
Hari ini hari kamis dan nanti malam Alfano beserta keluarga dari Jakarta akan berangkat ke Bandung. Pagi ini dirumah Asmara, para ibu ibu sudah sibuk membuat sarapan. Asmara pun tak ketinggalan untuk membantu ibu dan budenya di dapur.
Rani izin untuk pergi ke kampus karena ada kelas hingga sore, sedangkan Rian bersantai bersama bapak bapak di depan tv.
"Asmara" panggil Bu Lastri sambil mengiris sayuran untuk sop.
"Iya, bude?" sahut Asmara yang juga sedang membantu mengiris sayuran.
Bu Asih sibuk dengan pengorengan ayam kentucky made tangan sendiri.
"Bude tanya sesuatu boleh?" tanya Bu Lastri.
"Ya boleh, bude. Tanya aja yang bude mau tanyakan" jawab Asmara sambil tersenyum.
"Kenapa kamu tidak langsung laporkan ke pihak berwajib setelah kamu diperkosa sama suamimu? Maaf loh, bude cuma penasaran saja karena kamu harus menderita beberapa bulan sendirian meskipun Alhamdulillah sekarang kamu sudah bahagia bersama suamimu dan calon bayi bayi mu. Maaf ya, kalau kamu gak mau jawab, gapapa nak" ucap Bu Lastri dengan ragu ragu karena memberikan pertanyaan yang sebenarnya privasi untuk keponakannya ini namun ya namanya juga ibu ibu penasaran sama kisah orang lain apalagi masih keluarga sendiri.
Asmara malah tersenyum lebar menatap wajah budenya yang terlihat merasa bersalah karena bertanya tentang malam dimana dia diperkaos oleh suaminya ketika belum jadi suaminya.
Bu Asih yang masih bisa mendengar percakapan kakak ipar dan putrinya itu hanya diam saja dan tetap melanjutkan aktifitasnya menggoreng ayam kentucky.
"Bude nggak perlu merasa bersalah tanya tentang malam itu, mungkin ibu ku juga penasaran hal yang sama bude tapi nggak menanyakan hal itu karena takut menyakitiku lagi. Kalau bude sama ibu tanya ini ketika awal awal kalian mengetahui kenyataan kalau aku sudah dilecehkan sama Mas Alfano, mungkin aku tidak menjawabnya karena saat itu aku masih membencinya. Tapi sekarang, Alhamdulillah lelaki yang dulu sudah menyakitiku menjadi lelaki yang mengobati lukaku, dan aku bahagia bersamanya" jawab Asmara dengan lembut dan terlihat tidak ada paksaan untuk menjawab itu.
"Aku tidak melaporkan Mas Alfano waktu itu karena aku tau perbedaan sosial kita, bude. Dia seorang CEO dan dari keluarga terpandang di Jakarta, sedangkan aku hanya anak perantauan yang tidak memiliki siapa siapa disana. Jika aku memaksa melaporkanya, aku yang akan bikin malu keluarga. Pesangon dari perusahaan juga cukup untuk melanjutkan hidup hingga membuka usaha bersama temanku. Aku percaya Allah akan melindungiku , bude" lanjut Asmara lagi lagi dengan tersenyum. Ia sengaja tidak menyebutkan uang 500 juta dari Alfano saat itu karena ia rasa akan menjelekkan nama suaminya lagi.
__ADS_1
"Kamu memang wanita luar biasa, Mara. Bude salut dan bangga sama kamu, InshaAllah kebahagiaan selalu menyertaimu ya Nak" sahur Bu Lastri dengan mata berkaca kaca karena perjuangan keponakannya itu sungguh hebat.
Bu Asih yang mendengar penjelasan Asmara , diam diam meneteskan air mata sambil menggoreng ayam karena ia tidak ingin putri dan kakak iparnya itu mengetahuinya jika menangis.
"Anak ibu memang hebat" batin Bu Asih.
"Terus sekarang kamu udah maafin suami mu itu?" tanya Bu Lastri lagi.
"Iya bude, mau gimana lagi aku juga udah sayang dan cinta sama ayah dari anak anakku. Entah kenapa sejak menikah sama dia meskipun masih siri hampir 2 minggu ini, aku jadi wanita yang manja sama dia padahal dari awal aku hamil sampek sebelum ketemu lagi sama Mas Alfano , aku bisa kuat dan mandiri. Eh, tiba tiba dia nonggol dengan niat baik ingin minta maaf dan tanggung jawab sama aku. Ya gimana ya bawaan si kembar kali ya bude pingin ibu nya bahagia" jawab Asmara dengan enteng dan ceria.
Benar benar bagi Asmara saat ini, malam itu alias One Night with CEO bukan menjadi kenangan buruk yang menyakitinya namun wanita hamil ini menjadikan itu sebuah masa lalu untuk pembelajaran hidup.
Bermalam dengan CEO yang saat ini menjadi suaminya dengan ketidaksiapan dirinya melepas keperawanannya saat itu, hanya tinggal memori hidup yang Asmara tidak pernah lupakan.
"InshaAllah, bude. Doakan kehidupan kita bahagia ya" sahut Asmara.
Mereka pun melanjutkan mengiris sayuran yang tidak selesai selesai karena obrolan diantara mereka.
Akhirnya mengiris sayur udah selesai, Bu Lastri mulai membuat sop dan Asmara hanya mengamati ibu dan budenya masak dari meja makan.
Hampir 30 menit kemudian suara Pak Wawang terdengar di dapur.
"Bu, sarapannya belum matang kah? Kita para pria sudah lapar hehe" ucap Pak Wawang yang memang masuk ke dapur untuk menanyakan sarapan.
__ADS_1
"Iya, Yah. Bentar habis ini selesai. Nanti aku panggil Rian buat bantu bawa sarapannya ke ruang tamu" sahut Bu Asih.
"Oke, kami tunggu" ujar Pak Wawang lalu kembali ke ruang tv.
"Dasar para pria memang sukanya jadi bos ya, Sih" celetuk Bu Lastri.
"Hahahahaha. Udah kewajiban kita memang mbak, melayani para pria yang sudah bekerja keras untuk membahagiakan kita, yakan?" sahut Bu Asih.
"Hahahahaa, bener banget, Sih. Mereka sudah kerja keras buat menafkahi kita dan membesarkan anak anak juga" ucap Bu Lastri setuju.
"Gimana menurut , pengantin baru kita ini? Apakah kamu setuju jika wanita melayani pria?" tanya jebakan Bu Lastri kepasa Asmara.
Asmara terlihat berfikir sejenak dan tersenyum lebar ketika akan menjawab.
"Ya, aku setuju dong bude. Tapi dengan syarat dan ketentuan berlaku yaitu pria menjalankan kewajibannya dan tidak menyakiti wanita, maka otomatis wanita juga akan menjalankan kewajibannya, hahahaha" jawab Asmara sambil tertawa.
Tiga wanita di dapur itu pun tertawa bersama membicarakan kewajiban seorang wanita kepada pria.
Tak lama kemudian, Bu Asih memanggil Rian untuk membantu membawa menu sarapan ke ruang tamu. Rian pun yang merasa terpanggil langsung menuju dapur dan membantu para wanita untuk membawa beberapa piring berisi makanan dari dapur ke ruang tamu.
Asmara tidak diperkenankan membawa apa apa, maka wanita hamil itu dengan tangan kosong berjalan menuju ruang tamu.
Setelah sarapan sudah siap di meja ruang tamu dan dikelilingi oleh keluarga Asmara, akhirnya mereka bisa menyantap makan pagi bersama sama.
__ADS_1