BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Makan soto ayam


__ADS_3

Benar seperti dugaan Alfano, bahwa istrinya tidak membutuhkan dia karena sampai hari ini hari Jumat sebelum ia ke Bandung, Asmara tidak pernah mengiriminya chat/pesan atau telepon sekalipun. Padahal Alfano sendiri setiap hari sejak berpisah dengan istrinya itu, berharap bahwa dugaannya salah karena Asmara menghubunginya.


Namun dipihak lain, Asmara juga penasaran apakah sang suami memang tidak memikirkannya ya meskipun memang belum ada perasaaan yang terungkap antara mereka, tapi kan setidaknya pria itu perhatian dengan bayi mereka.


Mereka berdua saling menunggu kabar tapi tak mendapatkan kabar. Ya begitulah, gengsi membawa petaka dan kesalahpahaman.


Alfano melakukan perjalanan ke Bandung pada Jumat malam sehabis menyelesaikan urusan perusahaan dan mengatur jadwal dengan Jaka.


Ia tidak memberi tau Asmara jika malam ini dia akan datang ke Bandung, pikirnya buat apa toh sang istri tidak peduli tentang dirinya atau membutuhkan kehadirannya. Alfano ke Bandung karena ya weekend dia libur dan sayang kalau rumah yang ia beli tidak ditempatin, Itu alasan saja. Padahal hatinya entah kenapa sudah terpikir kalau weekend harus ke Bandung untuk mendekati Asmara sejak misi meminta maaf pada wanita itu hingga akhirnya malah terjebak menikah tanpa rencana.


Ketika sudah sampai bandara Bandung, Alfano menaiki taxi menuju rumahnya. Dengan keadaan capek karena minggu ini begitu padat jadwalnya, pria itu akhirnya tertidur di kursi penumpang taxi. Setelah sampai, driver taxi membangunkan penumpangnya itu.


"Permisi, mas. Udah sampai tujuan" panggil driver dan satu panggilan saja sudah membuat Alfano bangun, memang pada dasarnya ia tidak bisa nyenyek tidur kalau tidak di kasur.


"Oh ya kang. Ini uangnya" sahut Alfano sambil mengeluarkan uang 1 lembar merah 100 ribuan.


"Kembalinya, mas" ucap driver.


"Bawa aja, makasih sudah antar saya kerumah" jawab Alfano dengan sneyum.


"Makasih banyak, mas" sahut driver dengan senang karena seharusnya ia hanya menerima 60 ribu ongkos taxi.


Alfano pun keluar dari taxi dengan ransselnya. Kali ini ia tidak membawa koper karena ribet, mending pakai ransel backpaker yang baru ia beli melalui Jaka sebagai perantara toko dan dirinya.


Pria itu melihat rumah Asmara sudah tertutup dengan rapat ya karena hanya 1 orang yang tinggal, wanita hamil lagi. Kalau rame malah curiga.


"Mungkin dia udah tidur ya" lirih Alfano sambil menatap pintu rumah Asmara.


"Kasih tau dia gak ya kalau aku pulang? Aku juga laper lagi, mungkin dia mau makan nemenin aku" lanjut Alfano ngomong pada dirinya sendiri.


Pria itu pun berjalan menuju rumah Asmara terlebih dahulu daripada masuk ke rumahnya. Ia menekan tombol bel rumah istrinya itu.


teng..teong....teng...teong....


Bel sudah berbunyi. Asmara yang baru selesai minum susu hamil mendengar suara itu.


"Siapa malam malam bertamu kayak gini sih?" tanya Asmara heran.


Ia melihat jam di dinding dapurnya sudah pukul set 10 malam.


"Jangan - jangan , pria itu" gumam Asmara tanpa sadar wajahnya langsung menyiratkan kegembiraan meskipun hanya dengan senyuman tipis.


"Jangan berharap lebih, Asmara. Nanti kecewa lagi kalau bukan dia" sahut Asmara pada dirinya sendiri dan mendatarkan ekspresinya lagi.

__ADS_1


Asmara pun berjalan menuju pintu rumahnya dan melihat dari jendela siapa yang berada didepan pintunya. Dan ternyata, memang pria yang ia duga yang datang yaitu suaminya.


"Oh ya hari ini hari Jumat" batin Asmara dengan mengulas senyum di bibirnya namun ia hilangkan lagi senyuman itu ketika membuka pintu rumahnya.


"Halo" sapa kaku sang CEO.


Asmara menatap wajah suaminya itu dengan raut muka datar padahal hatinya merasa senang yang tak terucap.


"Ngapain kesini? gak pulang dulu ke rumahmu sana, ngapain kesini dulu? besok aja, udah malem" balas Asmara dengan ketus.


Alfano berusaha sabar meskipun dengan wajah datarnya juga.


"Hmm, aku belum makan mau ngajak kamu makan malam" jawab jujur Alfano dengan suara lembut.


"Tumbenan dia ngomong lembut gini di awal ketemuan?" batin Asmara heran.


"Mau makan apa?" sahut Asmara seperti mengiyakan ajakan suaminya yang baru ia temui sejak beberapa hari berpisah.


"Kamu masak nggak?" malah Alfano tanya balik.


