BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Beribadah bersama


__ADS_3

Alfano keluar kamar mandi dengan lega dan melihat Asmara sudah benar benar tertidur. Pria itu berjalan menuju meja rias untuk mengambil obat anti nyeri dan meminumnya. Mungkin karena efek obat yg ia minum, membuatnya merasa mengantuk juga. Akhirnya Alfano ikut merebahkan dirinya di ranjang yg sama dengan Asmara.


Suami istri yang baru menikah beberapa jam itu akhirnya tidur siang dengan lelap. Hingga hari sudah sore, mereka masih asyik berada didalam mimpi. Apakah mereka merasa lelah sekali dengan pernikahan yang mereka lakukan ? Atau perdebatan yang tidak ada habis habisnya membuat mereka kehabisan tenaga?


Sampai waktu hampir gelap, Asmara yang bangun terlebih dahulu. Lalu ia melihat jam dinding di atas pintu kamarnya.


"Astaga! Udah jam 5 lebih!" seru Asmara terkejut melihat jamnya udah sore aja.


Buru buru wanita itu ke kamar mandi dan mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat ashar. Sedangkan, Alfano merasa terganggu dengan seruan Asmara dan ikut terbangun juga.


"Apa apan sih pake teriak segala!" kesal Alfano. Pria itu lalu melihat jam dinding yang sama dengan istrinya dan ikut terkejut.


"Astaga! Udah sore aja, belum sholat ashar lagi!" seru Alfano yang ikutan berteriak padahal ia tadi kesal dengan teriakan Asmara, eh dia juga melakukan yg sama. Buru buru ia menunggu didepan kamar mandi , gantian dengan istrinya.


Setelah pintu terbuka, Alfano langsung masuk tanpa berkata apa apa. Asmara tak memperdulikan sikap suaminya itu, ia lalu menuju tempat mukenah dan sajadahnya.


Saat mau mulai sholat, Alfano mengajak untuk melakukan ibadah bersama.


"Sholat bareng aja, aku imamin" celetuk Alfano sambil berjalan menuju Asmara yang sudah berdiri menggunakan mukenah.


Asmara tidak menyahuti ajakan suaminya itu, namun ia memberikan space untuk sajadah suaminya yang berada didepannya.


Merasa tidak ada jawaban dari Alfano, pria itu bertanya lagi.


"Mau kan aku imamin?" tanya Alfano ketika sudah berdiri didepan Asmara dengan memakai sarung dan pecinya.


"Iya" jawab Asmara singkat.


Alfano pun tersenyum dan entah kenapa hatinya merasa tenang. Pria itu mulai melakukan ibadah dan Asmara mengikutinya.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah menunaikan kewajibannya dan menjadi moment pertama mereka ibadah bersama. Karena masih canggung, mereka akhiri ibadah itu hanya dengan senyuman tanpa salaman.


"Oh iya, apakah mereka sudah pergi ya?" tanya Alfano lirih yang ia maksudkan bertanya pada diri sendiri tapi Asmara merasa yang ditanyai.

__ADS_1


"Nggak tau. Mereka kok bangunin kita ya?" sahut Asmara yang membuat Alfano mengangkat alisnya heran padahal pertanyaan yg ia tanyakan tadi untuk dirinya sendiri.


"Aku nggak tanya sama kamu. Aku tanya sama diriku sendiri. GR amat, aku tanya sama kamu" ucap Alfano yang bikin Asmara lagi lagi cegek alias malu.


"Aku punya telinga dan dengerin pertanyaanmu itu mangkanya aku jawab. Lain kali kalau kamu tanya dan gak jelas tanya kesiapa , aku gak bakal jawab" sewot Asmara yang merasa kesal lagi dengan sikap suaminya itu padahal beberapa saat tadi mereka terlihat rukun ketika melakukan ibadah bersama.


Alfano tak menyahuti Asmara, ia memilih untuk keluar kamar dan melihat sekeliling rumah.


"Udah sepi? Apa Ayah Ibu Rani Rian udah balik ya? Mami Alfani dan Jaka juga udah ikutan pulang dong?" gumam Alfano lalu berjalan menuju rumahnya disamping rumah Asmara. Benar saja ketika keluar rumah hari sudah semakin gelap dan bertepatan adzan magrib.


Ketika ia sampai rumah miliknya, sudah tidak ada sepatu sepatu yang ia kenali milik maminya, kembarannya, dan asistennya.


"Oh mereka benar benar sudah balik" ucap Alfano.


Asmara yang mengikuti suaminya keluar rumah untuk memastikan keberadaan keluarganya pun berpendapat jika mereka semua sudah balik ke rumah masing masing.


Namun, didepan rumah Alfano ada mobil yg dipakai Jaka kemarin tetao disitu. Sedangkan mobil yang dikendarai keluarga Asmara sudah gak ada.


"Apa jangan jangan mobil ini mami belikan untukku ya?" batin Alfano dengan senyum lebar.


"Mobil aja dia senyumin tulus begitu, aku manusia yang udah dia sakiti hamili dan nikahin dapet senyum kayak gitu aja susah amat" gerutu Asmara lalu memilih untuk masuk kerumah dan mengambil handphonenya mencari informasi dari keluarganya.


