BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Akhirnya semua tau


__ADS_3

Sore pun menjadi gelap, mungkin saat ini sudah jam 7 malam tapi keluarga Asmara belum datang.


"Kemana ya mereka, kok belum datang juga? Aku telepon Ayah Ibu Rian Rani juga nggak diangkat? Semoga saja tidak terjadi apa apa" khawatir Asmara karena jika sesuai estimasi, keluarganya akan datang sekitar jam 6 sorean, kok sudah satu jam lewat belum datang.


Wanita hamil itu keluar masuk rumahnya untuk melihat apakah ada mobil yang dikendarai keluarganya datang. Hingga terdengar ada mobil yang berhenti di depan rumahnya ketika ia baru saja duduk di sofa dengan was was , langsung berdiri dan keluar rumahnya untuk melihat siapa yang datang.


"Ayah Ibu!" seru Asmara yang sudah melihat Pak Wawang dan Bu Asih berjalan menghampirinya. Tanpa sadar ia berlari kecil sebagai tanda bahagia dan lega karena akhirnya keluarganya datang, namun membuat panik yang melihatnya berlari.


"Hati hati sayang, jangan lari. Kita semua udah datang" ucap Bu Asih yang ikut panik melihat Asmara berlari menghampirinya dan langsung memeluk ibunya itu.


"Asmara khawatir bu. Semuanya aku telepon tapi gak ada yg nerima. Huhu, aku takut terjadi apa apa" sahut Asmara sambil terisak karena bawaannya dari tadi udah mau nangis aja nunggu keluarganya datang.


"Hus! Kalau ngomong yang baik, anak ibu yang cantik. Tadi hp kita semua lowbat dan jalanan macet ternyata, terus kita sholat magrib di masjid dipinggir jalan tadi. Jadi maafin kita ya, gak sempet informasi ke kamu. Jangan nangis dong, cucu ibu kasihan" ujar Bu Asih sambil mengelus elus punggung putrinya itu.


Pak Wawang pun tersenyum saja melihat tingkah putri pertamanya itu. Sedangkan Rani dan Rian membawa barang barang orang tuanya seperti tas jinjing kemudian koper pakaian mereka semua dan membantu pakde dan budenya juga untuk membawa barang barang ke dalam rumah kakaknya itu.


Pakde Jarman dan Bu Lastri hanya bisa tersenyum melihat keluarga adiknya begitu damai dan meskipun terjadi masalah besar yang menimpa putrinya, mereka masih bisa terlihat bahagia.


"Eheem eheem, ada pakde bude nih, Asmara" sapa Pakde Jarman yang ramah membuat Asmara melepas pelukan kepada ibunya. Wanita hamil itu pun mengusap sisa air mata di mata dan pipinya. Ia pun berjalan menghampiri Pakde dan Budenya yang sudah rela datang untuk menyaksikan pernikahannya besok lusa. Sampai sampai Pak Wawang yang disamping Bu Asih pun diabaikan , terlalu salah tingkah karena disapa pakdenya duluan hihi.


"Pakde Jarman dan Bude Lastri, terima kasih sudah mau datang. Asmara sangat senang jika kalian tetap menerimaku sebagai keponakan kalian meskipun sudah membuat malu keluarga" sapa Asmara dengan raut wajah sendu dan meminta maaf jika apa yang ia alami bisa membuat malu keluarga besarnya, serta ia menyalami pakde bude nya bergiliran


"Ngomong apa sih, Asmara? Kami tidak malu, toh kami malah seneng bisa lihat kamu nikah dan gak lama lagi kami juga bisa gendong cucu dari keponakan bude yang cantik dan baik ini" sahut Bude Lastri dan langsung memeluk keponakannya itu.


"Terim kasih bude" lirih Asmara yang lega karena respon budenya yang menenangkan.


"Eheem eheem, giliran ayah sendiri diabaikan nih" celetuk Pak Wawang yang masih setia berdiri disamping Bu Asih dan melihat anaknya dari tadi yang beluk menegur sapa dengannya secara langsung.


