BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Rahasia


__ADS_3

Asmara pun melanjutkan ceritanya.


"Sampai 2 tahun lebih aku kerja di perusahaan Batu Bara, aku berusaha bekerja profesional eh dijebak sama Si Arman dan Viola yang berakal licik itu, mami" keluh Asmara dengan menyebutkan mantan kekasih serta selingkuhan yang membuat dia dipecat tidak baik.


"Siapa mereka? Berani beraninya bikin mantu mami keluar dari perusahaan Batu Bara?" tanya Bu Laras mulai ikut tersulut emosi.


"Tenang mami, mereka udah aku kasih pelajaran kok. Gara gara mereka juga, Asmara sampek berani ke club dan terjadilah malam panas itu" sela Alfano dengan senyuman smirk dan bangga.


Asmara mengangkat alis, belum paham apa yang dimaksud suaminya itu.


"Kamu apakan mereka, Mas?" tanya Asmara penasaran.


"Ada deh. Nanti aja kalau kita berdua aku ceritain. Udah lanjutin dulu ceritanya ke mami, sebelum mami ngomelin aku lagi nyela ceritamu" ujar Alfano.


Asmara pun menyimpan janji sang suami untuk mendapatkan cerita tentang pegawai finance si perusahaan Batu Bara. Ia pun melanjutkan cerita ke pada Bu Laras.


"Arman tuh, mantan kekasih Asmara, mami. Kami udah pacaran sejak akhir kuliah dan masuk Batu Bara bareng eh dia kepincut sama Viola atasan kami. Ya begitulah ya politik perusahaan, bahaya. Deket deket sikat" ucap Asmara dengan senyuman smirk.


"Hahaha. Dia bodoh banget ninggalin kamu, Asmara. Dia cowok gak berguna dan memang gak pantes buat kamu. Tapi mami juga harus terima kasih dong sama dia karena ninggalin kamu , akhirnya kamu bisa sama Alfano meskipun caranya salah. Namanya juga perjalanan hidup. Lagian politik perusahaanmu lebih mantap loh, habis dibuang karyawan Batu Bara eh dapet CEO nya. Takdir Allah memang indah" sahut Bu Laras bahagia.


Asmara pun ikut tersenyum mendengar perkataan mertuanya yang sangat positif untuknya.


"Hihi iya mami. Memang Allah sudah memberikan jalan terbaik. Lanjut ya mami , aku ceritanya" ujar Asmara.

__ADS_1


"Oke, semakin menarik ceritanya. Mami jadi penasaran" balasa Bu Laras mempersilahkan menantunya untuk melanjutkan cerita.


"Karena aku merasa dikhianati , jauh dari rumah juga akhirnya karena temen temen kantor banyak yg kalau sedih atau galau ke club, jadi aku ikutan. Baru masuk club rasanya kayak berjalan di dunia lain serba gelap dengan gemerlap lampu warna warni yg redup. Aku coba minuman alkohol untuk pertama kali dan rasanya gak enak banget tapi karena sakit hati akhirnya bisa minum 3 slot , gelas kecil itu. Maafin Asmara ya mami, kalau aku bukan menantu yang baik" tiba tiba Asmara jadi beraut wajah sedih dan merasa tidak pantas menjadi menantu Bu Laras yang baik dan wanita berkelas.


"Eh kok sedih sih? Gapapa, udah masa lalu juga dan kamu gak minum lagi kan? Gak kayak tuh cowok yang nyetir mobil ini kan?" sindir Bu Laras pada putranya.


"Aku juga udah berhenti minum sejak malam itu, mami. Aku kapok dan udah gak mau lagi" bela Alfano untuk dirinya sendiri yang disindir sang mami.


"Awas aja kalau kamu minum lagi ya. Jaka akan kusuruh awasin kamu kalau lagi keluar keluar gitu. Inget udah punya istri sama mau punya anak, dijaga tubuhnya dan jangan memperbanyak dosa" ingat Bu Laras.


"Siap mami" sahut Alfano.


Bu Laras kembali melihat wajah Asmara yang masih sendu.


"Iya mami. Ya mungkin bertemu Mas Alfano malam itu menjadi hukumanku dari Tuhan karena berani masuk ke tempat begituan padahal tau kalau minum alkohol juga dosa" sahut Asmara membuat Alfano ikut merasa sedih.


"Hukuman yang menjadi takdir terbaik" sela Bu Laras dengan senyuman merekah di bibirnya sambil menatap Asmara.


"Amiin" seru Alfano dengan tersenyum manis.


Asmara pun ikut tersenyum dan melihat spion tengah mobil yang juga menampakkan senyum suaminya.


