
Alfano menuangkan sereal dan susu UHT kedalam piringnya. Dengan wajah masih kesal dan cemberut , pria itu memakan sarapannya. Telur ceplok nya juga ia makan 2 dan menyisahkan 1 untuk Asmara.
"Makasih udah digorengin telur" celetuk Alfano disela sela makannya.
Asmara tersenyum dan menjawab "sama sama".
Mereka berdua pun menikmati sarapan bersama dengan sereal susu dan telor ceplok tanpa nasi.
.
Setelah sarapan, Alfano pamit untuk pulang karena mau mandi. Asmara pun membersihkan dirinya sebelum berangkat kerja ke restauran jam 9 pagi. Sekarang masih jam 8 pagi jadi ada waktu 1 jam untuk siap siap.
Alfano dirumahnya sudah terlihat segar dan berpakaian casual seperti pria muda pada umumnya tapi ternyata sudah beristri. Ia saat ini sedang menatap pintu penghubung dirumahnya.
"Apa aku kasih kejutan aja buat dia nanti malam ya? Tapi kalau dia kaget terus jatuh gimana?" lirih Alfano cari ide untuk bisa membuka connection door didepannya ini.
"Atau aku sekarang kerumahnya dia, bilang kalau aku akan buka pintu penghubungnya , renovasi dikit daripada gabut kan hari ini" lanjut Alfano mempertimbangkan keputusannya.
"Oke, aku bilang aja deh" ucap Alfano akhirnya memutuskan. Ia pun keluar rumahnya dan berjalan menuju rumah Asmara yang terbuka.
"Asmara , kamu dimana?" panggil Alfano ketika sudah masuk rumah istrinya.
Tidak ada sahutan dan pria itu berjalan lebih kedalam rumah dan membuka pintu kamar Asmara.
"Astaga, Alfano!! kalau mau masuk ketuk pintu dulu dong" teriak Asmara terkejut pintu kamarnya tiba tiba terbuka padahal dia masih pakai handuk dengan tubuhnya yg polos habis mandi. Alfano terpana melihat istrinya sendiri.
"Tutup pintunya!" seru Asmara sambil memegang handuknya.
Alfano salah tingkah. Ia menutup pintu ketika dirinya sudah masuk kamar dan membuat Asmara berteriak lagi.
"Kamu keluar dulu! Aku masih belum pake baju, Alfano" teriak Asmara kesal.
__ADS_1
"Eh eh.. maaf" gagap Alfano kemudian keluar kamar dan menutup pintunya lagi.
Pria itu memegang dadanya yang tak karuan setelah melihat rambut basah Asmara, kulit putih dan kaki jenjang sang istri ditambah lagi perut buncit yang membuat semakin terlihat sexy dimatanya.
"Bodoh bodoh... mana etikamu Alfano masuk ke kamar wanita tanpa mengetuk?" gerutu Alfano pada dirinya sendiri dengan menjambak rambutnya.
Namun sesaat kemudian ia berfikir bahwa ia baru sadar Asmara adalah istrinya sekarang, jadi wajar saja kalau melihat dalam keadaan hampir polos gitu.
"Wait wait, aku kan suaminya? Kenapa aku harus salah tingkah ya? Apa aku salah lihat istri sendiri habis mandi begitu?" gumam Alfano.
Tapi sesaat lagi pikirannya berubah.
"Kamu tetep salah, Alfano. Kamu sendiri yang menganggap dia hanya ibu dari anak anakmu dan pernikahan ini hanya pernikahan sementara yang minggu depan baru diputuskan oleh Asmara untuk dilanjutkan atau tidak. Hubungan ini tidak boleh lebih jauh dari sebatas tanggung jawab" ucap Alfano menyakinkan dirinya bahwa ia tidak seharusnya meminta hak jika belum melaksanakan kewajibannya sebagai suami yang baik.
Alfano dengan detak jantung yang masih berdebar, memilih duduk di kursi meja makan depan kamar Asmara. Hingga 15 menit kemudian, Asmara keluar kamar dengan wajah datar dan terlihat marah.
