
#FLASHBACK - Pengakuan#
Setelah Bu Laras mengetahui keberadaan putranya bersama putri dari Pak Wawang dan Bu Asih yang berada didepannya, raut wajah Bu Laras berubah sumringah penuh dengan kebahagiaan. Padahal raut wajah yang lain di ruangan itu masih terlihat terpukul oleh kenyataan bahwa Asmara telah disakiti oleh Alfano.
Namun, Bu Laras menghampiri orang tua Asmara dengan optimis bahwa rencananya akan mereka terima. Rencana untuk menyatukan pria dan wanita yang sudah terikat dengan ikatan darah meskipun diluar ikatan pernikahan karena sebuah kesalahan.
Bu Laras awali dengan meminta maaf sekali lagi atas perbuatan putranya yg sebenarnya sulit untuk dimaafkan, namun ini semua menyangkut masa depan anak anak mereka.
Setelah meminta maaf tapi masih belum ada sautan dari Pak Wawang dan Bu Asih, Bu Laras mulai menceritakan informasi yang ia dapat dari temannya tadi sekaligus Dokter Kandungan yang merawat Asmara dan mengetahui keadaan Alfano yang menjalani rawat inap di rumah sakit umum Bandung. Ia juga menjelaskan seluruh rencana untuk mempertanggungjawabkan kesalahan putranya dengan baik.
Dengan bujuk rayu Bu Laras dan meyakinkan bahwa putri mereka tidak akan tersakiti oleh Alfano serta kehidupan Asmara akan dijamin lebih baik, akhirnya Pak Wawang dan Bu Asih terpaksa memaafkan putra dari wanita yang telah merendahkan dirinya untuk meminta maaf kepada mereka, meskipun hati mereka belum sepenuhnya ikhlas. Namun, rayuan Bu Laras benar benar menyakinkan dan dapat dipercaya.
"Baik , saya akan mencoba memaafkan pria itu. Namun, saya tidak janji akan bersikap baik padanya sampai ia bisa membuktikan bahwa dia bisa menjadi suami yang baik untuk putri saya" kata Pak Wawang dengan tegas.
Betapa bahagianya Bu Laras mendengar perkataan calon besannya itu.
"Alhamdulillah! Terima kasih Pak Wawang dan Bu Asih! Saya akan pastikan Asmara akan hidup bahagia dengan Alfano. Saya pastikan juga jika sekali saja lelaki itu menyakiti Asmara lagi, langsung saya cabut semua aset dan harta warisnya lalu akan saya limpahkan ke Asmara. Keluarga anda adalah keluarga baik, saya sekali lagi mohon maaf atas kesalahan anak saya" sahut Bu Laras dengan semangat dan meneteskan air mata bahagia lagi.
"Tapi saya mohon pengertiannya hari ini untuk Alfano agar tidak anda pukul dulu atau anda hakimi sendiri ya Pak. Karena seperti yg saya ceritakan tadi bahwa Alfano sedang tidak baik baik saja setelah kena diare parah. Besok akan kita nikahkan mereka, lalu setelah Alfano membaik silahkan anda siksa dia jadi mantu bapak. Ya saya harap jangan sampek membuat dia pergi dari dunia ini menyusul ayahnya ya hehehe" minta Bu Laras dengan kekehan kecil berniat mencairkan suasana ruangan itu agar tidak tegang terus.
Pak wawang pun tersenyum tipis. Bu Asih masih menyeka sisa sisa air matanya. Namun, ia tau perjuangan seorang ibu untuk memperbaiki kesalahan putranya itu luar biasa. Sebenarnya Pak Wawang dan Bu Asih sungguh tersentuh dengan usaha Bu Laras meminta maaf tanpa henti pada mereka untuk kesalahan putranya, meskipun putranya sendiri belum minta maaf pada mereka.
Akhirnya, Bu Laras dan Pak Wawang pun mengobrol melanjutkan rencana menikahkan anak mereka. Bu Asih yang duduk di tengah tengah mereka pun ikut mendengarkan, sedangkan yang muda dari mereka memilih untuk keluar ruangan itu dan membiarkan para orang tua mengobrol.
Di luar, Jaka mengajak bicara Bunga mengenai keberadaan Alfano dan Asmara.
"Bu Bunga maaf, anda sudah menghubungi Asmara? Telepon Alfano ternyata ketinggalan dirumahnya, jadi saya tidak bisa menghubunginya" tanya Jaka dengan nada sopan.
Bunga pun tidak ada alasan untuk tidak suka pada Jaka karena masalah Asmara dengan Alfano sudah terbongkar dan tidak ada rasa kesal lagi meskipun ya masih kesal dikit hehe.
"Telepon Asmara kayaknya juga lowbat. Dari tadi sore udah aku teleponin gak bisa" jawab Bunga mulai santai.
__ADS_1
"Apa mereka benar benar akan pulang malam ini ya?" sela Alfani yang ikut nimbrung dengan keduanya.
Mereka akhirnya memilih mengobrol bertiga di meja kosong. Sedangkan Rani dan Rian, mereka sedang bingung menjadi yang paling muda harus bagaimana di kondisi kakaknya itu. Mereka memilih untuk memesan cemilan lagi di dapur dan minuman untuk mereka santap.
