
Hari Senin di kota Bandung tetap terlihat rame. Lampu lampu kota begitu indah menyala di kota tua peninggalan Belanda. Asmara begitu senang akhirnya selama 5 bulan hidup sendiri di kota ini \, akhirnya ia bisa jalan jalan dengan santai tanpa rasa sakit menahan penderitaan sendiri. Sekarang tidak ada rahasia yang ia simpan kepada keluarganya dan pria breng*** yang sudah membuatnya menderita berada disampingnya dengan status suami.
Sebelumnya, hidup di kota Bandung ia gunakan untuk menjauh dari keluarganya dan menjalankan bisnis dengan Bunga. Tidak ada harapan untuk bisa hidup santai di kota ini selama ia merasakan benci dan sakit hati pada orang lain. Tapi kini, benci itu kian memudar dengan adanya kehadiran pria yang ia benci di hidupnya. Secepat itu kah benci berubah jadi rasa lain?
Jika Asmara sedang merenungkan proses hidupnya selama 5 bulan ini dengan menatap indahnya lampu jalan kota Bandung, beda halnya dengan Alfano yang serius menyetir mobilnya karena ia sudah laper banget.
"Masih lama tempatnya?" tanya Alfano.
"5 menit lagi. Kamu lalui aja jalan ini sampek ujung terus belok kanan. Udah sampek alun alun Bandung" jawab Asmara apa adanya.
"Beneran ya, awas aja kalau bohong. Aku udah laper banget ini" ujar Alfano sambil mengerutkan keningnya.
"Aku juga lapar. Kita sama sama gak makan siang kan jadi ya jangan kira cuma kamu aja yang laper, aku sama 2 bayi ini juga kelaparan tapi jangan ngebut2 jalannya rame" sahut Asmara.
Alfano menghembuskan nafas kasar karena harus bersabar menuju tempat makan yg diinginkan Asmara.
Namun, tiba tiba Asmara keingat sesuatu di tasnya. Sejak ia hamil, tasnya pasti sering membawa cemilan untuk ia makan ketika lagi istirahat kerja atau lagi keluar sama Bunga.
Asmara menemukan 2 snack gandum berbalut coklat kesukaannya. Ia ambil 1 dan menyodorkannya ke arah tangan Alfano.
"Kamu mau?" tawar Asmara.
Alfano menoleh ke sampingnya dan menatap Asmara dengan tatapan heran.
"Kenapa kamu natap aku kayak gitu? Kalau gak mau bilang aja" sahut Asmara jadi sewot sambil menarik tangannya yg berada didekat tangan Alfano sambil membawa snack. Dengan cepat tangan Alfano menahan tangan istrinya itu.
"Aku belum jawab, main tarik aja" celetuk Alfano.
"Kalau mau ngasih supir ya tolong snacknya dibuka, Asmara. Gimana aku bisa buka snack itu kalau aku nyetir" lanjut Alfano memberikan alasan dari tatapannya.
Asmara pun tersenyum malu dan merasa bodoh didepan suaminya.
"Maaf. Aku belum pernah ngasih supir snack soalnya" bela Asmara untuk dirinya.
Alfano melepaskan tangannya pada tangan Asmara dan membiarkan wanita itu membuka snack untuknya.
"Ini udah aku buka" ucap Asmara menyodorkan lagi snack dengan kemasan yg sudah terbuka.
"Gini dong" sahut Alfano dengan senang.
Asmara pun membuka snack miliknya yang tinggal satu satunya di tas yang ia bawa.
Mereka menikmati snack itu dikit demi dikit dan akhirnya sampai di rombong nasi goreng alun alun Bandung yang diinginkan Asmara.
"Yeay, udah sampai!" seru Asmara ketika Alfano baru memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
Alfano melihat rombong nasi goreng yang dimaksud Asmara dan mengerutkan keningnya lagi.
"Kamu beneran mau makan di tempat kayak gitu? Kotor Asmara , kena debu kalau makan disitu. Kasian si kembar kamu ajak makan makanan yang gak sehat kayak gitu" gerutu Alfano ketika merasa tidak senang dengan tempat makan yg diinginkan istrinya.
"Kamu jangan lihat dari covernya. Lagian rombong itu tempat masaknya doang, tapi tempat makannya ada toko didepannya. Kamu kan juga pernah makan seblak dari rombong pinggir jalan. Kamu gak sakit kan habis makan itu? Jadi, selama gak setiap hari , gapapa makan beginian dan bikin happy" ucap Asmara memberikan pembelaan pada nasi goreng yg ia inginkan.
Alfano pun melihat toko nasi goreng yg dimaksud Asmara sangat rame sampek ia tidak membayangkan akan mendusel dusel disana.
"Rame banget tempatnya. Aku gak mau berdesakan sama orang" ucap Alfano kembali bersikap angkuh.
"Yaudah kalau kamu gak mau beli, aku yang akan beli dan makan nasi goreng disitu. Tunggu aja di mobil atau kamu bisa keliling alun akun ini cari makanan yang menurutmu enak dan sehat" sahut Asmara lalu keluar mobil dan berjalan menuju rombong nasi goreng alun alun Bandung.
Alfano melihat Asmara berjalan didepan mobilnya.
"Memang selera dia aneh" ujar Alfano dengan kesal.
Krucuk... krucuk...krucuuuuk
Perut Alfano sudah berbunyi , waktunya ingin diisi dengan makanan.
