BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Tangis bahagia


__ADS_3

Alfano yang sudah memakai kemejanya saja berjalan dari arah parkiran karena ketika tadi melepas kaos yang basah oleh keringat di toilet, ia langsung menaruhnya di bagasi mobil.


"Tadi kamu udah dipesenin makan sama istrimu" celetuk Bu Laras ketika Alfano baru duduk di kursi sebelah Asmara.


"Oke, mam" sahut Alfano pada maminya dan menoleh kearah Asmara.


"Kamu pesenin aku apa, sayang?" tanya Alfano lembut sampai membuat mertuanya alias Pak Wawang dan Bu Asih menoleh pada suami istri muda didepan mereka.


Asmara yang ikut kikuk karena panggilan Alfano didepan orang tuanya jadi malu, apalagi sampai ditatap oleh ayah ibunya. Ia pun mendekatkan wajahnya ke telinga sang suami dan membisikkan sesuatu.


"Gak usah panggil panggil sayang didepan ayah dan ibu sama mami , bisa gak sih mas?" bisik Asmara terdengar agak kesal dan tidak menjawab pertanyaan suaminya. Sebelum Alfano menanggapi bisikan sang istri, Bu Asih keburu ingin berkata sesuatu.


"Wah, Nak Alfano seminggu nikah udah panggil panggil Asmara pakai panggilan sayang. Jadi kayak beneran pengantin baru yang lagi kasmaran nih" goda Bu Asih.


"Ya kan memang mereka pengantin baru, Bu" sela Pak Wawang membenarkan omongan istrinya.


"Hehe, iya juga sih. Ya semoga aja kalian selalu begini yaa. Ibu seneng banget kalau kalian bisa akur gini, bukan karena bayi yang Asmara kandung tapi karena perasaan kalian juga" ucap Bu Asih terlihat senang.


"Betul, Bu Asih. Saya pun awalnya kaget, Alfano pake panggil sayang sayang ke Asmara kemarin terus Asmara juga udah manggil Alfano pake panggilan mas, yaa memang panggilan suami istri tuh berpengaruh pada hubungannya ya" sahut Bu Laras.


Asmara hanya bisa menatap tajam suaminya, namun Alfano cuma bisa senyum senyum tanpa dosa dan rasa bersalah.


"Alhamdulillah, ayah harap kalian bisa menjadi keluarga yang baik" ujar Pak Wawang.


"Amiin, makasih ayah" sahut Alfano. Asmara hanya bisa memberikan senyum terpaksa karena lagi lagi suaminya itu melanggar perjanjian dan kesepakatan sementara sebelum menyatakan cinta/sayang jangan panggil sayang, eh lelaki itu malah tetep manggil sayang sayang tanpa izin istrinya.


Beberapa saat kemudian, pesanan mereka semua datang. Pesanan Alfano pun sudah diletakkan oleh pelayan didepannya.


"Oh, kamu mesenin aku pecel pake ayam goreng ya? Minumnya Es Teh?" tanya Alfano dengan lembut.


"Kan bisa dilihat sendiri didepan kamu, Mas. Ya itu pesanan yang aku pesen buat kamu. Maaf kalau gak cocok. Kamu bisa pesen lagi, itu dibungkus aja buat aku makan malam nanti" jawab Asmara dengn wajah yang masih cemberut.


"Siapa juga yang bilang gak cocok. Aku mau bilang, pesenanmu ini sesuai seleraku dan pada dasarnya aku semua makanan mau kecuali makanan di pinggir jalan/gerobak dan kayaknya habis ini aku bakal makan makanan itu karena bareng kamu" sahut Alfano dengan senyuman menggoda.


Para orang tua hanya mengamati anak anak mereka yang terlihat lucu dan memulai makan siangnya.


"Udah, buruan makan. Ayah Ibu dan Mami udah makan loh, Mas" ucap Asmara sambil mulai menyuapkan makan siang ke mulutnya. Wanita hamil itu memesan soto ayam dan telur rebus.


"Oke, siap" sahut Alfano menurut.


Akhirnya 2 keluarga itu pun makan siang bersama.


.

__ADS_1


Setelah makan siang telah mereka santap, Bu Laras mulai ke inti acara yaitu menyerahkan berkas pernikahan Alfano dari Jakarta untuk diurus di KUA Bandung yang nantinya akan dijadikan tempat mengikrarkan akad nikah secara sah.


