
Keesokan harinya, lebih tepatnya sehabis subuh, Bu Laras sudah sibuk menelepon kenalannya yang di Bandung untuk menyiapkan baju akad Asmara dan Alfano serta seserahan dan keperluan lainnya. Sudah sejak tadi malam mami Alfano itu udah sibuk nyari kenalan di Bandung, dari kenalan yg bisa nyiapin busana akad, nyiapin berbagai seserahan dan membeli perhiasan cicin nikah seadanya untuk syarat nikah putranya.
Sedangkan, Pak Wawang juga sudah bangun selepas subuh karena menghubungi temannya yg jadi penghulu di desa untuk datang ke kota Bandung. Tadi malam, penghulu sudah dihubungi dan bisa, tapi karena jaraknya lumayan jauh dari desa ke kota yg memakan waktu sekitar 1 jam setengah, Pak Wawang agak panik. Memang ayah asmara ini sejak tadi malam tidak bisa tidur karena akan menikahkan putrinyaa.
Calon pengantin pria dan wanita juga sejak tadi malam tidak bisa tidur. Mereka hanyut dalam pikirannya sendiri, hingga pagi ini kurang beberapa jam lagi akan menikah, mereka masih berkata pada diri sendiri apakah ini pernikahan yang mereka inginkan? Apakah mereka bisa hidup dalam suatu hubungan baru yang terikat? Semua pertanyaan di benak mereka hanya bisa mereka jawab sendiri ketika sudah menjalani.
Hari semakin cerah, matahari sudah menyinari halaman rumah Alfano dan Asmara yang sudah ribut dengan persiapan mereka masing2. Kenalan Bu Laras yang menyiapkan semua seserahan dan baju akad sudah datang jam set 7 pagi.
Bu Laras menyuruh Alfani untuk mengirim baju akad Asmara ke rumah yang berada disebelah. Saat ini, Asmara sedang dirias tipis oleh MUA yang dipesan oleh Bunga. Sahabat terbaik sekaligus partner kerja Asmara tidak luput dari keriwehan pagi ini.
Bu Laras sengaja memesan nasi kotak untuk sarapan bagi semua yg hadir saat akad nanti. Mangkanya, Bunga terpaksa memperkerjakan karyawan dapurnya ekstra hari ini.
Alfani yang sudah dipersilahkan masuk oleh Rani langsung menuju kamar Asmara. Ketika dibuka, ia melihat Asmara yang cantik dengan riasan minimalis yang mewah.
"Wah cantik banget, calon kakak ipar" sapa Alfani ketika masuk kamar Asmara sekalian menggoda wanita hamil itu. Padahal Alfani lebih tua dari Asmara.
"Ah, kakak bisa aja" sahut Asmara.
Alfani berjalan mendekati wanita yg ia bawakan gaun.
"Iya beneran. Sayang banget kamu dapet pria kaku kayak Alfano. Tapi rejeki buat aku dapet saudara perempuan kayak kamu" kata Alfani dengan tulus.
"Hahaha, aku yang beruntung punya saudara adik ipar sebaik kakak juga" sahut Asmara disela sela , MUA nya sedang menata perlengkapan rias karena riasnya sudah selesai.
"Bisa aja emang balesnya haha. Oh ya, ini gaun akad untuk kamu. Meksipun masih nikah siri, harus diabadikan dengan ciamik. Gaun ini dipesenkan langsung oleh Mami ke temennya di Bandung, request juga untuk wanita hamil sekitar 5 bulan dan gaun kayak dress putih gitu biar gak berat juga , jadi cukup kamu pake dan gak sampek bikin keberatan" jelas Alfani.
Asmara hanya senyum manis kepada Alfani, sepengertian itu calon mertuanya.
"Mau saya bantu sekalian pakainya?" tawar MUA.
"Boleh boleh mbak. Saya ndak bisa bantu pake nya , gak tau dari atas atau bawah masuknya haha" canda Alfani dengan tertawa kecil.