"Jangan anggap aku buka pintu rumah biar kamu seenaknya masuk tanpa izin" ucap Asmara dengan sinis.
"Aku suami mu. Aku tau aku bukan suami yang baik untukmu, tapi syukurlah aku yang masuk tadi. Gimana kalau orang lain yang asal masuk dan membuka pintu kamarmu yang tidak terkunci? Kamu tidak perlu semarah itu, Asmara. Lagian aku tidak berharap apapun ketika melihatmu begitu. Lain kali tutup rumahmu jika kamu mandi atau kunci kamarmu" sahut Alfano membela diri.
Asmara semakin cemberut saja melihat Alfano , tapi merasa yang diomongin suaminya itu benar.
"Kenapa kamu kesini?" tanya Asmara to the point.
"Aku ingin memberitau kan sesuatu" jawab Alfano.
"Sesuatu apa. Buruan aku hampir telat ke restauran" ucap Asmara.
"Sini duduk dulu, biar enak ngobrolnya. Nanti aku telepon Bunga buat izinin kamu telat" kata Alfano sambil menarik kursi kosong di meja makan untuk Asmara.
Asmara pun menghindari perdebatan dan mengikuti perintah Alfano untuk duduk.
__ADS_1
"Buruan bilang" ucap wanita hamil itu setelah duduk .
"Rumah ini ternyata memilki pintu penghubung atau connection door. Tapi kayaknya pintu dari rumah mu ini ditutup pake tripleks jadi kalau aku mau buka , harus mbongkar tripleks itu" jelas Alfano.
Asmara menatap Alfano dengan tajam dan penuh pertanyaan.
"Kenapa harus dibongkar? Kamu juga cuma weekend ke sini ngapain dibuka? Gak penting" sahut Asmara menolak rencana Alfano.
Alfano menghembuskan nafas berat dan merilekskan diri jangan sampai marah sama wanita hamil didepannya lagi.
"Gini ya, Ibu Asmara. Kalau semisal ada apa apa kayak tadi tiba tiba ada orang masuk ke rumahmu dan kamu dalam bahaya , aku langsung bisa masuk kerumahmu tanpa harus melalui pintu depan kan. Lebih cepat dan praktis. Kalau kamu gak mau sih gapapa, tapi aku akan bilang mami kalau rumahku dan kamu punya pintu penghubung, mami pasti berusaha buat buka pintu itu" ujar Alfano dengan senyuman smirk.
Asmara memutar matanya jengah mendengar perkataan suaminya itu seperti ancaman baginya.
"Oh , sekarang kamu bawa bawa mami ya? Anak mami emang!" omel Asmara.
"Iya, memang aku anak mami. Masalah buat kamu?" balas Alfano sengit.
"Yaudah, terserah kamu mau bongkar dan buka pintu itu. Pokoknya , waktu aku nanti pulang harus bersih dan ruangan dapurnya tidak ada bekas bekas renovasi" ucap Asmara sambil berdiri , pasrah karena ia sangat menghargai mertuanya dan pasti tidak akan menolak dengan perintahnya. Mendingan sekarang aja ia mengiyakan permintaan Alfano daripada makin ribet kalau mertuanya tau.
"yes, berhasil!" batin Alfano bersorak kemenangan.
"Oke siap, bisa aman untuk syaratmu itu. Hati hati kerjanya" sahut Alfano dengan gembira dan membiarkan Asmara pergi ke restauran sendiri.
Asmara pun berjalan keluar rumahnya. Namun , setelah istrinya tidak ada dihadapannya, Alfano baru sadar ia tidak peka sama wanita yg mengandung anaknya. Masa ada suami di Bandung gak nganter atau nemenin istrinya itu ke restauran.
"Gak peka banget sih! Dia bawa twins, Alfano. Masa kamu biarin jalan sendiri padahal ada kamu. Cepet susul dia!" batin Alfano memberikan pergerakan cepat.
Pria itu langsung berlari keluar rumah hingga menyusuri jalan keluar perumahan dan masih bisa melihat punggung Asmara didepannya.
"Alhamdulillah, dia belum jauh" ucap Alfano sambil berlari menyusul istrinya itu.
__ADS_1