Ketika membuka hpnya, ada pesan dari Mami Laras dan Bu Asih. Karena pesan dari mertuanya paling atas, maka ia membacanya terlebih dahulu.


Mami Laras to Asmara


"Menantu mami yang cantik dan baik hati. Mami Alfani dan Jaka serta keluargamu pamit dulu ya. Kami pulang ke rumah masing masing untuk mengurus berkas pernikahan mu dengan Alfano 2 minggu lagi.


Maaf kami tidak pamit secara langsung karena tadi Rani mengetuk pintu kamar namun kalian gak ada sahutan. Karena penasaran dia membuka kamar kalian yg gak dikunci, eh kalian ternyata sedang lelap tertidur di ranjang yg sama.


Rani tadi manggil mami ayah dan ibumu buat melihat kerukunan kalian, seneng banget lihatnya. Jadi gak tega banguninnya. Mami cuma mau bilang, mohon bersabar sama anak itu.


Memang kadang kadang dia butuh dikerasin tapi kadang kadang juga butuh dilembutin. Mami berharap pernikahan kalian tidak sekedar pengugur tanggung jawab akan bayi yang kamu kandung tapi menjadi hubungan sehidup semati. Semangat Asmara, mami ada padamu" pesan dari Laras, mertua Asmara dan ibu dari dari Alfano.

__ADS_1


Setelah membaca pesan dari mertuanya, Asmara membuka pesan dari ibunya.


Ibu Asih to Asmara


"Asmara, putri ibu yang sudah jadi istri orang. Hari ini kamu sudah memiliki status baru ya sayang. Ibu tau ini semua berat untuk kamu lalui sendirian. Ibu juga tau , menikah dengan pria yang telah menyakitimu dan membuatmu menjalani hari berat selama hampir 5 bulan juga menjadi beban untukmu.


Tapi percaya saya ibu ya, Mara jika Alfano akan jadi suami yang baik buat kamu. Bertahanlah demi bayi yang kamu kandung. Perlindungan seorang wanita hamil dalam pernikahan lebih kuat daripada wanita hamil yang tidak menikah. Yang harus kamu tau Asmara, mertuamu sungguh baik kepada kamu dan kami semua. Dia sangat merendahkan dirinya kepada kami hanya untuk memohon maaf atas kesalahan putranya.


Setidaknya, 2 minggu ini kamu bisa memikirkan lagi semua keputusan yang akan kamu ambil untuk menikahi Alfano secara sah. Ayah dan ibu akan mendukung semua keputusanmu, melanjutkan menikah atau hanya sampai 2 minggu ini kalian terikat nikah siri. Kami mampu merawat bayimu. Yang terpenting bagi kami adalah kamu bahagia Asmara. Ibu yakin kebahagiaanmu akan segera datang, bersabarlah ya sayang.


Oh iya, tadi kami bahagia banget melihat kalian tidur di ranjang yang sama. Yaa setidaknya, kami meninggalkan kalian berdua dengan perasaan damai. Alfano adalah anak baik, mungkin karena sesuatu hal yang membuat dia menjadi seperti itu. Pokoknya, anak ibu harus sabar menghadapi suaminya selama 2 minggu ini kalau perlu seumur hidup ya"


Pesan bu Asih membuat Asmara yang duduk di kursi tamu berderai air mata karena terharu bahwa keluarganya akan mendukung dan memberi semangat apapun keputusan yang dia buat.


Ketika Asmara sedang terbawa suasana haru selepas membaca pesan dari ibu dan mertuanya, Alfano masuk rumah istrinya itu yang sebenarnya milik pria itu juga atas nama Jaka di sertifikat rumah.


Alfano berhenti berjalan menuju kamar Asmara, saat menyadari bahwa istrinya sedang menangis sambil menundukkan wajahnya menatap layar handphone yang wanita itu pegang.


"Ada apa lagi ini, kenapa dia nangis?" batin Alfano mengamati dari jauh.


Ada perasaan ingin mendekat kepada sang istri, namun Alfano tahan agar tidak berjalan menuju Asmara tapi suaranya yg keluar.


"Ayo sholat magrib jama'ah lagi. Mumpung aku lagi disini. Besok aku udah balik ke Jakarta dan mungkin jumat baru bisa ke Bandung lagi kalau gak ada meeting penting" ajak Alfano dengan nada khasnya yang cuek terkesan sedikit angkuh namun perhatian.


Asmara mengangkat kepalanya dan menatap ke depan melihat Alfano berdiri agak jauh dari posisinya.


"Habis itu kita makan ya, aku laper banget sampek tiba tiba nangis gini" sahut Asmara mengalihkan pembicaraan untuk menyembunyikan perasaan aslinya yang masih terharu dengan pesan pesan dari kedua ibunya sekarang.


Alfano tersenyum tipis mendengar permintaan istrinya. Aslinya dia juga laper jadi mengiyakan aja permintaan Asmara.


"Iya" jawab singkat Alfano lalu berjalan menuju kamar pengantin untuknya hari ini.


Asmara pun berdiri dari duduknya setelah menghapus sisa air mata di wajahnya dan mengikuti suaminya untuk masuk ke kamar.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya beribadah bersama untuk kedua kalinya. Mungkin hal baik ini bisa saja akan menjadi kebiasaan untuk mereka jika sedang bersama.


__ADS_2