Asmara ikut terkekeh, MUAnya pun sama.
"Haha mbaknya lucu amat sih, Mbak Asmara memang beruntung punya adik ipar seramah dan seceriah mbak ini" sahut MUA.
"Tapi dia akan jadi kakak perempuan saya, mbak" ucap Asmara dengan senyum.
Alfani dan Asmara ikut tertawa kecil dengan pujian dikemas candaan oleh MUA. Akhirnya, setelah sang MUA sudah menata dan merapikan peralatan riasnya terlebih dahulu, Ia mulai memakaikan dress gaun akad untuk kliennya hari ini.
Ternyata untuk wanita hamil karena kancing belakang, dress gaun Asmara dibantu makainya dari bawah baru MUA membantu menutup resleting di punggung wanita itu.
Tidak lama kemudian, Asmara sudah memakai gaun putih nan indah dan memang sedikit kebesaran namun tidak sampek kowar kowor dipakai di tubuhnya dan menyamarkan perut buncit Asmara sementara.
"Perfect!" seru MUA ikut terpeson melihat kecantikan Asmara. Alfani yg memastikan Asmara memakai gaun dressnya dengan luar biasa , ikut memuji kecantikan calon kakak iparnya itu.
"Asmara, kamu benar benar cantik banget!" seru Alfani setelah melihat Asmara keluar dari kamar mandi.
Asmara hanya bisa tersenyum di puji orang. Setelah memastikan gaun dress sudah terpakai calon pengantin wanita, Alfani buru buru kembali ke rumah Alfano untuk memberikan informasi update, kesiapan Asmara.
"Mami, Asmara udah pake gaunnya. Cuantik banget!" seru Alfani ketika melihat maminya sedang menata seserahan untuk diberikan ke keluarga Asmara.
__ADS_1
"Oh yaaa??? Pastinya dong, calon mantu mami" sahut Bu Laras.
Alfano masih berada di kamarnya. Ia merasa tidak tenang karena meninggalkan perusahaan di hari Senin. Jaka yang ada disampingnya mencoba menenangkan bosnya itu.
"hey Fan, jangan panik gitu sama perusahaanmu. Meetingmu udah aku undur semua besok , hari ini buatlah pernikahan mu menjadi momen indah. Jangan kepikiran perusahaan" ucap Jaka.
"Iya nih bro. Aku tidak nyangka bakal bertanggung jawab sama dia secepat ini , di hari Senin lagi dimanaa sibuk sibuknya aku" ujar Alfano dengan wajah sendu.
"Udah deh. Kamu gak masuk sehari gak bikin kamu bangkrut" sahut Jaka.
Alfano menghembuskan nafas berat karena omingan Jaka juga ada benarnya juga.
"Heh Jak, apa aku pantes jadi suaminya Asmara?" tanya Alfano dengan wajah tidak yakin akan keputusan yg akan ia lakukan.
"Ya pantes aja, toh kamu dah hamilin dia haha" jawab Jaka dengan tawa.
"Aku serius nih. Aku ngerasa pernikahan ini terlalu cepat dan dipaksakan" sahut Alfano.
"Dipaksakan? Emang kamu merasa kita paksa buat nikahin Asmara? Nggak kan. Kemarin juga kamu nggak nolak malah pingin juga bertanggung jawab. Udah deh Alfano, sejam lagi kamu akan nikah di rumah sebelah , jangan berulah" peringatan Jaka.
Alfano hanya diam dan membetulkan jas yang telah ia pakai di cermin. Memang benar, pernikahan Alfano dan Asmara akan diadakan di rumah yang disewa oleh sang calon istri disebelah rumah sang calon suami. Enak banget kan cuma beberapa langkah dari antar rumah.
Waktu yang ditunggu tunggu sudah datang. Alfano dan Asmara belum bertemu sama sekali dari persiapan hingga menjelang akad ini. Memang sengaja, Asmara dipanggil menuju meja akad ketika ijab qobul siap dilakukan.