"Pak Wawang dan Bu Asih, ini berkas dan dokumen2 Alfano yang diminta kemarin untuk pengurusan KUA ya. Jika nanti ada yang kurang, diinfokan saja agar saya bisa menyiapkannya atau kalau semisal urgent bisa saya antar kesini lagi" ucap Bu Laras sambil menyerahkan 1 map dan diterima Pak Wawang.


"InshaAllah, jika dokumennya sudah disiapkan seperti list kemarin yang sudah saya kirimkan berarti sudah aman kok, Bu Laras. Ini nanti langsunh saya berikan ke teman saya yang penghulu itu" sahut Pak Wawang.


"Alhamdulillah, kalau gitu. Semoga pernikahan anak anak kita berjalan lancar dan menghasilkan keluarga yang sakinah mawaddah warohmah, bahagia dunia akhirat, Amiin" ucap Bu Laras lalu yang lain ikut mengaminkan doa baik.


Dirasa semua urusan sudah selesai, Alfano mengantar mertuanya untuk pulang sedangkan Asmara dan Bu Laras menunggu di restauran lagi.


Sambil menunggu putranya kembali, Bu Laras mulai mengajak obrol menantunya itu.


"Asmara, mau minum apa lagi? Kita nunggu Alfano mungkin sekitar 15 menitan. Mami mau pesen jeruk hangat soalnya" tawar Bu Laras.


"Jeruk hangat juga boleh, mami. Asmara mau juga" sahut Asmara.


"Oke" balas Bu Laras lalu memanggil pelayan dan memesan 2 jeruk hangat lagi.


"Oh ya, mami sampek lupa tanya tanya soal kandunganmu. Gimana keadaan cucu mami? Sehat kan?" tanya Bu Laras.


"Alhamdulillah, mami. Bayinya sehat, semenjak nikah sama Mas Alfano , geraknya makin aktif aja" jawab Asmara dengan mengelus perutnya.


"Alhamdulillah. Memang peran ayah tuh besar banget loh buat tumbuh kembang bayi dalam kandungan apalagi nanti kalau lahir. Alfano bisa jadi sehebat itu ya karena peran papinya meskipun akhirnya sekarang terlihat angkuh dan agak sombong sih, tapi sebenarnya Alfano tidak seangkuh itu sebelum ayahnya meninggal. Ia merasa kehilangan sekali dan merasa tanggung jawab yang diberikan ayahnya dengan menjadi CEO muda itu harus ia lakukan dengan hebat. Sampai ia menekan dirinya sendiri. Semoga kamu bisa memberikan kenyamanan untuk dia lagi dan bikin Alfano gak gila kerja" ucap Bu Laras dengan wajah agak sendu.


Bu Laras yang mendengar ucapan menantunya itu jadi terharu.


"Terima kasih banyak sayang. Mami beruntung memiliki menantu seperti kamu dan semoga si anak angkuh itu juga akan melihat seberapa beruntungnya dia memiliki kamu" sahut Bu Laras.


"Semoga ya mami" ucap Asmara.


Lalu 2 gelas jeruk hangat mereka datang. Mereka pun melanjutkan mengobrol tapi tentang hal hal yang lebih santai sambil menikmati minuman mereka.


"Berapa bulan kandunganmu sekarang, sayang?" tanya Bu Laras.


"Sekitar 5 bulan mami, kurang lebih 20 mingguan" jawab Asmara.


"Tapi kok mami lihat udah gede banget ya? Kayak mami dulu hamil Alfano dan Alfani. Jangan bilang bayi kalian kembar?" tanya Bu Laras dengan ekspresi tidak percaya sambil menutup mulutnya.


Asmara memberikan senyuman manisnya sebelum menjawab.


"Alhamdulillaah, mami. Bayinya ada 2" jawab Asmara dengan sumringah.


"Waaaah!!! Aku punya 2 cucu langsung!!" seru Bu Laras bahagia lalu berdiri dari kursinya dan menghamipiri Asmara lalu langsung memeluk menantunya itu.