"Aku lanjutin lagi ya mami ceritanya. Setelah minum alkohol , aku ke kamar mandi karena mau kumur dari rasa pait minuman itu. Eh berpapasan sama Mas Alfano yang kayak setengah sadar dan gak wajar mabuknya. Merasa dia mantan bos ku meskipun kita tidak pernah bekerja sama secara langsung, tapi aku merasa Mas Alfano tidak ada isu atau berita ia menyakiti wanita apalagi hingga berganti ganti wanita. Mangkanya , aku bantu dia untuk keluar club hingga ke mobil mewahnya. Ketika aku bantu dia jalan menuju mobil, beberapa kali memang berkata tolong aku gitu. Ya aku pikir, tolong bantu ke mobil. Polos banget ya aku, mami. Haha" jelas Asmara sambil tertawa kecil namun beda dengan Alfano dan Bu Laras yang menampakkan ekspresi menyesal dan sedih.

__ADS_1


Asmara pun menghibur mereka dan berkata "Aku bercerita ini tidak untuk membuat mami dan Mas Alfano sedih atau kembali merasa bersalah atau menyesal. Aku cerita begini biar hatiku juga lega, setidaknya aku bisa bercerita dari sudutku. Mami dan suamiku jangan sedih ya" bujuk Asmara pada 2 orang lainnya di mobil itu.


"Mami gak akan berhenti menyesal atas perbuatan Alfano kepadamu sampai kamu benar benar bahagia hidup bersamanya, Asmara. Mami cuma bisa berdoa agar kamu bahagia selalu dengan banyak kebahagiaan yang akan datang dihidupmu dan jika Alfano memang Tuhan takdirkan untuk menjadi bagian kebahagiaan mu maka , mami sangat bersyukur" ucap Bu Laras dengan mata berkaca kaca.


Asmara pun memeluk mertuanya itu dan membisikkan sesuatu yang tidak bisa Alfano dengarkan.


"Mami, izinkan aku membisikkan sesuatu tentang rahasia malam itu dan hanya mami yang baru tau perasaanku yang lain ketika Mas Alfano memaksaku untuk melakukan itu. Aku kira dia cukup gentlemen sebagai seorang pria ketika melakukan itu dalam keadaan mabuk dan terkena pengaruh obat. Meskipun terasa sakit, tapi ada perasaan Asmara yang membiarkan Mas Alfano melakukannya waktu itu. Jadi, sebenarnya Mas Alfano tidak sepenuhnya menyakiti Asmara, mami" bisik Asmara dengan senyuman lega karena akhirnya ia menceritakan sisi lain dari malam itu.


Bu Laras terpaku dan tidak bisa berkata apa apa dalam beberapa saat. Dalam pelukan menantunya itu, ia mencoba mencerna perkataan Asmara lalu ia lepas pelukan dan menatap wanita hamil disampingnya itu dengan tatapan dalam dan tak percaya.


"Yang kamu katakan benar, Asmara? Kamu merasakan hal itu sama Alfano?" tanya Bu Laras menyakinkan perasaannya yang sia siap akan meluapkan kebahagiaan setelah ia yakin apa yang ia dengar dari Asmara benar.


Asmara dengan senyuman manis dan cantiknya, ia menganggukan kepalanya pelan sebagai isyarat pelan. Seketika raut wajah sedih, kecewa, menyesal, dan bersalah dari Bu Laras berganti dengan senyuman lebar bahagia lalu ia peluk lagi sang mantu.


"Terima kasih terima kasih Asmara. Kejujuran ini bikin mami senang banget, meskipun ya tetep aja yang dilakuin anak mami salah. Tapi perasaanmu itu membuat mami optimis kalau, kamu mantu terbaik untuk mami dan istri luar biasa untuk Alfano" ucap Bu Laras sambil memeluk Asmara dengan erat dan tetap memperhatikan kehamilan menantunya itu.


Alfano yang melihat interaksi dari mami dan istrinya yang saling peluk membuat ia penasaran apa yang tadi dibisikkan Asmara pada Bu Laras.


"Tadi Asmara bisikin apa sih mami, kok buat mami langsung seneng dan bahagia gitu?" tanya Alfano penasaran dan membuat Bu Laras serta Asmara menoleh padanya lalu serempak menjawab "rahasia!" dari kedua wanita itu dan mereka tertawa bersama.


"Hmmmm, oh gitu main rahasia rahasiaan" celetuk Alfano tidak terima.


Ungkapan rahasia dari Asmara menjadi puncak cerita tentang perasaanya terkait malam panas bersama Alfano kepada Bu Laras dan tidak terasa mobil mereka sudah memasuki wilayah yang dituju.

__ADS_1


__ADS_2