BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Pertemuan 2 keluarga


__ADS_3

Setelah beberapa saat Alfano terpaku di pintu rumah Asmara, ia ditarik oleh Alfani untuk masuk ke rumah. Pria itu melihat Asmara yang sedang mengobrol dengan ibunya.


"Sejak kapan mami kenal Asmara?" batin Alfano yang masih bingung dengan keadaan yg terjadi didepannya ini.


Jaka yang mengerti kebingungan Alfano, mendekat dan menginformasikan sesuatu.


"Udah, kamu nggak usah bingung terus. Terima keadaan baik ini. Keluarga Asmara tidak memberikan respon buruk denganmu. Setelah ini, para orang tua yang akan menjelaskan situasi yang akan kamu terima dengan Asmara. Semua ini adalah usaha dari mami mu. Dia begitu berjuang untukmu bisa diterima di keluarga Asmara dan mempertanggung jawabkan kesalahanmu. Sana duduk disebelah mamimu" jelas Jaka lalu mendorong tubuh Alfano pelan didepannya agar lelaki itu tidak diam terus.


Mau tidak mau Alfano duduk di sebelah Laras dan keluarga Asmara menatap pria itu bersamaan.


"Kenapa mereka menatapku bersamaan?" batin Alfano yang masih bingung dengan semua ini.


Pak Wawang pun memulai membuka percakapan antara dua keluarga di ruang tamu rumah Asmara. Semua yang hadir sudah duduk untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan Pak Wawang selaku ayah Asmara dan lelaki tertua di ruangan itu.


Sebelum itu mari kita flashack beberapa jam lalu, lebih tepatnya sejak kedatangan keluarga Asmara di Restauran Enak Kabeh dan tidak sengaja bertemu keluarga Alfano beserta Jaka yang mencari keberadaan bosnya yg tidak bisa dihubungi sejak sabtu malam hingga minggu siang menjelang sore ini.


#FLASHBACK - Minggu siang di restauran Enak Kabeh#


Tanpa pemberitauan sebelumnya, keluarga Asmara dari desa datang ke restauran Enak Kabeh. Memang mereka berencana memberikan kejutan pada anak perempuan pertama di keluarga itu. Pak Wawang, Bu Asih, dan si kembar Rian Rani datang menggunakan mobil sewaan tetangga mereka.


Sesampainya di restauran, mereka masuk dan membuat Bunga yang awalnya duduk di kursi kasir berdiri lalu berlari menyambut mereka.


"Selamat datang, om tante Rani dan Rian. Wah kejutan banget nih" sapa Bunga dengan agak grogi tapi tetap mencium tangan Wawang dan Asih sebagai orang tua temannya. Bunga grogi karena ingat jika Asmara sedang dirumah sakit menjenguk Alfano.


"Hai kak Bunga. Kami mau bikin kejutan buat Kak Asmara nih" sapa Rani dengan sumringah.


"Kejutan banget ini kalau dia tau dikunjungi keluarga yang nggak ia temui berbulan bulan. Tapi dia masih meeting sama rekan bisnis kami. Maaf yaa om dan tante, kita nggak tau kalau kalian akan kesini. Kalau tau, saya yang akan menemui rekan bisnis itu" kata Bunga dengan tidak enak hati.


"Oh gapapa, Nak Bunga. Kita bisa menunggu kok" sahut Asih dengan lembut.


"Mari saya antarkan ke ruang tamu saja, tempatnya enak untuk menunggu. Memang ruangan ini disiapkan untuk keluarga karyawan yg main ke restauran. Om sama tante dan yg lain bisa istirahat disitu sambil milih milih menu untuk makan siang" ujar Bunga sambil mengarahkan keluarga Asmara untuk masuk ke ruang tamu restauran.


Setelah memastikan keluarga Asmar berada di ruang tamu itu dan memilih menu, Bunga izin untuk ke kamar mandi sebentar. Wanita itu lalu buru buru masuk ke toilet dan mengambil hpnya disaku celana yg ia pakai.


"Aku harus segera menelepon Asmara" ucap Bunga sambil mencari nomor temannya itu lalu ia melakukan panggilan.


Beberapa kali berdering belum diangkat, namun akhirnya diterima juga panggilan itu.


"Halo, Bun. Ada apa?" sapa Asmara terlebih dahulu.


"Heh, ibu ayah dan adikmu datang kesini!" seru Bunga panik.


"Hah??? Serius???" tanya Asmara tidak percaya.


"Iyaa beneran! Ini aku izin ke kamar mandi buat telepon kamu. Mereka aku suruh di ruang tamu. Aku bilang kamu sedang meeting sama perusahaan yg akan kerjasama dengan restauran kita" jelas Bunga.

__ADS_1


"Yaampun, gimanaaa ini? Aku belum cerita kalau aku hamil sama mereka. Bisa syok mereka tau kalau aku hamil diluar nikah" ujar Asmara.