Setelah 1 jam berjalan, Bu Laras , Pak Wawang dan Bu Asih keluar ruang tamu dengan raut wajah yang santai dan sudah tidak tegang satu sama lain.
Ternyata Bu Laras mengajak mereka pulang. Ia juga memberitaukan bahwa rumah Alfano berada disebelah rumah Asmara tapi tidak bilang jika rumah yang ditinggali Asmara juga sudah dibeli oleh putranya atas nama Jaka.
Mereka semua pamit ke Bunga untuk pulang dan sebelum itu Bunga memberikan kunci cadangan rumah Asmara yang sengaja diletakkan di restauran.
Akhirnya mereka semua berangkat menuju rumah Asmara dan Alfano.
Bunga merasa lega , akhirnya hari yang berat ini sudah ia lewati.
"Syukurlah, masalah Asmara dan pria itu sudah diselesaikan antar keluarga. Jadi bisnis restauran dan perusahaan Batu Bara akan semakin lancar tanpa gangguan masalah pribadi" lirih Bunga dengan bahagia dan otak bisnisnya berjalan.
.
"Ini rumah Alfano, Pak Wawang sekeluarga. Sebelahnha rumah Asmara, memang mereka sudah cocok bersama kan?" goda Bu Laras ketika melihat Pak Wawang sudah berada disamping Bu Asih.
"Wah, bagus juga ya rumahnya" kata Bu Asih dengan sumringah.
"Saya izin ke rumah Alfano dulu ya. Mau bersih bersih dulu. Nanti saya akan ke rumah Asmara untuk menunggunya dan Alfano datang" pamit Bu Laras sambil menjabat tangan calon besannya itu.
"Oh iya, Bu Laras. Kami juga mau bersih bersih badan dulu. Udah dari siang ini bajunya hehe" canda Bu Asih yang sudah sumringah lagi.
Pak Wawang hanya tersenyum mendengar obrolan ibu - ibu itu. Lalu mereka pun berpisah sementara.
.
45 menit kemudian, Bu Laras sudah mengetuk rumah Asmara dan yang membuka pintunya adalah Rian.
__ADS_1
"Selamat datang, Bu. Silahkan masuk. Ayah dan Ibu masih di kamar ganti baju" sapa Rian sopan.
"Oh iya nak, gapapa. Santai aja. Saya tunggu kok" sahut Bu Laras dengan ramah. Rian pun mempersilahkan Bu Laras dan diikuti oleh Alfani dan Jaka. Ia menghampiri Rani yang sedang main hp di meja makan dekat ruang tamu.
Beberapa saat menunggu, Pak Wawang dan Bu Asih menghampiri tamunya yang tidak lain Bu Laras bersama putri dan seorang pria yang cukup tampan yaitu Jaka.
"Wah sudah disini saja , Bu Laras dan yang lain" sapa Pak Wawang dengan ramah.
"Iya Pak. Saya tidak sabar menyambut calon mantu saya" sahut Bu Laras dengan senyuman bahagia.
"Semoga saja Alfano akan seperti ibunya yang baik dan tau memperbaiki keadaan" ujar Bu Asih.
"InshaAllah. Anak itu sebenarnya baik, tapi memang kesalahan yang terjadi diawali dari jebakan mantan rekan bisnisnya dan anak itu bingung mau gimana , mangkanya tidak bisa bertanggung jawab secepatnya. Sekali lagi saya minta maaf ya Bapak dan Ibu" kata Bu Laras lagi lagi masih minta maaf penuh penyesalan jika ingat kesalahan anaknya itu parah bagi keluarga bermartabat seperti mereka.
"Tidak apa apa, Bu Laras. Semuanya sudah terjadi. Seperti rencana ibu, kita akan buat Alfano memperbaiki kesalahannya dengan anak kami. Semoga Asmara juga bisa memberikan kesempatan yang sama seperti kami kepada Alfano" sahut Pak Wawang menenangkan Bu Laras.
Mereka pun habiskan waktu menunggu kedatangan Asmara dan Alfano dengan mengobrol dan merencanakan pernikahan besok bersama anak - anak muda lainnya. Jaka, Alfani, Rani dan Rian mendengarkan saja rencana para orang tua. Mereka menjadi pelaksana nanti nya.
Hingga tibalah kedatangan putra putri mereka. Hari sudah mulai malam karena sudah pukul 8 malam.
"Eh itu, Kak Asmara sudah datang!" seru Rani yang melihat dari jendela kedatangan kakaknya dan melihat seorang lelaki tampan berada disampingnya. Langsung saja mereka memposisikan dirinya sesuai rencana penyambutan.
Seperti rencana pula, Bu Laras yang membukakan pintu rumah Asmara ketika bel sudah dibunyikan karena memberika kejutan pada Alfano, putranya yg membuat ia bertindak sejauh ini.
Satu...Dua....Tiga
Bel rumah Asmara sudah berbunyi. Bu Laras dengan berlahan membuka pintu itu dan membuat sepasang pria dan wanita yang terlihat mesra padahal siang tadi bertengkar menjadi terkejut.
"Mami!!!!" seru Alfano. Bu Laras tersenyum dengan sapaan putranya yg sudah seperti teriakan maling.
#FLASHBACK - SELESAI#
__ADS_1