BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Cinta yang dipercepat


__ADS_3

Setelah melakukan ibadah subuh, Bu Laras dan Alfano mulai beres beres barang mereka persiapan berangkat ke bandara.


Asmara hanya duduk diranjangnya melihat Alfano yang sedang membereskan kopernya hanya diam.


"Kenapa kamu diam aja? Gak mau ditinggal ya?" celetuk Alfano karena melihat ekspresi istrinya datar tak bersemangat.


"Ih siapa juga yang gak mau ditinggal. Aku diam soalnya ngantuk" bohong Asmara. Sebenarnya yang diomongkan Alfano benar ia rasakan.


"Oh yaudah. Tidur lagi aja, nanti aku bilang mami kalau kamu lagi tidur. Mami pasti ngerti" ucap Alfano enteng.


"Lagi lagi kamu pingin jadiin aku mantu yg gak baik buat mami, Mas" kesal Asmara.


"Terus kalau mami lihat wajah datarmu kayak sendu gitu apa mami bahagia? Senyum dong mangkanya, biar aku dan mami yang akan pergi ke Jakarta tenang" sahut Alfano dengan tatapan serius.


"Hmmm, iya maaf" lirih Asmara.


Alfano yang melihat perasaan istrinya yg tak menentu begitu, sudah dipastikan jika wanita hamil memang lagi sensitif apalagi akan ditinggal sendiri.


Pria itu berjalan mendekat dan duduk disamping Asmara. Lalu memegang kedua lengan istrinya untuk ia hadapkan dengannya.


"Istriku , mami dari anak anakku. Aku tau beberapa hari ini kita mulai belajar hidup menjadi suami istri yang baik. Sebenarnya aku juga gak tau kenapa enggan buat balik ke Jakarta dan ninggalin kamu disini, tapi gimana masih banyak kerjaanku yg harus kuurus. Weekend di sini bikin aku sampek lupa tanggung jawabku jadi CEO. Disisi lain juga, aku mulai nyaman jadi suamimu dan deket sama twins. Hmmm, sabar yaaa. Aku tinggal 3 hari aja, InshaAllah kamis malam kan aku harus kesini lagi buat pernikahan kita. Tunggu aku yaa, aku yakin kamu wanita kuat dan mandiri, gak bakal lemah karena kutinggal beberapa hari" jelas Alfano dengan nada lembut dan penuh perhatian hingga membuat mata Asmara berkaca kaca.


"Ternyata dia tau perasaanku" batin Asmara.


Alfano yang sudah melihat mata Asmara berair dan akan mengeluarkan air mata, langsung menarik pelan tubuh wanita dihadapannya untuk ia peluk.


"Please, jangan bikin aku makin gak tega ninggalin kamu, Asmara. Jangan nangis gitu. Beneran nanti aku teleponin deh. Kita belum pernah teleponan atau ngirim chat kan. Aku dulu nanti yg akan menghubungi mu. Sampek bandara aku telepon kamu, mau terbang aku chat kamu, dan sampek jakarta aku telepon kamu lagi. Atau kalau aku sampainya waktu kamu lagi kerja, aku telepon bunga buat ngabarin kalau aku udah sampek. Gimana?" bujuk rayu Alfano.


Asmara pun hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Ternyata tanpa sepengetahuan mereka, ada sepasang mata yg mengamati kedekatan penuh haru sebelum perpisahan yaitu sang mami. Bu Laras berdiri di samping pintu kamar anak dan menantunya yg terbuka , lalu mendengarkan semua percakapan dan sedikit mengintip apa yang dilakukan sepasang suami istri itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah, mereka sudah saling menerima" batin Bu Laras bahagia dan lega.


Alfano pun melepaskan pelukannya dari Asmara dan melihat sisa air mata di pipi wanita itu.


"Udah jangan nangis. Inget kan cuma beberapa hari, nanti ketemu lagi dan kita menikah sah" ucap Alfano menenangkan sambil menghapus sisa air mata di pipi Asmara.


"Iya. Maafin aku melow dan manja begini, bawaan anak anak mu kali ya gak mau ditinggal daddynya" celetuk Asmara.


"Katanya mereka juga anakmu ? Kok bilang cuma anakku doang?" goda Alfano.


"Hehe, kalau soal manja manja begini itu bawaan bayi kamu. Kan kamu tau sendiri , aku itu wanita kuat dan mandiri. Gara gara mereka , aku jadi sayang sama daddynya" tanpa sadar Asmara mengakui perasaannya kepada Alfano dengan bilang sayang untuk pertama kalinya. Beberapa detik kemudian Asmara menyadari ceplosanya. Alfano pun ikut terdiam sesaat mendengar kata sayang dari sang istri.


"Upps, aduh pake acara keceplosan lagi" batin Asmara.


"Kamu bilang apa? Sayang? Kamu sayang sama aku? Udah cinta sama aku, Asmara?" tanya Alfano menuntut jawaban.


"Maaf, keceplosan" ucap jujur Asmara yang gak punya ide buat menghindar.


"Kamu beneran udah sayang aku?" tanya ulang Alfano memastikan.


"Nggak, itu bohong" sahut Asmara malah berbohong.


"Yaudah. Tadi kalau semisal beneran sayang, aku mau nyatain cinta sekarang juga" goda Alfano.


"Hmmm, kamu bisanya niru niru Mas" celetuk Asmara.


