano dengan wajah yg masih khawatir ketika melihat Asmara mulai berusaha berdiri.
"Bisa jalannya?" tanya Alfano lagi.
"Bisa, tenang aja dong. Aku udah gapapa, jangan khawatir gitu. Selama kamu gak bikin aku marah, aku dan twins baik baik aja" jawab Asmara dengan senyuman yang menenangkan Alfano.
"Okedeh" sahut Alfano lalu membiarkan Asmara berjalan didepannya menuju dapur.
__ADS_1