"Hmm kita harus cari ide buat ngasih alasan ke mereka untuk nunggu kamu lebih lama, tapi kayaknya emang kamu harus ngaku deh, Mar" ucap Bunga.


Mereka pun berbicara ditelepon hingga menemukan ide sementara.


"Gini aja, suruh keluargaku makan dulu nanti setelah makan tolong antar ke rumahku ya Bun. Sepertinya, aku akan jujur pada mereka apa yang sudah terjadi padaku. Aku tidak bisa menyembunyikan kehamilan ini lebih lama lagi. Apalagi kita berada di satu wilayah, pasti cepat atau lambat mereka akan tau juga" ucap Asmara pasrah karena memang tidak ada jalan lain selain jujur pada keluarganya.


Bunga pun menyetujui ide Asmara, lalu panggilan itu selesai.


Bunga keluar dengan raut wajah tegang, tapi ia berusaha agar terlihat santai didepan keluarga Asmara. Wanita itu berjalan menuju ruang tamu restauran.


"Bagaimana sudah menemukan pilihan menu? Makaan yang banyak. Masakan kami cukup enak loh dan sudah terkenal di Bandung. Om wawang dan Tante Asih pasti suka, apalagi kalau Asmara yg masak pasti lebih enduuul. Sayang banget yaa, sekarang bukan Asmara yg masak tapi rasanya dijamin tetep uenak" puji Bunga pada restaurannya sendiri.


Pak Wawang dan Bu Asih hanya tersenyum saja mendengarkan Bunga memuji bisnisnya bersama anak mereka. Lalu Rani menyerahkan tulisan pesanan kepada Bunga.


"Ini kak, aku udah catet pesanan kami semuaaa. Aku juga udah bilang kalau oseng oseng daging disini uenak. Aku rekomendasikan makanan itu ke ibu dan ayah. Kalau Rian mah makan semuanya juga boleh hahaha" ucap Rani dengan ceria.


Ketika mendengar menu oseng oseng daging, Bunga jadi ingat dengan Alfano yang masuk rumah sakit gara gara makan makanan itu.


"Memang semua ini gara gara oseng oseng daging" batin Bunga menyalahkan makanan dari restaurannya mengingat hidup Asmara bertambah berat karena harus memperdulikan lelaki breng**k itu di rumah sakit.


"Okeee . Ditunggu yaaaa. Akan diproses di dapur. Kalian bisa nonton tv. Ada indovisionnya loh dan nyambung sama youtube. Kalian bebas nontonnya dan nyemil juga boleh" ucap Bunga dengan ramah.


Pria yang sudah berumur 50 tahunan itu dengan badannya yang kurus tapi berkulit bersih masih terlihat gagah. Wajah Asmara mirip dengan ayahnya hingga jenis kulitnya. Namun keindahan rambut Asmara, ia peroleh dari sang ibu, Bu Asih.


"Sama sama , Om. Saya dengan senang hati menyambut kalian semua" sahut Bunga dengan senyum juga. Lalu Bunga izin untuk pergi ke dapur.


Rani dan Rian berebut remot untuk menonton TV, sedangkan Wawanh dan Asih hanya geleng geleng kepala saja melihat tingkah anak kembar mereka yang sudah berusia 20an tapi masih saja bertengkar meributkan hal kecil.


"Udah udah. Gantian dong" sela Asih.


"Ini loh, Bu. Rian gak mau ngalah sama aku yang jadi adiknya" keluh Rani.


Rian terlihat jengah dengan Rani yang seolah olah bersikap jadi korban. Ia pun akhirnya mengalah sebelum diomeli oleh ibunya.


"Nih makan tuh remot" ucap Rian kesal.


Remot pun dimenangkan oleh Rani. Rian memang sebenarnya tidak suka keributan, ia tipe lelaki pendiam. Apalagi calon dokter, ia lebih memilih membaca buku atau novel online di hp nya daripada nonton tv jika tidak ada buku yg bisa dibaca dihadapannya.


Ruang tamu itu pun dinikmati oleh keluarga Asmara yang tidak tau keadaan putrinya itu sedang mengalami pendarahan di rumah sakit.


Menunggu sekitar 30 menit, pesanan makan siang keluarga Asmara sudah datang. Mereka menikmati dengan lahap karena memang enak. Bunga tidak bisa menemani keluarga itu makan siang karena pelanggan di jam makan siang cukup banyak.


Keluarga Asmara begitu sabar untuk menunggu putrinya dan tidak terlalu bertanya kepada Bunga terkait keberadaan Asmara. Hingga menjelang sore, sekitar pukul set5 , Pak Wawang dan Bu Asih menghampiri Bunga di meja kasir.

__ADS_1


"Loh om dan tante kok kesini? Ada yang bisa kau bantu kah?" tanya Bunga berlagak lupa kalau orang tua Asmara didepannya itu sudah menunggu 3 jam lebih.


"Astaga aku harus jawab apa kalau mereka tanya Asmara belum datang datang juga" batin Bunga dengan gelisah.