__ADS_1


"Terima kasih sayaang. Terima kasih kamu mau mempertahankan kandunganmu sejak awal. Mami sangat bahagia mendengar kabar bahwa cucu mami kembar. Alhamdulillah" ucap Bu Laras sambil memeluk Asmara dengan penuh kasih sayang dan kebahagiaan.


"Dari awal memang Asmara tidak ada niatan selain menjaga mereka sejak keberadaannya aku ketahui. Aku yakin mereka tidak salah untuk hadir di dunia ini dan dengan pertolongan Allah pun, daddynya pun datang buat nemenin mereka" sahut Asmara sambil membalas pelukan mertuanya itu.


"Hatimu memang seperti bidadari, Asmara. Bidadari untuk keluarga mami. Pokoknya, kalau Alfano nyakitin kamu atau si kembar, kamu harus bilang mami ya. Biar aku kasih pelajaran dia!" ucap Bu Laras dengan serius.


"Iya mami" balas Asmara.


Tiba tiba terdengar suara pria yang mereka kenal, siapa lagi kalau bukan Alfano.


"Ada apa lagi ini peluk pelukan segala di restauran?" celetuk Alfano yang ternyata sudah kembali dari mengantarkan mertuanya pulang.


Seketika itu pelukan Bu Laras terlepas dan berdiri lalu menghampiri putranya yg masih berdiri sedikit jauh dari meja makan mereka.


"Kamu yaa. Kenapa kamu gak kasih tau mami kalau anakmu kembar , hah?" tanya Bu Laras dengan mode kesal dan memukul lengan Alfano sedikit keras.


"Sakit mami, kenapa pukul pukul segala sih" protes Alfano tapi ia langsung kembali fokus ke perkataan maminya.


"Mami sudah tau kalau bayiku kembar?" tanya balik Alfano.


"Kalau mami gak tanya berapa bulan kandungan Asmara dan mami lihat besar perutnya tidak seperti hamil 1 bayi di usia 5 bulan, kalian pasti gak akan bilang kan kalau bayinya kembar. Mungkin mami tau kalau udah lahir" jawab Bu Laras dengan cemberut karena informasi sepenting ini disembunyikan darinya.


Alfano pun langsung memeluk maminya didepan Asmara.


"Sebenarnya , Alfano sama Asmara mau ngasih kejutan buat mami dan semuanya kalau kita udah sah, tapi karena mami udah tau yaudah deh kejutannya sekarang aja untuk mami" ucap Alfano mencari alasan agar membuat Bu Laras tenang sambil mendekap wanita yang telah melahirkannya. Maminya itupun membalas pelukan sang putra.


"Mami sangat senang tau" ujar Bu Laras dengan bahaginya hingga tak terasa air matanya menetes di bahu Alfano.


"Mami jangan nangis. Ini bukan kabar sedih mami, seharusnya kabar bahagia kan mami langsung punya 2 cucu" hibur Alfano ketika ia merasa basa di pundaknya dan ia lepaskan pelukannya dari sang mami , ternyata Bu Laras menangis.


"Alfano, menangis itu tidak hanya karena sedih tapi juga karena bahagiaaaa. Kamu tuh CEO tapi kok gak tau soal beginian" omel Bu Laras sambil menghentikan tangisnya.


"Hahahahaha, bercanda mami. Alfano tau mami menangis karena bahagia. Yaudah, yuk kita pulang aja. Nanti malam , aku ajak keliling kota Bandung sama Asmara dan kuajak makan nasi goreng enak di alun alun Bandung. Rekomendasi Asmara nih" rayu Alfano.


"Okedeh" sahut Bu Laras.


Asmara yang melihat keakraban suami dan mertua didepannya membuat ia pun merasa tersentuh dan terharu, sesayang itu Bu Laras pada putranya dan sebaliknya Alfano juga menyayangi maminya dengan sepenuh hati.


"Ayo Asmara, kita pulang" ajak Bu Laras menghampiri menantunya dan berjalan bersama menuju parkiran. Alfano sudah duluan berjalan didepan mereka.


Mereka bertiga pun akhirnya menuju Kota Bandung dan menyempatkan berhenti di masjid yang mereka lewati untuk menjalankan ibadah ashar. Tadi dhuhur juga mereka berhenti di masjid yang sama ketika berangkat.


Setelah beribadah, mereka melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


__ADS_2