"Ya nggaklah, aku gak pernah masak dirumah kecuali bikin camilan atau snack doang" jawab Asmara apa adanya.


"Yaudah, aku ajak makan di daerah sini yang menurutmu enak dan masih buka di jam segini" ucap Alfano.


"Idih, kesambet apa dia baik kayak gini , nggak ngajak debat dan berantem mulu" batin Asmara lagi lagi heran dengan sikap suaminya yang gak angkuh.


"Disekitar sini ada soto, rawon, seblak yang didepan itu, sama nasi goreng mie gorang tapi gak seenak di alun alun Bandung" jawab Asmara.


"Soto apa?" tanya Alfano lagi.


"Soto ayam ada, soto daging ada" jawab Asmara.


"Oke, kita makan soto ayam aja ya. Kamu mau makan juga atau nemenin aku aja?" tanya Alfano dengan raut muka yang terlihat senang.


"Senyum gini terus, gantengnya nambah tau" batin Asmara yang tidak berani ia ucapkan kepada Alfano.


"Aku udah makan tadi di restauran. Aku temenin aja" jawab Asmara.


"Yaudah, aku tunggu kamu di mobil ya. Aku ke rumah dulu naruh tas" ucap Alfano lalu berjalan menuju rumahnya.


Asmara pun langsung masuk ke kamarnya dan ganti baju untuk keluar makan malam bersama suaminya.


Sesaat kemudian, Asmara sudah keluar rumah dan mengunci pintunya sedangkan Alfano sudah di dalam mobil.

__ADS_1


"Tumbenan juga dia gak bikin kita bertengkar atau berdebat. Gini kan enak, kayak istri beneran yang nurut suami" lirih Alfano melihat istrinya berjalan kearah mobilnya.


Asmara yang sudah membuka pintu mobil Alfano, langsung duduk di kursi penumpang sebelah suaminya itu.


"Tunjukkan jalannya" perintah Alfano.


"Iya" jawab singkat Asmara.


Akhirnya, jam 10 malam kurang mereka melaju di jalan Kota Bandung untuk mengantarkan Alfano makan malam soto ayam.


Di perjalanan selain, Asmara menunjukkan jalannya, Alfano mulai membuka percakapan.


"Gimana kabar si kembar? mereka gak rewel kan aku tinggal?" tanya Alfano sambil meletakkan tangannya di perut buncit sang istri tanpa izin.


Asmara kaget dengan tangan Alfano yang tiba tiba ada diatas perutnya itu, tapi karena nyaman ia biarkan.


"Ngapain rewel, biasanya dan selama mereka tumbuh tanpa kamu pun mereka gapapa" jawab Asmara yang masih ketus.


"Yakali mereka berulah bikin perut kamu kram lah apalah karena jauh dari daddynya" sahut Alfano sambil menoleh ke samping menatap Asmara yang juga sedang menatapnya dengan tatapan tajam.


"Kamu mau perutku kram lagi?" tanya Asmara sambil mengerutkan keningnya.


"Wah salah ngomong nih" batin Alfano yang melihat raut wajah Asmara seperti akan marah padanya.


"Eh nggak, nggak gitu. Maksudku telepati ku sama si kembar terlalu kuat gitu jadi pas aku tinggalin, mereka minta aku elus - elus ta apa gitu" jawab Alfano dengan kaku dan mencari alasan.


Asmara mengalihkan pandangannya ke depan dengan ekspresi masih kesal.


Alfano garuk garuk kepalanya yang tidak gatal karena baru ini dia mengakui dia salah omong. Pria itu curi curi pandang melihat istrinya disampingnya dan masih memberikan raut muka yang tidak bisa aja bercanda.


"Jangan marah dong. Maaf, aku salah" kata maaf Alfano mengaku dirinya salah pada Asmara padahal hanya karena salah ngomong. Asmara pun langsung menoleh pada suaminya dan tidak percaya jika Alfano semudah itu meminta maaf, karena seperti pengalaman sebelumnya kesalahan besar seperti meniduri pakda seorang wanita tidak membuat CEO itu merasa bersalah. Lah ini, karena salah omong langsung minta maaf.


"Kamu terlalu kelaparan ya sampek minta maaf duluan karena omonganmu?" tanya Asmara dengan tatapan heran dan curiga.


Alfano ikut menoleh ke arah istrinya.


"Yakan emang aku salah. Kayak doain perut kamu kram ketika jauh sama aku" jelas Alfano dengan raut wajah menyesal.


Bibir Asmara terangkat membentuk senyum manis dan tulus. Rasa kesal dan marah pada dirinya langsung hilang. Ia senang melihat Alfano, pria yang membuat hidupnya jadi rumit sudah mau meminta maaf lebih cepat ketika dia salah tanpa perlu diingatkan kalau salah.


"Iya gapapa" sahut Asmara dengan senyum malu malu lalu kembali melihat kedepan kearah jalan yang mobil ia tumpangi jalan.


"Itu warung sotonya" seru Asmara sambil menunjuk tempat warung soto berada didepannya.

__ADS_1


Alfano pun memarkirkan mobilnya di depan warung soto, yang kebetulan lagi kosong.


Mereka berdua pun turun dari mobil dan masuk ke warung soto bersama.


__ADS_2