"Ayah!" seru Asmara lalu berjalan menghampiri Pak Wawang dan langsung memeluknya.


"Maafkan aku, Yah. Aku terlalu khawatir tadi sampai meluk ibu duluan terus dipanggil Pakde dan seperti tak melihat ayah karena ayah juga pake baju hitam malam malam begini hehe" ucap Asmara yang diakhiri dengan pembelaan diri.


"Hahaa, iya sayang. Maafkan kami ya yang bikin kamu khawatir. Ayo deh masuk, gak enak sama pakde dan budemu kalau diluar terus gini. Kena angin malam gak baik buat tubuh" sahut Pak Wawang merengkuh pinggang istrinya dan putrinya bersamaan untuk ia ajak masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Pakde Jarman lalu ikutan merengkuh pinggang Bu Lastri mesra dan mengikuti berjalan masuk ke rumah keponakannya itu.


Rani dan Rian sudah duduk didepan tv karena mereka rasa , kakaknya jadi melow banget ketika hamil sampai berpelukan di luar rumah dengan ibunya dengan tangisan. Karena mereka anak muda yang tidak mau ikut mencampuri urusan orang dewasa, lebih baik mereka nonton tv didalam rumah.


"Rani Rian, kalian gak menyapa kakak?" panggil Asmara ketika sudah masuk rumah dan melihat adik adiknya itu seperti tidak ingin memberikan salam padanya.


Saudara kembar itu pun berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Asmara yang masih berdiri di depam meja tamu sedangkan Pak Wawang Bu Asih Pak Jarman dan Bu Lastri sudah duduk di kursi tamu.


"Kakak sih, nangis duluan ketika kita udah sampai hehe" sindir Rani sambil tertawa kecil dan menyalami Asmara bergantian dengan Rian.


"Maaf, tadi kakak panik banget karena udah sejam lebih kalian belum datang dan telepon kalian juga kok kompak sih sama sama mati. Bikin orang khawatir aja" kesal Asmara.


"Hehe, maaf maaf Kak. Tadi kita main hp terus di mobil , ya aku sama Rian kira sih ayah dan ibu hp nya masih banyak baterai eh sama aja" jujur Rani.


Rian hanya diam karena memang dia tidak suka ngomong apalagi berdebat.


"Maaf ya, Asmara. Pakde dan bude gak bisa main hape jadi ya gak bawa hp kita kesini. Tadi juga mau berangkat, hp nya dipake Lukman mainan. Jadi ya ketinggalan dirumah" sela Pakde Jarman yang merasa bersalah juga.


"Gapapa, Mas. Yang penting kan kita udah sampai dirumah Asmara dengan selamat. Memang bawaan ibu hamil agak sensitif ya kan Mara?" ucap Pak Wawang mencairkan suasana agar tidak menjadi serba salah.


Rani yang berada didekat Asmara langsung memegang kedua lengan kakaknya dan ia hadapkan padanya.


"Kakak tadi nyebut si twins? Apakah keponakanku kembar?" tanya Rani dengan antusias dan sorotan penuh harap.


Asmara tersenyum pada adik perempuannya yang super ekspresif beda dengan adik laki lakinya yang cool alias dingin dan terkesan cuek, namun saat ini Rian juga menatap kakaknya penuh harap.


"Kak jawab dong , kok senyum aja" omel Rani yang tidak sabar mendapatkan jawaban bahwa dia akan memiliki keponakan kembar.


Semua sudah siap mendengarkan jawaban Asmara , lalu wanita itu pun menjawab pertanyaan adiknya yang juga menjadi pertanyaan semua orang di ruang tamu rumahnya itu.


"Alhamdulillah, anak Asmara dan Mas Alfano kembar. Disini ada 2 bayi yang siap jadi keponakan Rani Rian lalu cucu ayah ibu dan pakde bude juga" ucap Asmara dengan bahagia.