"Aduh laper banget. Bodo amatlah , sekali aja makan nasi goreng pinggir jalan kayak gitu daripada aku bisa pingsan nantinya" ucap Alfano lalu keluar mobilnya dan menghampiri Asmara yang melihat proses abang nasi goreng masak. Memang Asmara sengaja memilih berdiri di dekat rombong terlebih dahulu sebelum masuk tempat makannya karena ia juga enggan berdesakan disana, apalagi dia lagi hamil. Mangkanya, Asmara lebih memilih duduk di kursi plastik dekat rombong nasi goreng tanpa meja makan.
Ketika Asmara melihat suaminya sudah duduk di kursi pelanggan sebelahnya di samping rombong, wanita itu jadi heran dan gantian menatap suaminya dengan tatapn tak percaya.
"Kenapa kok kesini? katanya makanan ini tidak sehat dan berdebu, nanti kamu bisa sakit kalau makan" sindir Asmara.
"Yaudah, karena kamu udah disini mau makan nasi goreng nggak? aku pesenin kalau mau" lanjut Asmara.
"Iya, aku mau. Laper banget soalnya" jawab Alfano mengaku kalau ia lapar.
Asmara tersenyum smirk aja melihat sikap Alfano yang membuatnya bingung dan heran, suka berubah ubah.
"Dasar, cowok angkuh. Laper aja masih bisa gaya tadi haha" batin Asmara menertawakan suaminya.
"Bang, tambah 1 nasi goreng lagi ya. Makan sini" seru Asmara pada abang nasi goreng.
"Iya neng, tunggu ya. Masih antri" jawab abang nasgor.
"Oke bang" sahut Asmara ramah.
"Nasi gorengnya masih lama?" tanya Alfano dengan raut muka curiga.
"Lihat aja antriannya segitu. Sabar aja" jawab Asmara.
"Hmmm" gumam Alfano tak bisa protes lagi.
__ADS_1
Mungkin sekitar 15 menit mereka menunggu pesananya, akhirnya nasi goreng yang Asmara pesan sudah datang. Tapi Alfano kaget kok 3 porsi yang datang.
"Kok 3 porsi? Emang siapa lagi yang makan selain kita?" tanya Alfano heran melihat Asmara membawa 2 nasi goreng yang memang ia pesan untuk dirinya.
"Anakmu lah, siapa lagi. Mereka berdua jadi makan 1 porsi cukup dan 1 porsinya lagi untukku sendiri" jawab enteng Asmara sambil meletakkan 1 piring nasi goreng di kursi plastik kosong sebelahnya.
Alfano tak bisa berkata kata dan hanya menggelengkan kepala tidak percaya.
"Apa orang hamil makannya banyak banget gini ya?" batin Alfano sambil melihat Asmara sudah menikmati nasi goreng yang ia inginkan.
"Jangan bengong aja. Cepet makan. Lihatin aku makan gak bikin kamu kenyang" celetuk Asmara yang memergoki Alfano menatapnya dengan heran.
Alfano pun langsung menatap piring berisikan nasi goreng yang ia pegang dan mulai menyuapkan sendok pertamanya.
"Wah, enak banget!" seru Alfano lalu dengan lahap menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.
Asmara hanya tersenyum melihat tingkah Alfano yang lahap makan nasi goreng yang tadi sudah pria itu remehkan.
Cepet sekali piring Alfano kosong dan ia memesan nasi goreng lagi, ketika Asmara masih belum menghabiskan piring pertama.
"Bang, pesen lagi nasi gorengnya ya tambah telur" seru Alfano pada abang nasgornya.
"Siap, kang" sahut abang nasgor.
"Gimana? Enak kan?" tanya Asmara dengan senyum mengejek.
"Aku laper, jadi semua makanan enak" jawab angkuh Alfano beralasan.
"Hahahaa, dasar Alfano" lirih Asmara dengan kekehan.
"Apa kamu bilang? Dasar Alfano?" sahut Alfano seperti tidak terima dengan panggilan Asmara itu.
"Iya, dasar Alfano. Namamu kan Alfano. Dasar kamu gengsian dan angkuhnya minta ampun" ucap Asmara lalu melanjutkan makan nasi goreng porsi pertama.
"Tapi aku suamimu" ucap Alfano sambil memberikan serangan mendadak dengan menarik tangan Asmara untuk mengarahkan sendok yang seharusnya masuk ke mulut istrinya namun malah masuk ke mulutnya.
Asmara tak berkutik tangannya dipegang Alfano dan diarahkan untuk menyuapi pria itu.
"Sekali lagi kamu bilang dasar Alfano didepanku, maka tidak hanya tanganmu ini yang kupegang tapi bibirmu juga akan kupegang" kata Alfano seperti peringatan dengan menarik bibirnya keatas untuk membuat senyuman menyeringai.
Deg..deg...deg...
Jantung Asmara berdetak kencang karena mendapatkan kata kata peringatan dari Alfano tapi terdengar sexy dan menggodanya.
"Apa apaan dia main ancam aja! duh jantungku gak waras kalau lama lama deket dia" batin Asmara mengalihkan pandangannya menuju piring yang ia pegang dan melanjutkan makannya dengan sendok bekas suaminya itu.
__ADS_1
Giliran Alfano yang terkekeh kemenangan hingga nasi goreng tambahannya datang bersamaan dengan Asmara juga akan makan porsi kedua.
Sepasang suami istri yang baru menikah itu menikmati porsi kedua mereka memakan nasi goreng pusat, karena berada di pusat kota Bandung.