Penghulu yang juga teman Pak Wawang sudah datang tepat waktu beserta saksi yang dibawa oleh penghulu yaitu seorang ustad. Alfani sudah duduk berhadapan dengan Pak Wawang yang dipisahkan meja kecil diantara mereka.
Asmara masih didalm kamar dengan hatinya yang berdetak cepat.
"Tenang kak, Kak Alfano kayaknya pria baik baik, jadi kakak juga akan semakin baik bersamanya" ujar Rani yang berada disebelahnya.
Asmara hanya mendengar pujian adiknya itu dan mencoba mengatur nafas agar tidak grogi.
Setelah saksi sekaligus berprofesi sebagau ustad atau penceramah memberikan wejangan untuk calon suami , penghulu memanggil Asmara untuk datang ke meja akad. Sebelumnya Pak Wawang sudah menceritakan kondisi putrinya yg menikah siri dalam keadaan hamil , sehingga temannya itu tidak kaget dan mengerti situasi.
"Ananda Asmara , sang calon pengantin wanita boleh duduk disamping sang calon suami" panggil penghulu.
Rani pun menuntun Asmara dengan perutnya yg sudah membuncit keluar kamar menuju ruang tamu dan semua orang menatap kearah mereka.
"Wah mantu mami cantik banget" lirih Bu Laras yang bisa didengar Bu Asih yang berada disebelahnya.
"Calon mantu saya juga ganteng banget" sahut Bu Asih memuji Alfano sebagai balasan atas pujian Bu Laras pada putrinya.
Mereka pun tertawa kecil bersama.
"Oh ini ya wanita cantik yang akan menikah dengan Mas Alfano. Cuantik begini yaaa, Mbak Asmara" puji penghulu ketika Asmara sudah duduk disamping Alfano.
Kedua pengantin ini hanya tersenyum malu dan menundukkan kepala. Ustad yang menjadi saksi tersenyum melihat tingkah anak muda yang akan menikah didepannya. Ia ingin memberikan wejangan lanjutan untuk sang istri dan keduanya.
"Pak Penghulu, saya izin memberikan wejangan lagi untuk sang calon istri dan keduanya ya. Sebentar saja. Karena aku melihat mereka sangat cocok menikah tapi harus diberikan arahan yang tepat" minta ustad pada penghulu.
"Boleh, silahkan. Jangan lama lama ya Ustad, mereka kayaknya udah gak sabar jadi suami istri" goda penghulu yang memang begitu ramah dan friendly , membuat suasana tidak tegang dan kaku.
__ADS_1
Pak Ustad pun memulai wejangannya.
"Nak Alfano, siapa nama calon istri disampingmu ini ?"
"Asmara, Ustad" jawab Alfano dengan pelan dan terlihat masih malu malu.
"Ya gini ini anak muda, kalau ditanya jawabnya ragu ragu begini harus dibuat gak boleh ragu ragu lagi ya. Keputusan sekali seumur hidup ini harus dijawab dengan lantang. Jadi saya tanya lagi, siapa nama lengkap dari wanita disampingmu yang akan menjadi istrimu setelah ini?"
Deg..deg....deg...
Jantung Alfano makin berdebar karena ditanya dengan serius sang Ustad. Asmara menoleh ke arah Alfano dan melihat raut wajah tak tenang. Wajah Asmara jadi ikut sendu melihat keraguan dari Alfano. Pak Ustad bisa melihat wajah khawatir dan ragu ragu dalam mempelai penggantin.
"Eh kok jadi tegang sih kalian haha. Santai aja rilex. Saya cuma memastikan Mas Alfano nggak salah sebut nama nanti" ujar Pak Ustad dengan ramah.
Alfano pun akhirnya menjawab.
"Asmara Raniata, Ustad" jawab Alfano dengan suara lebih keras dari tadi.