"Maaf, Nak Bunga. Asmara masih lama kah?" tanya Asih dengan lembut.


"Oh iya, maaf Tante dan Om. Barusan Asmara telepon katanya nunggu dirumah aja karena Asmara kayaknya akan pulang agak malam. Maaf ya Tante dan Om" bohong Bunga dengan memasang raut wajah tidak enak hati.


"Oh begitu ya. Gapapa, kita tunggu dirumah Asmara aja. Lagian kita memang mau nginep beberapa hari disini. Mumpung Rian pulang dan Rani juga lagi libur" sahut Asih.


"Baik tante dan om, habis ini saya antar ke rumah Asmara ya" kata Bunga.


Namun belum saja mereka berpindah tempat , tiba tiba ada 3 orang yang langsung menghampiri meja kasir untuk bertemu Bunga.


"Oh Bu Laras datang, ada yang bisa saya bantu?" sapa Bunga dengan sedikit terkejut tiba tiba ada pelanggan tetapnya beberapa hari lalu datang dengan ekspresi khawatir.


Bunga terbelalak ketika sadar ada lelaki yang tidak ia sukai karena berperan ikut menyakiti Asmara meskipun tidak sekejam bos lelaki itu.


Melihat Jaka berada dibelakang Bu Laras bersama seorang wanita yang terlihat mirip dengan Alfano, tapi Bunga tidak mengira jika wanita itu adalah kembaran lelaki yg ikut ia benci karena sudah memberikan luka terdalam bagi sahabatnya yang tidak lain adalah bos dari lelaki yang ia lihat didepannya.


"Ngapain dia kesini lagi?" batin Bunga heran lalu fokusnya teralihkan lagi pada Bu Laras.


"Maaf, Mbak Bunga. Saya kesini ingin menanyakan keberadaaan putra saya bernama Alfano, pasti anda kenal dia karena dia pernah datang beberapa kali kesini dan menjalin hubungan kerja dengan Enak Kabeh. Saya terpaksa mengaku jika dia adalah anak saya karena saat ini kami tidak bisa menemukan keberadaannya. Sejak kemarin malam, ia tidak bisa dihubungi. Asistennya Jaka sampek bingung mau nyari kemana selain di restauran ini dan rumahnya. Kami tadi sudah ke rumahnya tapi kosong malah rumahnya tidak terkunci. Saya begitu khawatir. Mungkin ada hubungannya dengan Mbak Asmara, teman anda? Apakah dia ada didapur?" jelas Bu Laras dengan ekspresi sedih, panik, khawatir campur jadi satu.


Namanya juga perasaan seorang ibu, meskipun sedang marah pada anaknya, jika terjadi sesuatu padanya, pasti hati ibu akan luluh lagi.


Bunga speecless mendengar kata - kata Laras. Wanita itu dibuat kaget bertubi tubi dengan beberapa fakta yang dijelaskan oleh wanita didepannya.


Pak Wawang dan Bu Asih juga saling tatap, mereka heran kenapa nama putrinya disebutkan oleh orang lain yang tidak mereka kenali dan sedang mencari putri mereka.


"Mohon maaf sebelumnya, kami juga sedang menunggu kedatangan Asmara. Dia putri kami. Saya ayah dari Asmara dan ini ibunya. Sebelumnya, anda mengenal putri saya ?" tanya Pak Wawang pada Bu Laras karena penasaran.


Bu Laras mengalihkan pandangannya kepada orang tua Asmara.


"Oh anda ayah dan ibu dari Mbak Asmara ya? Perkenalkan saya ibu dari Alfano, pria breng*** yang mungkin akan berhubungan dengan kalian. Saya awalnya pelanggan Enak Kabeh yang setiap makan disini hampir ditemani oleh putri anda yang cantik dan baik. Dari dibalik itu, ada yang ingin saya ceritakan terkait kesalahan putra saya pada Asmara. Mohon Bapak dan Ibu bersedia mendengarkan cerita saya ini karena jika tidak segera diselesaikan antara keluarga, akan berakibat lebih buruk diantara kita semua" kata Bu Laras dengan serius dan tetap sopan.


Juedaaaaar!!!


Bunga seperti terkena sengatan kilat mendengar omongan Bu Laras pada Pak Wawang dan Bu Asih, ia mengerti maksud omongan itu.


"Apa jangan - jangan Bu Laras ingin mengakui dan meminta maaf atas kesalahan pria itu?" batin Bunga.


Kali ini Bunga tidak bisa berkutik lagi atau menyembunyikan sesuatu tentang Asmara pada keluarganya. Apalagi ketika Bu Laras izin menggunakan ruang tamu restauran untuk berbicara dengan keluarga Asmara dan mengajak Bunga juga ikut karena wanita ini pasti tau informasi terbaru dari Alfano dan Asmara.


Jeng...jeng...jeng.....

__ADS_1


__ADS_2