BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Saling cuek


__ADS_3

Selepas kepergian Bu Laras dan Alfani beserta asisten setia mereka Jaka , Bu Asih menghampiri Alfano yang masih duduk bersandar di dinding ruang tamu.


"Kamu gapapa, Nak?" tanya Bu Asih khawatir.


Alfano mengangkat kepalanya kearah Bu Asih yang sudah duduk disebelahnya.


"Saya gapapa, Bu. Memang saya pantas mendapatkan pukulan dari Ayah karena telah menyakiti putrinya" sahut Alfano pelan dengan tersenyum tipis.


Bu Asih memegang tangan Alfano dan mengatakan sesuatu yang membuat pria itu tersentuh dengan ucapan mertuanya itu.


"Alfano. Ibu sangat berharap kamu bisa memperbaiki kesalahanmu dengan memperlakukan Asmara sebaik mungkin. Ibu juga sebenarnya marah sama kamu kok setega itu dengan putri ibu, tapi karena semua sudah terjadi dan menjadi takdir Allah. Ibu hanya ingin kamu menjadi sebaik Ibu mu juga yang sangat memperjuangan maaf dari kami. Bu Laras mohon mohon ke kami agar putranya dimaafkan dan bisa mempertanggung jawabkan kesalahannya. Kamu sangat beruntung memiliki ibu seperti dia, Alfano. Ibu harap, bayi yang dikandung Asmara juga mendapatkan Ayah dan Ibu setangguh Bu Laras. Ibu percaya padamu, Nak" kata Bu Asih dengan mata berkaca kaca dan kelembutan seoranv ibu.


Alfano hanya bisa diam mendengar perkataan Bu Asih mengenai perjuangan maminya.


"Apakah mami benar benar segigih itu agar aku bisa dimaafkan Asmara dan keluarganya? Apa keuntungannya mami ngelakuin ini semua?" batin Alfano.


"Saya akan mengusahakan untuk bisa berbuat baik pada Asmara, Bu" ujar Alfano.


Bu Asih pun tersenyum sedikit lega jika menantunya bilang seperti itu, padahal entah sikap Alfano seperti apa yang akan diberikan kepada Asmara.


"Ibu bantu masuk ke kamar Asmara? Tadi pagi Bu Laras sudah bawa koper baju baru untukmu dan Asmara. Udah ditaruh di kamar itu. Jadi, biar darahmu juga tidak kececeran lebih baik segera ganti baju ya, Nak" saran Bu Asih.


Alfano lagi lagi terpaku akan upaya sang mami dalam keluarga barunya ini.

__ADS_1


"Tidak perlu bu. Beberapa menit lagi, saya akan ke kamar sendiri. Sebentar, saya ingin disini sedikit lagi" ucap Alfano menolak tawaran Asih.


"Oh yasudah. Ibu bikinin kamu teh hangat ya nanti ibu taruh di dapur sama mau lihat keadaan Ayah" sahut Asih lalu berdiri dan berjalan menjauh dari Alfano.


Pria yang sudah babak belur itu sendiri di ruang tamu.


"Hidupku akan seperti apa setelah ini? Menikah dengan wanita yang tidak kucintai? Menikah karena terpaksa? Punya istri yang membenciku ? Apalagi bakal punya anak kembar? Apa yang akan aku lakukan untuk diriku sendiri?" batik Alfano meratapi nasib.


Sesaat kemudian, setelah Alfano merasa lebih tenang dan sakit ditubuhnya berkurang , ia berdiri dan berjalan tertatih tatih menuju kamar Asmara.


Pelan pelan, Alfano berjalan dan memegang perutnya. Wajahnya memar dan banyak darah yg berada di bajunya.


Sesampainya di depan kamar, ia membuka pintu yang lagi lagi tidak Asmara kunci. Saat masuk, Alfano melihat Asmara sudah berganti baju santai seperti dress rumahan alias daster, wanita itu sedang menata pakaian barunya yang dibelikan oleh Bu Laras melalui kenalannya di Bandung.


Alfano juga berusaha tak memperdulikan kehadiran Asmara dalam satu kamar yang sama, namun koper yang dimaksud Bu Asih tadi saat ini berada disamping Asmara dan dalam posisi terbuka.


Alfano berjalan menuju koper itu yang tidak lain menuju Asmara juga.


"Ini koper dari mami ya?" tanya Alfano pada istrinya.


Asmara tak menyahut, ia tetap melanjutkan aktivitasnya menata lemari baju untukknya.


"Hei, aku tanya sama kamu Asmara. Ini koper dari mami kan? Mana baju untukku?" tanya Alfano lagi dengan meringis menahan sakit di bibirnya yg terluka.

__ADS_1


"Bajumu ? Oh baju untuk mu itu udah kutaruh di kardus sebelah ranjang" sahut Asmara dengan acuh.


Alfano menoleh ke samping ranjang dan melihat ada kardus.


"Bisa bisanya kamu taruh bajuku di kardus begini. Hmmmm, lain kali kamu jangan pegang barang barangku sebelum aku mengizinkanmu" ujar Alfano tetap dengan angkuh padahal wajahnya udah penuh luka.


"Udah ya, aku gak mau ribut sama kamu. Tinggal ambil di kardus aja ribet banget. Abaikan aku kalau kamu gak mau lihat aku. Just informasi, aku juga gak mau ngelihat kamu tapi aku gak bisa menolak karena kamu suamiku yang terpaksa menikahiku" ucap Asmara.


Alfano diam tak membalas omongan istrinya, ia memilih mengambil baju dan celana di kardus itu lalu masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamar untuk membersihkan darahnya.


"Buat daddymu, menyesal telah menyakiti kita ya twins. Buat dia memohon ke kita untuk memaafkannya lagi dan menarik omongannya jika terpaksa menikah dengan mommy dan bertanggung jawab pada kalian. Lelaki itu perlu dikasih pelajaran. Babak belur aja tidak cukup untuk membuat dia sadar bahwa kita adalah keluarganya sekarang. Jadi, bikin dia tidak bisa meninggalkan kita ya babies" batin Asmara sambil mengusap usap perutnya yg tertutup kain. Tendangan si kembar muncul seperti tanda setuju dengan batin mommy nya.


Didalam kamar mandi, Alfano melihat perutnya memar di beberapa tempat. Melihat wajahnya yang juga memas di kedua pipi dan sudut bibirnya.


"Pukulan ayah mertuaku memang kuat, ternyata. Aku harus memulihkan terlebih dahulu luka luka ini sebelum meeting dewan direksi besar minggu depan. Aku harus segera balik ke Jakarta setelah ini semua"


Gumam Alfano sambil memegang memar diperutnya.


Setelah Alfano berganti pakaian dan menghapus darah di wajahnya, ia keluar kamar mandi dan tidak melihat Asmara di kamar itu.


"Kemana wanita itu? Tiba tiba ilang aja" gumam Alfano didepan kamar mandi kamarnya saat ini.


Asmara tadi keluar kamar untuk mulai membersihkan ruang tamu selepas acara. Wanita ini memang suka kebersihan dan karena belum bisa menyewa ART maka ia kerjakan sendiri bersih bersih rumah selama ini.

__ADS_1


__ADS_2