
Alfano yang berlari menyusul Asmara yang hampir sampai ke jalan raya.
"Hey tunggu!" seru Alfano sambil nafas terengah engah lalu berhenti di samping istrinya. Seketika juga langkah kaki Asmara terhenti.
Asmara menajamkan matanya menatap Alfano yang sudah menyusulnya, kenapa pria ini mengikuti dirinya, katanya mau renovasi.
"Ngapain kamu kesini? Katanya mau bongkar pintu penghubung dirumah?" tanya Asmara dengan heran.
"Bentar. Aku nafas dulu" minta Alfano sambil mengatur nafas.
Asmara bersikap datar dan cuek aja melihat Alfano kelelahan mengejarnya.
"Cepetan, aku udah telat" ucap Asmara mulai kesalZ
"Aku mau anter kamu ke restauran. Ayo jalan" ujar Alfano sambil memberikan senyum ke istrinya.
"Kesambet apa sih pria ini. Gangguin aku mulu. Lama lama kalau gini bisa bikin perasaanku makin campur aduk sama dia. Pokoknya jangan sampek kamu naruh perasaan dulu sama dia ya, Asmara" batin wanita hamil itu pada dirinya sendiri.
"Kok bengong? Ayo jalan katanya udah telat" ajak Alfano yang refleks memegang tangan Asmara untuk ia ajak jalan bersama.
"Ngapain sih pegang - pegang?" tanya Asmara kaget tangannya dipegang oleh Alfano.
"Udah deh. Nurut sama aku. Jalannya udah rame , kalau ada insiden sepeda motor kayak kapan hari itu yg mau nyrempet kamu gimana? Lagian aku kayak gini ya demi keselamatan si twins" jawab Alfano serius sambil mulai jalan menuju jalan raya dan menunggu waktu yang tepat untuk menyebrang.
__ADS_1
"Iya, dia ngelakuin kayak gini pasti karena anaknya" batin Asmara yang merasa sedikit kecewa.
Asmara ikut saja tanpa bisa membantah kalau soal keselamatan bayinya. Ia mengikuti langkah kaki sang suami hingga sampai ke restauran.
Bertepatan dengan kedatangan Alfano dan Asmara, Bunga yang sedang berada di depan restauran untuk menunggu mobil yang akan mengambil pesanan nasi kotak , terkejut melihat Asmara bergandengan dengan suaminya. Namun keterkejutannya itu berubah menjadi senyum smirk.
"Memang cinta itu jalaran soko kulino ya, cinta itu berasal dari kebiasaan" batin Bunga melihat sahabatnya akur dengan suami meskipun ia tidak tau kejadian yang sesungguhnya diantara mereka yang masih sering cekcok atau berdebat hal hal kecil.
Asmara pun melihat Bunga yang sedang melihat dirinya langsung melepas tangannya dari genggaman Alfano. Si suami menoleh ke arah sang istri yang dengan buru buru melepas genggaman tangannya.
"Selamat pagi, Asmara dan Pak Alfano" sapa Bunga menggoda.
"Oh mangkanya dilepas, ada Bunga toh. Apa dia malu gandengan sama suami sendiri ya?" batin Alfano dengan muka datar tapi dipaksakan untuk senyum setipis mungkin pada wanita yg menyapanya.
"Pagi, Bu Bunga. Maaf, istri saya telat karena tadi ada diskusi sedikit dirumah" ucap Alfano pada Bunga dan Asmara hanya diam saja dengan ekspresi datar.
"Meskipun aku salah satu pemilik restauran ini, tapi bukan berarti aku bisa seenaknya datang dan pergi kan Bun? Emang gara gara pria ini aku gak profesional gini. Maaf ya" sela Asmara lalu berjalan masuk ke dalam restauran meninggalkan Bunga dan Alfano.
Bunga menatap tak percaya , sikap Asmara bisa secuek itu sama pria yang sudah baik padanya ya memang kesalahan pria itu tidak mudah dimaafkan tapi yakaan udah jadi suami.
"Maaf ya, Pak Alfano. Mungkin bawaan hamil jadi perasaanya berubah ubah. Saya bisa melihat perubahan dari anda, semoga bapak bisa sabar buat meraih dan mendapatkan hati si Asmara itu" kata Bunga memberikan semangat pada Alfano.
"Iya gapapa Bu Bunga. Udah biasa mendapatkan sikap dingin dari Asmara. Lama lama udah kebal hahaha" sahut Alfano diakhiri dengan bercanda.
__ADS_1
"Ternyata , Pak Alfano bisa bercanda juga ya. Senang sekali anda melihat anda seperti ini. Kalau anda bisa sebaik ini , saya dukung untuk bersama Asmara. Tapi kalau anda berbuat buruk dengannya, saya akan menjadi sahabatnya yang akan melindunginya" ucap Bunga memberikan pujian serta peringatan.
"Tenang, Bu Bunga. Saya tidak sebodoh itu untuk menyakiti ibu dari anak anak saya. Terima kasih sudah menemani dia beberapa bulan ini" ujar Alfano dengan lembut dan tersenyum pada Bunga.
"Wah rejeki amat, Asmara dapet nih cowok. Ya memang salah sih awalnya, tapi Alfano bener bener idaman" batin Bunga sambil membalas senyum pada Alfano.
"Ya sudah, saya pulang dulu ada yang harus segera saya selesaikan sebelum Asmara pulang. Selamat pagi" pamit Alfano.
"Selamat pagi" balas Bunga.
Alfano pun berjalan pulang menuju rumah Asmara. Di tengah jalan, ia menelepon temannya yang jadi arsitek di Bandung untuk membantu merenovasi connection door 2 rumah. Ya bukan temannya yang disuruh bongkar, tapi pasti punya kenalan tukang bangunan gitu.
"Hello, broo Rizal. Kamu di Bandung?" sapa Alfano pada temannya ketika panggilan sudah terhubung.
"Hei, broo Alfano. Tumbenan telepon? Aku lagi di Semarang ada proyek. Pasti ada sesuatu ya?" balas Rizal teman Alfano.
"Iya nih. Aku mau tanya dong , kamu punya tukang bangunan yang lagi nganggur gak sekarang. Aku butuh 2 lah buat bantu aku renovasi rumah di Bandung" jelas Alfano.
"Oh tukang bangunan ya? Ada dong, wait aku kirim whatsaap nomor mandornya ya, kamu bisa calling dia" jawab Rizal.
"Okee siap, thank you ya brooo. Kalau balik ke Bandung bilang bilang mungkin aku lagi disini juga dan aku traktir kamu makan" ujar Alfano.
"Siap, aman" sahut Rizal.
__ADS_1
Panggilan pun terputus dan tidak lama kemudian ada pesan masuk di whatsapp Alfano dari Rizal yang berisi kontak nomor mandor yang dimaksud tadi namanya Zaenal.
Alfano langsung mengirim pesan ke sang mandor dan mendapatkan fast respon. Akhirnya ketika sudah sampai rumah Asmara, Alfano sudah deal dengan Zaenal untuk mengirim 2 anak buahnya membantu Alfano merenovasi rumah.