
Asmara, Alfano dan Bu Laras duduk di ruang tamu. Sambil menunggu kiriman bubur ayam untuk sarapan mereka, sang mami memulai menyampaikan tujuannya datang ke Bandung kali ini.
"Mami ke Bandung mau ngantar berkas pernikahanmu ke keluarga Pak Wawang karena mereka membutuhkan berkas pindah nikah ini dari KUA tempat tinggal kita di Jakarta. Selama ini kalian kan gak mau tau urusan pernikahan tapi mami sama orang tua Asmara selalu berhubungan untuk mengatur pernikahan anak anak kami" jelas Bu Laras.
"Hihi, maaf ya mam, Alfano dan Asmara gak ikut bantu ngurusin. Kita gak paham begituan soalnya" sahut Alfano sambil terkikih.
"Ya memang kamu gak mau paham soal nikah secara legal dan sah di mata hukum. Kamu tuh ya, lihat usaha mami, pak wawang, dan bu asih buat nyatuin kalian tuh kayak gimana. Kamu jadi suami harus bisa jaga keluargamu jangan sampek usaha kami semua sia sia, Alfano. Mami berbuat begini ya karena mami percaya kamu tidak akan mengecewakan mami lagi" ucap Bu Laras mengingatkan Alfano.
Alfano pun memberikan ekspresi acuh tak acuh kepada maminya karena ya biasa ekspresi anak kalau diingetin orang tua tentang sesuatu yang seharusnya sudah diketahui sang anak terus diulangin lagi dan lagi, terkesan bosen si anak tuh. Ya begitulah orang tua tidak ada lelahnya untuk mengingatkan anak yang mereka sayangi kan ? ☺️
Asmara hanya diam saja dan tak berkata apapun.
"Untuk mantu ibu tersayang. Mami cuma kamu bahagia sama Alfano. Mami juga berdoa usaha mami dan orang tuamu ini tidak sia sia atau tak bisa kamu banggakan. Mami ingin kamu bisa mengingat mami , pak wawang, dan bu asih sebagai mak comblang kalian untuk bersama tentunya dengan ridho Allah ya. Kan keren tuh, kalau kalian udah bener bener bisa jadi keluarga yang ayem tentrem terus ada banyak cucu mami , nostalgia bahwa hubungan kalian karena dukungan orang tua yang ingin anaknya hidup bahagia, gitu ya sayang?" ucap Bu Lara sambil mengelus pipi Asmara dengan lembut. Tak dipungkiri omongan Bu Laras sangat menyentuh hati Asmara hingga ia langsung memeluk mertuanya itu dan berkata "Terima kasih, mami. Mami adalah mertua terbaik sedunia"
"Ya pasti dong, Bu Larasati memang mertua terbaik se-Indonesia Raya" sahut Bu Laras sambil tertawa dan bercanda agar suasana tidak menjadi mengharukan.
Alfano pun tersenyum lebar melihat kedekatan istri dan maminya.
Setelah puas memeluk sang mertua, Asmara melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Kamu hari ini libur kan sayang? Gak masak di restauran?" tanya Bu Laras.
"Iya, mami. Tadi aku udah ngirim pesan ke Bunga kalau hari ini aku minta izin libur buat nemenin mami" jawab Asmara dengan senyum.
"Mantaap deh. Jadi nanti kamu ikut nganter mami sama Alfano ke rumah orang tuamu ya" ucap Bu Laras dengan senang tapi tidak dengan Asmara yang menjadi sendu wajahnya.
"Loh kenapa kok sedih gini? Kamu gak suka ya nganter mami ke rumamu?" tanya Bu Laras menjadi panik karena ekspresi Asmara terlihat tidak senang dengan rencananya.
"Hmmm, nggak begitu. Asmara cuma belum pernah pulang lagi sejak pergi ke Bandung Kota apalagi tau jika sudah hamil. Takut merusak image ayah dan ibu di desa" jawab Asmara dengan sendu.
Bu Laras pun menghela nafas karena baru sadar juga jika wanita hamil di depannya ini hamil di luar nikah ya gara gara anaknya sendiri.
"Emang, Si Alfano nih bikin malu aja" omel Bu Laras mengalihkan kesedihan menjadi gurauan dengan menyalahkan putranya.
"Meskipun kamu tanggung jawab tapi mana peduli orang orang di desa soal tanggung jawabmu. Mereka pasti mengunjing Asmara dan bisa saja istri dan anakmu nanti jadi bahan omongan" sahut Bu Laras dengan kesal.
"Terus gimanaa ? Kan udah terjadi. Alfano ya gak mau lah kalau mereka dihina atau diomongin. Yaudah, Asmara tinggal disini atau di Jakarta aja" ujar Alfano dengan gampang.
"Emang anak kalau ngomong gak dipikir dulu" gerutu sang mami yang makin terlihat kesal dan capek ngehadapi putranya yg gak peka.
__ADS_1
Tapi Asmara terhibur melihat Alfano diomelin maminya tanpa sadar memberikan senyuman tipis ketika mendengar dan melihat interaksi suami dan mertuanya yg lucu.
"Eh kamu seneng ya lihatin suamimu diomelin mami?" celetuk Alfano dengan mengangkat alis.
Asmara hanya diam saja dan malah tersenyum lebih lebar. Bu Laras pun tersenyum melihat Alfano yang mulai menggoda Asmara. Kesalnya tiba tiba hilang.
"Memang pantes diomelin teruuus" ejek Bu Laras ikut membela menantunya.
"Mami!" seru Alfano tak terima.
"Yaudah gini aja Asmara. Kalau kamu belum siap pulang gapapa, tapi tetep ikut mami sama Alfano ya. Nanti kita cari tempat makan atau restauran didaerah sana lalu Alfano mami suruh buat jemput orang tua mu beserta adik adikmu kalau mau ikut buat ke tempat makan itu. Gitu aja kali ya , ketemuan di luar? Biar kamu juga aman dan tenang" tawar Bu Laras.
"Boleh, mam. Lebih baik seperti itu dulu. Maafin Asmara ya mam, bikin agak ribet buat ketemu ayah dan ibu" sahut Asmara dengan anda merasa bersalah.
"Its okay sayang. Demi kamu dan cucu mami, apa sih yang nggak kan ya. Yaudah mami udah laper banget nih , nunggu buburnya kok belum sampek sampek ya" ucap Bu Laras.
Alfano langsung membuka hpnya lagi dan melihat posisi pengantar pesanannya. Sudah hampir sampai.
"Ini online foodnya udah hampir sampai" sela Alfano.
__ADS_1
"Okee siap. Kita sarapan bareng" sahut Bu Laras senang.
Tidak lama kemudian, pesanan bubur ayam mereka datang dan langsung menyantap sarapan bersama.