"Begitu dong. Oke Mas Alfano dan Mbak Asmara. Sebelum Pak Wawang akan menikahkan kalian sebagai wali dari sang calon pengantin wanita, saya ingin memberikan 1 wejangan yg panjang tapi untuk kalian. Pernikahan adalah hubungan sakral dan suci untuk umat manusia apalagi muslim. Meskipun saat ini kalian menikah dengan siri dan atas nama agama saja, tapi hukumnya sudah sah untuk menjalankan kewajiban sebagai suami istri. Mas Alfano sebagai kepala keluarga akan membimbing Mbak Asmara menuju keluarga sakinah mawaddah warohmah. InshaAllah, jika niat kalian menikah untuk melengkapi satu sama lain dan berjalan di jalan Allah, maka hubungan kalian akan dipermudah hingga waktu tak terbatas. Kalian akan menjadi suami istri yang bahagia dengan anak anak yang akan kalian lahirkan bersama. Maka dari itu, niatkan pernikahan ini untuk ibadah ya. Jangan saling ragu dan saling meragukan apapun antara kalian dalam sebuah keluarga" wejangan Pak Ustad yang membuat Alfano dan Asmara tersindir karena niat mereka menerima pernikahan ini tidak sama dan tidak satu tujuan.
Alfano menerima pernikahan ini karena mau tidak mau ia harus bertanggung jawab dan diarahkan oleh maminya. Sedangkan Asmara menerima pernikahan ini karena orang tuanya sudah mengarahkan pernikahan ini terjadi. Padahal mereka berdua belum sama sama mencintai dan saling memiliki.
Pak Ustad hanya tersenyum melihat ekspresi kedua calon pengantin yang seperti memikirkan wejangannya serius. Tapi karena sudah waktunya akad, maka ia memberikan mic yang ia bawa kepada penghulu untuk memulai ijab qabul.
"Sudah siap, Pak Wawang untuk menikahkan putrinya?" tanya Penghulu pada ayah Asmara.
"InshaAllah siap" jawab Pak Wawang dengan yakin.
"Mas Alfano sudah siap untuk menerima uluran tangan dari Pak Wawang?" tanya penghulu pada Alfano.
Dengan Bismillah dalam hati, Alfano menjawab dengan lugas juga. Pria itu mengusakan menghilangkan grogi pada dirinya ketika akad nanti, agar Maminya juga bisa lega.
"InshaAllah saya siap" jawab Alfano.
"Alhamdulillah. Pak Wawang ulurkan tangan bapak dan Mas Alfano raih uluran tangan Pak Wawang lalu berjabat tangan dengan erat dan niatkan bahwa dengan jabatan ini status seorang putri dari ayahnya akan berpindah menjadi seorang istri untuk suaminya" jelas penghulu.
Pak Wawang mengulurkan tangannya di meja dan diraih oleh Alfano. Mereka berjabat tangan dengan erat.
"Pak Wawang selaku ayah kandung dan wali nikah Asmara Raniata dengan Alfano Yudhistira , bisa memulai ijab qabulnya, akan kita awali bersama dengan Bismillah" ucap penghulu.
Dengan tarikan nafas dalam, Pak Wawang mulai membacakan kalimat ijab dengan menahan air mata dan keharuan sebagai seorang ayah.
"Saya nikahkan putri kandung saya , Asmara Raniata dengan saudara Alfano Yudhistira dengan uang senilai 5 juta rupiah dan logam emas 50 gram dibayar tunai"
Alfano dengan tegas dan penuh penghayatan menjawab dengan kalimat qabul.
"Saya terima nikahnya, Asmara Raniata binti Bapak Wawang dengan uang senilai 5 juta dan logam emas 50 gram dibayar tunai" sahut Alfano dengan 1 tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi, Sah?" tanya penghulu pada hadirin semua terutama saksi nikah.
"SAH!!!" serentak teriakan hadirin bergema di ruang tamu rumah Asmara.
__ADS_1
"Alhamdulillah" sahut Penghulu lalu membacakan doa setelah akad dan diamini oleh semua orang.