Semuanya pun tersenyum lebar mendengarkan ucapan Asmara sambil berucap syukur masing masing.

__ADS_1


Rani terlalu bahagianya langsung memeluk kakanya.


"Aaah, kakak! Selamaaaat! Aku seneng banget langsung punya ponakan 2!" seru Rani yang sangat bahagia sampek lupa pelukannya sedikit menekan perut sang kakak.


Asmara menerima pelukan Rani itu dengan kedua tangannya yang ia letakkan di pinggang sang adik dan menahan agar tubuh Rani tidak terlalu menekan perutnya.


Bu Asih pun sadar pelukan putri bungsunya itu membuat Asmara tidak nyaman. Ia pun berdiri dan memisahkan pelukan over bahagia Rani kepada kakaknya.


"Udah udah, kamu meluk kakakmu erat banget. Kasian ponakanmu , kamu teken sama tubuhmu, Rani" omel Bu Asih membuat Rani pun baru sadar jika perut Asmara memang sudah besar dan membuncit karena hamil anak kembar.


"Hehe maaf maaf, Kak. Aku terlalu senang" sahut Rani terkekeh malu dan menggaruk lehernya pelan sebagai tanda salah tingkah.


"Gapapaaa, Ran. Mereka kuat kok" ucap Asmara dengan lembut sehingga tidak membuat adiknya makin merasa bersalah.


Ibu Asih juga ingin memeluk putrinya dan mengucapkan selamat.


"Selamat ya sayang, udah mau jadi ibu 2 anak sekaligus. Sehat sehat ya cucu nenek didalam sini" ujar Bu Asih melepas pelukannya dan langsung mengelus perut Asmara.


"Iya bu, InshaAllah cucu ibu disini sehat karena ibunya bahagia" sahut Asmara sambil tersenyum menatap wajah ibunya. Pandangan wanita itu ia alihkan ke samping dimana adik lelakinya masih menatap dirinya dengan raut bahagia namun belum terungkapkan.


"Kamu gak mau nyentuh ponakan kamu, Yan? Sini peluk kakak, masa diam aja disitu lihatin kakak sambil senyum gitu" minta Asmara pada Rian yang memang perlu diminta dulu mendekat kalau udah mode diam begitu.


Rian pun dengan langkah pelannya mendekat dan menerima pelukan Asmara yang sudah menerima pelukan darinya.


"Selamat ya Kakak. Aku seneng kalau kakak bahagia" ucap Rian dalam pelukan kakaknya dan menahan air mata.


Jujur Rian itu adalah anak cowok yang dingin namun hatinya lembut dan berperasaan. Mangkanya ia ingin jadi dokter karena ia ingin menyalurkan perhatiannya dengan menyembuhkan orang lain tanpa banyak berkata. Tadi ketika dia tahu anak yang dikandung Asmara kembar, ia bahagia tapi lagi lagi ia masih kesal mengingat wajah lelaki yang menghamili kakaknya itu. Jadi rasa bahagianya masih bercampur rasa kesal kepada Alfano.


"Terima kasih, adik kakak yang paling tampan" sahut Asmara yang menepuk punggung adiknya itu pelan.


Setelah itu pelukan terlepas, pria muda itu mencoba menyentuh perut buncit Asmara dan mengelusnya pelan.


"Semoga kalian tidak sejahat ayah kalian kalau dewasa nanti sampai tega menyakiti wanita baik seperti ibu kalian" batin Rian.

__ADS_1


Lalu Rian pun melangkah kebelakang dan menjauhi Asmara karena sepertinya Pak Wawang , Pakde Jarman dan Bu Lastri juga ingin bergantian memeluk calon ibu dari anak kembar itu.


Sepertu dugaan, ketiga orang yang belum mengucapkan selamat kepada Asmara pun datang mendekat dan memberikan selamat atas kehamilan kembar Asmara. Di ruang tamu itu , suasana suka cita pun terasa sangat bahagia.


__ADS_2