"Niru gimana. Tadi kamu bilang sayangnya karena anak anak kita kan, tapi aku akan bilang hal itu bukan hanya karena mereka ada diperut kamu ini namun karena kamu wanitanya. Aku cinta dan sayang sama kamu, Asmara Raniata" akhirnya Alfano tak kuasa menahan perasaanya untuk menyatakan cinta setelah di pancing sang istri. Rencana nyatain cinta setelah akad sah mengalami percepatan jadwal.


Asmara diam dan mencoba mencerna omongan Alfano yang ia tunggu tunggu dari beberapa hari lalu.

__ADS_1


"Kamu bilang apa, Mas?" tanya Asmara memastikan dan memang ingin mendengar pernyataan cinta dari suaminya lagi.


"Dengerin baik baik ya sayang. Aku , Alfano Yudhistira mencintai dan menyayangi Asmara Raniata karena dia adalah wanita yang telah diam diam mencuri hatiku dengan sikapnya yang lugas, jutek, terlihat kuat, dan mandiri" ucap Alfano dengan lugas dan tatapan penuh arti.


"Kamu beneran udah cinta aku, Mas?" tanya Asmara lagi dengan mata berkaca kaca bahagia.


"Iya sayang. Aku serius. Aku cinta sama kamu. Aku sayang sama kamu. Mungkin perasaan ini muncul sejak aku mengejar permintaan maafmu atau sejak malam itu karena rasa bersalah yg amat mendalam jadinya cinta ini jadi balasan untuk dosa ku itu" jelas Alfano namun membuat Asmara mengerutkan dahinya seperti tidak terima penjelasan dari suaminya itu.


"Jadi kamu ini cinta karena merasa bersalah udah memperkaos aku gitu? jadi perasaanmu ini hanya sebagai penebus dosa atas kesalahanmu yang bejat itu?" tanya Asmara serius.


"Mati aku, salah ngomong lagi" batin Alfano yang merasakan hawa ingin marah dari istrinya.


"Ya kan salah paham. Bukan gitu maksudku, Asmara" ucap Alfano dengan raut muka sendu, tidak ingin melawan Asmara.


Asmara yang udah salah paham memilih berdiri dan berjalan keluar kamar. Bu Laras yang dari tadi mengintip buru buru berjalan kembali ke rumah putranya melalu pintu penghubung.


"Asmara, tunggu sayang. Jangan pergi gitu dong. Aku udah nyatain perasaanku ke kamu secara jujur. Aku udah bilang cinta duluan ke kamu secara jelas seperti yang kamu mau" panggil Alfano sambil memegang tangan Asmara sehingga wanita hamil itu harus menghentikan langkahnya.


"Ayolah sayang. Aku beneran cinta sama kamu. Selama aku nyari kamu, pikiran ku hanya ada kamu, serius. Kamu bisa tanya Jaka, dia yg tau bagaimana aku ketika mencari kamu. Kamu bukan kesalahan atau dosa untukku. Kamu wanita yang memang Tuhan ciptakan untukku dan menjadi ibu dari anak anakku. Please, aku mohon maafkan aku ya, kalau aku salah ngomong tadi" mohon Alfano sambil memegang salah satu tangan Asmara dengan kedua tangannya.


Asmara pun bisa melihat kesungguhan Alfano dalam menyatakan cinta dan menjelaskan kesalah pahaman tadi. Ia pun menatap suaminya dan memposisikan tubuhnya untuk berhadapan dengan Alfano.


"Awas kalau kamu sampek bilang aku adalah kesalahan di hidupmu suatu hari nanti entah di kondisi kita bertengkar atau perang antar suami istri. Aku benar benar tak akan memberikan kesempatan untukmu meminta maaf, Mas. Karena bagiku saat ini, kamu bukan lagi kesalahan dan malam itu bukan lagi momen terburuk dari hidupku. Kamu sudah menjadi obat untuk rasa sakit yang aku rasakan, meskipun kamu juga yg melukai. Tapi sekali lagi, saat ini kamu sudah menjadi seseorang yang berarti untukku. Jangan sampai kamu menyakitiku dengan omonganmu atau sikap kasarmu. Aku percaya pada Tuhan memberikan lelaki seperti mu untuk menjadi suamiku adalah takdir terbaik yang bisa kita. Terima kasih sudah menyatakan cinta duluan meskipun perlu aku pancing dulu dengan kata sayang" jelas Asmara sambil meraih kedua tangan sang suami dan menarik Alfano dalam pelukannya tapi tidak sampai terlalu menekan perut buncitnya.


Gantian saat ini mata Alfano yang berkaca kaca mendengarkan penjelasan sang istri.


"Aku janji sayang. Aku akan berusaha tak akan menyakitimu dengan sengaja , karena namanya aku manusia biasa pasti ada moment dimana aku tanpa niatan menyakiti ternyata mengatakan hal yg tidak kamu suka atau membuat rasa sakit di hatimu. Aku mohon ingatkan jika aku salah , jangan main tinggal kayak barusan. Masalah tidak akan selesai jika saling diam" sahut Alfano sambil menahan air mata agar tidak jatuh dari matanya.


"Iya, Mas Alfano sayang" ucap Asmara yang masih nyaman berada dipelukan suaminya. Sekitar mungkin 2 menit mereka saling berpelukan sebagai tanda penyaluran kebahagiaan karena akhirnya tersampaikan lah kedua rasa anak muda itu.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup berpelukan nya dan tiba tiba mengingat suaminya bersama ibu mertuanya akan berangkat ke Jakarta , Asmara melepaskan pelukannya pelan. Alfano seperti masih betah dipeluk istrinya tapi dia harus segera berangkat ke bandara karena jam sudah menujukkan hampir jam 6 pagi padahal pesawat akan lepas landas jam 7 pagi.


__ADS_2